Cerita Guru Sarita

Reads
558
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
cerita guru sarita
Cerita Guru Sarita
Penulis Vetta Badrinova

1. Asal Mula

Aku memandang tumpukan padi dan gaplek yang menggunung di ruang dapur. Aku lihat ibuku berjongkok di depan tungku api, lidah api menjulur melahap panci dan meninggalkan warna hitam pekat di bagian bawah luarnya. Ibuku selalu seperti itu setiap pagi, dan aku tidak ingat apakah aku melihat ayahku di sana. Ibu akan melarangku agar tidak bersandar pada tumpukan padi, katanya nanti aku akan gatal-gatal; dan jangan mengorek-ngorek karung gaplek karena nanti akan ada kutu beras yang masuk.
Aku hanya akan diam dekat tumpukan padi karung-karung gaplek dan memandang dengan takjub pada setiap kayu yang dimamah api, suara penyerahan dari kayu pada panas api terdengar ngilu di telinga. Kletak kletuk seperti suara Si Empus, kucingku, sedang memakan tulang. Masa kecilku dimulai dari dapur penuh gundukan karung.
Tarian lidah api yang keluar dari tungku membuatku berpikir keluar dari rengkuhan kasih ibu. Aku membayangkan bahwa aku bukan anak ibuku, tapi anak pungut seperti Mae. Mae adalah anak yang tidak diketahui dengan jelas siapa ibu-ayahnya, dia tetiba jadi anak Mang Kodir yang selama ini tak beranak. Menurut kabar yang beredar, Mae dibuang ibu-ayahnya dari Karawang karena terlalu miskin, sehingga tak lagi bisa mengenyangkan perut anaknya. Karawang yang selama ini menjadi daerah penghasil padi, menjadi daerah dengan tingkat kelaparan tertinggi karena kemarau yang berkepanjangan.
Aku mungkin bukan anak ibuku. Anak ibuku semuanya lelaki. Samar pernah kudengar kabar bahwa ibuku memiliki anak perempuan kecil cantik dan lucu. Kelincahannya tidak mampu melawan bakteri Salmonella thyphi yang umum menyerang daya tahan anak-anak yang dibesarkan tanpa vaksin. Ibuku tidak pernah mengatakan kepadaku bahwa dia memiliki anak perempuan. Kakak tirikulah yang menceritakan bahwa anak perempuan ibuku sakit panas dan tak lama setelah itu berpulang.
Ibuku jarang berbicara, setiap saat ia selalu sibuk. Mulai ayam berkokok, ibuku sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk ayahku sebelum berangkat ke sawah. Bagiku, pekerja terberat dalam keluargaku adalah ibu. Bagaimana ibuku bekerja melebihi takaran daya perempuan bisa kulihat dengan mataku sendiri. Sejak aku bangun tidur sampai tidur lagi, ibuku seperti mesin yang tiada henti berpusing menggerakkan roda kehidupan keluarga sehingga tidak satupun anaknya makan hanya sekali sehari.
Apakah ibuku jarang berbicara karena sibuk atau karena duka kehilangan anak perempuannya? Aku tak pernah tahu. Ibuku sangat keras, aku selalu takut padanya. Dalam benakku, ibuku akan berubah menjadi besar, sebesar raksasa yang diceritakan nenek jika aku berbuat salah. Aku akan selalu berusaha melakukan apapun perintahnya. Mencuci piring di Rawa Hideung yang harus kutempuh hampir setengah jam berjalan, tidak pernah aku berkeluh kesah. Menggembalakan domba paroan setiap hari setelah azan zuhur berkumandang, dan menyabit rumput untuk memastikan kambing makan di pagi hari, selalu aku lakukan. Ibu selalu mengingatkan jika domba paroan beranak, maka anaknya jadi milikku. Seolah bayaran atas kerjaku. Itulah untungnya mengambil domba paroan, artinya separo dari anaknya jadi milik pengurus. Namun, pada masa paceklik, rumput semuanya kering, aku hanya bisa berharap dombaku tidak mati. Urusan beranak, tidak terpikirkan lagi karena untuk menahan nyawanya saja sepertinya dombaku sudah berkejaran dengan maut yang bernama kehausan.
Sering aku mendengar pujian bahwa aku anak yang patuh, nurut, dan sabar. Pekerjaan rumah sedikit-sedikit bisa aku kerjakan, namun sepertinya pekerjaan ibuku tidak pernah berkurang. Ibuku selalu saja tidak sempat berbicara padaku. Masih kuingat dengan jelas bagaimana ibuku berbicara dengan tangannya. Saat itu senja, kering berdebu. Aku dan anak-anak lainnya menggembalakan domba dan kambing kami masing-masing. Untuk menghibur diri, kami bermain layangan. Aku sendiri tidak bisa bermain layangan karena untuk membuat gelasan atau benang yang dilumuri bubuk kaca agar tajam tidak mampu kubeli. Kalaupun aku bermain layangan, bukan untuk adu-layangan, hanya untuk melihatnya terbang membumbung tinggi melewati Gunung Bubut. Layangan yang makin lama makin terlihat kecil, bagiku itu indah. Keindahan yang memanipulasi mataku. Aku termangu memikirkan bagaimana benda yang sama terlihat berbeda. Layang-layang terlihat besar dan berat ketika masih dekat denganku, namun menjadi kecil, lincah, bahkan bisa menari ketika ia berada dekat awan sana.
Kami asyik bermain layangan; kami tidak memperhatikan ke mana arah ternak kami mengambil makanan di masa yang sulit rumput hijau. Kami asyik memperhatikan kehebatan Okol mengelak ketika layangannya akan diserang dari samping oleh anak dari kampung sebelah. Sorak sorai memenuhi udara sore yang kian sore masih saja terasa panasnya.
Tiba-tiba, entah dari mana, ibuku sudah berdiri di antara kami. Tangannya memegang golok terhunus. Kami semua takut, termasuk aku, anaknya, juga sangat takut. Ibu merampas gulungan kenur dan gelasan yang dipegang Okol. Tanpa menunggu kami sadar akan apa yang tengah terjadi, ibuku mengiris kenur dan gelasannya juga membelah gulungan kenur menjadi dua. Kami semua lari ketakutan. Ibuku terlihat lebih mengerikan dari raksasa. Tangannya yang menjinjing golok memancarkan sinar senja menjadi kilat silau pada mata siapapun yang berani menatapnya. Aku hanya bisa berdiri mematung, takut ibuku akan mengiris tubuh kerempengku. Terdengar suara ibuku seperti halilintar yang membelah angkasa pada saat tiada hujan, ‘Kamu lalai, tanaman kacang panjang baru tumbuh, habis diranjah dan dimakan domba. Bisakah kalian ganti semua tanaman yang telah dimakan ternak kalian?’ Tidak satupun dari kami berani menjawab pertanyaan itu. Kami memilih pulang dan menggiring domba ke kandang masing-masing. Itulah saat pertama aku dengar ibuku berbicara.

Other Stories
Kau Bisa Bahagia

Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Download Titik & Koma