13. Ji Hwan
Henri berada di Seoul Express Terminal menemani Ha Neul dan Ji Hwan yang merengek minta didampingi ke Busan. Pada awalnya ia sempat menolak, bingung jika harus bertemu dengan keluarga besar Kim Ha Neul. Dia mau bicara apa?
Well, I thought it would be an interesting last trip, batinnya. Karena tiga hari lagi ia harus kembali ke Jakarta, mempertanggungjawabkan perjalanan selama enam minggu ini. Sungguh, momen ini membuatnya sedikit lega. Kini, ia bisa melepas perempuan yang dia sayang dan mengembalikannya kembali kepada Ji Hwan, tanpa menyisakan kecewa sedikitpun. Dua insan itu memang ditakdirkan berjodoh oleh Tuhan. Berita bagusnya, Ha Neul tidak akan merana lagi seperti kemarin.
Ini akan menjadi pemandangan yang hebat saat Ha Neul bertemu Tuan Kim, lalu mereka berpelukan melepas rindu. Menghempaskan semua amarah yang sempat mengendap sepuluh tahun lamanya. Henri mengacungkan jempol pada Ji Hwan. Semua tak akan terjadi kalau bukan karena dia. Memang benar, Ji Hwan sungguh menjadi pahlawan di mata keluarga Kim. Yang berhasil mengembalikan Ha Neul ke tempat seharusnya dengan meninggalkan sisa-sisa kepedihan di Kota Seoul.
“Bagaimana perasaanmu?” pertanyaan Ji Hwan membuyarkan lamunan Henri saat menikmati pemandangan jajaran Pohon Ginko di balik jendela bis.
“Aku baik-baik saja,” katanya seraya mengulas senyum. “Senang bisa ikut serta menyaksikan kebahagiaan yang menyelimuti kalian. This amazing to see both of you together again,” ia menengok ke arah Ha Neul. Ada binar di matanya yang sempat menghilang beberapa hari lamanya. “Cerita dong saat pertama kali ketemu…” saat ini Henri sungguh kehilangan kata-kata. Ada baiknya mendengar kisah mereka sepanjang perjalanan mereka ke Busan Central Bus Terminal.
Pasangan itu malah saling menatap lalu menyeringai. “Apanya yang harus diceritakan? Cerita kami sama dengan kisah orang lain. Ketemu, pacaran, putus, pacaran lagi…” ujar Ji Hwan terkekeh-kekeh.
“Ayolah! Ini penting untuk observasiku,” bujuk Henri beralasan.
“Bagaimana, tidak keberatan aku cerita?” lelaki itu menengok ke arah kekasihnya.
“Kamu mau bayar kami berapa?” tantang Ha Neul. Derai tawa tak tertahankan menciptakan keriuhan di dalam bis.
“It’s a long story…” Ji Hwan melengkungkan bibirnya.
“I can hear you, it still takes four hours to arrive in Busan,” timpal Henri tak mau kalah.
***
Saat itu tahun 2008 ketika seorang teman menawari Ji Hwan pekerjaan yang menjanjikan di Han Syntetics Textile. Pabrik baru yang dibangun di Indonesia. Tidak dipungkiri saat itu ia membutuhkan pekerjaan setelah hampir satu tahun menganggur. Yang ia lakukan hanya membantu Tuan Kim mengurus tokonya yang mulai ramai.
Ji Hwan sangat menyayangi orang itu, Tuan Kim Hee Chul. Beliau yang mengajak lelaki itu tinggal di rumahnya yang besar dan melanjutkan pendidikan Ji Hwan yang hampir putus karena tak ada biaya.
Tuan Kim adalah lelaki berperawakan tinggi besar. Rambutnya yang beruban lantas tidak membuatnya terlihat tua. Beliau bahkan terlihat tampan di usia 50 tahun. Hanya saja, bagaimana bisa lelaki hebat seperti beliau ditinggalkan oleh perempuan yang baru dua tahun dinikahinya? Perempuan yang membuat anggota keluarganya pergi tak bersisa. Keenam anaknya pergi karena menentang perkawinan kedua Tuan Kim.
“Bagaimana, kamu mau bekerja denganku di pabrik itu?”
Tak ada yang bisa Ji Hwan lakukan selain tersenyum hambar. “Lalu abojji? Aku tak mungkin meninggalkannya seorang diri di Busan.”
“Tapi ini kesempatan bagus, kamu akan mendapatkan upah yang tinggi daripada mengelola toko Tuan Kim.”
Ji Hwan mendongak. Tega sekali temannya berpikir seperti itu. Ia mengabdikan hidupnya untuk membantu Tuan Kim tanpa berharap materi. “Beliau sangat baik. Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja.”
“Baiklah. Mungkin memang seperti itu. Tapi pikirkan masa depanmu. Tak mungkin selamanya kamu akan tinggal di sana, bukan?”
Kalimat terakhir yang dipaparkan kawannya sungguh membuat ia merasa tidak tenang. Jauh dalam hati ia pun ingin pergi ke negeri jauh itu. Lalu abojji? Apa beliau mampu mengelola toko itu seorang diri? batinnya.
Terkadang dalam keheningan, Ji Hwan begitu merasa sangat damai saat Tuan Kim memainkan gayageum, mengiringi lagu tradisional yang beliau dendangkan di ruang tengah. Jika pada akhirnya Ji Hwan memutuskan untuk pergi, alunan merdu itu akan sangat ia rindukan.
Tuan Kim tidak sebodoh itu. Setelah berhari-hari akhirnya beliau bisa melihat gelagat resah dari gestur Ji Hwan.
“Jadi kamu ingin pergi?” warna suaranya tidak berubah. Masih tetap terdengar lantang, meski beliau sempat terkejut dengan penjelasan anak angkatnya.
“Aku tidak tahu, Appa[1]…” ia tak sanggup menatap wajah Tuan Kim.
“Pergilah…” beliau mengusap bahu Ji Hwan. “Aku akan baik-baik saja tinggal di sini. Kamu bekerjalah dengan giat, untuk masa depanmu. Nanti aku akan mengangkat pegawai untuk mengurus toko.”
Itu adalah percakapan emosional di antara mereka. Memang tidak ada banyak kata terucap. Tapi sungguh, kasih sayang Tuan Kim bisa lelaki itu rasakan begitu dalam. Apalagi saat beliau menyanyikan lagu dengan lirik yang membuat Ji Hwan ingin menangis.
Arirang, Arirang, Arariyo…
Arirang gogaero neomeoganda
Nareul beorigo gasineun nimeun
Simnido motgaseo balbyeongnanda
***
Iklim di Indonesia sungguh tidak cocok dengannya. Saat pertama mendarat di Bandara Sukarno Hatta, Ji Hwan sudah tahu akan mendapat masalah yang bertubi-tubi. Entah masalah bahasa, iklim, pergaulan di sana, makanan dan pola hidup lainnya. Tapi semua ia hempaskan. Tekadnya hanya untuk bekerja sebaik-baiknya. Tak perlu merisaukan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Semua yang ia khawatirkan memang terjadi, namun sekali lagi Ji Hwan tak ingin mengeluh. Apalagi saat tak sengaja bertemu seorang gadis Han yang sungguh di luar dugaan ada di pabrik ini. Perempuan yang mengaku bernama Kim Ha Neul, staf di bagian produksi itu seolah mampu melupakan rasa lelahnya.
Perempuan itu Galak. Itu yang sering diucapkan kawan-kawannya. Tentu saja itu menjadi tantangan tersendiri bagi Ji Hwan. Mereka yang sudah lama tinggal di Busan pasti sudah tahu reputasinya saat masih sekolah. Playboy from Haeundae.
Ternyata memang sulit mendekati Kim Ha Neul, selalu ada alasan yang mengurungkan mereka untuk bicara. Kalau bukan Ha Neul yang sibuk, berarti Ji Hwan yang sibuk. Dan pada akhirnya takdir yang mendekatkan mereka—saat atasannya mengutus dia menemani Kim Ha Neul pergi ke Jakarta mengurusi dokumen di kantor cabang.
Mereka dekat setelah itu. Perlahan kebersamaan mereka tumbuh menjadi satu rasa yang lebih dalam. Kagum, simpati dan berujung cinta yang terucap saat keduanya menghabiskan akhir pekan di Monas.
Cinta mereka sangat kuat. Jika bukan karena kesalahan itu, Ji Hwan yakin mereka bisa bertahan hingga akhirnya nanti dipromosikan di kantor pusat di Seoul. Tapi takdir malah berkata lain. Saat ia terjebak oleh seorang perempuan Korea bernama Hye Won, yang sedang berlibur di Indonesia. Mereka bertemu di sebuah klub malam. Dan Ji Hwan terjebak oleh permainan mereka, ketika kawan-kawannya berhasil membuat ia mabuk dan menjadikan semuanya tak terkendali.
Ji Hwan terbangun di ruangan asing dengan seorang perempuan di sampingnya. Ya Tuhan! Apa yang terjadi? batinnya. Efek mabuk semalam membuyarkan ingatan beberapa jam sebelumnya. Apa yang telah kulakukan?
“Selamat pagi,” ujar Hye Won manja.
Ji Hwan membelalak lalu melangkah menjauhi ranjang. “Apa yang terjadi?” suaranya parau saat sadar perempuan itu hanya memakai selimut yang menutupi seluruh badannya. “Ki… kita melakukannya?”
Perempuan itu terlihat takut dengan reaksi Ji Hwan. “Ya…” sekejap perempuan itu menutup kepalanya seolah menyesal. Sejak itulah Ji Hwan merasa menjadi manusia paling laknat di dunia.
Hari demi hari ia menahan gejolak hatinya. Berharap kejadian kemarin hilang dalam ingatan dan terlupakan. Bahkan Ha Neul sendiri sempat bingung dengan gelagat Ji Hwan yang aneh di matanya.
“Kamu ada masalah di kantor?”
“Nggak. Kenapa?”
“Wajahmu kusut sekali. Kamu sakit? Hampir seminggu ini aku lihat kamu seperti nggak bertenaga.”
Ji Hwan hanya memberi seulas senyum tipis tanpa mampu mengatakan kebenaran itu.
Maafkan aku, Ha Neul…
***
Waktu perlahan menyibak rahasia antara Ji Hwan dengan Hye Won. Di siang hari yang tenang, mendadak kantor menjadi riuh saat seorang tamu tak dikenal berteriak-teriak dengan bahasa Korea. Hingga pada akhirnya, Ji Hwan sadari ahjussi itu adalah orang tua Hye Won. Ya Tuhan, apa lagi sekarang?
Hye Won memang pernah mengatakan pada lelaki itu. Dia meminta Ji Hwan untuk bertanggung jawab. Meski sebenarnya belum ada tanda-tanda Hye Won mengandung. Tapi sungguh, kejadian kemarin adalah kesalahan. Mana mungkin lelaki itu menghabiskan sisa umurnya dengan perempuan yang tak ia cinta. Lalu bagaimana dengan Ha Neul?
Dengan kata-kata makian ahjussi itu memukul Ji Hwan tanpa ampun. Mulut lelaki itu tersekat meski hanya untuk membela diri. Di kepalanya hanyalah ada Kim Ha Neul. Perempuan itu ternyata berada di dalam kerumunan orang yang menyaksikan aksi pemukulan tersebut, menatap Ji Hwan dengan perasaan pedih.
Hancur! Hancurlah semua mimpinya. Setelah akhirnya ia menyanggupi permintaan Tuan Han untuk menikahi putrinya. Ji Hwan tak sanggup untuk bicara empat mata pada Ha Neul. Pikiran perempuan itu telah teracuni oleh isu-isu bahwa Ji Hwan mendekati Hye Won demi meraup kekayaan orang tuanya.
Pada satu saat mereka tak sengaja berpapasan di ruang pantry. Keduanya sempat bertatap mata, namun pada akhirnya Ji Hwan menunduk dan membalikkan tubuh memunggunginya.
“Kamu tidak mau menjelaskan sedikitpun?” Ha Neul memaksakan diri berbicara.
Ji Hwan menghentikan langkahnya. “Bukannya kamu sudah mendengar semua?”
“Sialan kamu, Ji Hwan!” pedih hati lelaki itu saat suara isakan tangis Ha Neul terdengar pilu. “Katakan semua bohong! Demi Tuhan! Kamu bilang mencintaiku.”
Ini saat yang tepat untuk mengakhirinya, batin Ji Hwan. Ia terpaksa menjadi sosok kejam bagi Ha Neul. Lelaki itu berbalik lalu mengulum senyum. “Itu benar. Kupikir akan lebih baik tinggal bersama Hye Won dan pulang menikmati semua kekayaan keluarganya,” Ji Hwan mengucapkan kalimatnya penuh dengan keyakinan, seolah itu benar pernyataan dari lubuk hatinya yang terdalam.
Hatiku sakit, Kim Ha Neul. Kumohon jangan tatap aku seperti itu.
Ha Neul mendekat beberapa langkah. Air matanya belum juga berhenti… meski dia berusaha untuk tersenyum. Dan seketika itu dia menyiram wajah Ji Hwan dengan minuman yang dia genggam.
“Pergi! Ambil kekayaannya! Lalu cari perempuan lain!”
Meski terkejut dengan reaksi Ha Neul, lelaki itu masih ber-akting di hadapannya. “Tentu,” Ji Hwan yakin perempuan itu sudah benci melihat seringainya. Hingga akhirnya Ha Neul bergegas meninggalkan ia sendiri. Yang Ha Neul tidak tahu, Ji Hwan menangis setelahnya. Mengutuk diri sendiri karena telah menyakiti perempuan yang dia cinta.
Ini lebih baik. Agar kamu bisa melupakanku lebih cepat.
***
Setahun sudah berlalu, melupakan dan meninggalkan cintanya yang tertinggal di Indonesia, tanpa pernah tahu kabar terbaru Ha Neul. Bagaimanapun juga, garis hidup lelaki itu telah ditetapkan seperti ini. Tuhan telah memilihkan Han Hye Won untuk menjadi pendamping hidupnya. Terlepas dari rasa cinta yang tak pernah tumbuh di antara mereka.
Ji Hwan mendapatkan pekerjaan di kafe Wonderland sebagai tenaga akunting. Sengaja ia tidak menerima tawaran pekerjaan di perusahaan keluarga Hye Won, demi mempertahankan harga dirinya yang seolah tertindas. Akan ia buktikan, bahwa ia mampu menghidupi keluarganya tanpa harus tergantung dari lelaki sombong itu.
Teringat bayangan ayah angkatnya, hampir enam bulan ia belum mengunjungi beliau. Meski tak pernah mengatakannya, lelaki itu tahu beliau kecewa. Semua petuah dan mimpinya yang pernah beliau sampaikan, berharap anak angkatnya mampu mengembannya kelak. Namun, kini ia bukan Song Ji Hwan yang dulu lagi.
Namun Ji Hwan bisa bernapas lega. Meski tak ada di sampingnya lagi. Perlahan beberapa anaknya sudah kembali—lelaki itu sempat mengirim surat ke beberapa alamat yang bisa ia lacak. Tentang keadaan ayah mereka yang kini hidup seorang diri.
Lalu bagaimana hubungannya dengan Hye Won? Ternyata perkawinan mereka tidak seindah itu. Hingga kini Hye Won belum mengandung. Ji Hwan sendiri tak tahu apa penyebabnya. Yang pasti tali perkawinan itu tidak juga menciptakan bulir-bulir cinta di antara keduanya.
“Kita akhiri saja, Oppa,” ujar Hye Won saat di meja makan.
Ji Hwan menghentikan sarapannya. Lalu menatap perempuan di hadapannya lekat-lekat. “Apa yang harus diakhiri?”
“Pernikahan kita,” baru, kini lelaki itu menjatuhkan sumpitnya. Suaranya cukup mengejutkan Hye Won.
“Apa kamu gila?!” ujar Ji Hwan dengan nada tinggi. “Kamu lupa? Siapa yang menginginkan pernikahan ini?”
“Aku tahu! Dan aku menyesal! Tapi kenyataannya semua ini sia-sia! Kamu tidak pernah bisa mencintaiku.”
Hening. Hye Won sungguh membuat Ji Hwan menjadi lelaki berdosa untuk yang kedua kali. Setelah setahun berlalu, masihkah amarah ini ia limpahkan padanya? Ji Hwan tak memungkiri, Hye Won berusaha keras untuk menjadi yang terbaik, setidaknya di mata lelaki itu.
“Maafkan aku. Kupikir kita tak harus mengambil langkah sejauh itu. Aku masih berusaha untuk menerima keadaan kita.”
“Tidak, Oppa. Aku lelah!” gertak Hye Won.
“Lalu apa yang harus kukatakan pada Ayahmu. Kamu sengaja ingin membuatku terlihat bodoh untuk ke sekian kali?”
“Biar aku sendiri yang bicara pada beliau,” lirihnya. “Akui saja. Kamu pun menginginkan keputusan yang sama,” perempuan itu bergegas meninggalkan meja makan. Mengabaikan timpalan kalimat Ji Hwan selanjutnya.
***
Sudah cukup dunia mempermainkan lelaki itu.Ini saat yang tepat bagi Ji Hwan untuk memperbaiki semuanya. Kembali ke Busan dan mendampingi Tuan Kim di sisa umurnya.
Appa… aku pulang, batinnya.
Lega rasanya. Ada kedamaian saat menapaki kembali rumah bergaya Hanok[2] itu. Tempat di mana ia pernah duduk di teras menemani lelaki tua itu memainkan gayageum-nya.
[1] Panggilan akrab kepada ayah
[2] Rumah tradisional Korea
Other Stories
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Pintu Dunia Lain
Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...