2. Ritual
Walaupun paceklik berkepanjangan menerjang, aku tidak pernah disodori makan gaplek, tiwul, sorgum, hanjeli, atau makanan pengganti nasi lainnya. Ibuku akan selalu menyediakan nasi untuk makan kami, empat bersaudara. Kakak-kakak tiriku yang seingatku telah tidak lagi serumah dengan ibuku, mereka mungkin memakan nasi awug, nasi tiwul, atau nasi jagung yang mampu mereka hidangkan. Ibuku akan menyediakan nasi setiap pagi dan memastikan semua anggota keluarga, makan dulu sebelum keluar rumah.
Ritual makan, bagiku terasa aneh. Ibuku yang memasak dan menyediakan makan selalu menjadi orang terakhir yang menikmati hidangannya sendiri. Ia akan menunggu sampai ayah selesai makan. Ibuku akan menyodorkan nasi, lauk, air minum, dan tetek bengek lainnya kepada ayah seperti seorang budak melayani tuannya. Ayah dengan tanpa peduli akan makan tanpa menawari istrinya, tidak pula ia menawari anak-anaknya. Ayah akan makan dalam senyap, seolah tidak ada kami. Seluruh yang dihidangkan akan disantap jika memenuhi seleranya, dan tidak akan disentuh jika tidak sesuai hasrat makannya. Ayah selalu memulai makan dengan menyentuhkan telunjuknya pada garam. Seperti sebuah keharusan, dicicipinya garam yang menempel pada ujung telunjuknya, setelah itu barulah makan. Ayah tidak berkomentar selama makan, dan ibu tidak berbicara. Saat makan terasa canggung, penuh misteri dan ada rasa takut yang pelan-pelan menghantuiku.
Ibuku memakan makanan sisaan ayah. Piring bekas makan ayah yang berisi remah seperti hadiah besar di mata ibu. Kenapa ibu tidak mengambil piring baru dan mengambil nasi baru? Aku tak habis pikir akan sikap ibu. Bagiku, sikap ibu ketika makan sangatlah penting untuk dipikirkan. Aku, yang mungkin hanyalah anak pungut, memiliki kebebasan makan nasi yang diambil dari bakul bambu dengan tanganku sendiri dan dengan jumlah yang kusuka. Kenapa ibuku menghabiskan makanan remah sisa ayah dan setelah itu mengambil nasi sesuai kebutuhannya.
Hantaman kemarau panjang telah membuat sawah-sawah menjadi tanah keras yang sama sekali tidak dapat ditanami padi. Tapi apakah semiskin itu keluarga yang aku tinggali sampai-sampai ibuku memakan nasi sisa ayah? Aku tidak mengerti ibuku, tidak juga mengerti ayahku. Kedua insan itu menjadi individu-individu penuh rahasia. Bahkan kenapa mereka menjadi suami istri? Bagiku itu menjadi hal yang harus aku telusuri. Apakah aku benar darah daging mereka berdua? Jika ya, mengapa aku merasa tidak memiliki kemiripan dengan kakak-kakakku yang lelaki?
Pemikiran bahwa aku anak pungut semakin banyak mengisi pikiranku ketika suatu hari teman bermainku mempermasalahkan mataku. Mereka mengatakan aku tidak seperti keluargaku, mataku cokelat dan bersinar ketika terkena cahaya, seperti serigala. Mereka menuduhku anak Arsin. Arsin adalah hantu jejadian yang berbentuk ajag atau serigala. Arsin seperti manusia, hanya tangannya berbentuk gergaji, sehingga bisa membunuh siapapun yang mengganggunya. Arsin juga memiliki kesaktian, air ludahnya beracun. Aku sendiri tidak pernah bertemu Arsin, si manusia jejadian, bertemu ajag pun hanya sekilas ketika bermain ke hutan kecil bernama Gunung Bahu Rarang pada saat mencari buah dahu yang jatuh. Tuduhan itu memaksaku berkesimpulan bahwa ibu yang selalu menjauhkan gaplek dari makan pagiku, bukanlah ibuku.
Aku membayangkan bahwa benar nasibku seperti Mae, anak pungut yang dibuang orang tuanya. Bedanya, Mae diserahkan dengan baik-baik dan orang tua biologisnya diberi sedikit uang pengganti untuk mengurus Mae kecil. Sedangkan aku ditemukan di pinggir jalan sedang menangis dengan baju compang camping dan kelaparan. Aku memiliki pikiran yang tajam, bayangan itu tidak pernah ada dalam benak setiap saat aku memaksa mengingat masa sebelum pertama kali aku ingat saat duduk dekat tumpukan karung padi dan gaplek. Bayangan masa laluku sering kutangkis sendiri, aku percaya ingatanku tidaklah terlalu buruk dalam merekam semua yang telah kulalui. Demi ketenangan jiwaku sendiri, aku belajar bersikap seolah aku adalah anggota keluarga yang sedarah.
Pada masa paceklik yang dilengkapi dengan keluarga memiliki anak kecil-kecil, makan merupakan hal terpenting. Makan tanpa meninggalkan sisa sudah merupakan hal wajib. Nenek akan menakut-nakuti jika ada sebutir nasi tertinggal tidak termakan, di malam hari ia akan datang dan menangis. Suara tangisnya akan sangat pilu, menangisi nasibnya yang amat malang karena tidak menerima ganjaran terindah bagi sebutir nasi, yaitu masuk ke dalam mulut kemudian dilumat gigi dan bergabung dengan saudara-saudara lainnya di dalam perut. Aku sangat takut dengan suara tangisan. Aku sendiri tidak tahu seperti apa suara tangis pilu. Rasanya ibuku tidak pernah menangis saat tangannya yang memegang alu pada saat menumbuk terlihat menggelembung dan berdarah. Gelembung pada tangan akibat tergesek alu dan melelehkan darah, begitu nyeri dan perih kubayangkan. Apalagi membayangkan tangis pilu karena tidak bersatu dengan saudara, mungkin suara isaknya akan menyesakkan dada dan mengiris setiap rasa yang ada pada ujung-ujung darah yang mengalir di seluruh tubuh.
Nenek juga akan mengingatkan untuk memakan habis semua yang ada di piring. Selalu nenek mengiringi gerak tanganku pada saat menyendok nasi dengan bisikan untuk mengambil nasi sedikit dan kalau kurang bisa tambah lagi. Dalam keluargaku sepertinya tidak ada anggota keluarga yang mengulang menyendok nasi. Saat mengambil nasi yang pertama, maka itu akan menjadi saat terakhir pula, dan hanya itu yang dimakan. Semua anggota keluarga duduk bersila di atas tikar, makan dengan diam dan pelan-pelan menghabiskan seluruh isi piring, tanpa tersisa sebutir nasipun. Tidak ada percakapan pada saat makan, semua perhatian ditujukan pada menyantap apa yang dihidangkan. Jangan sekali-kali berbicara ketika mulut penuh, begitu kata nenek. Kalau berbicara saat mulutmu penuh makanan, maka setan akan masuk ke mulut. Setan akan ikut masuk ke dalam perut, dia akan memakan semua makanan yang kita makan. Pertanda bahwa setan ikut masuk ke dalam perut adalah walaupun kita telah makan, namun tidak merasa kenyang.
Aku tidak pernah bersua setan, tapi gambaran nenek bagaimana setan mencuri rasa kenyang bisa kusimpulkan bahwa setan sangatlah kejam dan jahat. Aku tahu rasanya lapar. Aku juga tahu rasanya kenyang. Dari kedua rasa itu, kenyang menjadi rasa yang kuharapkan terjadi. Aku tahu untuk merasa kenyang, banyak yang harus dilalui. Diawali dari menumbuk padi dan tangan ibuku yang lecet melelehkan darah. Nenekku akan menanak nasi pada dandang tembaga yang tidak pernah kuat kuangkat dengan tanganku sendiri. Ibuku akan memasak oseng labu siam keriput yang kekurangan air. Tidak ada lauk lainnya, tidak ada daging, tidak ada ikan, hanya ada garam yang menjadi syarat pelengkap makan ayah.
Makan nasi dengan diberi sedikit air kuah oseng itu saja sudah terasa sangat nikmat. Betapa takutnya bila nikmat makan itu tidak diikuti rasa kenyang. Aku harus mengulang urutan dari menumbuk padi dan melihat darah ibuku lagi baru mendapatkan nasi terhidang di bakul kecil anyaman bambu. Kenyang menjadi tujuan, bukan makan untuk membuat tubuhmu sehat. Aku menemukan beberapa temanku berperut gembung, katanya karena terlalu banyak makan gaplek. Tapi kata nenek lain lagi, temanku berperut buncit karena mereka makan sambil berbicara dan kenyangnya diambil setan, yang tinggal hanyalah perut buncit tempat ampas makanan itu berkumpul.
Pada saat kami sekeluarga bisa makan nasi dan kami tidak berperut buncit, dari Mang Maksum, yang berperan sebagai perangkat desa, kami dikabari bahwa makan yang benar adalah menggunakan pedoman 4 sehat 5 sempurna. Itu pesan Presiden Suharto, presiden kita, presiden Indonesia. Bagiku yang tinggal nun jauh di dalam pedesaan, mendengar nama Suharto terasa begitu sakral, Suharto, presiden. Apakah Suharto yang presiden makan nasi dengan oseng labu siam keriput? Ingin rasanya aku menanyakan itu pada Mang Maksum. Bagaimana presiden bisa menyampaikan pesan kepada Mang Maksum? Di mana presiden tinggal? Dan kenapa harus makan 4 sehat 5 sempurna? Kenapa tidak makan nasi dengan oseng labu siam keriput saja? Mang Maksum dengan semangat yang dipaksa keluar dari tulang-tulang iganya yang menonjol membeberkan bahwa 4 sehat itu makan nasi harus ditambah dengan tempe, tahu dan sayuran. Sedangkan 5 sempurna adalah minum susu.
Aku tenganga-nganga membayangkan makanan bernama tempe, tahu, dan susu. Di kampung tempatku tinggal, tempe dan tahu hanya dapat ditemui paling cepat satu bulan satu kali ketika ada pedagang keliling dari Sukanagara. Ibuku biasanya membeli sekerat tempe dan 5 kotak tahu berwarna kuning. Aku memohon pada ibu agar tahu bagianku tidak perlu dimasak, cukup berbentuk seperti kotak kuning itu saja, dan akan aku makan. Tidak apa-apa pada saat makan aku tidak mendapatkan jatah makan tahu goreng. Bagiku memakan tahu sebelum digoreng terasa lebih mengenyangkan. Rasa lembut tahu yang menyentuh lidah diiringi sedikit rasa asin begitu khas dan aku tidak ikhlas jika keagungan memakan tahu diganggu dengan rasa nasi dan rasa air oseng labu siam.
Aku menitikkan air liur saat membayangkan memakan tahu, namun tersadar saat Mang Maksum menambahkan penjelasan bahwa harus 4 sehat 5 sempurna pola makan orang Indonesia. Pesan presiden Suharto harus digenapkan, setelah kabar ini, akan akan pelatihan pembuatan tempe di desa kita, Sukasari. Rakyat harus memakan makanan sehat, tiada lain itu adalah tempe dan tahu. Ingat, 5 potong tahu atau 5 kotak tahu setara dengan sekerat daging. Berbanggalah, sekarang kita bisa memakan sekerat daging dengan memakan tempe. Presiden kita amat sayang pada kita rakyatnya. Mang Maksum menutup pembicaraannya.
Ibuku diam pada saat saja mendengar pesan dari presiden. Nenek yang angkat bicara bahwa dia bersedia mengikuti pelatihan membuat tempe, namun itu ditolak Mang Maksum, katanya nenek terlalu tua untuk bekerja meragi tempe. Membuat tempe tidak mudah untuk seorang nenek-nenek. Tempe yang dibuat nanti, bukan tempe sembarangan, tempe yang setara dengan sekerat daging, tempe yang bahannya dari Amerika, bukan dari Karawang. Kita memakan makanan bergizi yang tidak tumbuh di dalam negeri. Nenek terlalu lemah untuk mengurusi gizi keluarga. Tempe Amerika adalah wujud kemurahan presiden kepada rakyat. Nenek hanya manggut-manggut pada saat Mang Maksum mengkhawatirkan nenek akan merusak program makanan bergizi dari Presiden Suharto.
Mang Maksum mengulang sekali lagi bahwa Suharto, presiden kita, ingin agar rakyatnya tidak kelaparan. Nanti akan dibangun selokan-selokan sehingga air terus mengalir sepanjang tahun. Padi yang ditanam jangan padi jangkung yang berumur enam bulan, tapi padi baru namanya IR yang tahan wereng yang perlu waktu 100 hari saja.
“Presiden kita, Bapak Pembangunan, orang yang membuat rencana melawan kemiskinan dengan Pelita. Apa itu pelita?” Mang Maksum mengajukan pertanyaan yang hanya bisa dijawabnya sendiri.
“Pelita adalah pembangunan lima tahun. Lima tahun pertama, Presiden Suharto akan membuatkan kita selokan, menyediakan bibit padi unggul bernama IR6. Nanti untuk pupuk akan disediakan koperasi, hasil panen bisa dijual kepada Bulog. Pokoknya kita tidak akan makan gaplek lagi. Segera setelah musim paceklik ini berakhir, kita akan seragam mulai menanam padi IR6.”
“Ingat, ini pesan Presiden! Nanti, akan ada pelita kedua, ketiga, dan seterusnya sampai negara kita tinggal landas, apa itu tinggal landas? Ada yang tahu?” Mang Maksum bertanya lagi. Lagi-lagi dia jawab sendiri, “Tinggal landas artinya seperti pesawat terbang, melesat ke angkasa. Negara kita, jika pelitanya terwujud, akan melesat ke angkasa menjadi negara maju. Tidak ada lagi yang makan gaplek seperti sekarang, tidak ada lagi yang perutnya buncit akibat gizi buruk. Maka jangan lupa makan tahu dan tempe,” kata Mang Maksum sambil mengistirahatkan tulang iganya yang terus-terusan naik turun berkejaran dengan asma yang dideritanya.
Aku senang sekali melihat Mang Maksum yang berbicara begitu semangat sehingga tulang-tulang iganya yang hanya ditutup kaos sangsang terlihat ikut berbicara. Setelah ada pelita, pastilah terang. Presiden membawa pelita untuk membuat gelap kemiskinan dan gulita perut karena memakan gaplek berakhir. Aku berharap, hujan akan segera turun sehingga aku akan segera melihat selokan melingkar-lingkar melewati bukit dan mengairi sawah, dombaku akan bunting karena banyak makan rumput yang tumbuh diairi dari aliran selokan presiden, dan ibuku akan bicara bahwa hari ini kita akan makan sekerat daging, dan mungkin, siapa tahu, aku akan makan 5 sempurna, yaitu minum susu. Minuman yang belum pernah aku teguk, belum pernah aku lihat bentuknya, dan belum pernah aku cecap rasanya. Malam itu ingin rasanya aku bisa bermimpi memakan 4 sehat dan meminum susu sebagai penyempurna.
Other Stories
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Ilusi Yang Sama
Jatuh cinta pada wanita yang selalu tersakiti, Rian bertekad menjadi pria yang berbeda. Na ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...
Weird Husband
Kanaya bersinar di ballroom Grand Hyatt Jakarta, mengenakan gaun emerald dan kalung berlia ...