Autumn's Journey

Reads
2.7K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

3. Siapa Perempuan Itu?

Tepat pukul delapan pagi, pesawat yang Henri tumpangi mendarat di Bandara Incheon. Entah kenapa tiba-tiba ia mulai ragu lagi soal keberadaannya di Seoul. Henri menghela napas panjang, mencoba bersikap tenang dan berpikir positif. Perjalanan ini memang tak terpikirkan olehnya. Ia lakukan semata untuk menyelamatkan kariernya yang hampir di ujung tanduk. Ia hanya berharap semoga kepalanya mau diajak bekerja sama lalu menghasilkan kisah menarik seperti yang Rainbow harapkan.
Kalau boleh memilih, sebenarnya Henri ingin berkelana di Hongkong dengan gemerlap kemewahan khas Asia yang membuatnya terinspirasi untuk menulis sesuatu. Namun raganya malah terdampar di Kota Seoul, saat Rainbow memaksa untuk menulis kisah berbau K-Pop yang sangat merajalela di Indonesia. Mau tidak mau, Ia harus menuruti permintaan mereka demi kemajuan perusahaan yang menerbitkan novel-novelnya.
Baiklah, tidak masalah. Toh, Seoul sama menariknya dengan Hongkong. Sebuah kota yang menawarkan banyak mimpi, seperti drama romantis yang mereka jual hingga ke Indonesia. Pasti banyak inspirasi bermunculan seiring perjalanan Henri selama satu bulan ke depan. Meski sebenarnya lelaki itu bingung, di tangan hanya tergenggam peta Kota Seoul dan catatan beberapa lokasi penting sebagai tuntunan. Semula Harry menyarankan untuk menemui penulis kenalannya yang tinggal di Seoul untuk menemaninya. Namun, ia malas menemui mereka. Ia ingin mencoba berpetualang seorang diri di negara ini, karena sepertinya lebih menyenangkan.
Incheon, salah satu bandara terbaik dunia. Henri sempat tak percaya saat diberi tahu penumpang yang duduk di sebelahnya bahwa ternyata bandara ini berada di pulau yang terpisah dengan daratan Seoul. Berkat kecanggihan orang-orang sana, bandara ini dihubungkan dengan jembatan besar yang membentang di atas lautan menuju Seoul.
Terlalu lama duduk membuat Henri merasa pegal di seluruh tubuhnya. Ia enggan untuk bergerak. Namun, dipaksakan langkah kakinya keluar dari pesawat. Iklan pariwisata yang bertebaran di dinding sepanjang garbarata menuju loket imigrasi setidaknya memberi hiburan tersendiri. Warna-warni yang mencolok seakan menyegarkan setiap mata yang melintasinya. Saat memasuki bandara yang sekilas seperti studio dengan desain futuristis berwarna dominan abu-abu, Henri merasa seperti berada di negeri antah–berantah.
Bagaimanapun juga ini sangat menyenangkan. Jalan-jalan di Bandara Incheon sudah menjadi bagian dari rekreasi itu sendiri. Bagaimana tidak? Bandara ini amat bersih, rapi, dan canggih. Tetapi yang lebih dahsyatnya lagi, ada mal, tempat spa, museum mini, hingga lapangan golf! Luar biasa! Henri seperti orang desa yang baru melihat gemerlap kota.
Lelaki itu termangu dalam kerumunan orang di terminal kedatangan. Bingung, apa yang akan dilakukan sekarang? Matanya melihat sekeliling. Sekedar melepas lelah ia menepi di sebuah lounge yang sepertinya enak untuk disinggahi. Di sana, tersedia beberapa laptop yang bisa digunakan secara gratis sambil menunggu shuttle train yang mengantarnya menuju Seoul.
Waktu telah menunjukkan pukul satu siang ketika ia selesai beristirahat dan makan sebentar di sebuah food court. Berarti ini saatnya dia lanjutkan perjalanan dengan shuttle train menuju Seoul. Seorang petugas menyambutnya dengan ramah. Dia membawakan tas milik Henri ke dalam bagasi. Perlahan kereta melaju. Berharap di perjalanan ini Henri bisa tidur untuk sesaat.
***
Kereta ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk tiba di Stasiun Seoul. Bentuk stasiunnya tidak jauh beda dengan Bandara Incheon. Stasiun ini adalah stasiun induk yang menghubungkan ke seluruh kota di Seoul. Kereta yang dipergunakan pun beragam. Sesekali tampak beberapa warga berseragam militer hilir mudik di sana. Sejarahnya, Stasiun Seoul tua yang letaknya di samping stasiun baru dibuka pada tahun 1925 dan dirancang oleh arsitektur Jepang bernama Tsukamoto Yasushi dari Universitas Tokyo. Desain stasiun terlihat seperti gaya Eropa zaman dulu. Rencananya Stasiun Seoul tua akan direnovasi untuk digunakan sebagai pusat kebudayaan. Sungguh, buku-buku yang Henri baca selama di Indonesia membuat ia sedikit tahu tentang negara ini.
Henri segera mencari tahu jadwal keberangkatan subway ke distrik Jongno. Sudah berkali-kali ia menghubungi Harry untuk menanyakan jalan dan stasiun mana yang harus dituju. Catatan-catatan yang sudah ia siapkan sejak di tanah air mendadak tak terbaca. Mungkin karena kelelahan, jadi matanya terasa buram.
Akhirnya, tersambung juga saluran telepon ini ke kantor Harry. “Harry, benar kan lokasi yang kutuju namanya Distrik Jongno? Terus aku harus naik apa lagi untuk ke sana?”
“Betul. Nanti kamu cari subway di jalur tiga lalu turun di Stasiun Anguk,” papar Harry. Baru kali ini ia sungguh-sungguh mendengarkan paparan Harry tanpa candaan. Seraya melangkah, pandangannya tetap awas mencari letak jalur tiga yang dimaksud Harry. Nah itu dia, “The Orange Line” julukan yang pernah disebut Harry karena dominasi warna oranye di tubuh kereta itu.
Lega juga. Akhirnya Henri bisa merebahkan diri lagi barang sejenak. Tak tahan ingin segera sampai hostel dan mandi. Ratusan orang ternyata sudah siap di kursi penumpang. Padat sekali gerbong ini. Tak lama kemudian kereta mulai melaju. Sepanjang perjalanan, mereka sibuk mengutak-atik ponsel dengan earphone yang terpasang di telinga, sekedar mendengarkan musik atau berseluncur di dunia maya.
Henri mengedarkan pandangan ke segala arah. Semua orang nampak dengan gayanya masing-masing. Mulai dari pelajar, karyawan kantoran, hingga orang-orang tidak jelas seperti dia. Henri tertawa kecil. Tiba-tiba matanya terpaku pada seraut wajah perempuan yang terpaksa berdiri karena tak kebagian kursi. Perempuan itu hanya berpegangan pada tiang penyangga sembari terkantuk-kantuk. Meski wajahnya nyaris tertutup oleh rambut yang tergerai tak beraturan, ia masih bisa memperhatikan pipinya yang merona, hidung sedikit mancung, dan bibirnya yang merah alami.
Henri berpikir keras, sepertinya mirip salah satu selebritis Korea. Namun, entah siapa? Song Hye Kyo? Ah, bukan! Son Ye Jin? Juga bukan dia. Siapa ya? Mata sendunya mirip seseorang… Soo Ae! Nah, itu dia! Dia mirip pemeran utama drama Korea “A Thousand Days Promise”. Benar juga kata temannya yang pernah berkunjung ke Korea, akan ada banyak orang yang mirip selebritis di setiap sudut Kota Seoul. Lumrah sih, bukankah Korea Selatan terkenal dengan operasi plastiknya sehingga orang-orang di sini seakan berwajah mirip?
Kereta berhenti di Stasiun Anguk. Bersama penumpang lainnya, lelaki itu beranjak dari kereta dengan langkah yang berat seolah tidak mau meninggalkan perempuan itu. Sungguh, ingin rasanya memperhatikan lebih lama kembaran Soo Ae itu. Henri hanya menyeringai dengan pikiran bodohnya. Terlepas dari itu semua, perasaannya kini lebih lega. Berarti jarak dengan Banana Backpackers—hostel yang akan menjadi tempat tinggalnya selama di Seoul—semakin dekat.
Semilir angin membuai wajah berparas oriental itu. Henri datang di waktu yang tepat. autumn yang indah. Pesona red maple di sepanjang ruas jalan seolah memberi sambutan akan kedatangan seorang Henri Samuel. Ia sampai juga di Banana Backpaker tanpa tersesat berkat bantuan video yang dia unduh dari website hostel tersebut. Hmm… ide kreatif untuk membantu turis yang hendak jalan-jalan ke Korea Selatan.
Halaman depan Banana Backpacker terlihat menyenangkan. Terdapat taman yang cukup luas dengan beragam tumbuhan yang unik. Dari berbagai hiasan yang ada di sana, yang paling mencolok adalah kincir angin besar khas negara Belanda seolah menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa pin wheel bergerak ketika angin berembus lembut menerpa wajahnya tepat saat memasuki area teras hostel yang beralaskan kayu berwarna cokelat tua. Pandangannya tak luput pada sebuah kursi antik berbahan besi. Sepertinya enak duduk santai di sana seraya berbincang dengan penghuni hostel lainnya.
Tiba di lobi yang terlihat adalah sebuah sign board ukuran sedang bertulisan Banana Backpacker dengan warna kuning. Kenapa harus memakai nama pisang? gumam Henri dalam hati. Tak lama kedatangannya disambut oleh seorang lelaki berparas oriental. Dipastikan dia adalah salah seorang staf hostel karena memakai t-shirt berlogo Banana Backpacker. Staf itu melayaninya dengan bahasa Inggris dialek Korea yang terdengar ramah. Syukurlah, Henri sempat grogi karena khawatir bahasa Koreanya berantakan saat bicara nanti.
“Liburan di Seoul berapa hari?” tanya lelaki yang mengaku bernama Tae Joon itu. Sebelumnya dia telah memaparkan semua hal tentang fasilitas di hostel ini lengkap dengan harga yang ditawarkan.
Henri tersenyum. “Aku check in untuk satu bulan dulu.”
“Satu bulan? Lama sekali. Ada urusan pekerjaankah?” tanya staf itu seakan ingin tahu urusan tamunya.
Henri menganggukkan kepala seraya menyunggingkan bibir. Bukan tidak mau beramah tamah dengannya, tetapi tubuh lelaki itu sungguh lelah. Ia sudah tak sabar ingin segera mandi dan merebahkan diri.
***
Cukup lama Henri tertidur hingga melewatkan suasana malam pertama di kota ini. Padahal sudah ia berencana untuk menikmati pesona Seoul di malam hari yang selalu dibicarakan orang. Henri tertawa kecil. Lagi pula ia akan berada di sini tidak hanya sehari. Pagi ini, lelaki itu mulai pencarian riset untuk novelnya dengan secangkir kopi panas dan sepiring caramel pancake.
Henri berjalan santai di sepanjang ruas Jalan Insadong-gil seraya mengamati aktivitas para pebisnis yang menjual berbagai kerajinan seni khas Korea Selatan. Sesekali ia memasuki gerai untuk sekedar melihat-lihat benda menarik yang terpajang di etalase. Ya, mau tidak mau ia harus membelinya daripada menahan rasa ingin memiliki benda itu.
Akhirnya, Henri tiba di sebuah pasar seni yang pernah diceritakan Arbi. Ia tak tahu apa nama pasar seni ini karena memakai tulisan Hangeul yang otomatis membuatnya jadi buta huruf dalam sekejap. Banyak sekali lukisan, fotografi lokasi bersejarah, kerajinan tangan, hingga furnitur antik yang terpajang di setiap gerainya. Bisa saja ia membeli macam-macam benda yang dia suka, tetapi siapa yang nantinya akan membawa barang-barang itu?
Henri menepikan langkahnya di sebuah kedai teh bernama Gwicheon. Sebelum berangkat tadi, Tae Joon merekomendasikan untuk mampir sekedar mencicipi mokwacha[1], minuman khas dari kedai itu. Selain berbagai makanan dan minuman, kedai ini juga menyediakan berbagai buku karangan penyair terkenal di Korea Selatan. Buku-buku itu membuatnya penasaran, tetapi rasa itu seketika sirna ketika tulisan Hangeul banyak mendominasi di sana. Lagi-lagi dia hanya bisa mendesah panjang. Bodohnya, ini kan Korea, pastilah ada tulisan Hangeul di mana-mana.
Baiklah. Setidaknya teh yang ia minum bisa mengurangi kekecewaannya. Apalagi saat tak sengaja menatap perempuan cantik di meja seberang. Meski memakai pakaian sederhana, perempuan itu terlihat menawan. Mungkin karena wajahnya yang bersih tanpa riasan berlebihan dan dibingkai dengan legamnya rambut panjang sepinggang. Tiba-tiba Henri teringat sesuatu. Bukankah perempuan itu si kembaran Soo Ae? Dia tampak duduk gelisah seperti sedang menunggu seseorang. Tak disangka perempuan itu menangkap basah tatapannya. Henri segera mengalihkan pandangan ke sisi lain. Beruntung, dia tak menghiraukan lelaki itu.
Tempat hening seperti ini memberikan sedikit inspirasi segar. Apalagi seduhan teh hangat yang harumnya begitu khas membawa khayalan melambung tinggi. Tidak lama Henri mulai terusik dengan percakapan antara perempuan itu dengan salah seorang kru kafe. Nada suaranya cukup kencang. Henri kurang paham dengan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut mereka. Apa seperti itu gaya bicara mereka? Atau memang sedang bertengkar?
“Nae imgeum eul jibul![2]” suara perempuan cantik itu mendadak terdengar buas.
“Ssipal! Cheosbeonjjae bij-eul gapji![3]” terdengar suara lelaki mengejutkan perempuan itu dengan pukulan tangannya ke atas meja.
Sepertinya kedua orang itu semakin keras berseteru. Tidak sadarkah mereka kalau ada orang-orang di sekitar yang menonton ‘pertunjukkan’ itu? Percakapan mereka yang menggunakan bahasa Korea membuat Henri tidak memahami apa-apa dan tidak berdaya untuk melerai. Ia hanya mampu mendesis kesal. Pertengkaran berakhir ketika mereka diusir paksa oleh petugas keamanan yang seharusnya sejak tadi mengamankan perseturuan itu. Ah, ada-ada saja! pikir Henri.
Tak terasa minuman telah habis. Sudah saatnya Henri kembali ke hostel. Bosan juga rasanya berkeliling sendirian di daerah ini. Ia sangat berharap seseorang menghubunginya, walau itu hanya sebuah pertanyaan dari editornya yang super cerewet.
Henri beristirahat sejenak di sebuah kursi taman kota. Biar suasana Hallyu semakin terasa, Ia pasang earphone lalu memutar lagu The Boys milik Girl Generation. Mendengarkan lagu ini membuatnya tersenyum sendiri. Apalagi secara tak sengaja nampak sebuah tabloid dengan sampul Girl Generation dan ia sadari pemilik tabloid itu ternyata wanita yang ia temui di dalam gerbong kereta. Henri lemparkan senyum terbaiknya untuk menyapa perempuan itu, berharap masih mengingatnya. Bukankah mereka sempat saling melihat di kedai teh tadi?
“Anyeong hasimnika[4]?”
Perlahan dia menoleh padanya. Hanya seulas senyum tanpa ekspresi yang diperlihatkannya. Henri jadi salah tingkah karena diabaikan. Perempuan itu berdehem sambil memperbaiki posisi duduk.
“Onurun myochirieyo[5]?” tiba-tiba saja dia berbicara.
Aduh, dia bicara apa ya? pikir Henri. Mendadak ribuan kosakata Korea yang ia simpan sebulan ini melayang dari kepalanya. “Sorry I don’t understand.” akhirnya itu saja yang keluar dari mulutnya.
Kali ini perempuan itu benar-benar melihatnya. “Sorry, I think you can speak Korean,” ujarnya.
Henri tertawa sedikit. “Yeah, just little word,” tentu saja ia tak mau terlihat bodoh di depannya. “I usually watched Korean drama. So I can see a simple word like saranghae, mianhae, oppa, and another words.”
Perempuan itu tertawa geli. Akhirnya ia tersenyum juga setelah mendengar pernyataan konyol lelaki itu. “Onu nara saramimnikka[6]?”
Henri memicingkan mata. Hmm… ternyata dia mau mengujiku, gumamnya dalam hati. “Indonesiaeso wassoyo[7].”
“Hei, you can answer my question!” serunya.
“Yeah, just like what I said,” Henri nyengir.
Senyum perempuan itu terhenti. “Indonesia…,” lirih perempuan itu. “Aku pernah tinggal di Indonesia.”
Henri terperangah. “Hah? Bisa berbahasa Indonesia?” perempuan itu mengangguk.
“Berapa lama kamu tinggal di Indonesia?” lelaki itu semakin bersemangat dan ia lihat binar mata perempuan itu semakin jernih saat diajak bicara bahasa Indonesia.
“Icheon palnyeon buteo icheon sibnyeon kkaji sarayo[8]. Aku bekerja di perusahaan tekstil di daerah Karawang,” terang perempuan itu. “Hanya saja pabrik itu terlanjur bangkrut dan aku terpaksa kembali ke Korea,” suaranya melemah, membuat Henri merasa tidak enak.
“Hmm… Kota Seoul indah sekali ya?” lelaki itu mencoba mengalihkan pembicaraan. “Cuma sayang, aku seorang diri di sini. Tidak ada seorang pun yang bisa kumintai pertolongan selama di sini.”
Perempuan itu menatap Henri lekat. “Yogi olma dongan kyesil koyeyo[9]?”
“Hmm… Satu bulan. Rencananya aku akan membuat novel tentang Korea Selatan,” terang Henri.
“Keu rae yo[10]? Kamu penulis?” raut wajahnya semakin senang.
Henri mengangguk sekali, cukup mewakili dua pertanyaan sekaligus. “Oh, aku lupa. Henri Samuel imnida,” nyaris saja ia lupa memperkenalkan diri.
“Kim Ha Neul,” ia membalas uluran tangan Henri. “Miahnhae[11]. Aku memalukan ya bertengkar di kedai tadi?”
Henri tertawa kecil, senang karena ternyata perempuan itu masih mengingatnya. “Gwenchana. Toh aku sendiri tidak tahu apa yang kalian bicarakan.”
Kim Ha Neul tersipu malu. Astaga! Hanya satu kata yang bisa Henri ungkapkan saat berbicara dengannya. Menawan. Ternyata perempuan itu memiliki lesung pipi. Terlihat jelas saat ia tersenyum.
“Musun il haseyo[12]?” lelaki itu coba memecahkan keheningan.
“Aku masih pengangguran. Sulit sekali mencari pekerjaan saat ini,” ujarnya lesu. Lagi-lagi Henri mengajukan pertanyaan bodoh.
Kembali mereka terdiam. Henri tak berani bertanya lebih lanjut. Terbukti pertanyaan terakhir malah membuat Ha Neul tenggelam dalam kesedihan. Selebihnya, Ha Neul nampak malas untuk berbincang-bincang. Tak lama dia berlalu meninggalkan kursi taman dan meninggalkan Henri yang masih juga terdiam.
[1] Nama jenis teh
[2] Bayar gajiku!
[3] Sial! Bayar utangmu dulu!
[4] Halo, apa kabar?
[5] Hari apa hari ini?
[6] Kamu orang mana?
[7] Saya dari Indonesia
[8] Tahun 2008 sampai 2010 aku tinggal di sana.
[9] Berapa lama kamu akan tinggal?
[10] Benarkah?
[11] Maaf
[12] Apa pekerjaanmu?

Other Stories
Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Haura

Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...

Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

Download Titik & Koma