Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Reads
3.2K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
dengan ini, saya terima nikahnya
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis S. Kamila Suryana

Epilog

Ryan asyik melihat album kenangan yang ada di kamar. Seharian kami ada di rumah orang tua Ryan. Acara syukuran keluarga. Adiknya baru saja lulus kuliah. Aku membantu ibu memasak. Lainnya menyiapkan piring, menata kursi dan sebagainya. Sederhana dan berlangsung khidmat. Setelah semuanya selesai, lelah menghinggap tidak bisa diajak berdamai. Aku dan Ryan sepakat untuk menginap semalam.
“Lagi apa sih? Serius banget?” aku menghampiri Ryan yang bersandar di dinding ranjang.
“Ini… album foto keluarga,” Ryan menunjuk foto anak kecil, “Liat ini, ganteng ya.”
Kuamati foto anak kecil tersebut, “Itu siapa?”
“Aku lah...” ucapnya bangga, “Ganteng kan?”
Aku menggeleng, “Enggak, gak ganteng.”
Dahinya mengernyit.
Aku tersenyum, “Lebih ganteng cowok yang lagi buka-buka album fotonya.”
Ryan tampak tersipu, “Ckck! Udah makin pinter ya sekarang ngegombalnya.”
“Oh iya dong… harus.”
Ryan tertawa kemudian diam. Menatapku dalam. “Tahu gak? Waktu aku pergi gak ada kabar. Sehari gak liat kamu bikin aku uring-uringan. Gak sabar pengen pulang tapi selalu batal.”
“Kenapa?”
“Karena emosiku belum reda. Khawatir kalau datang ke rumah malah jadi marah-marah dan bikin kamu nangis lagi. Aku gak tega.”
Kucibirkan bibir bercanda. “Lagian… siapa suruh ngambek?”
“Itu bukan ngambek.”
“Terus apa?”
“Itu namanya...cemburu.”
“Alasan… haha,” candaku.
“Yeee… justru kalo cemburu itu tandanya sayang.”
“Mana ada cemburu sampai gak pulang tiga minggu… minggat bawa koper… masih untung istrinya sabar, coba kalau enggak… gak tahu deh akhirnya kayak gimana”
Ryan cengengesan. Sejurus kemudian badannya memelukku erat. “Aku janji gak akan ninggalin kamu lagi. Hilang gak ada kabar. Kasar sama kamu. I’m so sorry.”
Kuusap punggungnya. “It’s oke. Mungkin sudah jalannya harus begini… ujian agar kita tambah dekat, tambah sayang, tambah cinta… satu sama lain.”
Ryan mengangguk.
Kulepas pelukannya dan berhadapan lurus. Kugenggam tangannya. “Untuk semua yang sudah kamu berikan… perhatian, lembut, pelukan hangat, berusaha menjadi lelaki sempurna untukku yang begitu lemah, dan semua yang sudah terjadi… suamiku, Ryan Prianto, dengan ini saya terima nikahnya. Aku terima kamu menikahiku. Aku terima kamu menjadi suamiku. Aku terima kamu menjadi bagian hidupku. Aku terima kamu menjadi pendamping di sisa umurku.”
Ryan tertegun dan terharu. “Emang kemarin-kemarin gak nerima?”
“Nerima sih, tapi….”
“Tapi?!”
“Tapi sekarang lebih nerima.”
Kami saling menyunggingkan senyum dan berpelukan. Lebih erat dari yang pernah ada. Aku bahagia sekarang. Bahagia karena akhirnya semua kejadian membawaku pada titik ini. Merelakan keinginanku dan menerima jodoh terbaik yang dikirim Tuhan untukku.

Other Stories
Kepingan Hati Alisa

Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Dear Zalina

Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Bisikan Lada

Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...

Download Titik & Koma