5. Luka Cinta
Setelah memarkirkan motor, Denta menggantungkan helmnya di stang kendali. Melirik ke kaca spion seraya memastikan penampilannya masih rapi. Setelah itu ia mulai berjalan santai meninggalkan tempat parkir. Dari kejauhan, sebuah motor besar berwarna merah menyala bergerak mendekatinya. Jaraknya semakin dekat, dan melewatinya begitu saja.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Denta memperhatikan dua orang yang berada di atas motor tersebut. Terlihat seorang cowok berjaket hitam melepaskan helm abu-abunya. Sedangkan cewek yang diboncengnya turun dengan sedikit loncat. Denta baru mengetahui jika yang membawa motor itu adalah Braga, manakala ia berbalik badan.
Tampak Braga membantu cewek itu melepaskan helm yang dikenakannya. Ada sebuah senyum ramah terpasang. Kedua matanya berbinar tatkala beradu pandang dengan orang yang ada di hadapannya. Hati Denta panas ketika menyadari jika orang yang bersama seniornya itu adalah Aira.
“Aira?” desis Denta terkejut. Tangan kanannya mengepal kuat seakan menahan emosinya. Sepasang matanya tajam menatap. Udara yang keluar dari hidungnya terasa sangat panas. Ia tidak terima jika cewek yang ditaksirnya berduaan dengan orang lain, terlebih Braga. Ada rasa cemburu pada diri Denta. Kenapa ia kalah bergerak dibandingkan cowok itu?
Semakin lama melihat kemesraan yang ditunjukkan Braga dan Aira membuat Denta tidak kuat. Ia memilih untuk meninggalkan keduanya. Berjalan menuju ruang kelas dengan letupan amarah yang mengikis hatinya. Otaknya memunculkan kata sumpah serapah; bangsat!
Di depan toilet, Denta bertubrukan dengan seseorang yang hendak keluar dari bilik kamar mandi. Ia mengangkat kepala dan hendak memaki orang yang sudah berani menabraknya. Namun urung dilakukannya manakala mengetahui bahwa sosok yang berada di depannya adalah Nika.
“Ta…?” Nika memasang mata penuh selidik. Tahu wajah Denta yang terlihat kusut, ia menebak pasti ada sesuatu yang telah terjadi.
Denta tak menggubris. Ia urung masuk ke toilet, dan berbalik arah. Berjalan menuju pekarangan belakang sekolah. Di belakangnya, Nika mencoba memanggil namanya dengan sedikit berteriak. Sekalipun sudah mengeluarkan suara tinggi, orang yang namanya dipanggil tak mau peduli. Ia terus berjalan dengan langkah ngegas.
“Brengsek…!” umpat Denta penuh kekesalan. Ia menendang sebuah kursi rusak dengan sekuat tenaga. Kursi itu terpelanting beberapa meter. Tak lama cowok berambut gondrong itu berjalan ke arah tumpukan meja-meja usang. Kembali ia meluapkan kemarahannya dengan mendorong dan menendang kursi itu lagi sekuat yang ia bisa.
“Bajingan…. Brengsek….” Denta memukul sebuah meja dengan tangannya yang mengepal.
Tak jauh darinya, Nika berdiri dengan raut penuh keterkejutan manakala melihat kekacauan yang ada di hadapannya. Terlebih melihat Denta yang marah dan memukul apa yang ada di sekitarnya.
“Ta…” Nika berjalan mendekati Denta, “Lo kenapa?” tanyanya dengan menarik tubuh cowok itu.
Denta yang kadung emosi semakin menjadi. Dia terus mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa takut. Sekalipun ia mengumpat, namun tak satu pun nama orang keluar dari mulutnya.
“Udah, Ta…” Nika masih mencoba menjauhkan Denta dari aksi brutalnya menyakiti meja dan kursi. Dia menarik pundaknya untuk bisa lebih tenang dan mau berbicara dengannya secara baik-baik. Ketika Denta berbalik badan, bukannya menjadi kalem—ia justru melayangkan kepalan tangannya di depan wajah Nika. Kalau saja lupa dengan siapa yang ada di depannya itu, agaknya tinjuan itu telah bersarang di mata Nika.
Apa yang dilakukannya membuat Nika terkejut. Matanya melotot manakala melihat kepalan tangan Denta yang berurat berdiri di hadapannya. Jaraknya tidak kurang dari lima senti meter.
“Kalo dengan memukul gue bisa membuat hati lo lega, maka pukul gue, Ta!” kata Nika dengan suara parau.
Denta menatap Nika begitu lekat. Keduanya berperang pandangan. Tajam lagi penuh gelora kemarahan. Napas mereka terdengar berat dan panas.
“Ayo pukul gue, Ta!” mata Nika berkaca-kaca. “AYOOO, PUKUL GUE!” teriaknya kemudian.
Denta kaget. Giginya menyeringai. Ia kembali anarkis. Bukan meja atau Nika yang dipukulinya. Melainkan sebuah tiang yang berdiri kokoh tak jauh dari kedua cowok itu. Nika menoleh, dan meyaksikan sendiri betapa liarnya Denta ketika marah. Dia tidak kenal apa atau siapapun untuk melampiaskan perasaannya yang kacau itu.
“Braga brengsek. Sialan!” mulut Denta seperti tak memiliki filter. Dia terus mencaci maki. Kali ini ia kelewat menyebutkan nama seseorang. “Mati lo gue gebukin. Bajingan!” tangan Denta tak henti-hentinya melayangkan hantaman. Entah berapa kali ia memukul. Seakan ia tidak merasakan keram atau sakit.
Nika hanya bisa menyaksikan luapan kemarahan Denta tanpa sedikit pun coba menghentikannya. Ia tahu, akan sangat berbahaya seandainya melerai cowok itu bergelut dengan tiang. Bisa jadi dirinya yang akan dijadikan sasaran amuknya seandainya Nika benar-benar meminta Denta untuk tidak marah lagi.
“Ta…?” Nika tak bisa menutupi keterkejutannya sesaat melihat aliran darah mulai menetes dari tangan Denta.
Anak sungai darah bergerak semakin deras. Dari sela-sela jemari, cairan merah kental itu menetes ke lantai. Satu per satu tetesan warnanya menodai ubin yang berdebu. Lama-lama meluas.
“Tangan lo…” belum juga Nika menyelesaikan ucapannya, Denta buru-buru berbalik badan. Berjalan keluar meninggalkannya. Nika masih tertegun di tempatnya tanpa sedikit pun bergeser. Setelah puas melihat noda darah itu, ia baru tersadar dengannya. Ketika menoleh, Denta sudah menghilang.
***
Denta berjalan menelusuri lorong dengan membawa lukanya. Tak sedikit pun ia peduli terhadap darah yang bercecer di lantai. Pijakan kakinya semakin berat bergerak. Tidak ada yang dipikirkannya saat itu, selain Aira dan Braga yang semakin dekat. Jika mereka benar-benar menjadi sepasang kekasih, maka pupus sudah untuk ia mendapatkan gadis itu.
Sekeluarnya dari lorong, Denta berniat ke kelasnya. Namun ketika hendak berbelok ke tangga, lagi ia bertubrukan dengan seseorang. Kalo yang ada di depannya saat ini masih saja Nika, maka ia bersumpah ingin menghajarnya tanpa peduli bahwa mereka sudah menjadi seorang teman. Namun niatnya itu tak dilakukan manakala mengetahui bahwa orang yang menabraknya adalah… Aira.
Denta tertegun. Diratapinya wajah gadis itu lekat-lekat. Ingin sekali ia menyunggingkan senyuman, namun setelah mengingat kejadian di tempat parkir tadi membuat cowok itu urung tersenyum. Bibirnya berubah mengerucut. Matanya lemah berubah menegang.
Tidak ada yang dilakukan Denta atau Aira saat itu. Hanya perang mata yang terjadi. Satu sisi menyiratkan kesengitan, dan di sisi lain mengartikan kebingungan. Tak mau terjebak dalam posisi kikuk seperti itu, Denta memilih untuk berbalik badan dan menjauh.
“Tunggu!” teriak Aira hingga sanggup menghentikan langkah kaki Denta.
Aira berjalan mendekat.
Denta diam di tempatnya sampai merasakan keberadaan cewek itu di depan matanya lagi.
“Tangan lo terluka,” kata Aira sembari memperhatikan tangan Denta. “Harus segera diobati, kalau tidak, nanti infeksi,” imbuhnya kemudian.
Denta hening. Diliriknya tangannya sendiri untuk beberapa saat. Kemudian ia kembali mengangkat kepala. “Gak usah,” elaknya dingin.
“Sini gue liat,” Aira menarik tangan Denta pelan, namun mendapat penolakan. “Diem dulu, biar gue liat lukanya.”
Kali ini Denta pasrah selagi Aira menyentuh tangannya. Gadis itu mengamati luka yang dipenuhi oleh darah yang mulai mengering. Jemari itu terasa halus untuk dirasakan Denta. Begitu baiknya ia dengan luka itu hingga mau melihatnya. Tiba-tiba hati Denta berdegup dengan kencang.
“Lo ikut gue ke ruang kesehatan sekarang. Biar gue obatin di sana,” pinta Aira menurunkan tangan Denta.
“Gak perlu!”
“Lo mau tangannya infeksi, terus diamputasi karena membusuk?” terang Aira terdengar menakut-nakuti.
Denta hening.
“Sebagai anggota PMR, gue cuma berniat baik aja buat nolongin lo. Kalo lo kekeh gak mau, ya, terserah.”
Terkadang cinta bisa membuat siapapun tidak berkutik, sekalipun sekadar untuk berkata ‘iya’. Sebesar apapun api di dalam hati, ia akan padam juga seandainya cinta ada di depan mata, begitupun yang dirasakan Denta.
“Kalo lo menerima niat baik gue, ikut ke ruang kesehatan sekarang!” tukas Aira ketus. Ia memasang wajah dingin. Sedetik kemudian, berbalik badan dan berjalan menjauh.
Denta masih berdiri di tempatnya. Mengangkat tangannya yang penuh dengan luka. Diperhatikannya dengan seksama. Kemudian beralih menatap Aira yang sudah duluan pergi ke ruang kesehatan. Ada keraguan membenak. Egonya berkata, ia gak perlu lagi ke sana. Cuma buang-buang waktu saja. Biar nanti diobati sendiri. Namun sisi hati lainnya berbisik, tidak ada salahnya menerima kebaikan gadis itu. Mungkin inilah cara yang paling tepat untuk mendekati Aira.
***
Sesampainya di ruang kesehatan, tindakan pertama untuk mengobati luka pun dilakukan. Aira begitu telaten membersihkan luka di tangan Denta dengan alkohol. Setelah kering, ia membubuhkan obat merah dan lanjut membalutnya dengan perban. Gerakan cewek itu begitu lembut dan teratur.
Di depannya, Denta tidak bisa berkedip. Ia terus memperhatikan apa yang tengah Aira lakukan. Jika selama ini melihat Aira selalu dari kejauhan, detik ini dirinya begitu dekat dengannya. Hanya beberapa senti meter saja.
“Kalo lo udah pulang ke rumah, nanti ganti perbannya, yah,” pesan Aira.
Denta menatap dengan sorot teduh, “Kenapa harus diganti perbannya?”
Aira mendongakkan kepala. Ditemukannya mata Denta tengah berada tepat mengarah kepadanya. “Biar gak banyak kuman lukanya,” jawabnya singkat diakhiri dengan senyuman.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari Denta lagi, terkecuali anggukan lemah. Aira telah selesai mengobati. Dia bergerak menuju washtafel. Mencuci tangannya di bawah keran air. Tidak disadarinya jika sedari tadi Denta terus memperhatikan gerak-geriknya.
“Kenapa tangan lo terluka gitu, sih?” Aira menoleh.
Denta merasa gugup ditatap cewek itu. Sepasang matanya tajam dan sanggup mengoyak ketenangannya.
“Jangan bilang lo habis berantem!?” Aira sok tau.
Denta gak merespons. Diam seribu bahasa.
“Gue heran deh, kenapa sih cowok itu suka banget berantem? Apa sih untungnya? Paling banter juga luka-luka.”
Mulut Denta masih terkunci rapat. Tidak mencela.
“Hanya cowok sok jagoan aja yang sukanya pakai pukul. Cuma gedein emosinya doang, gak kaya cewek yang mengutamakan perasaan,” Aira nyerocos lagi.
“Kalo lo diapa-apain sama orang lain, apa cowok lo akan diam saja tanpa coba membela?” tutur Denta terpancing.
Kali ini giliran Aira yang bungkam. Agaknya ia terkejut dengan ucapan Denta.
“Gue yakin kalo cowok lo gak bakal terima seandainya lo disakitin orang lain. Dia bakal menghajar siapapun orangnya yang sudah berani menyakiti cewek yang disayanginya!”
Aira selesai mengeringkan tangannya pakai lap yang tergantung di samping jendela. Raut wajahnya melemah. Jelas tidak segarang tadi ketika menilai cowok yang gemar berantem.
“Kenapa lo diem?”
Aira bergerak mendekati ranjang yang posisinya bersampingan dengan ranjang yang diduduki Denta. “Gak pa-pa,” terangnya teramat parau. Nyaris tak terdengar.
“Asal lo tau aja, setiap luka yang didapatkan seorang cowok itu pasti ada sebabnya. Dia tidak akan sembarangan melakukan sesuatu yang mengakibatkan dirinya terluka,” Denta menjelas.
Aira masih terkesiap.
“Dan lo mau tau sebab apa yang menjadikan seorang cowok terluka?” tanya Denta dengan meratap.
Aira menggeleng. Pelan.
“Dia hanya ingin menjaga kehormatan dirinya atau harga diri orang yang sangat dicintainya.”
Penjabaran Denta sanggup menohok kesadaran Aira. Ia berpikir, sebegitunya ‘kah kaum laki-laki hingga mendapatkan sebuah luka? Demi diakui oleh yang lain, sampai rela berdarah-darah. Atau bahkan bersedia menawarkan nyawanya sendiri?
Denta turun dari ranjang. Sekali lagi ia menatap Aira dengan sorot mata teduh. Cukup lama ia memandangi cewek itu, hingga ucapannya keluar kemudian. “Terima kasih sudah mau ngobatin luka gue.”
“Apa lo masih mau berkelahi setelah luka ini, hmm…” Aira melirik name tag di baju Denta.
“Denta. Panggil aja gue, Denta,” katanya.
“Iya, Denta,” Aira tersenyum datar. “Berjanjilah tidak akan terluka lagi setelah hari ini,” begitu ucapan gadis itu.
Kalau saja Aira tahu bahwa luka ini diakibatkan karena dirinya, mungkin ia tidak akan pernah mengucapkan kata-kata itu.
“Seperti yang sudah gue katakan tadi, gue gak akan pernah terluka kalo tidak ada seorang pun yang mengganggu hidup gue dan orang-orang yang gue sayang.”
Aira menelan air liurnya. Ucapan Denta begitu serius dan tidak main-main. Tampak dari cara mengucapkan dan menatapnya.
“Sampai jumpa lagi, A….” Denta menghentikan katanya. Ia tidak mau menyebutkan nama panjang cewek itu.
“Aira. Panggil gue, Aira.”
“Iya, Aira,” Denta tersenyum kecil. Ia lantas gegas meninggalkan gadis itu sendiri. Di ruang kesehatan yang sepi dan pengap. Denta berjalan dengan tubuh tegap. Tangannya yang berselimut perban diangkatnya pelan. Bibirnya mengukir sebuah senyuman. Luka ini membuat ia bertemu dengan Aira Palupi. Perih namun sangat membahagiakan.
***
Other Stories
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...