6. Hanya Sebuah Imajinasi
Seberkas kilau bidadari kembali bersemayam dalam ingatan. Kala itu kudapati dia di Stasiun Anguk tengah menanti keberangkatan kereta selanjutnya. Aku sempat memandanginya dari kejauhan. Bidadari berwajah pucat dengan kegamangan hati yang tak terperi. Meratapi kejamnya dunia, sebuah perlakuan yang tidak seharusnya dia dapatkan. Sendiri dan terlunta di tengah gemerlap Negeri Han. Entah bagaimana aku bisa menerawang sejauh itu. Yang pasti matanya sempat berbicara saat kami tak sengaja duduk berhadapan dan saling bertatapan dalam beberapa detik.
Henri tersenyum puas menatap rangkaian kata di layar monitor. Draft ini sudah ia tulis sejak beberapa hari lalu. Dalam novel ini, Kim Ha Neul menjadi objek ceritanya. Henri sendiri merahasiakan cerita yang tengah ia tulis dari Ha Neul. Pengalaman hidup yang pernah Ha Neul ceritakan menjadi sebuah ide cerita yang menarik.
Ditemani semangkuk penuh bibimbap[1] hasil kreasi sendiri, Henri mencoba menantang dinginnya malam. Hingga jam tiga dini hari, ia masih terjaga untuk menulis. Berharap bisa menyelesaikan draft awal ini tepat waktu dan segera mengirimkannya ke Harry. Henri sendiri sudah mempelajari beberapa novel populer dari penulis Korea Selatan, seperti April Snow, My Name Kim Sam Soon, dan The Moon that Embrace the Sun. Ia sungguh berusaha agar membuahkan hasil seperti novel hebat karya mereka.
Sejenak lelaki itu mengistirahatkan otaknya setelah menangkap berbagai imajinasi yang melayang. Namun, astaga, kenapa malah wajah Kim Ha Neul yang muncul di kepalanya? Jantung lelaki itu berdebar. Sesungging senyum muncul ketika mengingat keceriaan yang Ha Neul suguhkan dalam beberapa hari ini. Henri mulai menyadari ternyata tidak buruk berjalan bersamanya. Oh, Tuhan! Apakah aku jatuh cinta? Mana mungkin? Lelaki itu menggeleng, segera mengenyahkan pikiran gila itu dari kepalanya. Tentu saja ia sadar, jangan sampai itu terjadi. Ia tak mau mengacaukan semua rencana ini.
Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Ha Neul.
Hen, besok kita pergi ke Namsan Tower. Bersiap-siap saja, aku akan datang jam 7 pagi.
Lelaki itu tertawa kecil. Bagaimana bisa tiba-tiba Ha Neul mengirimkan pesan di saat ia tengah memikirkannya. Apakah ini yang dinamakan alam berbahasa atas perasaan hati? Entahlah. Terlalu banyak kebetulan semenjak kedatangannya ke Seoul.
***
Kim Ha Neul sudah berdiri manis di mulut kamar lelaki itu. Dia memakai mantel tebal dengan sehelai syal melingkari lehernya. Henri masih setengah sadar dan hanya berdiri mematung.
“Hei! Kamu baru bangun tidur?”
Lelaki menganggukkan kepala dengan ekspresi wajah tak bersalah. Terang saja itu membuat Ha Neul gusar, bagaimana bisa Henri lupa soal rencana mereka untuk pergi ke Namsan pagi ini?
Ha Neul melipat tangan seraya menggelengkan kepala. “Kamu mau mengacaukan rencana kita?” dia menyeringai.
“Aku lupa,” respons Henri polos sembari mengacak-acak rambut. “Kamu tunggu dulu ya. Aku mandi sebentar,” ia mempersilakan perempuan itu menunggu di ruang tamu.
“Apa yang kamu lakukan semalam?” suaranya terdengar sampai ke kamar mandi. “Berantakan sekali ruanganmu. Bir, bungkus keripik kentang, catatan-catatan kumal, dan foto-foto. Biar kutebak. Barang-barang ini berserakan sejak terakhir aku di sini kan? Jorok sekali! Laptopmu pun belum dimatikan sejak semalam,” omel Ha Neul.
Ah Tuhan, ternyata semua perempuan itu cerewet, tak peduli di belahan bumi sebelah mana pun dia berada. Lelaki itu menggerutu. Tiba-tiba teringat draft naskah novelnya yang masih terbuka. Ia terkesiap. Jangan-jangan Ha Neul membacanya? Segera ia menyelesaikan mandi dan langsung menuju ruang kerja. Syukurlah, ternyata perempuan itu tidak mengutak-atik laptop itu. Perlahan Henri menghampiri meja lalu meraih laptopnya.
Ha Neul menatap heran. “Kamu kenapa? Sepertinya gelisah?”
“Tidak apa-apa,” Henri memaksakan diri untuk tersenyum lalu beranjak ke kamar seraya memeluk laptop.
“Dasar! Sepertinya ada sesuatu di laptopmu yang tak seorang pun boleh tahu,” teriaknya. “Memangnya semua penulis itu seaneh kamu ya?”
Henri tak menanggapi ceracauan Ha Neul. Lebih baik bungkam daripada perempuan itu tahu rahasia kecilnya.
***
Seperti omongan orang-orang, Bukit Namsan memang indah. Hamparan dedaunan berwarna merah dan cokelat menghiasi taman yang tertata rapi. Tak sedikit pengunjung yang datang ke sini. Kalau saja mereka berangkat lebih pagi, pasti akan lebih menyenangkan mendaki puncak Bukit Namsan, bersaing dengan para orang-orang tua yang masih terlihat prima. Apalagi nuansa khas musim gugur membuat mata senantiasa segar.
“Mendaki? Siang-siang begini??” Henri melotot pada Ha Neul.
“Sudah kubilang bukan, kita berangkat pagi-pagi? Salah siapa kita datang terlambat?” tanya Ha Neul kembali. Tak ada yang bisa Henri lakukan selain menggerutu seolah itu kesalahan Ha Neul. “Baiklah. Kita pakai alternatif kedua saja, naik kereta gantung. Bagaimana?” lelaki itu melirik ke arahnya. Kereta gantung? Pasti ini menarik. Saat itu juga senyum Henri mengembang pertanda setuju.
“Tapi biayanya agak mahal, tidak apa-apa?”
“Tak apa. Yang penting aku bisa mencapai puncak dengan cepat.”
Mereka berjalan menaiki sebuah tanjakan sekitar dua ratus meter dari Myongdong melewati beberapa daerah pemukiman hingga akhirnya nampak stasiun kereta gantung. “Padahal kalau kamu tahu, lebih menyenangkan mendaki daripada memakai kereta gantung. Ini musim gugur yang indah. Kamu nanti akan melihat dedaunan yang berserakan di tanah, pasangan muda-mudi yang asyik bercanda di sepanjang jalanan, dan tentu saja melihat binatang-binatang liar yang tersembunyi di balik dedaunan,” cerita Ha Neul membuat pertahanannya goyah. Tetapi, apa mau dikata, keduanya sudah tiba di loket pembayaran.
Sepuluh ribu won yang dikeluarkan tergantikan dengan sensasi naik kereta gantung yang melintasi langit Kota Seoul. Henri menyiapkan kameranya untuk merekam pemandangan Kota Seoul dari atas. Meskipun perjalanan di atas kereta gantung itu tidak lama hanya sekitar sepuluh menit, tetapi terasa begitu menyenangkan. Ha Neul yang membuat ini semua menjadi berbeda.
“Bagaimana? Kamu suka?” Ha Neul tersenyum riang di antara rimbunan pohon maple.
“Aku suka. Hanya saja… dingin sekali ya di sini?”
“Sudah kubilang untuk memakai syal berlapis, tetapi kamu tidak menggubris saranku,” Ha Neul memarahinya sembari melepaskan syal yang ia pakai lalu mengalungkannya kepada Henri.
“Eh, apa-apaan ini?” lelaki itu berusaha melepas syal yang melilit di lehernya.
“Sudah, jangan cerewet! Aku tidak mau klienku mati kedinginan. Jangan khawatirkan aku! Tubuhku sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Kamu lihat sendiri, jaket tebal ini mampu melindungiku,” dia mengacak-acak rambut Henri seperti memperlakukan anak berumur sepuluh tahun. “Kamu tampan, Henri. Wajahmu seperti orang Korea asli,” pujinya.
“Itu pujian atau hinaan?” lelaki itu memicingkan mata.
“Kamu boleh tanya pada siapa saja. Aku tidak berbohong,” lanjutnya. “Sayang sekali kamu tidak membawa gitar. Pasti menyenangkan kalau mendengarkan nyanyianmu di tengah alam bebas ini,” bukan main malunya Henri dipuji sedemikian rupa oleh makhluk bernama Kim Ha Neul itu.
“Berdoa saja, semoga ada orang yang mau meminjamkan gitar,” gumam lelaki itu asal.
“Serius???” tanya Ha Neul dengan tatapan nakalnya. “Coba lihat di belakangmu...”
Henri membalikkan tubuh. Benar saja, di belakang mereka berdua ada sepasang remaja duduk di sebuah kursi taman dengan gitar tergeletak di sampingnya. “Kamu ini…” gumamnya pada Ha Neul.
Ha Neul bergegas meminjam gitar pada sepasang remaja itu. Dalam sekejap, gitar itu sudah berada dalam genggaman Henri. “Kamu mau aku menyanyikan lagu apa? Korea atau Indonesia?” ujar lelaki itu seraya mengencangkan senar gitar.
“Sepertinya menarik kalau kamu menyanyikan lagu Korea,” tantangnya.
Oh My God, di depan umum menyanyi lagu Korea?? Bagaimana kalau aku lupa liriknya?
Akhirnya Henri bergaya bak seorang penyanyi profesional. Perlahan ia memainkan sebuah intro lagu. Sebuah lagu yang sedang ia sukai saat ini yang berjudul Falling, miliknya John Park.
Luar biasa, Henri berhasil memainkan lagu itu hingga bait terakhir. Ia sadar tak hanya Ha Neul yang menyaksikan permainan gitarnya, belasan orang tampak mengerumuni kursi taman tempat mereka berada.
“Lihat, kamu bukan hanya mengesankan para penghuni Banana Backpackers, orang-orang di sini juga kagum melihat caramu bermain gitar,” bisik Ha Neul.
Tak ada yang bisa Henri lakukan selain tersenyum ramah seraya menganggukkan kepala kepada mereka. “Semoga saja di antara penonton ada orang dari SM Manajemen[2],” bisiknya pada Ha Neul.
Perempuan itu berderai tawa. Tiba-tiba terdengar dering ponsel yang membuat Ha Neul kembali tersadar. Diraihnya benda itu dari saku kanan. Sesaat setelah memeriksa ponsel, Ha Neul bergumam dengan bahasa Korea lalu menolak panggilan itu. Kejadian ini sudah tidak aneh lagi bagi Henri. Sudah beberapa kali perempuan itu melakukan hal yang sama, menolak panggilan dari orang yang menghubunginya.
“Dari siapa? Kulihat beberapa hari ini kamu mencoba menghindar dari seseorang,” akhirnya Henri memberanikan diri bertanya.
“Bukan dari siapa-siapa, hanya orang iseng,” jawabnya.
“Ayahmu?” lelaki itu mendesaknya untuk berbicara. Ha Neul menggeleng. “Bicara saja padaku. Siapa tahu itu bisa melegakanmu. Trust me,” bujuk Henri lagi.
“Terima kasih, Hen. Ini hanya sisa-sisa masa laluku. Aku hanya mencoba untuk melupakannya,” tampak Ha Neul mencoba tersenyum.
“Kalau kamu ingin cerita, kamu bisa berbagi denganku. Aku siap menjadi pendengarmu.”
Ha Neul menghela napas panjang, lalu mereka melangkah perlahan, “Hidupku berantakan, Hen.”
Akhirnya Kim Ha Neul mau bercerita. Hampir tiga jam mereka berbincang tentang banyak hal di sebuah taman yang berselimutkan pohon red maple. Tidak dipungkiri, Henri terhanyut dalam paparan kisahnya.
Kim Ha Neul adalah seorang perempuan tegar yang harus menghidupi dirinya sendiri. Ia melawan amarah terhadap semua orang yang menyakitinya. Mulai dari sang ayah yang tega meninggalkan ibunya, hingga seorang lelaki bernama Song Ji Hwan yang juga meninggalkannya dua tahun silam.
Tak terasa senja menuntun keduanya dalam kedamaian. Ha Neul tampak lelah. Sesudah bercerita, dia terlelap dan bersandar di bahu Henri.
Bertahanlah, gadisku! Aku tahu kau mampu melawan nasibmu sendiri. Dunia tak seburuk yang kau kira. Seperti musim gugur kali ini. Kau mampu melebihi keindahannya. Semua hanya soal waktu yang kelak akan membawamu pada kebahagiaan.
***
Hari-hari berlalu. Henri semakin mengenal sosok Kim Ha Neul dengan semua kisah memilukan di belakangnya. Jauh di dalam hati lelaki itu, seandainya ia memiliki solusi untuk mengubah kehidupan perempuan itu, pasti akan ia lakukan.
Imajinasinya tentang Kim Ha Neul mulai menggeliat liar, menciptakan beribu pengandaian yang ia tahu pasti sulit untuk menjadi nyata. Semua hanya terealisasi dalam balutan fiksi yang tertata apik dalam draft novelnya. Berharap dunia bisa membuka mata, bahwa Kim Ha Neul bukan sekedar perempuan biasa. Dia bisa menginspirasi seluruh perempuan di dunia. Henri tersenyum sendiri saat menyadari ia terlalu berlebihan memikirkan Ha Neul.
Namun sungguh, hatinya memang terpaut pada satu nama. Meski Henri berusaha meyakinkan diri bahwa semua tidak mungkin. Tetap saja, semakin ia ingkari, semakin ia meyakini. Lelaki itu hanya ingin menjadi lentera yang bisa menuntun Kim Ha Neul kembali ke jalan kebahagiaan. Menjawab semua kerisauan yang mengiringi setiap langkahnya.
Ia meraih catatannya. Jemari itu dengan sigap mulai menulis lagi. Masih tentang objek yang sama, perempuan bernama Kim Ha Neul.
Menggebu. Kegelisahanmu bernapas tak beraturan. Bahkan kau menghentakkan bumi dengan langkah terpacu. Demi harapan yang kau pungut walau harus dari satu jalan. Panas justru membakar lelahmu. Di sana peluh mengalir mencipta asa. Satu padu seirama derap langkah. Lalu biarkan amarahmu membuncah. Meletup dalam satu bait kisah, menjadi pengobat sesal yang tak terjarah.
Kau boleh jadikan aku lentera kasihmu. Untuk menggapai mimpi dari semua gelisah yang kau pancarkan. Bolehkah kucerna gelisah itu? Sekedar meluruhkan semua tanya yang mencengkeram jiwamu.
***
Sinar matahari yang masuk ke dalam kamar berhasil menyilaukan bola mata Henri, tetapi tetap ia enggan membuka matanya. Pada akhirnya suara bel pintu memaksa Henri untuk bangkit. Ia berada di ruang kerja dengan beragam benda yang berserakan. Di atasnya, ada beberapa novel milik Ji Su Hyun, Jung Eun Gwol, dan Kim Hyeong Gyeong dalam versi bahasa Indonesia. Ia usap pelipisnya yang sedikit pusing. Padahal semalam Henri hanya meneguk satu kaleng bir.
Masih dengan langkah gontai Henri menuju pintu, memeriksa siapa yang mengetuk pintu pagi-pagi seperti ini. Tentu saja, orang yang tahu tempat tinggalnya hanya satu orang. Saat ia buka pintu, Ha Neul sudah tidak merasa heran lagi dengan keadaan Henri. Setiap pagi perempuan itu selalu rajin mengetuk pintu kamar untuk membangunkannya.
Lucu juga, Ha Neul akhir-akhir ini lebih mirip seperti pengurus rumah yang terpaksa membereskan ruangan. Meski sebenarnya Henri sering melarangnya, tetapi Ha Neul tetap bersikeras membereskan semua barang-barang lelaki itu.
“Sepertinya kamu tidak butuh kamar besar kalau akhirnya menghabiskan waktumu di ruangan ini semalaman,” komentar Ha Neul. Dia mulai meraih sapu dan membersihkan kulit kacang yang berserakan di lantai. “Seharusnya kamu membayarku lebih untuk pekerjaan ini!”
Kali ini Henri tertawa. “Benarkah? Kamu lebih senang menjadi pembantu rumah tangga dibanding seorang tourist guide?” godanya.
“Tidak ada bedanya. Ujung-ujungnya aku harus melakukan keduanya,” perempuan itu melemparkan sehelai handuk bersih tepat pada wajah Henri. “Mandi sana! Aku tidak suka lelaki jorok!” lelaki itu pun berlalu tanpa merasa terbebani sama sekali. Henri berhasil melupakan pusingnya dan segera berpikir ke mana hari ini Ha Neul akan mengajaknya pergi. Tentu saja sesuai keinginan perempuan itu. Henri akan berdandan serapi mungkin. Berharap bisa mengubah pandangan Ha Neul pada seorang Henri Samuel. Perempuan itu benar-benar membuat Henri gila.
Selang setengah jam, Henri kembali ke ruang tengah dan sudah bersiap pergi menikmati musim gugur yang indah siang ini. Namun, apa yang terjadi? Ruang tengah masih dalam keadaan yang sama, berantakan dengan kulit kacang berserakan, kaleng bir tergeletak di atas meja, dan novel-novel tebal yang bersembunyi di bawah sofa. Laptop pun masih juga menyala. Ada Ha Neul tengah memandangi layar dengan wajah pucat pasi. Perempuan itu tertegun tepat di hadapan layar laptop. Henri memicingkan mata keheranan. Ada apa dengannya?
“Ha Neul Ssi?” ternyata draft naskahnya terbuka dan Ha Neul telah membacanya.
“Kamu menjadikanku objek ceritamu?” warna suaranya hambar dengan pandangan masih tertuju pada layar itu. Kali ini Ha Neul bangkit lalu menatap lelaki di hadapannya dengan dingin.
“Maafkan aku. Seharusnya kubicarakan ini padamu…” ujar Henri menyesal.
Plaak! Tamparan ini jauh lebih sakit daripada saat pertama Ha Neul melakukannya di awal perkenalan mereka tempo hari.
“Kamu memperalatku? Mencoba mendekatiku demi mendapatkan kisah hidupku?”
“Biar kujelaskan!”
“Kamu mau menghinaku? Memperlihatkan penderitaanku pada dunia? Atau apa tujuanmu?”
“Kumohon Ha Neul Ssi, dengarkan aku,” Henri meraih bahu perempuan itu perlahan.
“Jangan sentuh aku!” Ha Neul bergerak mundur beberapa meter seraya menggenggam laptop itu. “Segera hapus tulisanmu atau kuhancurkan benda ini!” teriaknya. Henri hanya berdiri gelisah tanpa tahu harus berbuat apa. “Hapus file-nya, Hen!” lirihnya.
Perlahan lelaki itu mendekat dan meraih laptop itu. Delete. Draft sepanjang dua ratus halaman itu akhirnya musnah begitu saja. Namun jauh dalam hati, Henri rela bila itu mampu mengembalikan senyuman Ha Neul seperti sediakala.
Selang beberapa menit mereka hanya berdiri dan saling menatap satu sama lain. Benar-benar! Henri tidak menyukai keadaan ini. “Ayolah, Ha Neul! Aku sudah menuruti permintaanmu. Bicaralah sesuatu!” pintanya.
Harapan tetap saja menjadi harapan. Perempuan itu berlalu tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Anehnya, mulut Henri seolah tercekat. Ia tak mampu berbicara. Jika sudah begini, apa yang harus lelaki itu lakukan? Ha Neul kini berada jauh dari jangkauan, menghancurkan imaji yang tergambar sempurna di setiap malamnya.
[1] Makanan Korea berupa nasi yang dicampur sayuran, daging dan saus.
[2] Manajemen artis yang membesarkan nama Super Junior dan beberapa artis K-Pop lainnya.
Other Stories
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...