Autumn's Journey

Reads
2.7K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

2. Lelaki Dengan Seribu Mimpi

Permintaan Harry benar-benar membuat pikiran Henri tidak tenang. Sebenarnya bisa saja dia berangkat jika tujuannya untuk cuti bersenang-senang dengan member SNSD. Tetapi kali ini, apa kata dunia?! Telinganya pasti harus tahan goncangan saat merebak gosip seorang penulis terkenal membuat novel K-Pop demi mengikuti trend Hallyu Wave yang melanda Indonesia.
“Mestinya kamu senang bisa jalan-jalan ke Korea gratis,” komentar Arbi sambil sibuk bergumul dengan angka di meja kerjanya.
“Ya, tapi kenapa harus Korea?” tanya Henri dramatis.
Arbi terdiam sejenak. Ia mulai gemas dengan kelakuan sahabatnya. Namun, itu hanya tersalurkan lewat bolpoin yang dia genggam erat-erat. Arbi melepas kacamata lalu menatap Henri. “Pertanyaanmu sama seperti ‘Kenapa harus ke Hollywood? Kenapa harus ke London? Kenapa harus ke Aussie?’ Yang aku herankan, kamu itu penggemar film Korea, tetapi kenapa rasanya enggan menulis kisah berlatar Korea?”
Henri menghela napas panjang. Sepertinya Arbi tidak bisa menangkap maksudnya. “Aku hanya ingin menulis sesuatu yang beda.”
“Loh, emang nulis novel bertema Korea itu biasa-biasa aja? Hei, Dude. Think smart, ok?” Arbi semakin jengkel, “Kamu pikir mereka rela keluar uang begitu saja demi menerbitkan novel yang menurutmu biasa itu? Nggaklah! Justru mereka minta kamu langsung terjun ke sana untuk membuat kisah yang luar biasa tentang Korea Selatan. Jauh dari hingar bingar yang selama ini kita ketahui!”
Melihat ucapan Arbi yang berapi-api membuat Henri bungkam sendiri. Mau tidak mau Rainbow harus mengikuti trend yang sedang merebak saat ini demi eksistensi perusahaan itu di masa depan.
***
“Kalau kamu bersikukuh menolak permintaan Rainbow, semua sia-sia. Hanya ada jawaban ‘ya’ untuk rencana ini. Kalau tidak, kamu terpaksa hengkang dari Rainbow dan…” Harry mendekatkan wajahnya pada lelaki itu, “Kariermu sebagai seorang penulis benar-benar hancur!”
Henri hanya bisa mengerjap lalu menelan ludah mendengar gertakan Harry. “Hmm…” ia memperbaiki posisi duduk mencoba mengatasi nervous ini, “Tidak bisakah negara lain? Hongkong misalnya?” pintanya sok bernegosiasi.
“Boleh, kalau kamu mau jadi TKI dan gak usah kembali ke Jakarta!” gertaknya. Wajah Harry terlihat menahan emosi. “Sudahlah Hen, jangan mempersulit keadaan! Posisimu terjepit sekarang. Tidak ada jalan selain menuruti permintaan Rainbow,” lanjutnya.
“Oke, aku bersedia,” jawab Henri setengah hati. Sepertinya sudah terlalu lama ia mengundur-undur jawaban.
“Soal biaya hidup, kamu tenang saja. Rainbow tak segan-segan untuk memberikan fasilitas yang memadai di sana. Selama kamu bisa mengembalikan semuanya dengan sesuatu yang layak,” lagi-lagi tampang misterius itu didekatkan pada wajah di hadapannya, “Tulis kisah paling spektakuler!” bisiknya.
Spektakuler, satu kata penentu nasib Henri di masa depan. Lelaki itu mendengus kesal, lagi-lagi ia harus mengikuti permainan mereka. Berharap saja semoga mimpi buruk ini segera berakhir dan ia mendapatkan kisah spektakuler saat terbang ke Seoul.
Spektakuler? Yang spektakuler itu kalau ia bermain drama Korea di sana! Henri berkhayal, seandainya punya kenalan seorang selebritis Korea Selatan. Sung Si Kyung, misalnya? Artis yang lagu-lagunya sangat ia sukai. Pasti akan bagus saat foto mereka terpampang di cover belakang novel terbarunya. Yang demikian itulah spektakuler menurut versi Henri Samuel.
***
Tetap saja gamang hati masih menggelayuti lelaki itu. Sedikit kekhawatiran merajai pikirannya bila kelak tak mampu memenuhi janji pada Rainbow. Selama ini Laura dia anggap sebagai salah satu sumber inspirasi dalam menulis. Namun, sekarang mereka sudah tidak bersama. Henri akui, ia kehilangan pegangan ketika menulis tiga novel terakhirnya tahun lalu. Saat itu, memang kondisi hubungannya dengan Laura mengalami titik terburuk dalam dua tahun terakhir hubungan mereka.
Lantas, bagaimana hidupnya kelak? Tidak mungkin Henri memaksa Laura untuk kembali menjadi pacarnya. Meski sebenarnya perasaan itu masih ada.
Tiba-tiba, terbersit satu ide untuk menemui Laura. Tidak apa-apa bukan? Sekedar ingin bicara dan menghempaskan kegilaannya selama beberapa hari ini. Berharap Laura bisa melihat sesuatu dari hatinya dan memutuskan untuk kembali. Atau, sekedar menyambung silaturahmi dengannya.
Laura, bisa kita bertemu di tempat biasa? Aku janji, tidak akan lama.
Henri membaca ulang isi pesan itu. Setelah berseteru dalam hati, ia akhirnya meneruskan niat untuk mengirim pesan tersebut. Henri sudah siap seandainya Laura tak membalas pesan itu. Setidaknya hatinya lega saat pesan itu terkirim setelah hampir satu tahun mereka tidak berkomunikasi.
Ponsel berwarna hitam itu bereaksi, sebuah pesan balasan dari Laura.
Oke, besok jam lima sore ya.
Henri tertegun menatap layar ponselnya. Laura membalas pesan itu!
***
Henri tiba satu jam lebih awal. Berharap tidak ada satu pun kesalahan yang terjadi karena keteledorannya. Semua hal yang ingin ia sampaikan telah tersusun rapi layaknya draft naskah yang siap diberikan pada Harry. Ia menikmati setiap detik kegelisahan ini. Gejolak yang telah lama tak pernah dia rasakan, harap-harap cemas menanti sang pujaan hati.
Dua jam berlalu. Henri masih sabar menanti sambil menatap espresso macchiato yang tinggal setengah cangkir lagi. Mencoba berpikir positif, mungkin Laura sedang terjebak macet. Padahal sebelumnya ia berniat mengirim pesan sekedar menanyakan posisinya sekarang. Lelaki itu tak sanggup menahan gelisahnya. Perutnya terasa mual dan kepala serasa mau meledak. Ia menghela napas panjang dan mencoba bersikap rileks.
Jam bergerak menuju angka enam. Lewat satu jam dari janji awal. Henri menenggak minumannya. Kembali Ia memesan minuman, meski cukup malu menjadi bahan tontonan pegawai di kafe yang seolah mencibirnya. Sejenak ia tertegun saat tak sengaja memperhatikan latte art di atas cangkir kopi yang baru saja dihidangkan. Bentuknya menyerupai keping hati yang terbelah dua. Henri merutuk, si barista pintar sekali menggambarkan perasaan pemesannya. Segera dia aduk untuk sekedar menghilangkan bentuk hati itu. Kalau niat, rasanya ingin teriak-teriak menuduh si barista atau siapapun yang membuat suasana hatinya berantakan lagi.
Satu menit lagi kalau Laura tidak muncul di depan mata, ia akan pergi dari kafe ini. Mengabaikan janji yang telah mereka sepakati.
Tepat di saat Henri akan pergi, Laura datang. Sunggingan manis di bibirnya membuat amarah lelaki itu mereda untuk sesaat. Tetapi itu tak lama, beberapa detik kemudian Riza muncul mendampingi Laura.
“Halo, sahabat lama!” belum juga satu meter jarak mereka, lelaki itu menyalami dengan suara lantang. Dapat dipastikan semua pasang mata mengarah pada tiga orang itu. Sejenak Henri alihkan pandangan pada Laura, memberi isyarat tanya kenapa Riza bisa ada di tempat ini. Tentu saja Laura dengan akting-nya mampu memperlihatkan gestur bersalahnya.
Demi menjaga sikap, akhirnya Henri membalas uluran tangan Riza lalu memberi senyum seperlunya. Sejak Riza Pratama populer di berbagai media, lelaki itu terlihat lebih necis dari biasanya. Ia memanfaatkan kehadirannya di kafe itu sembari menebar senyuman busuk ke seluruh penjuru seraya melambaikan tangan sok akrab. Mendadak Blue Night Cafe menjadi ramai seketika saat kru dan beberapa pengunjung menghampiri sekedar minta tanda tangan dan foto bersama. Pada akhirnya, Dia pun harus ikut menebar senyum, berbagi tanda tangan, dan foto seperti yang Riza lakukan.
“Sorry, malah jadi begini. Seharusnya kita bisa bersantai, bukan?” tanya Riza.
“Kamu sendiri yang memicunya,” lirih Henri tanpa berniat menatap lawan bicaranya.
“Kamu tidak keberatan kan kalau aku menemani Laura?” Henri hanya membalas dengan seulas senyum tipis. “Baguslah, bukannya kita kawan lama? Oh iya, bagaimana kabar Arbi? Hampir delapan tahun aku tidak bertemu anak itu.”
“Dia baik-baik saja.”
“Baguslah,” Riza sendiri nampaknya sudah mulai malas berbasa-basi. Perlahan dia menengok ke arah Laura. “So, apa yang akan kalian bicarakan? Silakan saja! Aku tidak akan mengganggu.”
Henri menahan kesal. Bagaimana tidak mengganggu? Kehadirannya saja sudah membuat acaranya terganggu. “Hmm… aku mau bertanya pada Laura soal kawannya yang ada di Korea Selatan,” dia berbicara sembarang sebagai alasan untuk menemui Laura di depan Riza.
“Oh, Young Min. Kenapa memang?”
“Beberapa hari lagi aku akan terbang ke Seoul. Aku a…”
“Proyek novel K-Pop,” potong Riza. Seketika itu Henri terkesiap. Riza sukses membuatnya terkejut setengah mati. Dari mana Riza tahu proyek ini?
“Kenapa? Kaget?” lelaki itu menyeringai sinis. “Ck... ck... ck... akhirnya kamu banting setir juga nulis cerita kayak gituan.”
“Apa maksudmu?” nada suara Henri meninggi.
“Isu itu ternyata benar ya? Rainbow sedang sibuk membuat gebrakan baru dengan menerbitkan novel bertema Korea seperti itu. Kasihan.”
“Kurang ajar!” tidak tahan Henri bangkit dengan tangan yang sejak tadi mengepal. Sungguh, Ia tak kuasa ingin meninju wajah itu.
“Henri! Tenang! Aku gak mau ada keributan di sini,” Laura mulai gelisah saat sadar beberapa pasang mata mulai mengintai keributan mereka. “Sudah… sudah…. Kayaknya kita harus pulang. Aku gak mau ada gosip aneh gara-gara pertemuan kita ini!” ujar Laura sambil menarik tangan Riza. Sementara Riza hanya tertawa sinis.
“Oke, sobat, aku pergi dulu. Kutunggu undanganmu saat launching nanti,” Riza beranjak menjauhi Henri yang masih berdiri tegang. Baru beberapa meter, langkah kakinya terhenti dan kembali menengok lelaki di belakangnya. “Untuk apa kamu hadir di peluncuran novelku? Kasihan sekali, penulis yang kehilangan pembacanya!”
Sial, ternyata Riza mengetahui keberadaan Henri tempo hari. Wajah lelaki itu memerah, seperti ekspresi marah yang tak tertahankan. Jemarinya semakin keras mengepal dan keringat mulai membasahi wajahnya.
Mereka perlahan pergi diselingi tawa Riza yang penuh ejekan kemenangan.
Sepeninggal Laura dan Riza, lelaki itu terkulai tepat di atas sofa kafe. Bagaimana bisa ia dipermalukan seperti ini? Padahal ia tak pernah mengganggu siapa pun. Bahkan berbuat curang pada Riza sekalipun. Namun sekarang? Apa yang telah dia perbuat hingga harga dirinya hancur seperti ini? Henri menghela napas panjang lalu meneguk sebotol air mineral. Tidak ada yang bisa dia perbuat selain tersenyum hambar, ber-akting seolah semua baik-baik saja. Pikirannya masih tertuju pada Laura. Perempuan itu memang berada jauh di luar jangkauannya.
Saat hari berangsur meredup dan satu per satu lampu mulai dinyalakan, entah kenapa perasaan Henri berubah drastis, hatinya terasa lebih nyaman. Ia memperhatikan pasangan muda mulai berdatangan, tertawa, dan bergembira. Seolah tidak ada beban yang menghimpit kepala mereka. Lalu, kenapa dia tidak bisa seperti mereka? Seharusnya dia bahagia karena telah menjadi bintang dan menerangi mereka. Bukankah kepuasan penggemar adalah tujuannya selama ini?
Benar juga, perlahan sebentuk energi baru merasuk ke dalam dirinya. Henri mulai menyadari hidupnya memang berada di balik kilauan duniawi. Memuaskan mereka, para pembaca yang mengelu-elukan nama Henri Samuel lewat cerita cinta yang dia racik dalam sebuah novel romantis. Mereka tidak perlu ikut menderita hanya karena masalah percintaannya yang berantakan.
Henri Samuel milik fans! Ya. Hidupnya memang harus seperti ini! Lelaki penuh gemerlap dengan sejuta pesona. Bukan Harry Samuel jika harus bermuram durja di pojok kafe demi cinta yang sebenarnya sia-sia.
***
Akhirnya Henri memantapkan hati untuk berangkat ke Korea Selatan. Kejadian kemarin seperti tamparan keras bagi dirinya. Ya, tentu saja dengan sedikit ego yang belum juga hilang karena tak mau kalah dengan Riza Pratama. Karena kecintaannya pada dunia hiburan Korea. Henri telah memiliki cukup persiapan untuk dibawa ke Korea nanti. Ia mengerti kebudayaan mereka, Hangeul bisa dipahami walau masih tahap dasar, dan tentu saja ada Arbi, seorang lulusan Korea University, yang bisa dia tanya lebih jauh. Kemarin Arbi begitu antusias membawakan Henri banyak buku tentang Korea Selatan dan kebudayaannya.
“Kayak gitu, dong. Ini baru Henri Samuel yang kukenal!” Arbi menepuk bahu sahabatnya. Dia meraih kursi lalu mendekatkan posisinya pada Henri. “Lalu kapan berangkatnya?’
“Tiga hari lagi.”
“Nice, aku pasti senang kalau jadi kamu. Kapan lagi coba jalan-jalan gratis ke Korea Selatan? Nonton Music Bank secara live, jalan-jalan di keramaian Kota Seoul, beli baju di butik terkenal. Dan satu lagi… perempuan cantik Korea. Ada banyak wajah-wajah mirip selebritis di setiap jalannya. Mau mirip Taeyeon, Yoona, Seohyun, dan siapa lagi ya? Aku lupa member Girl Generation,” godanya.
Henri tertawa merespons komentar gilanya. “Ya… ya… ya… ejek aku terus. Doakan saja aku benar-benar ketemu selebritis di sana. Siapa tahu ada yang mengajakku syuting drama Korea,” timpalnya asal. Bagaimanapun juga, ia sangat terharu. Orang-orang di sekitar Henri begitu bersemangat mendorongnya untuk move on. Arbi, Harry, dan orang-orang di Rainbow, mereka yang telah dia anggap seperti keluarga sendiri.
Lampu indikator ponselnya berpendar. Ada satu pesan di sana.
Hen, aku minta maaf soal kejadian kemarin. Sungguh aku malu padamu.
Lelaki itu mengulum senyum membaca isi pesan yang ternyata dari Laura. Segera dia balas pesan singkat itu.
It’s ok. Aku sudah lupa soal itu.
Benarkah sudah Henri lupakan kejadian kemarin? Bodoh kalau Laura percaya. Kelak Riza akan mengerti bagaimana perasaan lelaki itu sebenarnya.
***
Jam delapan malam Lelaki itu telah bersiap-siap di Bandara Soekarno-Hatta, ditemani Arbi dan Harry. Mereka juga telah memastikan semua keperluan Henri tidak ada yang tertinggal satu pun. Ada perasaan sedih ketika harus meninggalkan Jakarta. Perjalanan ini memang singkat. Namun entah, apa bisa Henri bertahan sehari tanpa kehadiran kedua orang itu? Mereka adalah orang-orang yang selalu ikut terlibat di setiap permasalahannya. Lalu siapa yang akan dia ajak bermain squash? Siapa yang akan mengomelinya setiap hari? Henri mendekap dua orang itu sekaligus.
“Udah… udah… gak usah berlebihan gitu deh. Kamu kira mau berangkat naik haji apa? Pakai acara dekap-dekapan segala,” lagi-lagi Harry menghancurkan suasana haru itu. “Ini saya ada beberapa nomor telepon orang-orang yang bisa kamu hubungi di Seoul. Mereka adalah penulis kenalan saya. Hubungi saja kalau kamu butuh bantuan. Saya juga sudah menghubungi mereka untuk memperkenalkanmu,” Henri menerima beberapa kartu nama yang Harry sodorkan padanya.
“Terima kasih, Harry, kamu benar-benar baik,” puji Henri tulus.
Lelaki itu tersenyum. “Baik-baik ya kamu di sana. Sering-seringlah hubungi saya dan jangan lupa buat tulisan hebat khas Henri Samuel!” Harry mengusap bahunya.
“Siap!”
Kali ini tatapannya tertuju pada Arbi. Sahabatnya tersenyum senang. “Oh, iya, mau bekal buku gak? Kali aja kamu butuh referensi soal Korea.”
Henri menggeleng. Sejak kemarin yang Arbi tawarkan itu-itu saja. “Nggak lah. Tasku udah gak muat lagi.”
Mereka berpisah tepat setelah informasi untuk boarding penumpang pesawat tujuan Korea yang akan Henry naiki terdengar di pengeras suara. 

Other Stories
Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Kating Modus!

Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

Download Titik & Koma