Love Falls With The Rain In Mentaya

Reads
1.8K
Votes
10
Parts
10
Vote
Report
Love falls with the rain in mentaya
Love Falls With The Rain In Mentaya
Penulis Bayu Alfianur

Bab 2 – Benang Merah Takdir

Hujan masih turun deras sore itu, memukul atap seng di atas kepala mereka. Arga dan Nayla berdiri bersebelahan, sama-sama diam, tapi hati mereka berdetak dengan irama yang berbeda.

Arga jarang berbicara dengan orang asing, apalagi dengan perempuan yang baru dikenalnya. Tapi ada sesuatu dari Nayla yang membuatnya tidak merasa terbebani. Entah senyumnya, entah caranya memandang sungai seakan menyimpan kenangan.

“Aku merasa… dermaga ini belum banyak berubah,” kata Nayla sambil menyibakkan rambutnya yang lembap. “Tapi tetap saja ada sesuatu yang hilang. Dulu selalu ramai, sekarang sepi.”

Arga mengangguk pelan. “Orang-orang sudah banyak pindah. Dermaga ini cuma jadi tempat singgah kapal nelayan sekarang. Tidak seramai dulu.”

Nayla menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Tapi kamu masih sering ke sini. Itu artinya kamu punya alasan, kan?”

Pertanyaan itu membuat Arga terdiam. Ia menatap ke arah sungai yang ditutupi kabut hujan. Alasan sebenarnya bukan sekadar menulis dermaga ini menyimpan kenangan pahit yang masih membekas. Namun, ia memilih untuk tidak mengatakannya.

“Tempat ini tenang,” jawabnya singkat.

Nayla tidak memaksa. Ia hanya tersenyum lagi, lalu menengadah ke langit, membiarkan butiran air menetes ke wajahnya. “Aku selalu percaya setiap orang punya ikatan dengan tempat tertentu. Seperti ada benang merah yang menarik kita kembali. Mungkin itu juga yang bikin aku pulang ke sini.”

Arga menoleh, menatap gadis itu. Kata-kata Nayla terasa aneh, seperti menyinggung sesuatu yang lebih dalam. Benang merah? Sebuah istilah yang selama ini hanya ia temui dalam cerita-cerita fiksi, kini terlontar dari mulut seseorang yang baru saja ditemuinya.

“Benang merah?” ulang Arga.

Nayla menunduk sebentar, lalu mengangkat tangannya. Ia memperlihatkan gelang kain tipis berwarna merah yang melingkar di pergelangan tangannya. “Aku percaya, setiap orang punya takdir yang mengikat mereka. Entah pada orang, tempat, atau mimpi. Kadang, kita tidak bisa lari darinya.”

Arga memperhatikan gelang itu. Anehnya, ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang terhubung dengan kata-kata Nayla.

Suasana hening lagi. Hanya ada suara hujan dan burung yang terbang rendah di atas sungai.

Nayla kemudian berkata, “Kamu suka menulis, kan? Kalau begitu, ayo suatu saat kamu bacakan ceritamu padaku. Aku ingin tahu dunia seperti apa yang ada di dalam pikiranmu.”

Arga terdiam. Ia biasanya menolak permintaan semacam itu, tapi kali ini tidak ada keberatan dalam hatinya. Hanya ada rasa aneh, campuran takut dan penasaran.

Saat itu juga, hujan mulai reda. Awan perlahan terbelah, memperlihatkan langit senja berwarna jingga. Sungai Mentaya memantulkan cahaya, seperti lembaran kaca yang berkilau.

Nayla menatap pemandangan itu dengan mata berbinar. “Lihat, hujan berhenti. Kayak semesta tahu kita butuh waktu untuk bicara.”

Arga hanya tersenyum samar. Ia menutup catatannya, tapi dalam hati ia sadar: pertemuan ini bukan kebetulan. Ada sesuatu yang halus, tak terlihat, seakan menarik mereka berdua ke arah yang sama.

Sebuah benang merah takdir, yang entah akan membawa mereka ke mana.


Other Stories
Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Daisy’s

Kisah Tiga Bersaudari ...

The Labsky

Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...

Bu Guru Dan Mantan Murid

Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...

Filosofi Sampah (catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Download Titik & Koma