Autumn's Journey

Reads
2.7K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
autumn's journey
Autumn's Journey
Penulis Petra Shandi

15. Akhir Yang Menyenangkan

Langit Jakarta membawa nuansa kerinduan yang mendalam, ketika selembar daun yang terbawa angin hinggap di balkon Apartemen Thamrin mengingatkannya pada Kim Ha Neul dan Song Ji Hwan. Henri meraih buku catatan yang telah lusuh di balik saku kemeja. Seketika senyumnya mengembang saat sehelai daun red maple masih terselip di halaman tengah buku ini. Tak terasa enam bulan telah berlalu menyisakan rajutan kenangan indah setiap harinya. Kenangan yang membuat ia terpikir untuk melakukan perjalanan yang sama suatu hari nanti.
Kisah cinta Henri mungkin tak semulus perjalanan romantis kedua sahabatnya. Namun, setidaknya ia terselamatkan oleh luapan cinta dari para penggemarnya yang tak kalah dahsyat.
Lelaki itu benar-benar tidak mengira. Selama ini ia pikir penggemarnya telah berpaling dan meninggalkan seorang Henri Samuel. Terlebih, orang-orang di sekitarnya menjadi pelipur lara di sela-sela kesendiriannya menjalani aktivitas sehari-hari. Arbi, Harry, dan para staf konyol di Rainbow selalu membuat hidup lelaki itu berbeda setiap harinya. Perlahan Henri pun sudah mulai berdamai dengan Riza Pratama. Seiring penyesalan Riza, keduanya mulai membina persahabatan kembali. Mereka mensyukuri kesuksesan masing-masing sebagai penulis populer selama setahun belakangan ini. Keduanya mencari makan di lahan yang sama. Tak perlu lagi saling menyikut satu sama lain. Semua persoalan telah berlalu dan Henri sama sekali tak ingin mengungkitnya.
Lantunan merdu di ponselnya berbunyi. Ia merogoh saku celana. Tidak ada yang lain, pasti Harry yang menghubunginya. “Yes, Harry!” ujar lelaki itu bersemangat.
“Kamu sudah siap dengan acaranya kan?” suara Harry terdengar semangat dari ujung sana.
“Tentu aku siap untuk meet and greet nanti malam,” Henri menjawab panggilan Harry seraya melangkah masuk ke dalam apartemen.
“Kamu datang sendiri? Atau sudah ada yang menemani?”
“Aku? Kamu tahu sendirilah, Har. Aku masih lajang. Memang mau mengajak siapa?” Sesaat lelaki itu tertawa terbahak-bahak.
“Bagaimana kalau kamu datang dengan salah satu stafku? Hitung-hitung pendekatan, barangkali kalian cocok?” Harry masih saja berusaha menggodanya.
“Sudahlah, Har. This is my life, ok? Urus saja novel-novelku! Gak perlu jodohin aku, apalagi dengan staf di Rainbow,” timpalnya terkekeh-kekeh.
Sesaat setelah menutup sambungan, Henri tersenyum geli. Entah kenapa banyak sekali orang yang ingin mencomblanginya. Kalau mau, malam ini ia bisa mendapatkan seorang pacar. Tapi dasar, hati memang tak bisa dipaksakan.
Tanpa banyak berpikir, Henri mulai bersiap-siap untuk acara nanti malam. Bukan tidak mungkin ratusan penggemarnya akan ada di sana. Novel K-Pop “Autumn Story” sukses meraih best seller dalam waktu seminggu. Ia sangat bersyukur hanya dalam waktu empat bulan, novelnya sudah memasuki cetakan ketiga.
Pikirannya melayang ke dua orang yang ia jadikan tokoh utama dalam novel terbarunya. Apa yang Ha Neul dan Ji Hwan lakukan ya hari ini? Mereka pasti sedang berkumpul dengan keluarga besar Kim, merajut kasih sayang yang sempat terendap begitu lama, batin Henri. Ji Hwan pernah mengirim e-mail yang mengabari bahwa mereka telah bertunangan. Henri mengulum senyum. Berkhayal seandainya ia berada di tengah-tengah mereka, menyaksikan rona bahagia yang terpancar dari wajah dua sejoli itu.
Bagaimana dengan Tae Joon? Kira-kira dia sedang apa ya? Kalau orang ini sih sudah bisa Henri tebak. Saat ini Tae Joon sedang berkumpul dengan para tamu di Banana Backpacker, menjadi pemandu turis dadakan seperti yang pernah dia lakukan kepada Henri dan kawan-kawan dari Kanada. Apalagi sekarang bulan April, saat bunga-bunga mulai bersemi. Akan ada banyak tempat hebat yang bisa dikunjungi. Kemarin saja Tae Joon mengirim foto-foto keren tentang kegiatan-kegiatan tahunan yang biasa diadakan saat spring. Salah satunya Yeuido Spring Flower Festival. Kegiatan yang selalu dinanti-nantikan banyak orang setiap tahunnya. Ketika lebih dari seribu pohon cherry blossom berbunga sempurna di sepanjang jalan Yeuido. Biasanya, saat malam menjelang akan dipasang lampu-lampu di setiap sudut pohonnya. Alhasil, saat malam pun kita bisa menikmati pesona cherry blossom.
***
Riuh gempita di Grand Indonesia, tempat tim Rainbow melakukan meet and greet dalam rangka promosi “Autumn Story”. Henri menghela napas penuh syukur, ternyata ia masih bisa menikmati masa gemilangnya saat semua pasang mata tertuju padanya seraya memanggil nama Henri Samuel berulang-ulang. It’s amazing! Mereka tak sabar meminta tanda tangan di halaman pertama novel yang ia tulis. Momen ini mengingatkannya pada beberapa bulan silam saat bergumul di antara pengunjung yang menyaksikan launching novel Riza Pratama. Kini ia mengalaminya sendiri!
Meski acara seperti ini bukan yang pertama kali. Namun entahlah, nervous ini sulit sekali ia kendalikan. Sebuah keresahan yang tak masuk akal. Mungkinkah esok ia bisa menulis lagi? Karena ia akui, Ha Neul yang membuat tulisan ini bisa menjadi nyata.
“Henri, bisa kamu ceritakan tentang foto yang terpampang di belakang cover novelmu?” tanya si pembawa acara saat sesi tanya jawab dimulai.
Lelaki itu terperangah saat pembawa acara mempertanyakan foto mereka bertiga. Entah kenapa mendadak hatinya menjadi emosional. Mencoba bersikap tenang, ia mengedarkan senyuman pada ratusan pengunjung.
“Itu adalah foto kenangan dengan dua orang sahabat yang baru kukenal di Korea Selatan. Tanpa mereka, ‘Autumn Story’ takkan pernah ada. Inspirasi terbesarku ada pada Kim Ha Neul dan Song Ji Hwan. Nama yang sama dengan karakter dalam novel ini. Mereka mengajarkan padaku tentang cinta yang universal, bukan sekedar cinta yang dangkal, datang dan pergi seiring waktu. Namun cinta dengan proses. Di mana cinta diuji melalui ketulusan dan pengorbanan yang luar biasa. Percayalah, ketika cinta tak terengkuh, di sana kisahmu bekerja mencari jalan lain dan kembali berlabuh di hatinya. Ketulusan, itulah jalanmu.”
Tepuk tangan membahana. Mereka tampak puas dengan penjelasannya. Sungguh kata-kata itu spontan keluar dari lubuk hatinya yang terdalam. Meski sebenarnya ia telah menyiapkan jawaban lain dari pertanyaan itu.
“Jadi kisahmu kini sedang bekerja? Atau mungkin sedang dekat dengan seseorang?”
Pertanyaan ini benar-benar di luar dugaan. Pembawa acara pasti menyangkutpautkannya dengan kisah lama itu, Laura. Ia menghela napas panjang. Ia tak perlu berlebihan menanggapi pertanyaan itu. Cukup dengan seulas senyuman misterius dan biarkan mereka menerka sendiri jawabannya.
***
Laura. Apa kabarnya sekarang? Sempat terdengar hubungannya dengan Riza Pratama kandas di tengah jalan. Henri sendiri tak tahu ada apa di balik perpisahan mereka. Ia tak tahu dan tak mau tahu. Sungguh, selama nama Laura masih ada di daftar ponselnya, Henri akan selalu penasaran untuk sekedar mengetahui keadaannya.
Is that true? Do I still love her? Bolehkan aku menemuinya? Just friend of course, batinnya. Henri hanya menggeleng lalu membenamkan kepala ke bantal. Cukup. Lelaki itu sudah cukup lelah dengan aktivitas menulisnya, tak perlu memikirkan Laura pula.
***
Ponsel Henri berbunyi cukup nyaring membangunkan tidurnya yang kurang lelap. Lelaki itu menggeliat seraya bergumam kesal. Sontak ia bangkit saat nama Laura terpampang di sana.
“Hen, kamu sedang apa? Makan siang bareng, yuk?”
Henri mengerjap. Laura? Baru saja semalam ia memikirkannya. Tanpa berpikir panjang ia menyetujui ajakan perempuan itu. Tak perlu dijawab macam-macam karena hanya akan membuat Laura berpikir bahwa ia merindukannya—meski sebenarnya Henri tak mengelak sama sekali.
Lelaki itu masih duduk di ranjang mencoba mengumpulkan nyawa sesaat. Bias sinar matahari menembus jendela kamar menghangatkan tubuhnya. Perlahan ia menyunggingkan bibir. This could be my lucky day, batinnya. Berharap bertemu dengan Laura bisa mengenyahkan rasa kesepian beberapa bulan ke belakang.
Sebenarnya tak banyak aktivitas yang Henri lakukan hari ini. Bosan bertemu Harry dan teman-teman di Rainbow. Mungkin lebih seru kalau ia jalan sejenak menelusuri jalanan Kota Jakarta. Bukan tidak mungkin ia akan mendapatkan inspirasi untuk novel selanjutnya.
Seperti déjà vu, angannya menyeruak tidak karuan saat berada di tengah kerumunan orang. Ya, tepatnya pada sebuah toko buku kecil di ujung jalan. Kapan ia pernah berada di sini? Dan lelaki itu, seorang pramuniaga yang seperti bermain mata seolah ingin mendekat namun segan. I know him! But, when? Ok. Maybe just my imagination, forget it! gumamnya dalam hati. Ia kembali melangkah lebih dalam menuju bagian penjualan novel pepuler. Tak perlu mencari novelnya di ujung bawah rak karena dengan mudah bisa ia temukan “Autumn Story” tepat di display utama lengkap dengan poster besar. Unbelievable!
Ponselnya kembali berbunyi. Of course, Harry, as always. Lelaki itu mendengus. Sambil melangkah aku merogoh ponsel di dalam tas kecil. Dan… Buuuk!
“Aahh!!”
Astaga ia menabrak seseorang. Perempuan itu terjatuh dengan belanjaan yang berserakan tepat di sebelah kakinya.
Sontak ia abaikan ponselnya. “Maaf, maafkan saya, Mbak!” merasa bersalah, ia membungkuk, membantu membereskan buku-buku belanjaannya. And guess what? Novelnya ada di dalam keranjang belanjaannya!
“Kak Henri?” astaga, perempuan itu mengenali wajahnya? Tapi tunggu sebentar. Perempuan itu menatapnya begitu akrab. Seolah mereka pernah bertemu sebelumnya. “Maaf, mungkin Kak Henri sudah lupa. Kita pernah bertemu beberapa bulan lalu di tempat ini juga. Kak Henri sempat kasih tanda tangan ke novel milik saya,” perempuan itu mencoba menyadarkan kebingungannya.
“Hmm…” Henri berpikir keras. Ia harus ingat. “Ri… Rianti!” hah! Nama itu terucap tanpa sadar.
Perempuan itu terdiam. Ah, aku salah menyebut nama kah? Ranti? Santi? Atau Denti? batin Henri.
“Saya salah sebut nama, ya?” Henri memicingkan mata.
Dia mengibaskan tangannya. “Bukan. Bukan begitu. Saya justru gak nyangka kalau Kak Henri masih ingat nama saya,” tak dipungkiri ada raut bahagia di rona merahnya. Henri malah tersenyum gemas. Rianti sebenarnya tak tahu kalau lelaki itu benar-benar lupa. Perempuan itu malah tersenyum. Henri terpesona oleh barisan mutiara yang tersusun rapi dengan lesung pipi sebagai pemanisnya. Bisa-bisanya ia lupa dengan perempuan secantik dia.
***
Masih teringat dalam benaknya wajah Rianti. Bahkan, sampai detik-detik pertemuan ia dengan Laura, justru Rianti yang membuatnya gelisah tidak menentu. Mereka sempat bicara di sebuah kafe selama kurang lebih sejam. Sungguh, saat bicara dengannya, waktu seolah tak berharga sama sekali. Yang Henri sesali, kenapa waktu mereka begitu sempit? Mendesaknya untuk segera menemui Laura dan mengabaikan pertemuan menyenangkan ini. Mungkin nanti di tempat dan waktu yang tak terduga. Siapa tahu?
Seorang perempuan dengan tinggi semampai dan rambut bergelombang yang terurai indah dalam sekejap sudah nampak di depan mata. Laura Alexandra masih saja seperti dulu. Wajah Indo Jerman yang khas membuatnya menjadi salah satu model termahal di Indonesia.
“Ngelamunin siapa sih? Dari tadi aku berdiri kamu sama sekali gak menyambut,” gerutunya.
“Ma… maaf,” Henri berdiri dan mempersilakan Laura duduk di hadapannya. “Apa kabarmu, Laura?”
Laura hanya menghela napas panjang. “Not good. Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi antara aku dan Riza?”
“Hmm… aku sudah mendengarnya,” ia menjawab tanpa beban. “Sorry, aku gak menyangka hubungan kalian akan berakhir seperti ini,” perempuan itu menatap lelaki di hadapannya lekat-lekat. Ada sedikit senyum sinis terlukis di wajahnya. “Hmm… hope someday you’ll find another man,” tambahnya.
“I hope that man is you!” terdengar jelas ucapan Laura meski dia mengucapkannya secara lirih.
“Sorry?” Henri berlagak tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba perasaannya pada Laura menghilang tanpa jejak? Ia ingat betul, tadi pagi sangat berharap bertemu dengannya dan bisa memulai kembali kisah cinta mereka.
“Forget it!” Laura mengibaskan kedua tangannya. Tentunya perempuan seperti dia memiliki harga diri yang sangat tinggi. “Oh ya, selamat untuk keberhasilan novel terbarumu. Sungguh, aku bangga memiliki teman sehebat kamu.”
Sementara Henri hanya menatap lekat matanya. Henri tahu perempuan itu hanya ingin mengalihkan pembicaraan, berusaha menyingkirkan ungkapan hati yang awalnya ingin ia luapkan.
“Kamu akan baik-baik saja. Percaya padaku,” akhirnya Henri yang berinisiatif meraih jemari tangannya.
“Maafkan aku, Hen.” kalimat sakti itu akhirnya keluar seiring menetesnya air mata yang tak terbendung lagi. “Mungkin ini karma karena pernah berbuat jahat padamu di masa lalu. Sekarang, semuanya malah berbalik kepadaku. Kamu bersedia memaafkanku?” tanpa ragu dia meremas jemari Henri.
Henri tak berkutik. Sebenarnya ia ingin menarik jemarinya. Namun, bulir kristal di pipi Laura membuatnya bingung sendiri. “Lupakan saja, Laura! Aku tak pernah menyalahkanmu. Itu hanya masa lalu,” lirihnya.
“Bisakah kita seperti dulu lagi?”
Satu pertanyaan ampuh yang membuatnya bingung untuk menjawab.
“Just friend I mean…” lirihnya.
Henri menghela napas lega dan menjawab seketika. “Sure…” ia genggam jemari perempuan itu mantap. “Aku bisa menjadi sahabatmu.”
Hembusan angin membelai wajah lelaki itu begitu lembut. Ini adalah salah satu momen paling nyaman dalam hidupnya. Ketika semua elemen negatif yang sempat menghancurkannya kandas tanpa sisa seolah semua bersemi kembali. Serupa kuncup bunga yang siap mekar lalu menebarkan aromatherapy bagi hidupnya.
Tak terasa satu jam sudah Henri melepas Laura dan ia sadari pertemuan ini adalah pertemuan mereka yang terakhir. Besok Laura akan terbang ke Paris untuk menggapai angannya menjadi model internasional. Semua berakhir adil bagi mereka. Henri dengan mimpinya sebagai penulis besar dan Laura dengan mimpi sebagai model internasional.
How about his romance? Henri tak bisa berharap lebih. Perlahan ia akan menata kehidupan asmaranya seindah puluhan kisah cinta yang ia tulis untuk mereka, orang-orang yang mencintainya sepenuh hati. Termasuk Rianti, mungkin...

Other Stories
Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

Takdir Cinta

Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...

Download Titik & Koma