Bab 5 – Hujan Membawa Jawaban
Malam itu, hujan turun lebih deras dari biasanya. Langit gelap tanpa bintang, hanya petir sesekali menyambar jauh di hulu sungai. Rumah-rumah di tepi Mentaya berpendar cahaya lampu, namun suara hujan begitu kuat hingga menelan hampir semua bunyi lain.
Arga duduk di ruang tamu rumah panggungnya, menatap catatan kosong di meja. Pena di tangannya tidak bergerak sejak satu jam lalu. Pikirannya penuh dengan bayangan masa lalu dan kata-kata Nayla sore kemarin: “Kamu tidak sendiri.”
Kalimat itu seperti gema yang terus mengikutinya. Membuat dadanya hangat, sekaligus gelisah.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu. Arga kaget. Siapa yang datang malam-malam begini, apalagi saat hujan deras? Dengan langkah hati-hati, ia membuka pintu.
Di depan sana, Nayla berdiri dengan payung biru kecilnya, wajahnya basah oleh percikan hujan, tapi senyumnya tetap hadir.
“Boleh aku masuk?” tanyanya, suaranya nyaris kalah dengan deras hujan.
Arga hanya bisa mengangguk. Nayla melangkah masuk, menutup payungnya dan menaruhnya di dekat pintu.
“Aku tahu ini mendadak,” katanya sambil mengusap lengan bajunya yang basah, “tapi aku tadi merasa… kamu mungkin butuh teman. Dan entah kenapa, hujan ini membuatku ingin ke sini.”
Arga menatapnya lama. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan campuran terharu, bingung, dan hangat. Ia menyiapkan kursi, lalu menuangkan teh hangat untuk Nayla.
Mereka duduk berhadapan. Suara hujan deras menjadi latar, seakan semesta menciptakan panggung untuk mereka berdua.
“Arga,” Nayla membuka percakapan, “kamu bilang kemarin pernah kehilangan seseorang. Aku tidak tahu detailnya, dan aku tidak akan memaksa. Tapi… kalau malam ini kamu siap bercerita, aku akan mendengarkan. Sepenuhnya.”
Arga menggenggam cangkir di tangannya erat. Matanya menatap cairan hangat yang bergetar karena tangannya sendiri gemetar.
Butuh waktu lama sebelum ia berkata, dengan suara serak, “Namanya Rani. Dia orang yang paling aku cintai dulu. Kami sering ke dermaga, seperti aku dan kamu sekarang. Tapi satu hari… aku membiarkan dia pergi dengan perahu kecil saat hujan deras. Aku bisa menghentikannya, tapi aku malah diam. Dan aku… aku melihat dengan mata kepala sendiri saat perahu itu terbalik.”
Arga berhenti, suaranya pecah. Air mata yang lama ia tahan akhirnya jatuh, bercampur dengan suara hujan.
“Aku merasa… itu salahku. Kalau saja aku menahan, kalau saja aku bicara lebih keras… mungkin dia masih hidup. Sejak itu, aku berhenti percaya aku pantas untuk bahagia.”
Ruangan itu hening, hanya ada tangisan tertahan Arga dan bunyi hujan yang tak kunjung reda.
Nayla bangkit dari kursinya, lalu mendekat. Ia duduk di sebelah Arga dan menggenggam tangannya. “Arga, dengarkan aku. Kehilangan itu bukan salahmu. Hujan, sungai, takdir—kadang semua bergerak di luar kendali kita. Kamu tidak bisa terus menyalahkan dirimu.”
Arga menoleh, matanya basah. Nayla menatapnya dalam, dengan mata yang penuh keyakinan.
“Kamu berhak bahagia lagi,” lanjutnya, suaranya bergetar tapi tegas. “Dan kalau kamu mau… izinkan aku menemanimu mencarinya.”
Hujan di luar rumah jatuh semakin deras, menabuh atap seperti musik pengiring. Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menunduk, membiarkan air matanya jatuh, sementara genggaman tangan Nayla tetap hangat dan tidak melepas.
Untuk pertama kalinya sejak tiga tahun lalu, Arga merasa ada cahaya yang perlahan menyelinap masuk ke hatinya. Hujan yang dulu selalu menjadi pengingat luka, malam itu justru membawa jawaban: ia tidak benar-benar sendirian.
Arga duduk di ruang tamu rumah panggungnya, menatap catatan kosong di meja. Pena di tangannya tidak bergerak sejak satu jam lalu. Pikirannya penuh dengan bayangan masa lalu dan kata-kata Nayla sore kemarin: “Kamu tidak sendiri.”
Kalimat itu seperti gema yang terus mengikutinya. Membuat dadanya hangat, sekaligus gelisah.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu. Arga kaget. Siapa yang datang malam-malam begini, apalagi saat hujan deras? Dengan langkah hati-hati, ia membuka pintu.
Di depan sana, Nayla berdiri dengan payung biru kecilnya, wajahnya basah oleh percikan hujan, tapi senyumnya tetap hadir.
“Boleh aku masuk?” tanyanya, suaranya nyaris kalah dengan deras hujan.
Arga hanya bisa mengangguk. Nayla melangkah masuk, menutup payungnya dan menaruhnya di dekat pintu.
“Aku tahu ini mendadak,” katanya sambil mengusap lengan bajunya yang basah, “tapi aku tadi merasa… kamu mungkin butuh teman. Dan entah kenapa, hujan ini membuatku ingin ke sini.”
Arga menatapnya lama. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan campuran terharu, bingung, dan hangat. Ia menyiapkan kursi, lalu menuangkan teh hangat untuk Nayla.
Mereka duduk berhadapan. Suara hujan deras menjadi latar, seakan semesta menciptakan panggung untuk mereka berdua.
“Arga,” Nayla membuka percakapan, “kamu bilang kemarin pernah kehilangan seseorang. Aku tidak tahu detailnya, dan aku tidak akan memaksa. Tapi… kalau malam ini kamu siap bercerita, aku akan mendengarkan. Sepenuhnya.”
Arga menggenggam cangkir di tangannya erat. Matanya menatap cairan hangat yang bergetar karena tangannya sendiri gemetar.
Butuh waktu lama sebelum ia berkata, dengan suara serak, “Namanya Rani. Dia orang yang paling aku cintai dulu. Kami sering ke dermaga, seperti aku dan kamu sekarang. Tapi satu hari… aku membiarkan dia pergi dengan perahu kecil saat hujan deras. Aku bisa menghentikannya, tapi aku malah diam. Dan aku… aku melihat dengan mata kepala sendiri saat perahu itu terbalik.”
Arga berhenti, suaranya pecah. Air mata yang lama ia tahan akhirnya jatuh, bercampur dengan suara hujan.
“Aku merasa… itu salahku. Kalau saja aku menahan, kalau saja aku bicara lebih keras… mungkin dia masih hidup. Sejak itu, aku berhenti percaya aku pantas untuk bahagia.”
Ruangan itu hening, hanya ada tangisan tertahan Arga dan bunyi hujan yang tak kunjung reda.
Nayla bangkit dari kursinya, lalu mendekat. Ia duduk di sebelah Arga dan menggenggam tangannya. “Arga, dengarkan aku. Kehilangan itu bukan salahmu. Hujan, sungai, takdir—kadang semua bergerak di luar kendali kita. Kamu tidak bisa terus menyalahkan dirimu.”
Arga menoleh, matanya basah. Nayla menatapnya dalam, dengan mata yang penuh keyakinan.
“Kamu berhak bahagia lagi,” lanjutnya, suaranya bergetar tapi tegas. “Dan kalau kamu mau… izinkan aku menemanimu mencarinya.”
Hujan di luar rumah jatuh semakin deras, menabuh atap seperti musik pengiring. Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menunduk, membiarkan air matanya jatuh, sementara genggaman tangan Nayla tetap hangat dan tidak melepas.
Untuk pertama kalinya sejak tiga tahun lalu, Arga merasa ada cahaya yang perlahan menyelinap masuk ke hatinya. Hujan yang dulu selalu menjadi pengingat luka, malam itu justru membawa jawaban: ia tidak benar-benar sendirian.
Other Stories
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Baim Dan Kelapa Yang Masih Puber
Baim menghabiskan liburan akhir tahun di pantai dengan harapan menemukan ketenangan. Namun ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...
Pacar Sewaan
Sebagai pacar sewaan yang memiliki kekasih, Ledi yakin mampu menjaga batas antara pekerjaa ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...