1. Cowok Itu Bernama, Nika!
Namanya Denta Giatan. Tinggi badannya kurang lebih 175 cm. Rambut kepalanya dibiarkan gondrong namun tetap tertata rapih. Cara berpakaiannya pun slengean, baju seragam ngepres di badan dan selalu dikeluarkan. Mengenakan jam sporty hitam di tangan kirinya. Sedangkan di telunjuk tangan kanannya melingkar sebuah cincin yang terbuat dari bahan alumunium. Dia tidak pernah melepaskan cincin itu, sekalipun di sekolah. Baginya, ring itu seperti jantungnya sendiri.
Denta mungkin satu-satunya murid cowok paling aneh yang dipikirkan banyak orang. Hobinya itu kalo gak berantem sama kakak kelas, ya tawuran dengan anak-anak satu angkatan. Jangan ditanya berapa kali dia berkelahi di sekolah. Yang jelas, sangat sering. Itu alasannya kenapa dia tak punya teman. Lebih sering terlihat berkeliaran di area sekolah seorang diri.
Seperti siang itu, setelah dari toilet—Denta memutuskan untuk berkeliling sebentar sebelum masuk lagi ke kelas. Entah kenapa ia merasa begitu bosan bersekolah di SMA 91 Cirebon. Selain tidak memiliki teman, guru-gurunya pun gak asyik. Ditambah lagi dengan orang-orangnya yang sok paling bener sendiri. Membuat ia tidak betah.
Setelah puas berkeliaran, Denta pun berniat kembali ke kelas. Meneruskan pelajaran Sejarah yang membosankan. Ditambah lagi dengan sang guru—Pak Wisnu—yang setiap ngejelasin pasti sambil ngerokok. Bukannya murid-murid menikmati penjelasannya, ini malah harus bengek tiap kali hirup asapnya. Dan Denta selalu protes kepada guru botak itu, namun percuma—sang guru masih mempertahankan budaya buruknya.
Di tangga, nampak dua cowok tengah berdiri dengan wajah datar. Sorot matanya dibuat tajam. Mereka berdua berniat ingin meminta duit dari beberapa anak yang melalui tangga itu. Denta yang saat itu hendak ke kelas yang berada di lantai dua, mau tidak mau harus melewati mereka.
“Bagi duit dong!” seorang cowok berambut tentara menghentikan langkah Denta.
Denta menggeleng pelan, mengartikan jika dia tak ingin memberinya.
“Ya, elah pelit banget sih lo. Ceban doang,” kali ini cowok berambut gondrong menimpali.
“Gak ada!”
Melihat Denta tak mau memberikan apa yang diminta, memaksa si cowok gondrong turun dan mendekatinya. “Mana gue liat,” katanya seraya mencoba meraba saku baju Denta.
Mendapati perlakuan semena-mena dari seniornya itu, membuat Denta terpaksa harus ambil tindakan, yakni menangkis tangan cowok itu. Keras.
“Lo kalo mau duit, minta sama Bapak lo. Gak usah pake malak!”
Bagi Denta, premanisme di sekolah harus dilawan. Entah itu bully, pemalakan, atau apa pun itu. Menurutnya, sekolah adalah tempat mendidik karakter, bukan ajang unjuk kekuatan.
“Sialan,” umpat cowok gondrong seraya menoleh ke temannya yang berada di belakang. Sekonyong-konyong ia menerjang, kemudian mencengkeram kerah baju Denta.
“Banyak bacot lo, yah!” matanya melotot lebar seakan mengancam, “Lo mau bagi duit ke kita apa gak?”
“Gak!” Denta tak mau kalah menunjukkan sepasang matanya yang melotot. Ada secuil senyum ketus melesat. “Sepeser pun gue gak mau kasih buat orang-orang kaya lo. Rugi!”
Cowok itu meradang. Cengkeramannya kian mencekik. Di bawah sana, tangannya mengepal kuat. Seakan tengah mengumpulkan energi untuk melesatkan bogeman mentah jika diperlukan.
“Gue gak takut sama orang kaya lo.”
“Sialan!” teriak cowok itu dengan mengudarakan tonjokan mengarah ke pipi Denta. Sial, pukulannya bisa Denta tahan dengan tangan kanannya.
Sekuat tenaga Denta mencengkeram tangan cowok itu. Ditatapnya pemalak itu dengan bola mata sebesar bakso. Tangan kirinya yang tadinya mencengkeram kerah baju murid bernama Hardi itu, kini merambat naik ke leher. Mencekiknya pelan.
“Kalo mau ribut, mending di luar. Jangan di sini!” Denta mengingatkan dengan suara menekan. Membuat sang cowok kaget.
Di belakang sana, teman Hardi buru-buru turun. Menarik tubuhnya, dan meminta Denta untuk melepaskan cekikannya. Semula rengekan itu tak digubrisnya, namun setelah ada permintaan maaf, barulah ia rela melepaskannya.
“Awas lo, yah!” kata Hardi kesal. Telunjuknya terus mengarah ke Denta. Sedangkan temannya terus menariknya naik ke atas.
Senyum dingin dipasang Denta. Ancaman cowok itu dibalasnya dengan acungan jemari tengah tangan kanannya.
***
Denta baru tahu ternyata cowok yang selalu terlihat menyendiri di pekarangan belakang sekolah itu bernama Nika. Bisa ditebak jika dia seorang introvert akut. Biasanya tuh orang akan duduk di lantai plester yang kotor tanpa kawan. Ada earphone yang setia menemani telinganya. Kepalanya akan bergoyang-goyang, mungkin ia menikmati alunan musik dari iPod yang tergeletak tidak jauh dari kakinya. Entahlah, Denta sendiri gak tahu apa yang didengarnya. Namun yang pasti, aktivitas semacam itu yang disaksikannya manakala tak sengaja menemukannya. Sudah empat kali dalam seminggu ini.
Denta selalu memperhatikannya dari jarak kurang-lebih 10 meter. Bersembunyi di balik tumpukan kursi dan meja bekas. Sialnya, ketidaksengajaan itu malah menjadi candu untuk memuaskan rasa penasaran Denta terhadap cowok berambut nyaris menyentuh bahu tersebut.
Sekilas, kepribadian Nika itu hampir mirip dengan Denta. Cuek, tidak suka keramaian, dan agaknya sedikit nakal. Sosok yang selama ini ia cari untuk dijadikan teman. Maklum, selama hampir satu semester bersekolah di SMA 91 Cirebon, tak satu pun orang yang masuk kriteria untuk dijadikan kawan.
\"Akhirnya Tuhan ngirim orang juga buat nemenin gue di sini,\" seru Denta sinis.
Rasa senang Denta karena bakal dapet calon teman sialnya tidak bertahan lama. Tiba-tiba kebingungan melanda.
\"Tapi, gimana caranya gue bisa kenal itu orang?\"
Kebingungan Denta terjawab dua hari kemudian tatkala gak sengaja Nika kena bola basket yang Denta lempar.
\"Sorry,\" Denta kaget melihat Nika yang mengaduh.
Cowok itu cuek aja. Dia hanya mengangguk keras, dan berlalu tanpa mengucapkan kata-kata.
\"Hey,\" teriak Denta seraya memanggil. Lantas mendekatinya, \"Mau ikut main?\"
Dia mengangkat alis kanannya sesenti, sembari menjawab, \"Gak deh, makasih.\"
\"Ayolah, gak seru nih main basket sendiri. Kurang menantang,\" kata Denta sedikit maksa.
Nika masih saja diam. Matanya yang tajam terus menatap.
\"Kalo gue kalah, lo bisa makan apapun. Dan gue yang traktir.\"
\"Kalo yang kalah gue?\" tanya dia balik.
Denta tersenyum getir. Agaknya dia mulai terpancing. Baguslah.
\"Ya, lo yang traktir gue. Deal?!\"
Dia—yang saat itu belum gue tahu namanya—tampak menimbang-nimbang. Sepasang mata elangnya terpasang. Namun tak lama kemudian, mata kirinya terangkat sembari berkata, \"Deal!\"
Bukan senangnya Denta saat itu tatkala mengetahui dia menerima tantangannya. Satu langkah untuk mendapatkan teman bakal terealisasi. Namun perasaan itu dipendam dalam hati. Sendiri.
\"Let\'s play!\" seru Denta mulai men-dribble bola basketnya lagi. Bergerak ke depan papan ring.
Dia berjalan di belakang Denta dengan santai. Sejurus kemudian meletakkan tasnya tak jauh dari tiang ring.
\"Oke, kita adu shoot saja sebanyak 5 kali. Siapa yang bisa masukin paling banyak, dia menang.\"
\"Siapa takut,\" jawabnya sambil menyunggingkan senyum kecil.
Permainan pun dimulai. Denta melempar duluan. Bola di-dribble, badan sudah siap dalam posisi kuda-kuda. Pandangan fokus ke ring. Setelah dirasa yakin, bola pun dilempar keras.
Dia memperhatikannya dengan santai.
Brang... Suara ring terdengar keras manakala bola berhasil masuk ke dalamnya.
\"Yes,\" teriak Denta senang.
\"Giliran gue,\" tukasnya setelah mengambil alih bola. \"Look!\" katanya lagi agak pamer.
Denta berdiri tak jauh darinya. Terlihat dia ambil ancang-ancang, dan semenit kemudian menembak bola. \"Yes,\" dia senang mengetahui lemparannya masuk.
\"1-1,\" dia mengangkat dua jari telunjuknya.
Giliran Denta lagi. Bola dilempar terarah. Yup, kembali masuk. Ia mengudarakan jari telunjuk dan tengah. Mengartikan dua poin yang didapat.
Giliran dia. Bola ditembak keras, sial si bundar itu mental jauh. Tidak masuk ring. Rasa kesalnya tak bisa disembunyikan. Denta tertawa getir. Adu shoot pun berlanjut dan berganti hingga setiap orang mendapatkan jatah 5 kali tembak.
\"Yeaayy....\" Denta teriak lantang manakala lemparannya masuk kembali.
Permainan siang itu dimenangkan Denta dengan skor 4:3.
***
Selepas bermain basket, Denta dan teman barunya gegas pergi ke kantin. Tak ada siapa-siapa di sana, kecuali beberapa penjual yang tengah sibuk dengan barang dagangannya.
\"Bu,\" panggil Denta yang baru saja duduk di sebuah kursi paling depan. Seorang perempuan berbadan subur yang sibuk beberes menoleh, dan buru-buru berjalan mendekat.
\"Mau pesan apa, Mas?\" serunya kemudian.
\"Makanan terenak yang Ibu punya apa?\" kata Denta lagi.
Cowok itu menoleh ke gue. Dari cara tatapannya, seolah dia agak terkejut.
\"Inget taruhan kita, \'kan? Siapa yang menang, dia boleh makan apa aja?\"
\"I-iya,\" serunya gugup.
Denta nyengir kuda. Tanpa memedulikannya, ia denger ibu kantin nyebutin menu makanan terlezat yang dipunya.
\"Pesen nasi, ayam pop, telur dadar, rollet, dan kerupuk udang,\" Denta menyebutkan pesanannya, \"Oh, iya, jangan lupa sambal terasinya. Yang banyak!\"
Ibu kantin mencatat pesanan Denta di kertas yang ia simpan di saku bajunya.
\"Minumnya, Mas?\" tanyanya lagi.
\"Es teh manis aja, Bu.\"
\"Kalo Mas sendiri mau pesan apa?\" tanya perempuan itu melirik ke Nika.
Tampak dia berpikir, \"Ehm... Nasi rames aja, Bu. Minumnya air mineral.\"
\"Baik, Mas. Mohon tunggu sebentar,\" ucap ibu kantin kalem, lantas pergi.
Selagi menanti pesanan, obrolan pun terjadi.
\"Oh, iya, sampe lupa. Kita \'kan belum kenalan,\" tutur Denta. \"Kenalin, gue… Denta.\"
\"Gue, Nika (baru tahu namanya sekarang).\"
Oh, nama cowok introvert itu Nika. Ya, apapun namanya, Denta gak peduli. Terpenting, dia bisa jadi kawan.
\"Lo kelas berapa?\" Denta ingin tahu.
Nika menjawab, X-3. Ia menambahkan kalau dirinya adalah murid baru di sekolah itu. Baru saja pindah dari Semarang.
\"Jadi, lo anak baru di sini?\" Denta angguk-angguk tidak ada arti. \"Oke, sebagai senior yang baik, gue bakal kasih informasi terkait sekolah ini. Ya, itu juga kalo lo mau.\"
\"Senior? Emang situ kelas berapa?\" sergahnya.
\"Gue kelas X-6,\" jelas gue. \"Biar pun kita seangkatan, tapi gue \'kan lebih dulu masuk ke sini daripada lo,\" melanjutkan.
Nika senyum ketus. Denta tergelak. Suasana di antara mereka perlahan mulai mencair.
Dari kejauhan, ibu kantin datang membawa pesanan. Ditaruhnya makanan dan minuman di depan mereka, dan sejurus kemudian dia pergi.
\"Oke, mulai hari ini anggap aja gue temen lo. Jika ada apa-apa, bilang sama gue.\"
Nika malas merespons dan memilih menatap Denta dengan sorot datar.
\"Cheers,\" Denta mengangkat gelasnya, \"Untuk meresmikan hari pertemanan kita.\"
Nika melongo melihat sikap Denta yang dirasa berlebihan. Namun apa salahnya jika cheers itu dilakukannya. Semenit kemudian Nika ikut mengudarakan gelasnya, dan berseru, \"Cheers!\"
Denta dan Nika pun minum. Setelah itu makanan mulai disantap.
***
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...