5. Pemandu Wisata Pribadi
Pagi ini sudah hampir satu jam Henri membuat catatan di buku usangnya. Ia sengaja berada di Miss Lee Cafe untuk mencari suasana baru. Rangkaian cerita kemarin berhasil membuka idenya. Sampai saat ini lelaki itu masih memikirkan jawaban Ha Neul, berharap perempuan itu mau menerima tawarannya. Hmm… tapi bagaimana kalau Ha Neul menolak? Apa ia harus membujuknya? Pada akhirnya Henri memutuskan akan menyambangi rumah Kim Ha Neul dan menanyakannya langsung ke perempuan berparas cantik itu.
Miss Lee Café tempat yang Henri datangi ini memiliki furnitur dan desain yang unik. Di dindingnya penuh dengan beragam pernak-pernik lucu dan kertas-kertas berisi testimoni pengunjung yang ditempelkan di sembarang tempat.
Pengunjung juga dibuat santai dengan suguhan makanan tradisional Korea Selatan. Di salah satu pojok ruangan, terdapat sebuah pohon buatan yang dipenuhi ratusan kertas berisi catatan dari para pengunjung. Henri tidak mau kalah dengan pengunjung lain. Ia menulis sebuah kalimat standar layaknya turis lainnya, HENRI SAMUEL WAS HERE!!!
Henri harus bersaing dengan puluhan turis lainnya hanya demi menggantungkan secarik kertas itu. Benar-benar perjuangan! Apa setiap hari Miss Lee Cafe seramai ini? Terdengar suara seorang staf kafe yang mengoceh banyak tentang tempat ini. Katanya Miss Lee Cafe sempat dijadikan lokasi syuting sebuah acara terkenal di Korea ‘We Got Married’. Henri pernah menonton acara yang menarik itu. Pantas saja para turis perempuan terlihat begitu antusias mendengarkan celotehan si staf kafe. Senyum Henri mengembang saat melihat kertas testimoninya melambai-lambai di pohon itu.
Sambil menikmati minumannya, tak sengaja Henri mendengarkan paparan staf yang masih juga mengoceh itu. Lumayanlah. Setidaknya ia mendapat sedikit informasi tentang Korea Selatan. Sepertinya mereka yang ada di depan meja itu rombongan turis dari Inggris karena sempat terdengar percakapan dua orang lelaki dengan aksen khas British.
Henri melirik jam di pergelangan tangan kiri. Hari sudah semakin siang rupanya. Tak sadar ia telah menghabiskan banyak waktu di sini, terbuai dengan suasana ramai Miss Lee Café. Henri berniat menemui Ha Neul, sekedar memastikan lagi tawarannya kemarin. Sebelum beranjak, ia memesan sekotak makanan sebagai oleh-oleh untuknya.
***
Henri harus menuruni anak tangga yang curam untuk menuju pemukiman rumah Ha Neul. Dipegangnya hati-hati kotak makanan yang ia bawa dari Miss Lee Café, khawatir isinya berantakan.
Sampai di depan rumah, suasana masih sepi seperti kemarin. Sesaat ia terdiam tepat di mulut pintu kamarnya, Henri berusaha memutar otak bagaimana sebaiknya bicara tanpa membuat Ha Neul gusar.
Henri menghela napas sambil memejamkan mata. Saat membuka mata, betapa terkejutnya ia melihat Ha Neul telah berdiri di hadapannya dengan muka kusut dan rambut acak-acakan. Kim Ha Neul melipatkan tangannya di dada sambil berdecak, “Benar juga kamu datang lagi.”
“Bagaimana kondisimu?” Henri tersenyum lebar walau tahu itu hambar sekali.
“Deureo oseyo[1],” ujarnya malas.
Tubuhnya bergerak mengikuti perempuan itu ke dalam. “Lihat aku bawa apa?” ia mengangkat pergelangan tangannya, memperlihatkan tas kecil yang ia jinjing. “Aku yakin kamu belum makan siang, makanya aku bawakan sekotak makanan untukmu.”
Tanpa banyak basa-basi, Ha Neul segera menyambar kotak itu dari tangan Henri. “Terima kasih. Kamu baik sekali. Kebetulan aku memang belum makan siang.”
Ha Neul segera membuka kotak dan memakan menu yang berisi telur dadar, sosis, dan kimchi yang bertabur rumput laut panggang dan wijen itu. Sepertinya dia sangat lapar, terlihat cara makannya yang sangat lahap dan tanpa malu-malu.
“Kamu sudah sehat kan?”
“Iya, badanku rasanya sudah kembali seperti semula,” jawab Ha Neul dengan mulut terisi penuh makanan. Pada awalnya Henri beranggapan Ha Neul adalah seorang perempuan yang menjaga image di depan orang. Ternyata ia sangat apa adanya, bahkan di depannya, seorang teman yang baru dikenalnya. Menyenangkan berteman dengan orang seperti ini.
“Enak sekali ya makanannya? Sampai lahap begitu?” canda lelaki itu.
Ha Neul tersenyum, “Kamu mau mencicipinya?”
Lelaki itu segera menggeleng, “Perutku sudah kenyang sekali.”
“Akhirnya aku kenyang juga,” perempuan itu mengelus-elus perutnya. “Euugh…!” dia bersendawa. Tidak sopan! “Oops… Miahn.[2]”
Henri membalas dengan seringai sinis. Ia biarkan Ha Neul menikmati sisa-sisa makanan dan membereskan bekas makanannya. Sambil menunggu, lelaki itu menyusun kata-kata yang akan diutarakan padanya.
“Ha Neul, kedatanganku ke sini selain untuk melihat kondisimu juga untuk memastikan tawaran yang kuajukan padamu kemarin. Kamu bersedia menjadi tour guide-ku selama aku berada di Korea?” Henri langsung bicara tanpa basa-basi. Ha Neul diam seperti memikirkan sesuatu. “Untuk pekerjaan ini, aku janji akan memperlakukanmu secara profesional dan tidak cuma-cuma,” ujarnya lagi berusaha meyakinkan Ha Neul.
Seketika Ha Neul memandang lelaki itu, “Hmm… memangnya kamu mau bayar berapa?”
Kini giliran Henri yang menggaruk-garuk kepala. “Bagaimana kalau 500 ribu won?” Astaga, ia asal menyebut nominal uang.
“Sireo[3]!” umpat Ha Neul. “Kamu pikir uang segitu cukup untuk sebulan?”
Sial! Perempuan itu menolak. Aduh bagaimana ini? Apa kunaikkan sedikit lagi? batin Henri. “Hmm… kalau 700 ribu won?” ia coba bernegosiasi, meski sebenarnya hatinya ragu apakah sanggup membayar sebesar itu?
“Jangan mimpi!” jawab Ha Neul.
Perempuan ini benar-benar jual mahal. Henri tak sanggup kalau memberinya uang di atas 700 ribu won. Bisa-bisa Rainbow memarahinya karena mengeluarkan uang melebihi budget yang ditentukan. Henri bangkit lalu berkacak pinggang mencoba menahan amarah. “Sudahlah! Kamu sepertinya tidak berniat membantuku.”
Belum sempat keluar dari kamar, Ha Neul akhirnya menyanggupinya. “Baiklah. Aku akan membantumu sebisaku.”
Acting lelaki itu lumayan berhasil rupanya. Henri membalikkan badan dan menghampirinya. “Kamu yakin?”
“Oke. Dengan catatan kamu bayar setengahnya dalam minggu ini.”
“Deal!” ia jabat tangannya dengan keras, sekeras tatapan mata Kim Ha Neul pada Henri.
***
Sekitar jam sepuluh pagi, Ha Neul tiba di Banana Backpacker. Ke mana saja perempuan itu? Henri pikir dia akan datang sejak dua jam lalu. Gwenchana, setidaknya ia datang dan lelaki itu bisa mengajaknya berbincang-bincang. Terlihat raut wajah itu lebih bersinar dibanding kemarin. Tentu saja, Ha Neul baru diberi pekerjaan.
Tae Joon begitu sumringah saat Ha Neul datang. Henri menebak-nebak kalau Tae Joon tertarik pada Ha Neul. Memang, paras Ha Neul mampu membuat laki-laki normal tertarik untuk berbincang lebih jauh dengannya. Tae Joon dan Ha Neul kemudian terlibat dalam sebuah percakapan yang kedengarannya seru. Sambil menunggu kedua orang itu mengoceh, Henri menyanyi seraya memetik gitar yang berada di lobi hostel. Kalau sedang memainkan gitar seperti ini, ia terkenang masa-masa indah saat bersama Laura. Dulu, Henri pernah merayu Laura sambil memainkan lagu kesukaannya.
Jauh dalam hatimu, aku tahu
Engkau ingin ada orang yang selalu
Mencinta dan memelukmu setiap waktu
Kalau dia tak mampu… pilih saja aku
(Petra Sihombing-Pilih Saja Aku)
Tak sadar Henri menyanyikan lagu itu. Terdengar tepukan meriah dari beberapa orang yang menontonnya—Ha Neul ada di antara mereka.
“Hebat sekali! Rupanya kamu bisa bermain gitar juga,” ujarnya riang.
“Hmm… cuma bisa sedikit-sedikit,” ujar Henri canggung. Malu juga jadi pusat perhatian barusan. Mau tidak mau ia melambaikan tangan saat mereka tersenyum padanya.
Lelaki itu segera mengajak Ha Neul beranjak dari lobi hostel untuk membicarakan rencana perjalanan hari ini.
“Hari ini kamu ingin berkunjung ke mana?”
Pertanyaan Ha Neul membuat Henri bingung sendiri karena ada banyak tempat yang ingin ia kunjungi. “Terserah kamu sajalah. Aku belum banyak referensi tentang Seoul.”
Ha Neul melipat tangannya di dada. “Aku sudah menduganya. Kamu terlalu sibuk dengan tulisanmu sampai-sampai bingung dengan tujuan utamamu datang ke Seoul,” gumamnya. “Ya sudahlah, lebih baik kita makan saja ya? Aku bawa sesuatu untukmu,” Ha Neul mengangkat sebuah kantung berisi makanan.
“Apa itu?” Henri penasaran dengan isinya.
“Ddukbokki[4]…” bisik Ha Neul.
“Apa? Susah sekali didengarnya,” canda Henri.
“Ayo antar aku ke dapur! Tak usah banyak tanya. Kamu cicipilah sendiri. Ini salah satu makanan kesukaanku,” seketika Henri terpana dengan perhatian dari Ha Neul. Ternyata perempuan itu tidak segalak yang ia kira.
Beberapa saat kemudian, Ha Neul telah kembali dari dapur. Di tangannya ada sepiring penuh Ddukbokki. Henri yang memang belum sarapan, tergoda melihat makanan penggugah selera itu.
“Ayo dicoba!” ujar Ha Neul.
Segera diraih sumpit dan dijepit adonan berbentuk bulat itu. Hmm… rasanya masitseoyo[5] sekali. Perpaduan pedas dan manis lumer di mulut Henri. Tak terasa makanan itu habis seluruhnya oleh dia. Tanpa sadar, Ha Neul memandangnya sejak tadi.
“Kamu doyan atau lapar sih?” tanyanya masih menatap Henri. “Coba lihat ke cermin, bibirmu penuh sisa makanan,” perempuan itu tertawa dengan tangan menutup mulut, sementara Henri hanya meringis lalu meraih tisu.
“Nanti giliran aku yang akan mentraktirmu makanan kesukaanku,” Henri membereskan piring kotor di meja. “Ya, paling nanti kalau kamu main ke Jakarta. Di sini gak ada yang jual,” lanjutnya terkekeh-kekeh.
“Siapa bilang? Di Itaewon banyak restoran Indonesia,” perempuan itu seolah tidak mau kalah argumen.
“Itaewon?” Henri mengernyitkan dahi.
Ha Neul mengangguk. Suara ponselnya berbunyi sebelum dia sempat melanjutkan kalimatnya. Sejenak Ha Neul memperhatikan layar ponsel lalu menggeleng kemudian. Dia menolak telepon itu. Tidak lama ponsel berbunyi lagi dan kembali Ha Neul menolak panggilan itu.
“Kenapa gak diangkat?” tanya Henri penasaran.
“Buat apa? Cuma orang iseng,” tidak lama dia mematikan ponselnya.
“Loh kok dimatikan?”
“Sudahlah. Ayo kita ke Itaewon saja!” ajaknya seolah mengalihkan perhatian lelaki itu. Henri tersenyum ketika sinar mata Ha Neul semakin berbinar. “Supaya aku bisa menagih janjimu.”
***
Mereka tiba di Itaewon setelah menaiki kereta dan turun di Stasiun Hanganjin. Hari pertama menjadi guide Henri, Ha Neul sukses mentraktir makan dan mengajaknya jalan-jalan ke Itaewon. Itu berita bagus. Mulai hari ini Henri tidak akan kesepian lagi.
Nampak banyak turis asing berkeliaran, entah jalan-jalan atau memang menetap di sini. Tidak sabar Ha Neul mengajaknya menelusuri area kios yang menjual barang-barang dari berbagai negara, khususnya dari Indonesia. Mereka mendapati sebuah toko kecil yang menjual sembako di ujung jalanan. Penjualnya adalah orang Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, Henri memborong beberapa makanan yang ia butuhkan, terutama mie instan dan bumbu masak sebagai persiapan. Seringkali jika ia merasa bosan, memasak menjadi sebuah penghibur atas kejenuhannya.
Sesuai janji akhirnya Henri mentraktir Ha Neul menu makanan favoritnya, yaitu sop buntut. Ha Neul tidak se-excited dirinya ketika makan masakan Indonesia. Tiga tahun tinggal di Indonesia membuatnya terbiasa dengan berbagai makanannya.
“Kamu Muslim, Hen?”
Lelaki itu mengangguk. “Kenapa?”
“Di sini ada Islamic Center. Jadi kalau kamu mau beribadah, tidak perlu jalan jauh untuk mencari tempat,” terangnya.
“Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Padahal aku tadi sempat khawatir karena tidak menemukan masjid di sepanjang Jalan Insadong.” katanya. Sejenak ia memperhatikan wajah Ha Neul.
“Wae[6]?”
“Kamu benar-benar cocok jadi pemandu wisata,” puji Henri.
“Ya, kalau saja semua orang punya pikiran yang sama denganmu,” katanya sambil mengedipkan sebelah mata.
“Ha Neul Ssi, boleh aku tahu tentang dirimu dan keluargamu. Mungkin kamu bisa menceritakannya sedikit kepadaku,” iseng Henri bertanya.
Perempuan itu malah tertawa sinis seolah mengejek dirinya sendiri. “Tidak ada yang menarik tentangku,” jawab Ha Neul.
“Justru karena itu aku bertanya. Ada sesuatu yang menarik tentangmu,” kata Henri berusaha membesarkan hatinya.
“Aku cuma perempuan bernasib buruk yang terjebak di kota besar ini.”
“Keluargamu?”
Suasana menjadi hening seketika. Sepertinya Ha Neul menyiapkan hati untuk memulai cerita. “Hidup kami terpisah-pisah. Kakak dan adikku entah berada di mana. Semenjak ayah menikah lagi sepuluh tahun silam, kami tak sudi tinggal serumah dengannya. Ayah telah menyakiti ibu hingga akhir hayatnya,” ada bulir kristal bening mengalir perlahan di pipi Ha Neul. Buru-buru dia menyeka wajahnya.
“Miahnhae[7]” Henri merasa bersalah.
“Gwenchana[8], itu sudah masa lalu. Aku hanya mau hidup untuk diriku sendiri. Toh, aku tahu saudaraku yang lain memiliki kehidupan masing-masing.”
Henri menarik napas lega. Tak dipungkiri, ia tertarik dengan kisah hidup Ha Neul. Ternyata di tengah gemerlap Seoul yang menjadi pujaan banyak orang di Indonesia, masih ada seorang perempuan yang hidupnya tidak seindah kisah drama Korea. Kisah Ha Neul apabila dituangkan ke dalam novel, tentu akan menjadi kisah yang menarik. Bukankah pembaca di Indonesia sana senang dengan kisah-kisah sedih seperti ini?
***
Mereka berdua tiba di Insadong menjelang malam. Henri puas sekali, sampai-sampai buku catatannya penuh dengan cerita perjalanan seharian ini. Tentu saja harus segera ia tulis ulang atau semua melayang tak berguna.
“Terima kasih untuk hari yang menyenangkan ini,” katanya pada Ha Neul sambil membungkukkan badan ala orang Korea. Ha Neul meringis. Ia meninjukan sebuah pukulan kecil di bahu Henri. “Ayo, kuantar kamu pulang,” tawar lelaki itu.
Mereka berbincang-bincang seru sepanjang perjalanan. Seharian bersama membuat Henri seolah tengah bertemu seorang kawan dekat. Keduanya begitu nyaman bercerita satu sama lain. Gang kecil menuju perumahan yang biasanya melelahkan kini tak terasa sama sekali. Tangga menyeramkan itu justru memperlambat perjalanan mereka dan menjadi kesempatan agar bisa lebih lama berbicara.
Sampai di depan rumah Ha Neul, tampak seseorang telah menunggu di teras. Ha Neul terperangah saat sadar ada seorang ahjumma[9] berdiri gelisah di sana. Segera dia meraih pergelangan tangan Henri dan bergegas pergi.
“Ha Neul!” teriak orang itu. Tak terelakkan perempuan itu melihat mereka yang berlari ke atas.
“Cepat!” ujar Ha Neul gemas. Keduanya berlarian kembali ke jalan besar hingga akhirnya menepi tepat di bawah pohon gingko. Napas mereka terengah-engah. Posisi dua orang itu begitu dekat sehingga bisa Henri rasakan hembusan napas Ha Neul di wajahnya. Tanpa sadar jantung lelaki itu berdegup kencang sekali. Tatapan matanya dan mata Ha Neul sulit untuk menghindar. Mereka akhirnya tertawa untuk menutupi rasa malu.
“Siapa perempuan itu?”
“Dia pemilik rumah yang saat ini kutinggali,” terang Ha Neul. “Sudah tiga bulan ini aku menunggak pembayaran sewa kamar,” katanya sambil tertawa. Ha Neul menganggap seolah ini lucu, sedangkan Henri hanya diam, tak mampu tertawa lagi. “Kamu gak usah khawatir, bukankah nantinya aku akan mendapatkan uang darimu? Minggu depan pasti akan kulunasi utangku!” lagi-lagi dia tertawa.
“Tinggallah di hostel denganku,” ajak Henri. Lelaki itu segera tersadar, ya Tuhan, kenapa tiba-tiba aku bicara seperti itu? batinnya.
Perempuan itu terkesiap, “Maksudmu?”
“Ya, daripada harus dikejar-kejar pemilik kontrakan setiap hari. Kamu lebih aman tinggal di tempatku untuk sementara. Nanti setelah uang itu kamu dapatkan, kamu bisa kembali.”
Ha Neul diam, seolah memikirkan tawarannya. Demikian juga Henri, terpikir ajakan spontan itu. Entah apa yang ada di pikiran Henri untuk tiba-tiba mengajaknya tinggal bersama di hostel.
“Kupikir itu bukan ide yang bagus. Aku masih punya harga diri sebagai perempuan. Apa kata penghuni gedung saat tahu kita tinggal di satu kamar?” tolak Ha Neul tegas.
“Aku cuma ingin membantumu.”
“Sudahlah, tidak usah! Aku yakin suatu saat nanti bisa temukan jalan untuk masalah ini. Tuhan tidak tidur, bukan?” dia menatap Henri dengan wajah terangkat, seolah mampu menghadapi semua kemelut hidupnya.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terdengar sekelompok pengamen jalanan memainkan musik dengan alat sederhana. Henri tertarik untuk mendengarkan karena mereka memainkan salah satu lagu favoritnya. Ditariknya lengan Ha Neul dan mengajaknya untuk mendekati kelompok pengamen yang sudah dikerumuni penonton itu.
“Henri, pelan-pelan!” ujar Ha Neul gusar.
Bombaram hwinallimyeo
Heutnallineun beotkkot ipi
Ulyeo peojil I gorireul
Uu duri georeoyo oh yeah…
(Busker Busker-Cherry Blossom Ending)
Desiran itu mulai merambat. Mendengarkan lagu ini dan berdampingan dengan seorang perempuan cantik membuat Henri melayang tinggi. Langit seolah berpihak padanya saat selembar daun gingko berjatuhan di sela-sela mereka. Seketika itu Ha Neul menatapnya seraya mengulum senyum.
[1] masuklah
[2] Maaf
[3] Tidak mau!
[4] Makanan ringan khas Korea
[5] lezat
[6] Kenapa
[7] Maaf
[8] Tidak apa-apa
[9] Perempuan yang lebih tua/Bibi
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...