Bab 7 – Godaan Dan Keraguan
Hari-hari di tepi pinggiran sungai Mentaya terasa lebih hidup. Setiap sore, anak-anak berkumpul di dermaga, mendengarkan cerita dari buku lusuh, atau sekadar tertawa bersama. Arga mulai terbiasa membaca karyanya untuk mereka, meski masih sering gugup. Sementara Nayla selalu menjadi pusat semangat, membuat suasana hangat seperti keluarga.
Namun, kehidupan jarang berjalan mulus terlalu lama.
Suatu sore, ketika langit cerah dan angin berembus lembut, seorang pria tinggi berjaket cokelat datang menghampiri. Ia melangkah mantap, wajahnya teduh namun matanya tajam. Anak-anak menoleh penasaran, begitu pula Arga yang saat itu sedang menutup buku catatannya.
“Nayla?” panggil pria itu.
Nayla menoleh, lalu matanya melebar. “Revan?”
Arga terdiam. Nama itu terasa asing, tapi nada suara Nayla penuh keterkejutan, seolah menyimpan banyak cerita di masa lalu.
Pria itu tersenyum hangat. “Lama sekali, ya. Aku baru pulang dari Banjarmasin. Dengar-dengar kamu juga sudah balik ke Mentaya.”
Nayla bangkit berdiri, menyalami Revan dengan tawa kecil. “Ya ampun, aku nggak nyangka ketemu kamu di sini.”
Arga hanya duduk terpaku, memperhatikan dari jauh. Hatinya mulai gelisah. Cara Nayla tersenyum pada Revan terasa berbeda—ada keakraban yang tidak dimilikinya.
“Jadi, ini komunitas yang kamu ceritakan dulu?” tanya Revan sambil melirik buku-buku yang berserakan. “Kamu masih seperti dulu ya, selalu punya mimpi besar.”
Nayla mengangguk. “Aku beruntung ada yang mau bantu. Ini Arga.”
Mata Revan beralih ke Arga, menilai dengan tatapan yang sulit ditebak. “Senang kenal kamu. Jadi kamu partner Nayla sekarang?”
Arga hanya mengangguk singkat, tanpa banyak bicara.
Percakapan mereka berlanjut, penuh tawa kecil yang sesekali membuat Arga merasa terasing. Ia tahu ia tidak seharusnya iri—Nayla bebas berteman dengan siapa pun. Tapi ada sesuatu dalam cara Revan memandang Nayla, dan cara Nayla merespons, yang menimbulkan ketidaknyamanan di dadanya.
Malam itu, setelah anak-anak pulang, Arga berjalan sendirian di sepanjang sungai. Riak air memantulkan cahaya bulan, namun pikirannya gelap.
Siapa sebenarnya Revan?
Mantan? Sahabat lama? Atau seseorang yang lebih dari itu?
Arga menggenggam buku catatannya erat. Rasa minder yang lama ia kubur muncul kembali. Apa pantas ia, seorang penulis kesepian dengan luka masa lalu, berdiri di samping gadis secerah Nayla?
Di kejauhan, suara tawa Nayla dan Revan masih terdengar samar, membuat hatinya makin berat.
Arga tahu, badai kecil baru saja datajng dan kali ini, bukan dari hujan di Mentaya, melainkan dari hatinya sendiri.
Other Stories
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Menantimu
Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Bu Guru Dan Mantan Murid
Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...