10. Malam Menjelang Di Sungai Han
Kali ini adalah waktu yang tepat untuk memanjakan diri sendiri. Setelah bercerita kemarin, Tae Joon seolah tahu apa yang Henri butuhkan untuk saat ini. Dia mengajaknya ke Jjimjilbang[1]. Tidak tanggung-tanggung, Tae Joon mengajak beberapa tamu hostel untuk ikut serta bersama mereka. Tae Joon tidak pernah merasa kesepian. Selalu ada kawan yang datang silih berganti. Bahkan, dia selalu membuat rencana perjalanan kecil-kecilan untuk para tamu. Entah itu tugas dari atasannya untuk memandu mereka, atau sekedar inisiatifnya sendiri yang memang penuh dengan ide brilian.
“Memangnya kamu mau mengajak kami ke mana?”
Tae Joon memperlihatkan selembar kertas yang berisi jadwal perjalanan mereka. “Ajak Kim Ha Neul ya! Dia pasti senang,” ujarnya.
“Iya, kalau dia tidak sedang bekerja,” gumam Henri seraya membaca deretan lokasi yang akan mereka kunjungi kelak. Garosugil, Dongdaemun, Buckhon Hanox Village, Noryangjin Fish Market, dan berakhir di balai kota untuk menikmati suasana malam di Sungai Cheongyecheon. “Sepertinya menarik. Kapan acaranya?” Henri menoleh ke arahnya.
“Minggu depan saat bosku sudah menentukan siapa yang akan mengisi shift kosong di hostel ini.”
“Jadi kamu tidak akan bekerja di hari Jumat dan Sabtu? Enak sekali!” ujar Henri diselingi tawa.
Lelaki itu malah cengengesan. Sekitar sepuluh orang, termasuk Henri dan Tae Joon, bersantai di Jjimjilbang. Ini seperti pemanasan sebelum rekreasi sebenarnya di hari Jumat nanti. Lokasi Jjimjilbang tidak jauh dari hostel. Mereka hanya menggunakan subway untuk tiba di The Silloam Fire Pot Sauna yang kebetulan berdekatan dengan Stasiun Seoul.
Tidak hanya Henri, para rombongan yang mayoritas berasal dari Thailand itu pun berdecak kagum. Gedung yang mereka kunjungi berlantai lima dengan beragam fasilitas yang siap memanjakan pengunjung.
Mereka semua berganti pakaian dengan seragam lucu berwarna oranye disertai handuk yang dililit sedemikian rupa di kepala. Arbi harus tahu ini, Henri tersenyum sesaat setelah mengingat sahabatnya. Arbi pernah bercerita kalau ia sempat menghabiskan waktu tiga hari di Jjimjilbang karena tidak punya kontrakan baru.
Henri tersenyum geli saat foto yang ia ambil barusan terkirim ke ponsel Arbi. Tak lama, pesan balasan pun ia terima.
Seragam yang bagus. Akhirnya kamu berkunjung juga ke tempat itu!
***
Mereka kembali ke Banana Backpacker tepat tengah malam. Hari yang menyenangkan setelah berjam-jam berpeluh ria dalam sauna. Henri sempat berkali-kali berendam air panas lalu ke air dingin secara bergantian. Berdasarkan informasi, hal itu bagus untuk sirkulasi darah. Terbukti memang, badannya terasa lebih ringan dibandingkan beberapa hari kemarin. Tidak lupa mereka sempat menyantap makanan khas Jjimjilbang—telur rebus dan patbingsu[2].
Wisata hari ini membuatnya semakin akrab dengan turis-turis asal Thailand itu, terutama saat Tae Joon memecahkan cangkang telur rebus di dahi salah satu dari mereka dan itu menjadi bahan candaan yang seru. Selanjutnya, mereka meniru memecahkan telur di dahi satu sama lain.
Kini Henri kembali di meja kerjanya, melanjutkan tulisan yang hampir selesai. Dengan kesibukan Ha Neul akhir-akhir ini, terpaksa kisah nyata itu sedikit ia modifikasi, berbalut dengan khayalannya sendiri. Henri sendiri merasa sedikit canggung sejak mengungkapkan perasaannya kemarin. Padahal sebenarnya Ha Neul tidak menunjukkan perubahan apapun. Kadang terbersit pertanyaan, apakah Ha Neul merasakan hal yang sama? Atau malah ia tak menanggapi serius pernyataan cinta Henri? Yang pasti, senyuman dan gelak tawanya selalu hadir di sela-sela kebersamaan mereka.
Meski sulit mengatur jadwal untuk bertemu. Namun, akhirnya mereka bisa kembali berkencan—hanya Henri yang menganggapnya begitu—menikmati malam di Yeoeuido. Rencananya, keduanya akan menaiki perahu di tepi Sungai Hangang, menuju dermaga Yeoeuinaru lalu mencari kapal yang mengelilingi Yeoeuido. Benar-benar, Henri merasa seperti sedang menikmati liburan bulan madu dengan istrinya.
“Wae?” suara Ha Neul mengembalikan kesadaran lelaki itu ke tempat semula. Henri hanya bisa cengengesan tanpa bisa menjawab pertanyaannya. Merasa tidak direspons, Ha Neul menyeringai dengan tatapan sebal. Namun, tak lama dia melebarkan senyuman seraya menengadah ke langit. “Kita beruntung. Malam ini langit Seoul begitu cerah. Bintang-bintang di atas sana bertaburan seperti permata.”
“Ya, sempurna,” lirih Henri. Ia memperhatikan raut wajah Ha Neul. Rambut panjang itu diikat sedemikian rupa. Untuk seorang perempuan seperti Kim Ha Neul, selera berpakaiannya sangat bagus. Simpel dan modis. Dia memakai long sleeve dress berwarna hijau tua yang dipadukan dengan syal berwarna senada. Merasa diamati, Ha Neul menengok ke arahnya.
“Kenapa? Ada yang salah?” selidiknya.
“Ahnio, justru kamu terlihat cantik sekali,” dalam hal ini Henri tak perlu berpura-pura lagi.
“Benarkah? Kamu juga terlihat hebat,” ujar Ha Neul seraya mengangguk-anggukkan kepala seolah suka dengan penampilan Henri yang sebenarnya biasa-biasa saja. Sungguh, Henri merasa tersanjung saat bening matanya berpadu indah dengan sunggingan di bibirnya yang ranum.
Semula mereka berencana naik perahu untuk menikmati pemandangan Yeoeuido, tetapi malah kehabisan tiket karena turis yang membludak. Terpaksa Henri dan Ha Neul mengambil rencana kedua—makan malam di restoran kapal. Gwenchana, meja yang mereka pilih mengarah ke hamparan Sungai Hangang. Cukup memberi kepuasan bagi keduanya yang ingin melihat rainbow fountain di Banpo Bridge dengan kilauan lampu warna-warni.
“Hen, sebentar ya. Aku ke toilet dulu.”
Henri mengangguk, merelakan tubuh indah itu menghilang sejenak dari pandangannya. Tak disadari ada sedikit khayalan terbersit di kepala. Suatu hari jika ia menikah, pasti akan sangat indah bila merayakan resepsi di tepi Sungai Hangang. Mengabadikan momen itu sebagai hari terbahagia dalam hidupnya. Namun, lamunan itu tak bertahan lama saat dering panggilan terdengar dari ponsel milik Ha Neul yang tergeletak di atas meja. Alis mata lelaki itu mulai mengerut. Ia penasaran siapa yang meneleponnya? Perlahan jemarinya bergerak mendekati ponsel berwarna putih dengan karakter bunga matahari.
Henri terdiam saat tulisan hangeul sederhana yang menghiasi layar ponsel menunjukkan nama seseorang. Song Ji Hwan. Ia meletakkan kembali ponsel itu ke tempat semula. Dering itu semakin nyaring, membuatnya mendapat teguran dari meja sebelah untuk menghentikan suara bising tersebut. Sungguh, Henri tidak mau bicara dengan Ji Hwan!
Pandangannya mengarah ke toilet, menerka-nerka apakah Ha Neul masih lama berada di sana? Tanpa mau dituduh licik. Ia menolak panggilan dari Ji Hwan lalu meletakkan ponsel ke tempat semula seolah tak pernah menyentuhnya. Tidak lama kemudian, Ha Neul kembali ke meja mereka.
Selepas kejadian itu, Henri tak bersuara di sepanjang makan malam mereka. Dan Ha Neul tidak bodoh, ia bisa merasakan keganjilan dari gestur lelaki itu.
“Hen, Are you ok?”
“Ya, Aku gak kenapa-kenapa,” tiba-tiba lelaki itu menjadi nervous, padahal ia sudah berusaha untuk bersikap tenang. “Orang yang dari kemarin selalu meneleponmu, apakah Ji Hwan?” sial! Kenapa sejak panggilan barusan, Ji Hwan selalu mengganggu pikiranku? umpat lelaki itu dalam hati.
“Hmm..,” Ha Neul mengerutkan dahi seraya menghentikan suapannya. “Iya, Ji Hwan menggangguku sudah sejak lama. Karena kesal, aku beranikan menemuinya sekali,” terangnya. “Ah, rupanya dia mau menawariku pekerjaan,” seraut senyum nampak di sana meskipun samar.
“Kamu senang ditawari pekerjaan oleh lelaki yang kamu benci?” lagi-lagi ia mengutuk diri sendiri karena bicara selancang itu.
Seketika Ha Neul melepas garpu dan pisau bersamaan lalu mendongak. “Apa harus dibahas sekarang? Di tempat tenang dan nyaman seperti ini?”
“Miahn,” lirihnya, lalu menenggak setengah gelas wine.
“Oh iya, bagaimana dengan perkembangan tulisanmu? Maaf, aku merasa bersalah. Gara-gara pekerjaan baru ini, kita sulit bertemu dan membahas kisah hidupku,” Ha Neul kembali melunak.
“Gwenchana, kupikir aku tidak akan murni mengambil kisah nyata itu. Akan ada beberapa bagian yang kubuat berbeda, menyesuaikan dengan selera pembaca di Indonesia.”
“Wow! Kamu pasti bisa menghasilkan novel hebat selepasmu dari sini.”
Henri menyunggingkan senyum dan tak menghiraukan rentetan kalimat yang dia ucapkan. Sebenarnya, ia tidak mau merusak suasana romantis ini. Hanya saja, semenjak ponsel itu berbunyi, hatinya benar-benar gelisah. Ji Hwan serupa bayangan Riza Pratama versi orang Korea. Bagaimana kalau dia menghancurkan rencananya? Bisa saja setelah makan malam mereka berakhir, Ji Hwan mencoba menghubungi Ha Neul kembali.
***
Hati memang sulit berbohong. Hanya dalam media tulisan ia akui perasaannya berbunga-bunga. Beberapa halaman dari novelnya bertabur nuansa cinta. Ya, mood-nya memang sedang bagus. Tanpa terasa naskah itu hampir selesai. Padahal kisahnya dengan Ha Neul belum mencapai klimaks.
Malam ini Henri sengaja ingin memberikan kejutan manis. Pasti menyenangkan saat Ha Neul menyadari seorang lelaki menjemputnya pulang. Henri hanya berharap Ha Neul bisa membuka mata, siapa sebenarnya lelaki yang pantas dia pilih. Henri Samuel atau Song Ji Hwan?
Seperti biasa ia menunggu di halte, harap-harap cemas menanti Ha Neul yang turun dari gedung Coco Girl. Sebenarnya bisa saja ia masuk ke gedung itu dan naik ke lantai dua. Namun, pemandangan indah jalanan yang penuh gemerlap ini sangat sayang ia tinggalkan. Setidaknya itu menghasilkan sedikit inspirasi untuk tulisannya. Ia tetap bertahan menunggu di sana, karena yakin tidak lama lagi Ha Neul akan muncul.
Akhirnya sosok Ha Neul keluar dari gedung. Dengan perasaan girang, Henri bangkit dari kursi halte. Namun, apa yang terjadi? Lagi-lagi Ji Hwan membuntutinya. Apa-apaan sih? Belum cukup seharian mereka menghabiskan waktu bersama? rutuknya dalam hati.
Namun, kali ini ada yang berbeda. Raut wajah Ha Neul tidak seriang saat pertama kali ia menjemputnya. Perempuan itu justru terlihat sangat kesal. Ternyata kedua orang itu sedang bertengkar. Ha Neul memberengut sambil berusaha menghindari tangan Ji Hwan. Tidak jarang Ha Neul melantangkan suaranya hingga menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, tetapi Ji Hwan semakin kukuh mengganggunya. Tidak bisa dibiarkan, Henri harus segera melerai mereka.
“Lepaskan tangannya!” pekik Henri. Emosinya semakin tak tertahankan saat melihat lelaki itu mencengkeram paksa lengan Ha Neul. Perempuan itu menyerukan nama Henri secara spontan. Bisa dipastikan Ha Neul terkejut melihat kehadirannya. Begitu pula Ji Hwan, tampangnya semakin garang saat sadar mereka ternyata tidak berdua.
“Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan Ha Neul!” gertak Ji Hwan keras.
“Dengan sikap seperti itu, kamu pikir aku hanya bisa diam saja? Terlebih orang yang kamu sakiti itu Ha Neul, kawanku sendiri,” timpal Henri seraya langkah mendekat.
Merasa ditantang, Ji Hwan bergegas menghampirinya. “Kamu pikir kamu siapa, hah?” dia mendekatkan wajah pada Henri.
“Lalu kamu siapa? Seharusnya Ha Neul tidak usah bertemu lelaki pengecut sepertimu! Memilih menikah dengan orang lain dan membuatnya menangis,” Henri mendorong bahu lelaki itu kuat-kuat hingga mundur beberapa langkah.
Tidak mau terlihat lemah, lagi-lagi Ji Hwan mendekat. “Hei, Bung! Gak usah sok! Ingat! Kamu baru sebulan kenal Ha Neul. Tahu apa kamu tentang hubungan kami?!”
Tak tahan lagi, emosi Henri memuncak. Sebuah pukulan mendarat di pipi Ji Hwan, tubuh lelaki itu oleng dan akhirnya terperosok jatuh. Jeritan Ha Neul mulai menggema semakin menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya.
“Sudah, Ji Hwan. Jangan dilanjutkan!” Ha Neul berusaha menenangkan lelaki yang diselimuti amarah itu. Ji Hwan tak menghiraukan, dia malah bangkit dan bersiap membalas pukulan itu.
Bisa dibayangkan. Layaknya orang yang dipermalukan di depan umum, Ji Hwan metatap geram dengan tangan mulai mengepal. Lantas, sebuah tinju melayang begitu saja ke arah perut Henri. Pukulannya tepat mengena ke ulu hati. Meski terasa perih, Henri tetap bertahan hingga bergulingan di tanah beraspal.
“Hentikaaan!” pekik Ha Neul. Kali ini keduanya menghentikan perkelahian saat sadar perempuan itu berdiri getir menahan amarah. “Apa yang ada di kepala kalian? Memalukan!” ujarnya dengan suara bergetar seperti menahan tangis. Sesaat dia menatap Henri, kemudian berpaling ke arah Ji Hwan. “Persetan dengan kalian!” seolah tak peduli lagi, Ha Neul bergegas melangkah meninggalkan kedua lelaki itu.
“Ha Neul Ssi!” teriak Henri mencoba menahannya. Ji Hwan melakukan hal yang sama, bahkan berlari lebih cepat dan lagi-lagi meraih tangan perempuan itu. Namun, segera dihempaskan oleh Ha Neul. Ia lalu menampar pipi Ji Hwan, hingga lelaki itu tak mampu lagi bergerak mendekat.
Henri tahu jika memaksakan diri mendekat, nasibnya akan sama seperti Ji Hwan. Akhirnya ia hanya bisa mengikuti bayangan Ha Neul dari belakang dan meninggalkan Ji Hwan seorang diri.
Henri membiarkan amarah Ha Neul mereda, bahkan saat berada di subway ia menjaga jarak dengan kursi yang diduduki berselang lima kursi kosong.
“Mendekatlah, Hen!” panggil Ha Neul. Henri menengok seketika. Bibir perempuan itu tersungging lagi. Ia telah meredakan emosinya. Segera lelaki itu menggerakkan tubuh dan duduk tepat di sebelahnya.
“Miahn…” lirih Henri. “Dia berbuat kurang ajar dan aku tak mau kamu terluka.”
“Aku tidak suka kamu ikut campur dengan urusanku,” suara Ha Neul datar. Dia masih tak sudi menatapnya.
“Aku hanya…” dihentikan kalimatnya. “Kamu pasti tahu apa yang kumaksud?”
“Ara[3], dan itu membuatku muak!” gertaknya. “Kumohon Hen, jangan membuatku merasa bersalah seperti ini. Kita berteman, bukan? Jadi, perlakukan aku seperti biasa saja.”
“Aku mencintaimu. Bukankah sudah kukatakan kemarin? Kecuali jika hatimu masih terpaut pada si brengsek itu.”
Hening. Ha Neul seolah tak mau menanggapi kalimat itu.
“Benar kamu masih mencintainya?” Henri memaksanya menjawab tanpa sempat peduli perasaan Ha Neul.
“Jangan paksa aku!” pekiknya. “Kamu pikir mudah mengambil keputusan saat dua orang memaksaku menjawab pertanyaan yang sama?” kali ini Ha Neul menatapnya nanar. “Demi Tuhan, Hen! Aku tidak bisa menjawabnya. Kamu orang yang baik, bahkan denganmu aku merasa sangat nyaman. Namun, bayangan Ji Hwan masih saja bergelayut di kepalaku, menyisakan tanda tanya yang harus kucari jawabannya sendiri.”
Henri tak mampu bereaksi lagi, hanya bisa menundukkan kepala. Ha Neul telah melewati hari yang melelahkan. Ini bukan waktu yang tepat untuk terus memaksanya bicara.
“Kamu tidak apa-apa?” Ha Neul mengalihkan pembicaraan saat melihat Henri mengelus perut yang masih perih.
Tak ia beri jawaban apapun, hanya seulas senyum tipis. Hatiku lebih sakit, Ha Neul.
***
Malam ini terasa lebih panjang. Keduanya seperti enggan untuk pulang. Lelah hati dan raga membuat mereka terdampar di tepian Sungai Hangang. Lagi-lagi ia nikmati pesona sungai terbesar di Korea Selatan itu bersamanya. Namun, suasana yang tercipta tak sama seperti kemarin. Ini tak sesuai dengan rencana lelaki itu. Mereka berdua malah terjebak dalam keheningan. Tersekat oleh amarah yang entah sampai kapan bisa terbendung. Ha Neul nampak tenang menatap hamparan Sungai Han seraya mendekap jaket tebalnya. Tak jauh beda dengan Henri, ia malah menyalakan sebatang rokok sekedar menghangatkan diri. Beribu tanya yang menyeruak di tempurung kepalanya tak satu pun bisa terjawab. Bisa saja malam ini dia ada di sampingnya. Lalu besok?
Lagi-lagi aku melihat musim berubah,
Seperti salju yang mencair menjadi air mata
Seperti kemarau yang menjauh meninggalkan parau
Seperti daun yang gugur ke dalam lumpur
Seperti red maple yang melarutkan rasa
Sungguh, lagi-lagi aku melihat musim berubah
[1] Sauna khas Korea Selatan
[2] Es campur ala Korea.
[3] tahu
Other Stories
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...