Autumn's Journey

Reads
2.7K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

4. Cerita Tentang Kim Ha Neul

Malam mulai menjelang. Perlahan suhu udara di kawasan Jongno semakin menusuk. Henri yang sejak tadi melamun mulai menyadari ketika raganya hanya berselimutkan kain tipis. Perlahan jemarinya meraih bed cover, berusaha membungkus sekujur tubuh. Sepertinya dingin malam ini tak berefek sama sekali untuk penghuni hostel lainnya. Sudah hampir satu jam ia mendengar keriuhan di ruang tengah yang didominasi suara Tae Joon dan beberapa suara beraksen bule. Seru sepertinya berkumpul pada suasana seperti ini. Lelaki Korea itu memang pintar membuat senang pelanggannya. Tae Joon mengingatkan Henri pada Harry, Arbi dan kawan-kawan di Rainbow.
Tak lama terdengar suara-suara aneh di perut Henri. Faktor cuaca membuat ia cepat lapar. Ingin membeli makanan. Maka tidak ada pilihan lain, daripada asam lambungnya ikut kumat, ia memaksakan diri untuk pergi mencari makanan. bergegas lelaki itu memasang jaket dan dua helai syal, bersiap berjuang melawan malam yang menggigil di luar sana.
“Halo, Henri. Akhirnya kamu keluar kamar juga. Ayo bergabung bersama kami!” Tae Joon menyapanya masih dalam bahasa Inggris beraksen Korea. Henri menengok ke sumber suara yang kebetulan jaraknya tidak seberapa jauh dari kamarnya. Baiklah, tidak ada salahnya ia menghampiri mereka untuk sekedar menyapa.
“Selamat malam,” ujar Henri di hadapan tiga orang berparas bule dan seorang lelaki Korea.
“Kawan-kawan, kita memiliki kawan baru. Dia berasal dari Indonesia,” ujar Tae Joon menyambut sambil merangkul bahu Henri—pembawaannya yang ramah membuat Henri bingung sendiri. Padahal mereka baru bicara kemarin, itu pun hanya sekedar basa-basi. “Cepat perkenalkan diri pada kami,” bisiknya. Waduh, bagaimana ini? Henri paling tidak nyaman berbicara dengan orang asing. Melihat situasi sekarang, sepertinya memang tidak ada pilihan lain. Ia harus memperkenalkan diri.
“Selamat malam, aku Henri Samuel. Ya, seperti yang Tae Joon katakan, aku dari Indonesia. Aku akan berada di Korea sekitar satu bulan untuk riset novel terbaruku.”
“Wow, kamu seorang penulis? Kenapa tidak cerita?” Tae Joon seolah protes.
“Kamu tidak bertanya,” desisnya.
Menyenangkan juga berbicara dengan mereka. Ketiga orang itu berasal dari Kanada dan sengaja datang ke Korea Selatan untuk berlibur. “Aku sempat berkunjung ke Bali tahun lalu,” ujar Bryan—salah satu dari mereka. “Kuharap sesegera mungkin aku dapat kembali ke Indonesia.”
“Ide bagus. Kamu bisa mengunjungi tempat keren selain Bali.”
“Hei, kamu mau ke mana?” Ethan, si bule Kanada yang postur tubuhnya lebih kecil bertanya sambil melihat jaket dan dua helai syal yang melekat di tubuh Henri.
“Aku hanya ingin keluar mencari makanan,” jawab Henri.
“Kenapa tidak bergabung bersama kami saja? Lihat, Tae Joon menjamu kita dengan makanan khas Korea. Apa ini namanya?” tanya Alice, satu-satunya perempuan bule di ruangan ini, seraya menunjuk sebuah makanan yang mirip pancake itu.
“Bu-Chim-Gae[1],” jawab Tae Joon cepat.
“Kamu harus mencobanya, Sobat!” Bryan berhasil membuat air liur Henri hampir menetes. Apalagi melihat cara makan Bryan yang seolah menikmati makanan itu. Akhirnya, Henri mengambil sumpit dan ikut juga mencicipi makanan yang terhidang di meja.
***
Usai makan bersama, Henri tetap masih ingin keluar hostel. Makanan yang Tae Joon suguhkan tadi tak mampu membuat cacing-cacing di perutnya kenyang. Ia ingin mencari makanan yang bisa membuat perut penuh dan tentunya mampu menambah energi untuk menulis. Siapa tahu suasana malam di jalanan Insadong bisa melahirkan ide spektakuler khas Henri Samuel.
Hanya membutuhkan lima menit untuk menuju Insadong dari Banana Backpacker. Di sepanjang jalan, Henri terbuai dengan indahnya lampu aneka warna yang menerangi Seoul di malam hari. Meski cuaca sangat dingin, banyak warga dengan nyamannya berkeliaran di kedua ruas Jalan Insadong-Gil. Mungkin dingin yang ia rasakan tidak seberapa bagi warga Seoul.
Henri menelusuri sepanjang jalan ini, banyak sekali pojangmacha[2] yang digelar di setiap sudut Jalan Insadong. Beragam makanan khas kaki lima bisa dengan mudah ia dapatkan. Ada odeng, hotteuk, dan beraneka macam kue beras. Tanpa banyak berpikir, Henri menghampiri salah satu pojangmacha yang paling ramai dikunjungi orang. Tidak sabar ingin melahap semua jenis makanan itu. Hmm… lelaki itu sangat menikmati kue hotteok[3] yang hangat ini, sampai-sampai lupa dengan dingin yang mendera tubuhnya.
Baiklah, kini saatnya ia mencari pojangmacha yang menyediakan soju. Tak sabar ingin menghangatkan tubuh. Langkahnya terhenti sejenak saat ia temukan sebuah tenda yang cukup ramai. Suasana sangat riuh saat memasuki warung tenda besar ini. Henri berada di tengah kerumunan orang-orang yang asyik bersenda gurau satu sama lain. Sementara ia tidak bisa ikut tertawa seperti mereka karena kurang mengerti bahasa mereka. Diedarkan pandangannya ke sekeliling kedai yang ramai pengunjung ini. Secara tak sengaja tatapannya tertuju pada perempuan yang berada di ujung meja.
Perempuan itu asyik menikmati minumannya. Beberapa botol kosong berjajar di atas mejanya. Henri hanya bisa berdecak heran melihat perempuan yang mampu menghabiskan berbotol-botol soju. Ia amati perempuan itu lebih lama. Sepertinya ia mengenal paras itu. Astaga, itu kan kembaran Soo Ae! Benar-benar aneh! Sudah dua kali kesempatan Henri bertemu dengannya. Dunia selebar daun kelor berlaku pula di Seoul rupanya.
“Ha Neul Ssi?” sapa Henri lalu duduk di hadapannya.
Perempuan itu mengangkat kepalanya. Tampak dandanannya berantakan dan matanya sembap. Ha Neul mencoba tersenyum, tetapi yang keluar malah tangis tak tertahankan. Tangisan Ha Neul membuat keduanya menjadi pusat perhatian. Mereka pasti mengira Henri telah menyakiti Ha Neul. Bagaimana ini? Henri tersenyum hambar pada mereka sambil memberi isyarat tangan bahwa perempuan di sebelahnya baik-baik saja. “Ha Neul Ssi? Are you ok?” meski sebenarnya jengkel, ia jadi ikut mengkhawatirkan keadaan perempuan itu.
“Gwenchana…” lirihnya. Ha Neul bangkit seraya melempar lembaran mata uang won di atas meja. Ha Neul kemudian pergi dan mengabaikan lelaki itu. Henri tidak mungkin meninggalkannya. Langkah Ha Neul terlalu gontai untuk berjalan sendirian.
Henri memutuskan untuk mengikuti perempuan itu dengan jarak terpaut lima langkah di belakangnya. Ha Neul seolah sadar ada seseorang yang membuntuti, tetapi ia tetap melangkah seraya menceracau. Ia berjalan terhuyung-huyung dan tubuhnya nyaris terjatuh karena tersandung sesuatu.
“Let me help you!” ujar Henri sigap meraih bahunya.
Seketika Ha Neul menoleh ke arahnya. Ia tampak berpikir tentang sosok yang ada di hadapannya. “Ah, Henri Samuel.” dia menunjuk tangannya tepat di muka lelaki itu. Tidak lama dia mulai tertawa dan membuat Henri bergidik sendiri.
“Iya, aku Henri. Kamu baik-baik saja kan?” perempuan itu menggelengkan kepalanya lalu jatuh pingsan.
“Help! Somebody help me please!” pekik Henri saat sadar tak mampu berbuat apa-apa sendirian.
***
Penghuni Banana Backpacker dibuat geger saat Henri membawa perempuan yang sedang mabuk. “Siapa dia? Kawanmu?” Tae Joon bertanya sambil membantu lelaki yang kepayahan menggendong Ha Neul.
“Nanti aku jelaskan semuanya. Sekarang, lebih baik kamu bantu aku memapah perempuan ini.”
“Tentu,” Tae Joon membantu meraih bahu Ha Neul menuju kamar Henri, diikuti kawan-kawan lainnya yang sedang berkumpul di ruang tengah.
“Kamu tidak bilang kalau punya pacar orang Korea?” tuduhan Bryan sontak membuat Henri terdiam sejenak.
Tak lama ia menyeringai. “Pacar? Yang benar saja!” umpat Henri setengah kesal.
Sungguh, orang-orang Kanada itu ikut dibuat sibuk gara-gara ulah Ha Neul. Ethan menyeduhkan segelas air madu, sementara Alice membantu menukar pakaian perempuan itu dengan pakaian bersih miliknya, dan Bryan membantu memijat kening Ha Neul.
Malam semakin pekat. Henri tak menyangka akan berada dalam satu kamar dengan perempuan yang baru ia kenal kemarin. Dihampirinya perempuan itu. Ha Neul bahkan tak menyadari dengan siapa dia sekarang. Siapa gerangan kamu? Perempuan berparas lembut sepertimu tidak cocok berkeliaran tengah malam tak sadarkan diri. Henri tersenyum geli melihat reaksinya saat membelai rambut legam itu. Ia biarkan Ha Neul beristirahat di kamar. Malam ini ada baiknya Henri begadang di ruang kerjanya yang sempit. Hitung-hitung mencari ide untuk memulai cerita di negeri ginseng ini.
***
“Aaaahh!!!” terdengar pekikan suara perempuan bersamaan dengan dering alarm menggelegar ke seisi ruang kerja itu.
Sontak Henri terjatuh dari sofa saat asyik terlelap di alam mimpi. Ia memijit-mijit pelipis yang terasa pening. Diedarkan pandangan ke segala arah. Laptop, buku-buku berserakan, kaleng bir yang sudah kosong, catatan-catatan kecil, hingga foto-foto bertema Korea. Sambil mendesah panjang, ia raih alarm yang sedari tadi berbunyi nyaring. Hmm… baru pukul enam pagi, batinnya. Segera ia matikan alarm lalu menengok pintu kamarnya. Bukankah suara perempuan itu berasal dari kamarnya? Ia lupa kalau ada Ha Neul yang tidur di kamar itu.
Tiba-tiba perempuan itu keluar dari kamar dengan wajah merah padam. Kembali dia berkoar-koar dengan bahasa Korea persis seperti yang Henri lihat saat berada di kafe semalam. Ada apa lagi sekarang? Ia yang tidak mengerti dengan ucapannya hanya bisa menggaruk kepala.
“Tenang, Ha Neul Ssi,” Henri mendekat dan meraih bahunya, tetapi perempuan itu malah menghempaskan tangannya lalu menampar pipi Henri. Damn! “Apa-apaan kamu?!” tanya lelaki itu kencang. Sungguh, pagi hari perempuan ini sudah membuatnya emosi.
“Kamu!” telunjuknya menuduh Henri. “Apa yang kamu lakukan semalam?” teriaknya. “Berani sekali!”
“Kamu mabuk, Perempuan sial!” umpat lelaki itu kesal. “Kamu yang tiba-tiba pingsan di depanku. Memangnya aku tahu rumahmu?” rutuknya. “Masih beruntung kutampung di hostel ini!” kali ini giliran dia yang menunjuk-nunjuk wajah Ha Neul.
Ha Neul terdiam lalu memperhatikan pakaian yang melekat di tubuhnya. “Kamu tidak melakukan apapun kan semalam?” tanyanya lirih.
Henri menyeringai sinis. “Aku bukan lelaki mesum seperti yang kamu pikirkan!” jawabnya ketus.
“Lalu siapa yang mengganti pakaianku?”
Sialan! Memangnya aku sudi membuka baju perempuan yang bau alkohol? Henri menggelengkan kepala. “Kamu pikir di hostel ini tidak ada perempuan?”
***
Pagi-pagi Tae Joon dan teman-teman Kanada sudah menyambutnya dengan wajah penuh tanya. “Selamat pagi, Henri. Bagaimana semalam?” tanya Tae Joon dengan wajah usil. Henri hanya tersenyum menanggapi candaan Tae Joon.
“Kamu mau tahu saja urusan orang!” canda Henri. Ha Neul yang berdiri di sampingnya tampak bingung dengan candaan mereka. “Oh iya, kenalkan, ini Ha Neul.”
Ha Neul segera mengulurkan tangannya kepada Tae Joon. Mereka lalu berbincang-bincang dengan bahasa Korea. Henri meninggalkan mereka berdua yang sedang asyik dengan obrolan yang tak ia mengerti. Matanya tertuju pada sebuah majalah jalan-jalan yang sepertinya disediakan di lobi hostel untuk para tamu. Di dalam majalah itu disebutkan banyak tempat-tempat eksotis di Korea Selatan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Referensi menarik untuk wisatawan seperti dia, dan berbagai rencana tersusun di otaknya untuk mengunjungi tempat-tempat itu.
“Henri, bisa tolong antarkan aku pulang?” kehadiran Ha Neul membuyarkan lamunannya.
“Hmm… di mana rumahmu?”
“Aku tinggal di Insadong.”
“Insadong? Baiklah. Kamu mau pulang sekarang?” tanya Henri. Ia hanya ingin memastikan keadannya sudah sehat setelah mabuk semalam.
Henri dan Ha Neul berjalan kaki menuju rumah perempuan itu. Sepanjang jalan, Henri menikmati pohon red maple yang berguguran seperti hamparan karpet. Gradasi warna hijau dan kuning di salah satu sudut jalan begitu meneduhkan mata, menambah keindahan tersendiri. Keindahan seperti ini memunculkan banyak ide. Segera ia rogoh buku catatan kecil yang selalu dibawa di saku kanan dan menuliskan ide-ide itu di atasnya.
“Kamu sedang apa?” tanya Ha Neul.
“Menyimpan harta,” jawab Henri singkat. Memang, baginya ide adalah harta yang amat berharga. Harus segera ia catat agar tidak mudah lupa. Hal-hal sederhana seperti gugurnya red maple ini terkadang bisa menjadi ide untuk sebuah cerita yang besar.
“Boleh aku lihat hartamu?” pinta Ha Neul. Henri berpikir sejenak.
“Hmm… baiklah.” lelaki itu menyerahkan buku ‘harta’nya pada si gadis Korea.
“Bias warnamu semakin memudar. Meski pesona nirwana membalut raga, aku bisa merasakan pedihmu semakin dalam mengakar. Menembus batas pertahanan hati. Lalu, mengapa kau bertahan? Tak hiraukan kelopakmu yang kini mengelupas?
Tak perlu menunggu janji matahari. Hanya membuatmu semakin tersungkur dalam lembah air mata. Bahkan hamparan langit pun tak merestui. Angkuh dengan kelabu selimuti angkasa.
Edarkan rasamu di sini. Tak perlu ke ujung langit menanti janji matahari. Kau akan sadari cinta lain telah bersemi. Ada aku…” Ha Neul membaca keras-keras tulisan itu dengan ekspresi yang dalam, sementara Henri memandangi wajah cantiknya.
“Tulisanmu bagus,” puji Ha Neul. Tentu saja pujiannya membuat pipi lelaki itu bersemu.
“Terima kasih, yang kamu baca sekedar coretanku di kala luang,” jawab Henri berusaha merendah. Entah terdengar seperti orang yang rendah hati atau malah sombong.
“Sudah berapa lama kamu jadi penulis?”
Ia meraih kembali catatan usangnya. “Sudah lama sekali, sejak duduk di bangku SMA. Saat itu aku bergabung dalam sebuah komunitas penulis di Bandung, dimulai dengan memasukkan tulisan ke berbagai media massa.”
Selesai menjawab pertanyaan Ha Neul, mereka masing-masing diam sambil asyik mengamati aktivitas di sekitar Insadong. Banyaknya daun berguguran membuat lelaki itu teringat pada keindahan setting tempat dalam drama-drama Korea yang sering ia lihat di televisi. Namun, kali ini Henri merasakannya langsung. Betapa indahnya musim gugur di Korea. “Kamu tinggal dengan siapa?” ia lontarkan pertanyaan seputar kehidupan Ha Neul agar suasana tidak kaku.
“Sendiri,” Ha Neul hanya menjawab pertanyaan itu dengan singkat. Sepertinya ia tidak tertarik dengan pertanyaan Henri. Kembali mereka terdiam hingga tak terasa perjalanan keduanya telah memasuki sebuah gang kecil. Di hadapan mereka ada sebuah tangga besar yang curam. Hati-hati mereka menuruni anak-anak tangga yang entah berapa banyak jumlahnya dan membuat lelaki itu cukup mengeluarkan keringat. Ha Neul melihat ke arah Henri. “Capek? He… he… he… Maaf ya. Rumahku sudah hampir terlihat di depan sana,” tunjuk Ha Neul ke arah pemukiman sederhana di bawah tangga besar ini. Henri ikut melihat ke arah yang ditunjuk Ha Neul.
“Maaf, aku tidak punya apa-apa, jadi tidak bisa menjamumu,” perempuan itu mempersilakan tamunya masuk ke sebuah kamar berukuran kecil yang ditata seadanya. Lelaki itu mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Bagaimana bisa Ha Neul tinggal di ruangan yang besarnya hampir sama dengan kamar mandinya di rumah? Hanya ada sebuah lemari, meja belajar, dan kain tebal sebagai alas tidur yang biasa digunakan oleh orang Korea.
“Ya, beginilah keadaanku,” ujar Ha Neul seperti bisa menebak apa yang Henri pikirkan. Lelaki itu hanya tersenyum simpul dan tidak berani menanggapi ucapan Ha Neul, khawatir menyinggung perasaan perempuan di depannya.
“Aku boleh tanya sesuatu?”
“Kamu mau tanya apa?”
“Kalau boleh tahu, siapa lelaki yang bertengkar denganmu waktu di cafe?” tanya Henri hati-hati. Ha Neul menarik napas dalam. Henri mulai mengutuk diri sendiri, untuk apa mencari tahu urusan pribadi seseorang yang baru ia kenal?
“Dia penipu…,” jawaban Ha Neul terdengar menggantung.
“Penipu?” alis mata Henri mengerut.
“Iya, orang yang ada di kedai teh kemarin. Aku dipecat dari tempat itu dan mereka tidak mau membayar gaji terakhirku.”
“Wae[4]?”
Ha Neul menunduk. “Karena aku masih menyimpan utang di sana.”
“Maafkan pertanyaanku tadi, aku tidak bermaksud untuk mengetahui urusan pribadimu,” Henri berusaha menaruh simpati.
“Tidak apa-apa…”
Lagi-lagi mereka terdiam. Ia duduk bersila di depan pintu, sementara Ha Neul melamun dengan tubuh bersandar pada dinding. Lelaki itu mulai menelusuri alam pikirannya menangkap ide cemerlang demi mencari cara untuk membantu Ha Neul.
Tiba-tiba terlintas sebuah ide di pikirannya. “Bagaimana kalau kamu menjadi tour guide-ku selama di Korea? Aku butuh orang yang tahu seluk beluk negara ini demi keperluan risetku,” jelas Henri terang-terangan. Ia berharap ide ini bisa membantunya.
Ha Neul diam. Sepertinya dia sedang memikirkan tawaran itu. Sebenarnya Henri tertarik menjadikan Ha Neul sebagai tokoh dalam novelnya. Akhirnya, ia temukan juga ide itu.
“Aku tidak bisa menjawab sekarang, biar kupikir dulu, bagaimana?”
“Oke, besok aku akan menemuimu lagi. Sekarang, kamu istirahat saja. Aku harap kamu bisa memenuhi permintaanku. Aku pamit.”
[1] Pancake ala Korea yang mengandung makanan laut, sayuran atau kimchi, nama makanan ini bisa disebut Pajeon, Bin Dae Tok atau Kimchi Jeon, tergantung bahan makanan yang terkandung di dalamnya.
[2] Gerobak tertutup penjaja kaki lima
[3] kue
[4] Kenapa?

Other Stories
Separuh Dzarrah

Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Download Titik & Koma