Autumn's Journey

Reads
2.7K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

11. Diary

Hari yang menyenangkan saat Ha Neul menerima ajakan Henri untuk berjalan-jalan di sepanjang Garuso-gil. Kenapa Garuso-gil? Ya, Henri hanya mengikuti petunjuk yang ada di internet bahwa tempat ini spesial dengan deretan pohon gingko yang berjajar rapi sepanjang hampir satu kilometer. Apalagi momennya tepat, saat dedaunan berguguran hingga berserak di sepanjang ruas jalan serupa hamparan karpet berwarna cokelat. Tak jarang mereka singgah di beberapa butik dan toko souvenir sekedar untuk melihat-melihat. Ha Neul bahkan sempat memilihkan untuk Henri sepasang sepatu boot keren di Geek Shop.
Perjalanan berakhir di Deux Cremes sekedar melemaskan otot kaki yang dipaksa bekerja selama hampir tiga jam. Henri menatap perempuan itu. Saat pertama kali bertemu, ia mirip bintang Korea, Soo Ae. Entah kenapa, lama kelamaan wajahnya mulai berubah. Ia ternyata tidak mirip Soo Ae. Ha Neul terlihat lebih cantik. Apalagi saat rambut legamnya dibiarkan terurai—biasanya diikat tanpa pernah meninggalkan satu aksesori pun di sana, entah jepit rambut atau bandana.
Namun seperti apapun rupanya, Henri sudah tidak peduli. Yang penting hatinya senang karena Ha Neul menepati janji untuk menemui dia di sela-sela kesibukannya. Berharap ini menjadi petunjuk tentang perasaannya pada lelaki itu.
Dalam waktu satu bulan, Ha Neul berhasil membuat Henri terlena akan buaian cinta. Namun, ternyata jalannya tak semulus itu. Masih ada penghalang di antara mereka—Ji Hwan seolah membayangi setiap langkah Ha Neul. Apalagi setiap hari mereka bertemu di kafe Wonderland. Bukan tidak mungkin Ji Hwan terus membujuknya untuk kembali dan menyisakan rasa sakit hati untuknya.
“Ah, senangnya! Aku menunggu hampir seminggu supaya bisa menghabiskan waktu seharian denganmu,” ucap lelaki itu setelah menyesap green tea latte. “Besok kita jalan-jalan ke mana ya? Ke Megabox? Kamu kan belum sempat mengajakku nonton bioskop?” seulas senyum terukir di sana, tetapi perhatian Ha Neul masih pada gomuma latte yang sedari tadi diaduknya. Pikiran perempuan itu memang tidak sedang bersamanya.
“Kurasa besok aku tak bisa menemanimu,” lirih Ha Neul lalu menyeruput minumannya perlahan. Gesturnya mengisyaratkan kegelisahan ketika kedua jemari itu meremas-remas kain serbet.
“Wae? Kamu bekerja lemburkah?” selidik Henri.
Ha Neul tidak menjawab. Raut wajahnya menyiratkan kebingungan. Henri paling tidak suka melihat raut wajah kebingungan seperti itu! Ayolah Kim Ha Neul, walaupun namamu sama dengan artis Korea Selatan favoritku, tetapi aktingmu tak sebaik artis Hallyu itu! batin lelaki itu bicara.
“Ha Neul Ssi?”
Perempuan itu tersadar saat Henri menatap dingin dengan tangan melipat di dada. “Ji Hwan sakit,” Ha Neul menunduk kembali seolah tahu akan seperti apa reaksi Henri.
Lagi-lagi nama orang itu menyelinap di antara mereka, membuat napas Henri semakin sesak. “Lalu? Apa urusannya?” ujar Henri datar.
“Aku…” dia ragu ‘tuk menjawab, “Aku ingin menjenguknya.”
Henri hanya bisa menyeringai sinis. “Begitu ya? Sepertinya aku pun harus sakit dulu supaya bisa mendapatkan perhatian ekstra darimu,” sindirnya.
“Jebal[1], aku sedang tak mau bertengkar!”
“Terserah kamu sajalah!” Henri bangkit dari meja dan melangkah meninggalkan kafe. Sungguh, ia tak punya ide apa-apa selain pergi dan menenangkan pikirannya. Perjuangan meraih hati Ha Neul menghancurkan kelogisannya untuk berpikir. Anehnya, itu tak berlaku bagi Ha Neul sendiri. Sampai-sampai berpikir kalau perempuan itu tengah mempermainkan perasaannya dengan cara memberi harapan palsu, walaupun hatinya masih terpaut pada satu nama.
Perlahan langkah kakinya melambat setelah berjalan beberapa puluh meter dari teras kafe. Sial! Sebenarnya bukan seperti ini reaksi yang ingin ia berikan. Namun, Kim Ha Neul sama sekali tidak peduli dengan aksi cemburunya. Bisa jadi, ia masih menyisakan cintanya pada Ji Hwan. Firasat itu lama-lama menguap ke permukaan ditandai dengan sikap berlebihannya pada Ji Hwan.
Pada akhirnya Henri berbalik, mencoba melawan egonya sendiri. Dari halaman Deux Creme ia bisa melihat Ha Neul tengah termenung gelisah tepat di balik dinding kaca. Kepalanya kacau karena ulah dua lelaki yang mencintainya. Apa yang harus Henri lakukan?
Bukan seperti ini caranya memperlakukan perempuan, sisi hatinya berbisik. Bukan salahnya ketika tak mampu merespons cintamu. Sehebat apapun, sedahsyat apapun, tetap dia yang memiliki keputusan untuk mencerna perasaanmu.
Baiklah. Pada akhirnya ia menyadari itu. Sikapnya pada Ha Neul beberapa hari ini seolah menjadi tekanan bagi perempuan itu. Sesuatu yang seharusnya bisa ia hindari sejak awal.
“Maafkan aku malah bersikap seperti anak kecil,” dalam hitungan menit, Henri telah kembali ke meja mereka. Ha Neul yang tadinya sempat terdiam kaku, perlahan menyunggingkan sedikit bibirnya. “Ya sudah, sampaikan saja salamku padanya,” ia ucapkan kalimat itu dengan nada yang dibuat setulus mungkin.
Mereka terdiam dalam hening. Hanya tatapan mata yang berbicara. Meskipun Henri tak pernah tahu arti dari isyarat mata itu.
***
Henri tak ada ide ke mana tepatnya harus pergi sekedar mengenyahkan bayangan Ha Neul dari kepalanya. Gara-gara bangun kesiangan, ia ketinggalan touring yang sudah direncanakan Tae Joon sejak seminggu lalu. Padahal kemarin lusa, Tae Joon berjanji akan mengajaknya jalan-jalan di Coex Mall sekalian nonton film “A Company Man” di sela-sela touring-nya. Sejak kemarin, Henri menunggu premiere film yang dibintangi So Ji Sub itu. Namun, apa mau dikata. Rasanya tidak lucu jika ia manyun sendirian di bioskop seperti orang bodoh. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu seorang diri saja dan memikirkan sisa pekerjaannya. Masih banyak revisian naskah yang harus ia selesaikan.
Seharian Henri menghabiskan waktu di perpustakaan nasional yang terletak di kawasan Banpo-dong. Sekedar menikmati ketenangannya menulis, juga mencari referensi tambahan untuk naskah bertema Korea itu. Berharap gedung berlantai delapan ini bisa memberi semua yang ia butuhkan dan tentu saja dalam tulisan berbahasa Inggris. Bayangan Ha Neul ia hempaskan sejenak dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kesibukan.
Harry baru saja menghubungi. Syukur ia tak menyodorkan revisian lainnya. Lelaki itu malah menyukai draft yang sempat Henri kirim semalam. Ternyata, usaha selama satu bulan ini tidak sia-sia. Kini hanya butuh waktu satu minggu untuk menyelesaikan pekerjaan lalu pulang ke tanah air.
Pulang? Lantas bagaimana dengan Ha Neul? Mungkinkah ia bisa pulang begitu saja dan membiarkan Ha Neul berlalu dari hidupnya? Ah, tidak! Henri akan mencari cara agar hubungan keduanya tidak terputus. Ia yang akan sering berkunjung atau memintanya tinggal di Jakarta. Mungkinkah?
Saat ini Henri belum bisa berpikir jernih. Nanti bila saatnya tiba, ia akan meminta Ha Neul untuk ikut tinggal di Indonesia. Toh, di sini dia tinggal sebatang kara. Berharap Ha Neul tak keberatan untuk tinggal bersamanya dan menikah di Jakarta. Astaga, sejauh itukah isi kepalanya? Henri yang tanpa sadar tertawa sendiri menjadi pusat perhatian para pengunjung di sana.
“Jaesonghamnida[2],” katanya saat seorang lelaki seumuran dia mendesis kesal. Tak lupa ia membungkukkan bahu sedikit mengikuti etika mereka saat meminta maaf.
Hari semakin sunyi. Sejak jam lima sore tadi, Henri sudah meninggalkan perpustakaan hingga akhirnya terdampar di pojangmacha ini. Tidak tanggung-tanggung, ia memesan soju tiga botol langsung saat pemesanan pertama. Malam ini ia ingin mabuk.
Layaknya seorang peminum profesional, Henri berhasil menenggak soju sebagai pelampiasan kekecewaannya pada Ha Neul. Sejak masih di perpustakaan, ia terus berusaha menghubunginya. Parahnya, Ha Neul malah mematikan ponsel. Memangnya, apa yang sedang mereka lakukan? Sampai-sampai teleponnya tidak diangkat. Jangan-jangan ini perbuatan Ji Hwan? Terlintas pikiran buruk soal lelaki itu. Henri berpikir Ji Hwan tahu kalau ia berbuat hal yang sama kemarin, dan sekarang Ji Hwan melakukan itu seolah ingin membalas kecurangannya. Lelaki itu malah tersenyum sinis.
Henri sudah tak mampu berpikir lagi. Yang pasti kepalanya seperti berada di roller coaster, berputar-putar tidak karuan. Apalagi ahjumma, sang pemilik pojangmacha memutar musik trot[3] dengan volume maksimal. Rasanya ingin membenturkan kepala ke dinding. Tidak ada alasan untuk tetap tinggal di pojangmacha ini. Namun tubuhnya berat sekali untuk beranjak. Ia benar-benar kehabisan tenaga, bahkan untuk berdiri pun tak mampu. Lelaki itu membuat keriuhan saat mencoba berdiri, sampai-sampai anak buah si ahjumma spontan menghampiri mencoba menopang bahu Henri dengan tangannya.
“Odieso saseyo[4]?”
Jelas membuat Henri pusing disodori bahasa Korea yang dia tak tahu artinya. Dia bicara apa sih? batinnya. Akhirnya ia hanya mengibaskan tangan, menolak berkomunikasi bahkan bicara ngelantur dengan gumaman yang ia sendiri tak mengerti. Yang pasti, badannya benar-benar tak terkendali. Perlahan, ia melepas genggaman tangan lelaki itu dari bahunya lalu mencoba melangkah lagi. Henri malah menginjak sesuatu dan akhirnya terjatuh lagi. Lalu pandangannya semakin samar dan gelap pada akhirnya.
***
Suara berisik di kamar itu membuat bola matanya bergerak-gerak perlahan. Kepalanya pusing bukan main. Perlahan ia membuka mata walaupun terasa pening sekali. Meski dalam keadaan tak berdaya seperti ini, Henri masih bisa melihat sebentuk siluet buram yang nampak di hadapannya. “Di mana ini?” gumamnya seraya mengusap pelipis.
Siluet itu perlahan membentuk satu bayangan dan akhirnya nyata menyerupai sosok yang ia kenal. “Henri? Kamu baik-baik saja?” suara Ha Neul terdengar familiar di telinganya. Tanpa ragu perempuan itu membelai pipinya. Hangat sekali. “Kamu sudah ada di Banana Backpacker.”
Benarkah? Memangnya aku tadi ada di mana? Ia mulai menyusun kembali serpihan memori yang berserakan tidak karuan.
Pojangmacha itu!
Musik trot itu!
Ahjumma itu!
Akhirnya ia ingat semuanya.
Lelaki itu melihat jam menunjukkan pukul tiga pagi. Astaga, selarut ini Ha Neul berada di kamarnya?
“Kamu tahu? Kelakuanmu mirip sekali dengan Kim Sam Soon[5] versi lelaki. Mabuk habis-habisan seperti bujangan tidak laku,” gumaman Kim Ha Neul sungguh membuat Henri tersinggung. Untung saja, kondisinya tidak memungkinkan untuk memutarbalikkan fakta. Ia ingin menimpal, justru Ha Neul yang mirip Kim Sam Soon, dipermainkan oleh sang mantan yang jelas pernah menyakitinya di masa lalu.
Henri tak menghiraukan lagi kalimatnya barusan. Ia cukup sibuk memijat pelipis. Pusingnya semakin menjadi dan kini merayap ke perut. Terasa perih melilit ulu hati. Ia nyaris bersuara dan memuntahkan makanan yang ada di perutnya. Bergegas ia bangkit menuju toilet, mengabaikan jemari Ha Neul yang setia memijat pundaknya.
Henri memuntahkan makanan yang ada di dalam perut tepat di lubang kloset lengkap dengan suara-suara menyeramkan dari tenggorokannya yang sungguh di luar kendali.
Beberapa saat lamanya ia lemah tak berdaya di depan kloset ditemani Ha Neul yang terus mengusap tengkuknya. Tak lama setelah penderitaan itu berakhir, Henri hanya bisa terengah-engah seraya menerima segelas air madu yang diseduh perempuan itu.
“Terima kasih,” lirihnya setelah menyesap minuman itu. Tampang Henri sungguh sangat kacau. Ha Neul malah tertawa gemas melihat kelakuannya yang seperti anak kecil. Namun Henri sepertinya tidak peduli, namanya juga orang mabuk. Kemarin saat Ha Neul mabuk pun keadaannya tidak jauh beda dengannya.
Namun pada akhirnya Henri mengacungkan jempol pada semua kebaikan Ha Neul yang sabar mengurusnya. Mulai dari memapah ke kamar, membantu menukar pakaian dengan sweater bersih, hingga merapikan ranjang. Ha Neul berusaha membuatnya senyaman mungkin.
“Bagaimana ceritanya kamu ada di sini?”
“Bodoh!” perempuan itu menepuk halus bahunya. “Tentu saja aku korban dari igauanmu. Ahjumma bercerita, kamu menggumamkan nama Kim Ha Neul selama mabuk. Untungnya nomorku tersimpan rapi di ponselmu hingga akhirnya ahjumma itu menghubungiku untuk segera membawamu kembali ke hostel.”
“Gangsamta[6],” ujar Henri setelah mendengar paparan cerita dari Ha Neul. Perempuan itu malah tersenyum lalu menyelubunginya dengan selimut tebal yang menutupi badan. Ha Neul mengangguk disertai senyuman tulus. “Semoga bisa setiap hari diurus seperti ini olehmu.”
“Tentu, aku rela melakukannya,” Ha Neul memperbaiki posisi selimut, membiarkan tubuh lelaki itu tertutup hingga leher. Tak lama mereka terdiam. Belum pernah keduanya dalam posisi sedekat ini. Bila sedang sehat, bukan tidak mungkin lelaki itu akan menciumnya. Meski begitu, Kim Ha Neul pasti bisa merasakan debaran jantung Henri yang berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Ha Neul menatapnya dengan sorot yang begitu dalam, Ada rasa sesal terbentuk di dalamnya. “Apa kamu kecewa padaku? Sampai mabuk-mabukan seperti ini?” gumamnya pelan.
“Aku cuma gak rela kamu berlama-lama dengannya. Seharian ini kamu membuatku semakin gila.”
“Miahn…,” perempuan itu tertunduk.
“Gwenchana, setidaknya kamu ada di sini malam ini. Itu saja cukup mengobati rasa sakitku,” jemarinya muncul di sela-sela selimut dan menangkap jemari halus perempuan itu. Meski ingin melepasnya, namun dengan sedikit isyarat mata, Ha Neul membiarkan jemari itu melekat erat di tangannya.
Malam ini nasib Henri berubah 180 derajat. Dari lelaki menyedihkan menjadi lelaki paling bahagia seumur hidupnya. Apalagi saat Ha Neul mengizinkan tangan itu meraih jemarinya. Semua terasa baik-baik saja.
***
Henri terbangun ketika sinar matahari menembus kamar, tepat menyorot ke arah ranjang. Sejenak ia terdiam membisu, mengingat-ingat tentang apa yang terjadi semalam. Tadi malam aku mabuk berat lalu Ha Neul yang membawaku pulang, gumamnya pelan. Ia lalu berusaha menggali lebih dalam ingatannya. Ha Neul sempat duduk di sini hingga aku terlelap. Pada akhirnya Henri menghela napas panjang menyesali perbuatannya yang membuat Ha Neul repot. Dia pasti kelelahan kemarin, mengurus dua lelaki yang tak tahu diri seperti aku dan Ji Hwan, batinnya lagi.
Meski malas, Henri memaksakan tubuhnya untuk bangkit. Pusing yang menderanya berangsur mereda. Kini tubuhnya tak seberat kemarin. Ia hendak menyeduh secangkir kopi panas, berharap menjadi awal yang baik untuk memulai hari. Henri melangkah menuju dapur. Lewat ruang kerja, nampak seorang perempuan cantik yang masih terlelap. Ha Neul begitu tenang tidur di sofa mungil itu.
Dahi lelaki itu mengerut. Kukira semalam dia pulang. Ah, benar-benar perempuan ini. Henri menggelengkan kepala perlahan. Ia hampiri tubuh Ha Neul lalu memasang selimut yang telah melorot hingga ke bagian pinggang. Nampak barang-barang berserakan di atas meja. Semangkuk mi instan yang sudah basi, minuman bersoda, ponsel, dompet, dan sebuah buku kecil…
Buku kecil itu menarik perhatian Henri. Meski ragu, lengannya malah bergerak mendekati dan diraihnya buku kecil tersebut. Perlahan ia membuka lembaran pertama buku bersampul merah muda itu. Di sana, terlihat gambar Ha Neul bersama Ji Hwan yang berlatarkan menara Monas, sepertinya kenangan indah saat berada di Indonesia. Di sana, Ha Neul tampak bahagia saat lengan Ji Hwan melingkar di pinggangnya. Lembar kedua masih ada gambar mereka dengan pakaian seragam berwarna abu-abu dan berlatarkan sebuah gedung besar yang mirip sebuah pabrik. Begitu pun halaman-halaman selanjutnya. Seolah pelengkap cerita dari tulisan berejakan Hangeul di setiap lembarnya. Ia tak mampu mengartikan ejaan Hangeul yang tertulis rapi di sana. Yang pasti banyak kata cinta yang tertulis. Neul saranghae, itu terbaca jelas hampir di semua bagian halamannya.
Setengah jam Henri menghabiskan waktu membaca tulisan-tulisan itu—meski dengan kemampuan yang terbatas hingga membawanya pada satu kesimpulan yang pasti. Ternyata dugaannya salah, ini bukan tentang Ji Hwan yang selalu mengganggu ketenangan Ha Neul. Tetapi sebaliknya, ini tentang Ha Neul yang masih memiliki secercah harapan untuk bersanding dengan Ji Hwan. Sesaat ia rebahkan tubuhnya di sofa di samping tempat Ha Neul tidur. Henri telah mendapatkan jawabannya. Meski sebenarnya mudah tertebak. Tetap saja curahan hati yang tertuang di catatan itu, membuatnya terguncang juga.
Perih? Entahlah. Lelaki itu hanya sedikit bersalah padanya. Selama ini Henri cukup menyusahkan perempuan itu. Hatinya terombang-ambing ketika dirinya—lelaki yang datang tiba-tiba—dengan seenaknya menyatakan cinta. Egonya yang sangat tinggi membuat Ha Neul terpaksa membagi hati. Antara dia yang mencintainya dan Ha Neul yang mencintai Ji Hwan.
[1] Kumohon
[2] Maaf
[3] Musik pop khas Korea Selatan
[4] Di mana kamu tinggal?
[5] Sebuah karakter utama di drama Korea populer yang berjudul “My Name Kim Sam Soon.”
[6] Terima kasih

Other Stories
Melodi Nada

Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...

Mauren Lupakan Masa Lalu

Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Download Titik & Koma