Bab 4 – Luka Yang Belum Sembuh
Langit Mentaya mendung lagi, seakan tahu ada hati yang sedang berat. Senja belum sepenuhnya turun, tapi warna kelabu sudah menutupi cahaya. Arga duduk di kursi bambu kecil di beranda rumahnya, menatap kosong ke arah sungai yang tampak samar di kejauhan.
Sejak Nayla menceritakan mimpinya membangun komunitas literasi, pikirannya tidak tenang. Ada keinginan untuk ikut membantu, tapi setiap kali bayangan itu muncul, kenangan kelam ikut menyeruak. Sungai Mentaya bukan hanya tempat ia menulis—ia juga menjadi saksi kehilangan terbesar dalam hidupnya.
Arga masih ingat dengan jelas. Tiga tahun lalu, ia berdiri di dermaga yang sama ketika hujan deras turun. Di sana, ia bersama Rani seorang gadis yang dulu ia cintai. Mereka bertengkar kecil tentang hal sepele. Rani yang keras kepala memutuskan pergi, menyeberang dengan perahu kecil meski arus sedang tinggi. Arga hanya bisa menatap, mencoba menahan, tapi suaranya kalah oleh suara hujan dan derasnya sungai.
Perahu itu oleng. Teriakan memecah hujan. Lalu… hening.
Sejak hari itu, sungai tidak lagi menjadi tempat tenang. Setiap kali menatap riaknya, Arga merasa bersalah. Ia kehilangan Rani, dan yang lebih menyakitkan, ia merasa ikut menjadi penyebabnya.
“Arga…” suara lembut memecah lamunannya.
Nayla berdiri di depan pagar rumah, membawa payung kecil berwarna biru. Rambutnya agak berantakan tertiup angin, tapi senyumnya tetap hadir. “Aku lewat, sekalian mampir. Boleh?”
Arga terdiam, lalu mengangguk pelan.
Nayla duduk di kursi bambu sebelahnya, menaruh payung di sisi. Sejenak mereka diam, hanya ditemani suara rintik hujan yang mulai turun.
“Kamu kelihatan murung,” ucap Nayla akhirnya.
Arga menunduk. Ia ingin menolak, ingin bilang tidak ada apa-apa, tapi tatapan mata Nayla begitu tulus. Ada sesuatu yang membuatnya ingin jujur, meski tidak sepenuhnya.
“Aku punya masa lalu yang sulit dilupakan,” ucap Arga lirih.
Nayla menunggu, tidak menyela.
“Aku pernah kehilangan seseorang di sungai ini. Seseorang yang… sangat berarti. Dan sejak itu, aku merasa tidak pantas untuk bahagia lagi.”
Suara Arga bergetar. Tangannya mengepal di atas lutut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mengucapkan kata-kata itu.
Nayla menoleh padanya, sorot matanya penuh empati. Ia tidak berkata “jangan sedih” atau “lupakan saja”. Ia hanya meletakkan tangannya di atas tangan Arga, hangat dan menenangkan.
“Arga,” katanya lembut, “luka memang tidak bisa hilang begitu saja. Tapi luka juga bukan penjara. Kadang, kita butuh orang lain untuk mengingatkan kalau kita masih punya alasan untuk hidup. Dan aku ingin kamu tahu… kamu tidak sendiri.”
Arga terdiam. Dadanya sesak, tapi ada sesuatu yang perlahan mengalir, seperti air yang menemukan jalan keluar setelah lama tertahan.
Hujan turun lebih deras, menabuh atap seng rumah mereka. Dan di tengah suara itu, Arga merasa untuk pertama kalinya luka itu mulai retak bukan hilang, tapi sedikit terbuka, memberi ruang bagi cahaya baru.
Sejak Nayla menceritakan mimpinya membangun komunitas literasi, pikirannya tidak tenang. Ada keinginan untuk ikut membantu, tapi setiap kali bayangan itu muncul, kenangan kelam ikut menyeruak. Sungai Mentaya bukan hanya tempat ia menulis—ia juga menjadi saksi kehilangan terbesar dalam hidupnya.
Arga masih ingat dengan jelas. Tiga tahun lalu, ia berdiri di dermaga yang sama ketika hujan deras turun. Di sana, ia bersama Rani seorang gadis yang dulu ia cintai. Mereka bertengkar kecil tentang hal sepele. Rani yang keras kepala memutuskan pergi, menyeberang dengan perahu kecil meski arus sedang tinggi. Arga hanya bisa menatap, mencoba menahan, tapi suaranya kalah oleh suara hujan dan derasnya sungai.
Perahu itu oleng. Teriakan memecah hujan. Lalu… hening.
Sejak hari itu, sungai tidak lagi menjadi tempat tenang. Setiap kali menatap riaknya, Arga merasa bersalah. Ia kehilangan Rani, dan yang lebih menyakitkan, ia merasa ikut menjadi penyebabnya.
“Arga…” suara lembut memecah lamunannya.
Nayla berdiri di depan pagar rumah, membawa payung kecil berwarna biru. Rambutnya agak berantakan tertiup angin, tapi senyumnya tetap hadir. “Aku lewat, sekalian mampir. Boleh?”
Arga terdiam, lalu mengangguk pelan.
Nayla duduk di kursi bambu sebelahnya, menaruh payung di sisi. Sejenak mereka diam, hanya ditemani suara rintik hujan yang mulai turun.
“Kamu kelihatan murung,” ucap Nayla akhirnya.
Arga menunduk. Ia ingin menolak, ingin bilang tidak ada apa-apa, tapi tatapan mata Nayla begitu tulus. Ada sesuatu yang membuatnya ingin jujur, meski tidak sepenuhnya.
“Aku punya masa lalu yang sulit dilupakan,” ucap Arga lirih.
Nayla menunggu, tidak menyela.
“Aku pernah kehilangan seseorang di sungai ini. Seseorang yang… sangat berarti. Dan sejak itu, aku merasa tidak pantas untuk bahagia lagi.”
Suara Arga bergetar. Tangannya mengepal di atas lutut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mengucapkan kata-kata itu.
Nayla menoleh padanya, sorot matanya penuh empati. Ia tidak berkata “jangan sedih” atau “lupakan saja”. Ia hanya meletakkan tangannya di atas tangan Arga, hangat dan menenangkan.
“Arga,” katanya lembut, “luka memang tidak bisa hilang begitu saja. Tapi luka juga bukan penjara. Kadang, kita butuh orang lain untuk mengingatkan kalau kita masih punya alasan untuk hidup. Dan aku ingin kamu tahu… kamu tidak sendiri.”
Arga terdiam. Dadanya sesak, tapi ada sesuatu yang perlahan mengalir, seperti air yang menemukan jalan keluar setelah lama tertahan.
Hujan turun lebih deras, menabuh atap seng rumah mereka. Dan di tengah suara itu, Arga merasa untuk pertama kalinya luka itu mulai retak bukan hilang, tapi sedikit terbuka, memberi ruang bagi cahaya baru.
Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
Dengan Ini Saya Terima Nikahnya
Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Menantimu
Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Liburan kelulusan SMA membawa Cakra Abiyoga dan sahabat-sahabatnya ke Pantai Parangtritis. ...
Reuni Mantan
Arif datang ke vila terpencil bersama para mantan Sarah lainnya. Ketika seorang pembunuh m ...