Autumn's Journey

Reads
2.7K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

12. Cinta Itu Sakit

Sudah hampir dua jam Henri melamun di ruang tengah. Walaupun televisi di depannya menampilkan penyanyi-penyanyi Korea terkenal, tetapi ia abaikan penampilan mereka. Tak disangka Tae Joon datang dan mengganti saluran TV KBS dengan saluran SBS yang sedang menayangkan drama Korea “Faith”.
“Kamu kenapa? Akhir-akhir ini sering terlihat melamun,” tepukannya di bahu membuat Henri menoleh untuk sesaat. Tae Joon duduk tepat di sebelah Henri lalu mengambil keripik kentang di tangannya.
Tanpa banyak reaksi, Henri menyunggingkan sedikit senyum sambil mengangkat bahu. “Tidak ada. Aku hanya sedang berpikir, tak terasa sudah lima minggu berlalu. Ini semua di luar dugaan, ketika kusadari keberadaanku di kota ini tidak semata-mata untuk menulis,” lirihnya.
“Kamu mau bercerita soal Kim Ha Neul?” Tae Joon mengecilkan volume televisi lalu duduk menghadap ke arahnya. Sepertinya ia tahu, di saat melankolis seperti ini Henri butuh teman untuk bicara.
Seketika Henri tertawa kecil. “Kenapa kamu bisa menyinggung ke perempuan itu?”
“Sudahlah, Tak perlu berbasa-basi. Dari wajahmu itu tertulis jelas nama Kim Ha Neul.”
“Benarkah? Pakai ejaan Hangeul?” gurau Henri. Sesaat kemudian Henri terdiam. Kurasa sudah tak ada yang bisa disembunyikan lagi. Toh, ia memang sudah berniat untuk berbicara dan meminta pendapat Tae Joon.
“Kamu tahu saat mabuk semalam? Aku tak sengaja membaca buku harian milik Kim Ha Neul.”
“Benarkah? Lalu?” Tae Joon memperbaiki posisi duduknya.
“Dari buku itu, aku mulai paham semuanya, terutama menyangkut perasaannya dan tentang lelaki yang selama ini selalu dia tunggu,” Henri menghela napas panjang. “Seperti yang selalu kutakutkan. Ternyata benar, Ha Neul masih berharap pada Song Ji Hwan.”
“Ji Hwan? Mantannya itu?” Tae Joon mengerutkan dahinya.
Henri menganggukkan kepala. “Sebenarnya ini melegakan sekaligus menyakitkan perasaanku. Lega karena aku tidak perlu lagi bertanya-tanya akan sikapnya yang berlebihan pada Ji Hwan. Menyakitkan pula karena sadar ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan.”
“Dan kamu mau menyerah begitu saja?”
“Entahlah, aku hanya tidak mau melihat Ha Neul kesusahan gara-gara kelakuanku. Dia memendam perasaannya sendiri demi menjaga perasaanku yang kadang di luar kendali. Kamu tahu sendiri ‘kan? Aku sering bertengkar setiap kali nama Ji Hwan disebut di sela-sela kebersamaan kami. Padahal aku bukan siapa-siapa di hati Ha Neul.”
Tae Joon menganggukkan kepala. “Cobalah segera buat keputusan secepat mungkin. Kalau kamu ingin meraihnya, kejarlah dia! Sebaliknya, kalau kamu ingin melepaskannya, lupakan dia sebelum hatimu benar-benar terluka,” Henri tersenyum pada Tae Joon. Nasihat lelaki itu benar-benar melegakan hatinya.
Pasca pembicaraan dengan Tae Joon, Henri mulai menimbang-nimbang langkah selanjutnya. Ia tak punya banyak waktu karena minggu depan harus kembali ke Jakarta. Entah bagaimana caranya, persoalan hatinya dengan Ha Neul harus segera dituntaskan.
Song Ji Hwan, sebenarnya apa sih buruknya lelaki itu? Apa tujuannya mendekati Ha Neul kembali? Apakah dia masih mencintai Kim Ha Neul? Atau sekedar ingin menebus kesalahannya di masa lalu? Pertanyaan-pertanyaan itu kini menyelubungi kepala Henri layaknya seorang detektif yang sedang menyelidiki pelaku kejahatan.
***
Henri berada di antara keramaian pusat kota, tepatnya di kawasan Gwanghwamun Square. Layaknya seorang turis kebingungan di antara ratusan orang yang hilir mudik, ia hanya berdiri menunggu kehadiran seseorang. Bukan Ha Neul yang dinanti, melainkan Ji Hwan. Ya, ia mengajak lelaki itu untuk bertemu sebagai ungkapan penyesalan atas sikapnya yang kurang bersahabat sejak kali pertama berkenalan. Perasaan cemburu kala itu membuat logikanya berantakan.
Pertemuan ini tentang dua orang lelaki. Itulah kenapa ia tidak memberi tahu Kim Ha Neul. Khawatir nanti dia akan berpikiran macam-macam.
Song Ji Hwan akhirnya muncul saat Henri menengadah mengagumi patung Laksamana Yi Sun Shin yang berdiri gagah dengan pilar air mancur di bagian depannya. Ji Hwan menyalami seraya menundukkan sedikit bahunya. Tubuh lelaki itu hanya sebatas bahu Henri. Namun dia akui, Ji Hwan memiliki wajah yang tampan. Selain itu, dia memiliki ciri-ciri fisik khas pria Korea, mata sipit, tubuh agak kecil, dan rambut sedikit gondrong. Pantas saja Ha Neul menyukainya. Tampang Ji Hwan memang serupa Hallyu Star. Wajahnya mengingatkannya pada aktor drama “Winter Sonata”, Park Yong Ha.
“Hmm…”
“Miahn...” Henri kembali tersadar. “Aku nggak menyangka akhirnya kita bisa bertemu lagi secara baik-baik, tanpa dendam.”
Sekilas raut keheranan nampak di kedua mata Ji Hwan yang menyipit. “Kupikir masalah kemarin, kamu yang memulainya. Aku bisa saja berbuat baik kalau kamu pun bisa melakukan hal yang sama.”
“Kamu benar. Maafkan aku,” Henri mencoba tersenyum meskipun Ji Hwan tak meresponsnya dengan baik.
Mereka singgah di sebuah kafe yang tidak jauh dari pusat Kota Seoul. Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan dan ia dengar dari Ji Hwan. “Aku senang kita bisa bertemu lagi,” Henri menjulurkan tangannya.
Lelaki itu membalas dan akhirnya memberikan seulas senyum, walaupun terlihat kaku. “Ya. Kebetulan saja aku sedang tidak ada jadwal kerja.”
“Kudengar kamu sakit? Bagaimana keadaanmu sekarang?”
Ji Hwan mengangguk kecil. Lelaki itu seperti menjaga jarak. Padahal Henri berharap Ji Hwan mau berusaha terbuka dan bicara santai, bukan merasa aneh seperti ini.
“Aku mau bicara soal Kim Ha Neul,” rasanya sudah tidak ada cara lagi untuk berbasa-basi. Sementara Ji Hwan semakin gelisah, terlihat jelas bahwa dia ingin segera menyelesaikan pertemuan ini. “Aku ingin tahu kedekatan kalian selama ini, terutama tentang perasaanmu padanya,” Henri menyampaikan kalimat itu dengan ekstra hati-hati.
Ji Hwan memicingkan mata. “Untuk apa? Kupikir itu tak ada hubungannya denganmu,” timpalnya.
Henri menghela napas panjang, berusaha keras bersikap tenang. “Ada,” balasnya setelah menyesap secangkir kopi yang telah ia pesan. “Semua ini demi Kim Ha Neul. Aku sangat mencintai perempuan itu, tetapi semua yang kuharapkan sama sekali tak mengarah padaku. Cintaku tak terbalas.”
Ji Hwan memalingkan muka, menatap orang-orang yang berlalu lalang di teras kafe. Jauh dalam hati lelaki itu pun ingin menumpahkan perasaan yang terpendam selama ini. Namun, seperti tersekat oleh sesuatu. “Tujuan utamaku hanya ingin mempertemukan Ha Neul dengan ayahnya, Tuan Kim.”
Henri terperangah. “Tuan Kim? Memangnya kamu kenal ayah Ha Neul?” Henri seolah tak percaya dengan apa yang Ji Hwan ucapkan barusan. Memangnya Ha Neul pernah mengenalkan Ji Hwan pada ayahnya?
“Dia ayah angkatku. Delapan tahun lalu Tuan Kim mengajakku tinggal di rumahnya, lalu membantu mengurus toko kecil yang dia bangun sepuluh tahun yang lalu,” pandangannya menerawang ke arah taman. “Dan aku baru menyadari kalau beliau memiliki seorang anak perempuan bernama Kim Ha Neul, perempuan yang pernah jadi kekasihku.”
Ini benar-benar di luar dugaan. Bagaimana mungkin kebetulan ini bisa terjadi? Laki-laki yang jatuh cinta pada anak ayah angkatnya? “Bukannya Tuan Kim menikah lagi? Kamu tahu kan? Itu yang menyebabkan Ha Neul kecewa dan memilih pergi.”
“Ya, aku tahu. Tetapi pernikahan itu tidak berumur panjang. Hanya butuh dua tahun untuk membuat beliau sadar akan kesalahannya. Ya, mereka berpisah.”
Henri terdiam. Jadi, selama ini ayah Kim Ha Neul hidup sendiri dibantu oleh Ji Hwan sebagai anak angkatnya? Lalu sekarang setelah tahu kebenarannya, Ji Hwan ingin mempertemukan mereka kembali? Ini pasti perkara sulit, karena Henri tahu, Ha Neul adalah perempuan berhati baja.Tak mungkin semudah itu untuk memintanya pulang.
“Satu hal lagi yang membuatku risau. Tapi aku harus menyampaikan ini padanya,” Ji Hwan membuyarkan lamunan Henri. “Tuan Kim sakit keras. Dia butuh kehadiran Ha Neul di sisa umurnya.”
Tak ada yang bisa ia lakukan selain menatapnya penuh simpati. Sepertinya Henri pun akan berbuat hal yang sama jika berada di posisi Ji Hwan. Membalas kebaikan ayah angkat dengan mencarikan putrinya yang menghilang.
“Kamu…” ah, Henri tak berani melanjutkan kalimatnya. “Kamu sayang dia?” akhirnya terucap juga.
Ji Hwan malah tersenyum seolah itu adalah pertanyaan konyol. “Kalau kubilang aku masih mencintainya, apa kamu akan menghajarku seperti tempo hari?”
“Aku… aku…” Henri malah gugup sendiri.
“Aku sayang dia. Kulakukan apapun agar dia bahagia. Dan aku menyadari, denganmu, Ha Neul bisa mendapatkannya,” Ji Hwan memotong kalimat Henri. “Aku cukup tahu diri. Tak mungkin bisa menang dari orang hebat seperti kamu.”
“Tapi dia masih mencintaimu…” sakit sekali rasanya saat Henri sampaikan kalimat itu.
Angin berhembus lembut di teras kafe yang menaungi mereka, seolah memberi jeda untuk keduanya menikmati sejenak nuansa autumn dari dedaunan yang berguguran satu per satu di halaman kafe.
Aku tak mampu lagi berkata-kata. Sungguh. Aku telah kalah…
***
Henri sudah lapang dada menerima keadaan yang sebenarnya. Mungkin memang waktunya ia akhiri kisah ini dengan manis. Membantu Ji Hwan membawa Ha Neul pulang ke Busan dan berdamai dengan sang ayah. Namun, Henri tak tahu bagaimana memulainya. Ji Hwan sendiri nampaknya belum menemukan kapan waktu yang tepat untuk bicara. Pada akhirnya, Henri yang mendesaknya untuk menyampaikan ini pada Ha Neul. Waktu sudah tak mungkin menunggu lagi. Atau Ha Neul akan kecewa untuk yang kedua kali.
Tiga hari sudah sejak pembicaraannya dengan Ji Hwan. Ia mulai bertanya-tanya. Sebenarnya Ji Hwan sudah mengikuti sarannya atau tidak? Yang pasti, ia seperti kehilangan jejak orang itu. Ya, bahkan Ha Neul pun seolah ikut hilang entah ke mana. Ponsel perempuan itu selalu mati saat ia coba menghubunginya. Sempat Henri mengunjungi tempat tinggalnya, para tetangga pun mempertanyakan keberadaan Ha Neul yang beberapa hari tidak pernah pulang. Henri cemas. Di mana Kim Ha Neul?
Tak mungkin Henri berdiam diri. Lama-lama tingkah mereka membuatnya kesal. Ia raih ponsel lalu menghubungi Ji Hwan.
“Hyung, kamu tahu di mana Ha Neul?”
“Aku tidak tahu di mana dia sekarang,” rupanya tak hanya Henri yang dibuat gila gara-gara perempuan itu.
“Kamu sudah mengatakan semuanya?”
“Iya. Aku mengikuti semua saranmu. Mungkin ini kesalahanku yang tak bisa membuatnya tenang. Ha Neul sempat tak terkendali. Aku tak mampu mengejarnya saat dia berlari untuk mendapatkan bis.”
“Maksudmu dia marah besar?”
“Aku tak tahu…” suara Ji Hwan terdengar putus asa.
“Kamu bersabarlah. Sepertinya dia butuh waktu untuk sendiri.”
Henri bisa merasakan kegelisahan Ji Hwan. Bagaimanapun Kim Ha Neul selalu ada di sampingnya setiap saat dan sekarang? Justru Henri yang merana karena kesepian. Tak ada yang ia lakukan selain menunggu. Henri hanya duduk gelisah di teras Banana Backpacker, ditemani gitar yang enggan dia mainkan.
***
Malam semakin larut. Matanya malah sulit ia pejamkan. Selain masalah Ha Neul yang belum juga menemukan titik terang, Harry pun malah ikut-ikutan membuat Henri pusing, ia meminta revisi soal draft akhir yang dinilainya masih kurang greget. Sungguh, Henri tak bisa mengerjakannya. Henri hanya bisa menatap layar laptop tanpa menyentuh satu huruf pun di keyboard.
Henri merebahkan raga di atas ranjang, berharap bisa membuatnya tenang sambil memejamkan mata. Dalam keadaan lelah pun ia tak bisa beristirahat. Kesal sendiri lelaki itu bangkit lagi menuju dapur mencari sesuatu yang bisa dimakan. Berharap saat kenyang nanti ia bisa tertidur dengan sendirinya.
Terdengar bel pintu berbunyi. Hah? Siapa tengah malam begini bertamu? Batinnya. Ia letakkan kembali sebungkus keripik kentang ke tempat semula tanpa sempat memakannya. Sedikit menggerutu Henri mendekati pintu lalu memeriksa siapa gerangan yang datang melalui layar monitor. Kim Ha Neul!
Kini terlihat dengan jelas paras Ha Neul saat Henri membuka pintu. Wajahnya pucat dengan dandanan yang acak-acakan. Rambut yang biasa digeraikan dia ikat sembarang. Henri menghela napas panjang, lega sekali rasanya. “Kamu ke mana saja!?” ujarnya dengan nada tinggi. Kesal sekaligus senang.
Henri tahu dia sedang dilanda kesedihan. Ha Neul mencoba menyembunyikannya dengan sunggingan bibirnya yang khas. Namun, senyuman itu perlahan berubah menjadi isakan tangis yang memilukan. Henri hanya memeluknya dengan tanggung. Hingga akhirnya ia tarik kepala perempuan itu dan membenamkannya di dadanya. Kumohon, Kim Ha Neul. Jangan menangis seperti ini. .
“Kami khawatir padamu,” lirih Henri seraya membelai rambutnya.
Lelaki itu memapahnya hingga mereka duduk di sofa lalu menawarinya secangkir cokelat panas. Ditatap lembut wajahnya. Kini dia tidak sepucat barusan. Tangisannya membuat hidung Ha Neul merona merah. “Kamu baik-baik saja?” Henri berharap dia mau menceritakan tentang apa yang terjadi setelah Ji Hwan mengungkapkan semuanya. Namun tentu saja ia tak mau memaksanya, hanya ingin memberinya ruang untuk menenangkan diri.
“Kemarin aku bertemu Ji Hwan…” perlahan Ha Neul mulai bicara. Henri mendengarkan seolah belum mengetahui apa-apa “Dia memintaku untuk pulang, Hen,” lirihnya. Henri meraih punggung jemari Ha Neul lalu mengusapnya. “Abojji[1] sakit keras, beliau ingin bertemu denganku,” dan air mata pun menetes lagi.
“Dan aku yakin kamu pun merindukan beliau, bukan?” lirih Henri seraya mengusap pipi Ha Neul yang basah.
Ha Neul tidak menjawab. “Tapi beliau telah membuat kesalahan besar yang membuat kami terluka. Dan itu tak bisa kumaafkan begitu saja.”
“Kesalahannya sudah terbayar lunas. Bukannya barusan kamu bilang, Ayahmu berpisah dengan perempuan itu dan tinggal sendiri?” sekali lagi ia coba membujuk Ha Neul. “Kasihanilah beliau, karena kesepian hingga mencari orang lain untuk jadi anak angkatnya. Syukurlah Ayahmu bertemu Ji Hwan, lelaki yang tulus merawatnya dan rela melakukan apapun, termasuk memintamu untuk kembali pulang,” Henri terdiam sendiri. Suasana haru membuatnya tak berkutik. “Kamu beruntung memiliki Ji Hwan. Dia sangat mencintaimu. Dan aku yakin…” ia menghela napas untuk sejenak. “… Kamu pun masih mencintainya.”
Ha Neul mendongak. Kini dia menatap lelaki di hadapannya lekat, seolah mencari tahu ada apa di kedalaman hati Henri. “Kamu?”
“Aku bisa membacamu. Tempat terakhirmu untuk berlabuh memang di hati Ji Hwan. Meski berusaha untuk memahami dan mencintaiku, namun jalanmu selalu mengarah padanya.”
“Maafkan aku, Henri,” perempuan itu menunduk tepekur dan melanjutkan isakannya.
“Tak perlu meminta maaf. Kamu tak pernah berbuat kesalahan. Aku senang pada akhirnya semua berakhir dengan baik. Jadi, tidak sia-sia bukan bertemu denganku?” Henri menyunggingkan senyum, menggodanya. Dan Ha Neul menimpal dengan memukul bahu lelaki itu lembut.
Henri tak kuasa ingin mendekapnya lagi.
Ya, Kim Ha Neul. Aku bahagia untukmu. Bahagia karena tahu kamu tidak akan sendiri lagi, bahagia karena tahu kamu akan kembali pada ayahmu, bahagia karena akhirnya kamu berlabuh di dermaga yang tepat, Song Ji Hwan.
Ya, dekapannya cukup lama. Karena lelaki itu tahu ini malam terakhir mereka bisa sedekat ini. Henri mencoba untuk memahami semua beban hidup Ha Neul, mencoba untuk memahami kebimbangan akan cinta dan kehidupannya. Dan ia pun mencoba memahami diri sendiri, tentang sakit yang ia rasakan karena cinta tak berpihak kepadanya.
[1] Ayah

Other Stories
Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

Coincidence Twist

Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Download Titik & Koma