Chapter 2
“Apa yang dituduhkan pengunjuk rasa itu tidak sepenuhnya benar,” ulang Travis, membaca tatapan datar Seth. “Mereka salah sasaran. Kami tidak melakukan pencemaran apapun di daerah mereka,” Travis bersedekap sejenak, kemudian melanjutkan, “Setelah aku melakukan observasi selama beberapa bulan ini, memang ditemukan zat cemar kromium heksavalen. Tapi, aku sudah memeriksa ulang bahan dalam proses pewarnaan sampai pada proses pengolahan limbah di IPAL[1], tidak ada ditemukan logam tersebut pada IPAL pertama. Jadi, sangat mustahil bagi kami menjadi penyebab pencemaran kromium di Savta Hills.”
Seth memalingkan wajahnya sejenak lalu berbalik dan tertawa kecil. “Tapi menurut unit pengawas industri, jelas ditemukan kromium dan kadmium melebihi standar baku kualitas air di IPAL-mu. Bagaimana kau menyergah pendapat ini?”
“Kau sudah berselancar daring, Seth?”
Seth menyeruput kembali cappucino-nya. “Aku jurnalis, Mr. Bell, bukan pendengar dongeng.”
Travis melanjutkan, “Aku tidak menyalahkan temuan unit pengawas industri karena mereka memang benar, tapi.... tidak semua IPAL ditemukan kromium dan kadmium.”
Seth tertawa mengejek, membuat Travis mengernyit.
“Seth, aku serius!”
Seth meletakkan cangkir. “Oh, maaf. Tapi... aku tidak dilatih untuk memercayai apapun kecuali ada bukti berupa data atau semacamnya.”
“Seth, kalau kau pikir aku kemari membicarakan ini padamu tanpa bukti, kau salah. Aku...”
“Kalau begitu lekas tunjukan buktinya sekarang dan jelaskan padaku!” tegas Seth dengan raut wajah berubah serius. “Aku bukan ahli kimia berkacamata seperti dirimu, Mr. Bell.”
Travis menghela napas. “Bukti itu tidak bisa sembarang kubawa. Itu menyangkut protokol....”
Seth tertawa sinis. “Lalu untuk apa kau mengganggu pekerjaanku dengan meminta pertemuan tidak penting ini jika kau tidak membawa bukti itu?”
“Aku harus menjelaskannya terlebih dahulu, baru setelah itu....”
“Mr. Travis Bell!” sela Seth dengan nada tinggi. “Kau terlalu membuang waktu! Jika kau membawa bukti itu sekarang, aku bisa menelaahnya lalu mempertimbangkannya untuk reportaseku.”
Travis menunduk. Ia tak tahu harus bagaimana menjelaskan keadaannya pada Seth, orang yang teramat membenci dirinya di dunia ini, tapi sayangnyaamatsangat ia butuhkan saat ini.
“Seth, kumohon, biarkan aku menjelaskan dulu sampai akhir....”
Seth mendengus. “Kau hanya meminta itu sejak tadi tapi kau tidak memenuhi permintaanku. Kau bedebah sialan yang membuang-buang waktuku!”
“Seth... ini soal konspirasi, kita tidak bisa terburu-buru! Kurasa sifat pemarahmu itu tidak pernah hilang, Bung. Kalau kau bersabar sedikit, aku mungkin bisa memberi bahan bagus untukmu.”
“Bahan bagus? Cih.... kau sudah mencuri semuanya dariku. Untuk apa aku memercayai ‘barang bagus’ darimu?”
Seolah memahami sindiran Seth, Travis mulai naik pitam. “Aku tidak berniat membicarakan itu!” kali ini Travis bangkit dari kursinya.
“Kau tahu, Travis? Kau masih sama seperti dulu!” kata Seth, yang juga ikut berdiri. Gambaran dendam kesumat terlihat jelas di mata Seth. “Kau adalah seorang pengecut. Kau terlalu pengecut untuk berjuang, sehingga kau menghadapi kata ‘terlambat’ dan akhirnya?” Seth menaikkan tangan dan bahunya. “Kau membuat semua orang terluka.”
Travis tersentak. “Aku tidak sedang membicarakan masa lalu, Baker! Yang aku bicarakan jauh lebih penting...”
“Jika kau merasa perusahaanmu diperlakukan tidak adil, kusarankan kau untuk mengundurkan diri saja dan menikmati kehidupan bahagiamu bersama wanita yang sangaaaat kau cintai itu. Ah, yang juga sangaaaat mencintaimu. Dan kurasa itu yang lebih penting bagimu, Mr. Bell.”
Travis menganga tidak percaya, bahwa kebencian yang dimiliki Seth bisa mengaburkan penilaian objektifnya dari suatu kasus penting.
“Oke, kurasa...kita sudah cukup membuang waktu. Dan aku harus segera kembali ke kantor untuk laporan,” Seth mengambil tasnya lalu berdiri. “Jika kau sudah berubah menjadi pahlawan yang pemberani, hubungi aku!” Seth meletakkan kartu namanya di atas meja lalu menyodorkannya ke hadapan Travis. “Permisi.”
Seth pergi meninggalkan Travis yang masih berada di posisi yang sama.
Travis Bell, adalah salah satu dari nama manusia yang paling Seth benci di dunia ini. Manusia yang paling Seth benci di urutan kedua adalah Monica, mantanpacarnya. Awalnya, Travis dan Seth bersahabat, bersama Miguel, Sandra, Mike, dan Roger. Sayangnya, Travis harus pindah ke Ohio mengikuti ayahnya ketika mereka masih kelas 2 SMA. Setelah Travis pindah, Seth menjalin hubungan dengan Monica selama 6 tahun sampai mereka bertunangan.
Setelah enam tahun berpisah, Travis kembali lagi ke Quincy. Ia bekerja sebagai kepala analis di perusahaan tekstil Rooney Paint Industry. Pertemuan itu berawal manis, sampai akhirnya Seth tidak sengaja melihat Monica sedang makan siang di sebuah kafe bersama Travis. Mulanya Seth tidak ambil pusing kejadian itu karena mengira itu hanya makan siang biasa. Namun setelah sikap Monica perlahan-lahan berubah, Seth mulai curiga. Hal itu ia utarakan ketika menghadiri pesta pernikahan Pat.
“Aku tidak suka cara Travis meresponsmu juga cara kau melihatnya,” kata Seth.
“Aku?” tanya Monica dengan pandangan bertanya. “Bagaimana caraku melihatnya? Kurasa aku melihat semua orang sama.”
“Tidak untuk Travis,” kata Seth, menyisir rambutnya dari sisi pelipis. “Monica, aku laki-laki. Aku tahu bagaimana wanita memandang pria yang dicintainya.”
“Seth, apa maksudmu? Kau... kau cemburu pada sahabatmu sendiri?”
“Aku tidak cemburu...”
“Tapi ini jelas kecemburuan.”
“Oke, ini kecemburuan,” aku Seth, lalu menghela napas. “Aku cemburu pada kau dan Travis. Aku mengaku. Oke? Bukankah itu wajar?!”
“Tapi kecemburuanmu ini tidak wajar! Aku dan Travis hanya berteman, sama seperti kau dan Sandra, Sayang.”
“Oke. Jika kecemburuanku tidak beralasan, mengapa ketika kau menyentuh lengan Travis dia justru mengelak dan kau memandangnya dengan sorot mata terluka?”
Monica memalingkan wajahnya lalu kembali menatap Seth jengkel. “Seth, kau keterlaluan! Itu hanya dugaanmu saja. Ya Tuhan!! Sejak kapan kau berpikiran sempit seperti ini?!”
“Sejak aku melihatmu makan siang bersama Travis berdua saja. Hanya berdua.”
“Apa? Jadi kau... kau cemburu sampai membuntutiku?”
Pembicaraan itu berakhir dengan pertengkaran yang memalukan. Seth tidak bisa menahan emosi sehingga melempar gelas sampanyenya ke meja hingga pecah. Tak lama berselang, mereka menjadi pusat tontonan yang lebih seru dibanding pengantinnya. Monica yang merasa sangat malu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pesta.
Usai pertengkaran itu, mereka kembali berbaikan. Namun, hubungan mereka berubah canggung. Monica jelas menjaga jarak darinya. Seth pun mulai putus asa akan hubungannya dengan Monica. Seth sangat mencintai Monica dan ingin menikahinya, tetapi Monica justru sebaliknya. Ia bersikap dingin dan cenderung menghindarinya. Seth menyalahkan dirinya sendiri atas kebodohannya yang tidak bisa menahan emosi dan membuat Monica ill feel padanya. Seth mulai tidak fokus bekerja padahal ia baru saja dipindah ke divisi Focus Investigation sebagai penghargaan akan kualitas pekerjaannya. Keberangkatannya ke Brazil membuat komunikasi mereka berdua semakin renggang.
Sekembalinya dari Brazil, Seth yang teramat merindukan Monica mengunjungi apartemennya berharap tunangannya itu menyambutnya dengan suka cita. Akan tetapi, bukan sambutan atau pelukan istimewa yang didapatkannya, melainkan pemandangan menyakitkan yang sampai saat ini masih meremukkan hatinya.
“Hei....” panggil Seth dengan suara bergetar. Dilihatnya kedua orang itu—Travis dan Monica, masih larut dalam kemesraan mereka tepat di depan pintu apartemen Monica. “Heeiii....!!!” teriak Seth yang kali ini menyadarkan kedua orang itu untuk menghentikan perbuatannya.
Travis memalingkan wajahnya dari Seth lalu tertunduk malu, sementara Monica berdiri mematung menatap Seth dengan sorot mata yang mengatakan, “Maaf, tapi inilah kami yang sebenarnya.”
Seth tidak tahan lagi. Dengan gesit ia menghampiri Travis dan menghantam rahangnya dengan pukulan bertubi-tubi. “Brengsek kau!! Sahabat tahi kucing!!!” Seth terus menghajar Travis secara membabi buta tanpa memedulikan Monica yang kelimpungan melerai mereka dan penghuni apartemen yang menonton mereka.
“Seth berhentilah, kumohon!!” pekik Monica berusaha menahan lengan Seth yang dengan cepat dihempas Seth hingga membuatnya terjengkang. Kepalanya terbentur dinding. Seth tidak memedulikan Monica yang terluka karenanya sama sekali. Ia hanya ingin membunuh Travis.
Seketika itu, mereka menjadi pusat tontonan di apartemen itu. Monica dibantu oleh seorang penghuni wanita disitu. Dua penjaga apartemen itu datang dan melerai Seth. Mereka terlihat kesulitan menghentikan Seth yang kesetanan.
“Seth berhenti!!!!” pekik Monica yang kali ini amat sangat histeris. “Cukup!!! Aku sudah muak denganmu!!!” Seth menatap tajam Monica. “Ini yang tidak bisa aku pertahankan darimu! Kau dan aku terlalu berbeda! Kau terlalu emosional dan membuat hidupku tidak pernah tenang!! Kau terlalu egois dengan pekerjaanmu dan tidak bertanggung jawab sama sekali!!”
“Dan kau? Kau menusukku dari belakang!!” teriak Seth. “Aku sudah menanyakan hal ini padamu beberapa waktu yang lalu dan ternyata kau lebih memilih menusukku. Kau pengkhianat, brengsek!!” Seth berpaling ke Travis. “Dan kau...” Seth menunjuk-nunjuk Travis. “Ternyata kau tidak lebih dari seorang bedebah busuk yang tega-teganya menikam temanmu sendiri.”
Seth kembali menatap tajam Monica lalu pergi begitu saja meninggalkan Monica dan Travis, juga kerumunan yang membuatnya menjadi panggung pementasan drama hari itu.
Sama seperti yang dilakukannya di hari itu, hari ini ia kembali mengemudikan motor sport-nya dengan kecepatan tinggi lalu berhenti di sebuah taman di belakang asrama Eastern Nazarene College. Taman itu lumayan untuk menenangkan diri sejenak karena sepi di siang dan jelang sore hari. Adanya danau menjadi keindahan tersendiri. Ia menanggalkan jaketnya di atas kursi besi seperti ia membuang segala sakit hatinya ditempat itu. Kemudian ia berdiri di dekat tepian danau.
Tidak terasa enam tahun berlalu sudah. Mereka yang teramat sangat menyakiti hatinya sudah lama melanjutkan hidup mereka dan melupakannya. Sejak kejadian itu, Monica benar-benar memutuskan kontak dengannya, sedangkan Seth tenggelam dalam pekerjaan barunya di divisi Focus Investigation. Dua tahun kemudian, barulah Seth mendapat kabar bahwa Monica melangsungkan pernikahan dengan Travis. Kabar yang sampai saat ini masih membuat dirinya naik pitam.
Seth merogoh sakunya, mengambil sebatang rokok dan menyalakan pematiknya. Ia menikmati rokoknya. Rokok membuatnya lebih tenang sejenak walaupun pengalaman menyakitkan itu tetap kembali segera setelah rokok itu habis. Selain itu, kenangan menakutkan ketika meliput daerah-daerah perang di Afrika juga tetap menghantui tidurnya. Entah kehidupan macam apa yang saat ini bergulir atas dirinya. Berusaha melupakan Monica justru ia menemui peristiwa-peristiwa traumatik lainnya. Kecuali, hari ini—bukan pertemuannya dengan Travis. Wanita bermata biru itu—Kathy Spencer, entah kenapa mengingatnya justru menurunkan kadar emosinya. Sayangnya saat ini ia masih di luar kantor, jika ia kembali ke kantor nanti, mungkin wanita itu sudah pulang.
Ketika Seth tengah menikmati rokok dan tenggelam dalam lamunannya, seorang gadis berumur 20 tahun, berambut pirang dengan panjang sebahu berjalan mendekatinya. Ia tersenyum sejenak sambil menggelengkan kepalanya sebelum menyapanya, “Merokok tidak cocok untuk tempat ini, Seth.”
Seth tersenyum. Sorot matanya melembut. “Tapi setidaknya cocok untuk suasana hatiku, Lucy,” Seth melemparkan rokok ke dalam danau.
“Kau gila!” umpat Lucy seraya menyikut Seth. “Merokok di tempat ini jelas terlarang lalu kau membuang puntungnya ke danau. Kau bedebah perusak lingkungan!”
“Haah... aku hanya merusaknya sekali-kali, oke, kau yang paling paham soal diriku. Aku tidak pernah merusak fasilitas umum lainnya.”
“Tidak pernah tidak!” sindir Lucy. “Mengamuk di bar, restoran, mengacau hari kelulusanku. Dan saat ini, biarpun kau tidak merusak secara intens, tetap saja kau turut andil!”
Seth bergumam tidak jelas mengumpati ocehan adiknya. Tidak ingin meneruskan pertengkaran bodoh dengan kakaknya, Lucy segera mengambil alih topik pembicaraan.
“Ada apa kau memanggilku ke sini?” tanyanya.
“Hei, hentikan nada bicaramu yang seperti idiot itu!”
Lucy menoleh ke arah Seth. “Sejak pernikahan mantanmu, kau berniat melupakan segalanya, termasuk aku. Dan baru kali ini, kau benar-benar ingin bertemu denganku! Jadi wajar saja dengan nada bicaraku!”
“Hei, aku tidak benar-benar melupakanmu!” Seth menggaruk-garuk kepala. “Aku.... cuma... yah... kau tahu, aku perlu menenangkan diri sesaat.”
“Yah, alih-alih menenangkan diri, kau justru menemukan kejadian demi kejadian traumatis akibat perang.”
Pipi Seth memerah. Merasa tak ada gunanya ia membantah adiknya Seth memilih diam.
Lucy menyadari penyebab suasana hati kakaknya. “Jika kau tahu akan seperti ini, untuk apa kau menemuinya?”
“Bukan aku yang meminta. Tapi si idiot itu,” Seth menceritakan pertemuannya dengan Travis di kafe tadi. Seth masih tidak bisa menyembunyikan kebenciannya terhadap Travis. Lucy hanya mendesahkan napasnya. Walau Lucy sering bertengkar dengan kakaknya sejak kecil, gadis itulah yang paling memahaminya. Seth bukan tipikal pria bertanggung jawab seperti layaknya seorang kakak, namun Seth memahami arti kebersamaan. Sejak perceraian kedua orang tuanya, mereka saling bergantung satu sama lain. Namun, ketika Seth dikecewakan oleh Monica, Seth memilih ‘menghindari’ dunia dengan meliput di daerah konflik di Afrika. Hal inilah yang sangat mengecewakan Lucy. Akan tetapi, sebesar apapun kekecewaannya terhadap sang kakak, ia tidak pernah bisa benar-benar membencinya, karena bagaimanapun, hanya Seth-lah orang yang paling mencintainya di dunia ini.
“Hmm... sepertinya kau tak boleh acuh tak acuh dengan perkataan Travis,” saran Lucy.
Seth menoleh ke Lucy dan menatap tajam.
“Tenang, jangan emosi dulu!” Lucy menarik napas, berusaha mencari kata-kata yang tepat. Seth sangat sensitif, terutama soal Travis atau Monica. “Begini, aku yakin Travis juga membencimu sebanyak kau membencinya. Baik dia atau Monica tidak ada yang pernah mencoba menghubungimu selama 6 tahun belakangan ini, bukan?”
Seth terdiam. Amarah dalam sorot matanya terlihat mereda memikirkan alasan yang akan diungkapkan oleh Lucy.
“Kupikir dia tiba-tiba menemuimu di tempat yang kurang sepantasnya karena ia sedang terdesak,” dilihatnya Seth masih terdiam. “Mungkin…” lanjutnya, “Dia ingin memberitahukan kebenaran yang.... yah kau tahu, mungkin sedikit membahayakan posisinya tapi... apapun yang ia lakukan mungkin tidak akan bisa merubah kenyataan yang ada.”
Yang aku bicarakan jauh lebih penting...
Seth teringat kata-kata terakhir Travis yang berusaha meyakinkannya untuk melanjutkan pembicaraan.
“Menurutku, seharusnya kau kesampingkan dulu egomu dan melihat ini sebagai peluang. Siapa tahu kasus ini memberimu peluang untuk mencetak angka lagi sebagai bahan Focus.”
“Belum tentu juga... siapa tahu dia hanya ingin meminta saranku.”
“Karena itulah kau harus mendengarkannya, Seth!” Lucy meremas lembut lengan Seth. “Aku tahu sampai saat ini kau masih terluka dan terus terang aku pun tidak akan memaafkan mereka. Tapi... kau tidak bisa terus seperti ini, kau tidak bisa hidup di masa lalu terus menerus. Kau harus melanjutkan hidupmu, kariermu....”
Seth merunduk menatap air di danau.
Lucy menghembuskan napas. “Hanya dengan kau melanjutkan hidupmu, kau akan menemukan cinta
yang lain,” Lucy berdeham.
Seperti tersadar dari tidur panjangnya, Seth menatap Lucy. Lucy melihat adanya perubahan drastis dari sorot mata kakaknya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Lucy sedikit mengkhawatirkan kakaknya.
Seth mengangguk. “Sepertinya sebelum aku mempertimbangkan laporan Travis, aku harus memastikannya terlebih dahulu.”
“Bagus. Lakukanlah kalau begitu!”
Seth mengangguk. Ia memeluk dan mencium adiknya, lalu mengambil jaket dan bergegas pergi.
Lucy teringat seseorang yang mungkin akan memperbaiki kehidupan kakaknya. “Seth...!!” panggil Lucy.
Seth berbalik memandangnya bertanya.
“Kurasa kau bisa mempertimbangkan Scarlet.”
Seth menatapnya dengan pandangan bertanya. “Scarlet?”
“Ya, Scarlet Jones. Temanmu yang kau suruh mengunjungiku ketika kau pergi ke Afrika.”
***
“Tema apa yang kau kerjakan bersama tim kamusaat ini, Mr. Clarkson?” tanya Kathy dengan nada angkuh ala atasan pada bawahan.
“Saat ini, kami masih mengupas tuntas laporan Seth Baker mengenai skandal narkoba di tubuh kepolisian,” jawab James. “Laporan itu rencananya akan terbit dalam bentuk 2 artikel yang terbit pada bulan ini dan bulan depan.”
“Baik,” Kathy menulis di catatannya, lalu duduk tegak, berhenti menulis dan meletakkan tangannya ke bawah dagunya. “Tema itu sudah berlalu kurasa, karena Seth Baker telah menyelesaikan risetnya. Jadi, pertanyaan yang kumaksud sejak tadi adalah tema apa yang sedang diriset oleh tim kalian?”
“Kami berencana menindaklanjuti laporan dari reporter Roger Howard mengenai dugaan pelecehan seksual di berbagai sekolah asrama.”
“Hanya itu?” Kathy menaikkan sebelah alisnya. Nada bicaranya kini menyiratkan keangkuhan dan memandang rendah James. “Apakah kalian tidak punya daftar list bagi Focus untuk mengkaji reportasenya”
Mendengar nada remeh dari penanggung jawab yang baru ini membuat James mulai kehilangan kesabarannya. “Apa maksud Anda?” James menegakkan posisi duduknya. “Tentu saja kami memiliki list. Tapi list tersebut sebagian besar sudah kami kaji: daerah konflik, peredaran narkoba,....”
Kathy berdeham. “Maafkan aku, Mr. Clarkson, sepertinya Anda masih belum memahami pertanyaanku. Sekali lagi, aku tidak menanyakan reportase yang telah terbit, tetapi, list tema yang akan tim Focus kaji setelah beberapa tema telah terbit.”
“Kami belum rapat redaksi, jadi kami belum memutuskan list tema selanjutnya. Tapi biar aku tegaskan. Kami sudah memiliki rencana untuk tema apa saja yang akan kami kaji.”
“Dan itulah yang kuminta!” tegas Kathy. “Aku ingin tahu list apa saja yang akan kalian rundingkan untuk tema Focus ke depannya.”
James menyipitkan mata hingga segaris. “Untuk apa Anda meminta list tersebut? Penanggung jawab berhak mengetahui tema liputan kami, tentu saja. Tapi tentunya tema itu setelah melalui meeting redaksi. Dan saat ini bukan meeting redaksi, melainkan perkenalan Anda terhadap Dawn Times, bukan?”
Meeting bersama para editor terutama dengan eksekutif editor James Clarkson terbilang alot. Kathy sudah menduga sejak awal bahwa pria tua ini tidak memiliki kompetensi layaknya seorang eksekutif editor biasanya. Laporan yang ia terimanya selama ini sesuai, bahwa kemajuan Focus Investigation dimotori oleh seorang Seth Baker. Setelah mencecar para editor dengan pertanyaan yang berkaitan dengan produktivitas, Kathy menyadari bahwa tak semua orang yang ditemuinya bisa ia andalkan. Bila ia terpaku pada kelima editor yang dikepalai oleh James Clarkson, tentu Tony, rivalnya, akan dengan mudah menjatuhkannya dan membuat ia kehilangan segalanya. Dengan tekad bulat, Kathy sudah memutuskan langkah yang akan ia ambil demi tujuannya.
Diskusi “perkenalan” pada masing-masing editor berlangsung hampir 3 jam. Terhadap divisi lain, Kathy juga berdiskusi yang bersifat brainstorming tema. Pemberian tema ini tampaknya tidak disukai James karena pria tua itu merasa dilangkahi sebagai eksekutif editor. Tapi Kathy tidak mau ambil pusing. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah strategi jitu untuk mengalahkan Tony melalui Dawn Times.
Usai diskusi, Kathy menyendiri di ruangan kerjanya. Ia berdiri memandang dunia di luar jendela. Kendaraan yang lalu lalang di Hancock Street, para pejalan kaki yang sibuk dengan dunianya sendiri: bertemu teman, asyik dengan smartphone, dan lain-lain. Kathy menatap mereka sambil menyesap cappucino-nya.
Seandainya saja aku bisa menjalani hidup seperti mereka....
Kathy buru-buru menepis pikiran itu. Tidak! Jika ia masih merindukan kehidupan yang lain, ia akan merasa sangat bersalah pada mendiang Neneknya. Ketika itu, bola matanya mengarah pada seorang pemuda yang berperawakan mirip Seth Baker. Begitu hatinya menyebut nama itu, suaranya seakan menggema hingga seantero rongga dadanya. Membuat jantungnya kembali berdetak cepat. Entah kenapa pertemuan singkatnya dengan pria itu meninggalkan kesan khusus. Ketika pria itu menabrak sekaligus menangkupnya. Ketika wajah mereka berdekatan. Ketika ia bisa merasakan aroma masukulin dan napas pria itu....
Ia nyaris gila.
Bahkan hanya dengan mendengar nama pria itu, ketika rapat ‘dadakan’ tadi saja membuat jantungnya berdentam-dentam dan pipinya nyaris memerah. Kathy tidak tahu apakah pria itu merasakan hal yang sama, tapi, ketika pria itu menangkupnya tadi pagi, ia hampir yakin bahwa pria itu pasti akan menciumnya bila pengawalnya tidak menghentikannya. Kathy meletakkan sebelah telapak tangan dipipinya, merasakan hawa panas di pipinya yang saat ini merah merona.
Di saat yang sama, Marry mengetuk pintu ruangannya. Kathy segera mengakhiri lamunannya dan menyuruh wanita tua itu untuk masuk.
“Ada surat dari Dewan Pers,” kata Marry sambil berjalan menghampiri Kathy. Setelah dekat dengan Kathy, Marry menyerahkan surat itu.
“Dewan Pers?” ulang Kathy ketika membuka surat itu.
“Mereka memberi tebusan juga untuk Mr. Rubent. Tapi aku belum memberikannya. Beruntung aku berhasil mengintimidasi kurir yang membawa surat itu sehingga aku bisa tahu lebih dulu kemana tebusan surat itu.”
Kathy membaca dengan saksama. Ketika membaca isi surat tersebut, bola matanya membesar. Lalu memandang tajam Marry.
“Ada apa?” tanya Marry. “Apa isinya?” Marry yakin sorot mata Kathy bukan menunjukkan amarah padanya, melainkan sesuatu yang amat mengerikan.
Kathy menghela napas lalu memandang ke arah mejanya. “Aku tidak percaya ini, Marry!”
***
Tepat pukul 5 sore, Seth tiba di Savta Hills. Usai melepas helm dan menyibak rambutnya, Seth melirik jam. Seth menyumpah. Jika ia kembali ke kantor nantinya tentunya ia tidak bisa bertemu lagi dengan Miss. Spencer, si cantik itu. Seth menggaruk kepalanya. Entah kenapa ia tidak bisa menghilangkan wanita itu dari kepalanya. Sosoknya yang kalem dan tidak banyak bicara tapi sanggup membuat jantungnya berdentam-dentam hebat dan perutnya bergelenyar. Sosok itu juga yang menghalanginya untuk tidak menonjok wajah Travis tadi siang.
Ah, waktu sialan!
Seth menghela napas dalam-dalam agar bisa tetap mengatur fokus. Kini ia mulai menyadari keberadannya. Savta Hills, salah satu distrik di Quincy. Hanya berjarak 25 km dari pusat kota. Penduduknya tidak sepadat pusat kota, namun masih terbilang ramai. Jarak antar satu rumah dengan rumah lainnya sedikit berjauhan. Penduduk asli Savta Hills hidup tenang dengan mata pencaharian sebagian besar sebagai petani gandum atau anggur, dan selebihnya adalah perajin pakaian seperti pemintalan. Pendatang yang belakangan menjadi penghuni tetap distrik itu rata-rata adalah orang kota yang menginginkan ketenangan dan imigran yang bekerja di pabrik Rooney Paint Industry, pusat kegiatan tekstil.
Setelah mengendara sekitar 1 km dari tugu perbatasan distrik, Seth tiba di sebuah lokasi dengan padang rumput di sekitarnya dan sebuah bangunan gedung menjulang di tengah padang rumput. Itulah lokasi pabrik Rooney Paint Industry yang kantornya berdiri di pusat kota Quincy. Rooney Paint Industry menjadi masalah sejak mencuatnya kasus gangguan kesehatan yang melanda penduduk Savta Hills. Beberapa kali pabrik itu menjadi sasaran amuk massa sehingga pabrik itu nampak sepi sekarang, tak terlihat kendaraan lalu lalang seperti pabrik pada umumnya, walau beberapa pekerjanya masih terlihat berkeliaran. Seth mengunci stang motornya lalu berjalan kaki menyusuri padang rumput untuk mencapai lokasi pabrik.
Angin disertai debu pasir menerpa wajahnya, membuat Seth menyipitkan mata dan menghalangi terpaan debu dengan lengan kanannya. Beruntung kemejanya masih terlindung jaket cokelatnya, jika tidak, pasti sudah terlihat dekil. Sambil menatap pabrik itu, Seth berpikir jika benar sumber pencemaran air itu adalah pabrik ini. Tentu akar permasalahan sekaligus jawabannya ada di IPAL. Seth mulai berjalan cepat menuju pabrik yang dipagari kawat besi. Seth memanjat pagar itu. Setibanya di daratan aspal, Seth melihat sebuah kolam besar yang disekat oleh jembatan rendah sebagai tempat melintas orang-orang pabrik yang bekerja mengawasi IPAL. Di tengah-tengah kolam, tampak sebuah tower besar yang biasa disebut cooling tower, tempat sejumlah besar air limbah didinginkan sebelum dilakukan aerasi. Melihat struktur lokasi IPAL yang ia kunjungi ini, ia sangat yakin bahwa ini lokasi akhir IPAL. Walau tidak pernah bekerja di industri, Seth pernah mengunjungi beberapa pabrik obat-obatan sebagai bahan reportasenya sebelum ini.
Seth melihat kucuran air dari coolingtower. Baru saja hendak mendekati kucuran air itu, terdengar seseorang yang memberinya siulan. Seth berbalik dan menemukan sumber suara. “Kau...” ternyata anak laki-laki berumur sekitar 10 tahun. Anak itu melambaikan tangannya menyuruh Seth menghampirinya. Seolah memahami keengganan Seth, anak itu menunjuk ke sisi kirinya. Seth mengikuti arah telunjuk anak itu. Dilihatnya 2 orang pria yang tampaknya pegawai pabrik berjalan hampir mendekati posisi Seth. Seth buru-buru menghampiri anak itu.
“Hei, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Seth setengah berbisik.
Anak itu meletakkan telunjuk di bibirnya. “Ssstt...!”
Pegawai itu melintas di samping mereka tanpa menyadari keberadaan Seth maupun anak itu. Dalam hening, Seth mendengar percakapan kedua pegawai,
“Sejauh ini parameter lainnya masih normal, tapi....”
“Tapi apa?” tanya pria satunya dengan nada menyentak. “Kau bilang sistem aerasi tetap bagus, begitupula dengan sirkulasi di pre-treatment batch-nya!”
“Iya, tapi... kadar COD di kolam indikator menunjukkan data sebaliknya.”
“Oh, fuck!” pria itu menghela napas lalu meletakkan kedua tangannya di atas pinggiran jembatan, kepalanya tertunduk dalam di antara bahunya.
Mereka terdiam sesaat. Pria yang tertunduk mengakhiri rehat itu. “Baiklah, kita harus melaporkan pada direktur penyelia sekarang.”
***
Segera setelah keluar dari jalan tikus, ponsel smartphone di kantong jaket Seth berdering. Seth menyumpahi dirinya sendiri karena lupa mengaktifkan mode silent pada ponselnya. Beruntung ponsel itu tidak berdering ketika dua karyawan pabrik tadi melintas. Seth mengambil ponsel dari kantong jaketnya. Di layar tertera nama Travis.
“Sial!!”
“Ada apa?” tanya anak kecil bernama Billy itu.
“Ah tidak apa-apa. Hanya... telepon orang iseng,” Seth segera mematikan ponselnya. “Kau tinggal di sekitar sini, Bill?” tanya Seth sambil berjalan dan merangkul pundaknya.
Billy mengangguk. Pada Seth ia mengaku tinggal bersama ayahnya selama ini. Namun ketika ayahnya sakit parah, kakaknya memutuskan untuk pulang dan merawat ayahnya. Ketika ditanya soal ibunya, Bill menjawab bahwa ibunya melarikan diri bersama pria lain. Seth menyumpah wanita yang hampir mirip ibunya.
“Bill, bagaimana jika aku mengantarmu pulang ke rumah sekarang?” tanya Seth dan anak itu setuju.
***
Rumah keluarga Billy terbilang sederhana, hanya ada sebidang rumah yang dikelilingi oleh tanaman hias dan beberapa tanaman wortel. Beralaskan kayu, teras rumahnya tampak serasi dengan 2 buah kursi kayu berwarna cokelat yang sama dengan warna pintunya. Bagian atapnya di cat serba putih, namun menilik usianya, warna putih itu cenderung pudar, sedangkan dindingnya berwarna kelabu.
Seth mengikuti Bill masuk ke dalam rumah. Ruang tamunya simpel, hanya ada sofa cokelat usang yang dilengkapi dengan meja kecil. Di atasnya tergeletak botol air mineral dan sejumlah obat-obatan.
“Sejak Dad sakit, rumah selalu dipenuhi botol mineral,” kata Billy sambil memimpinnya. “Kami hanya mengonsumsi air dari situ.”
Setelah melintasi ruang tamu, Billy berhenti di depan sebuah kamar yang pintunya terbuka lebar.
“Dad, banyak menghabiskan waktunya di kamar. Ayo, masuk!”
Seth mengikuti Bill memasuki kamar ayahnya. Ayah Bill tampak hampir tertidur jika Billy tidak memanggilnya. Melihat kedatangan tamu, ayah Bill buru-buru memperbaiki posisi duduknya. Melihat kecanggungan ayah Bill, Seth buru-buru mencegahnya.
“Tidak apa-apa, Sir! Jangan sungkan!” kata Seth. “Aku hanya mampir ke rumah temanku, Billy,” Ayah Bill yang berwajah pucat tertawa kecil. Tawa itu sebenarnya mampu menunjukkan kenyataan sesungguhnya akan usianya yang masih relatif muda. Akan tetapi, melihat tawa ini, Seth menanggapi kesan miris. Wajah pucat dan tubuh lesunya yang terbaring di ranjang membuang fakta bahwa usianya masih muda. Seth menjabat tangan pria itu. “Aku Seth Baker, teman anakmu.”
“Aku Jeff Morgan. Senang bertemu denganmu,” Jeff menyambut jabat tangan Seth dengan ramah. Jeff terbatuk-batuk sesaat, sebelum Bill mengambilkan sebuah botol air mineral untuknya. “Dimana kalian bertemu?” tanyanya setelah batuknya mereda.
“Aku bertemu dengan Bill ketika....” Seth melirik Billy yang memberi isyarat untuk jangan memberi tahu ayahnya secara mendetail. “...ketika Bill sedang memanjat pohon di belakang sana.”
“Memanjat?!” Jeff giliran melirik putranya seolah tidak percaya dengan perkataan Seth. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Jeff kembali memandang Seth.
“Apa kau juga tinggal di sini? Sepertinya aku belum pernah melihatmu.”
“Tidak. Aku tinggal di Quincy.”
Jeff mengangguk. “Lalu... apa yang kau lakukan di sini?”
“Tidak ada. Aku... sebenarnya aku jurnalis dari Dawn Times,” Seth menunjukkan ID Card-nya. “Divisi Focus Investigation. Aku kemari setelah meliput unjuk rasa di kantor walikota siang tadi,” Seth menyiapkan pen rec yang selalu siap sedia di kantongnya. Setelah menekan tombol rec, Seth berkata. “Jika kau tidak keberatan, aku ingin menanyakan beberapa hal padamu.”
“Silakan, Mr....”
“Panggil saja aku… Seth.”
Jeff mengangguk.
Seth kembali melanjutkan pertanyaannya. “Penyakit apa yang Anda derita saat ini dan sudah berapa lama?”
“Kurang lebih enam bulan yang lalu, dokter mendiagnosisku gagal ginjal.”
“Lalu... apa kau sering mengonsumsi air mineral yang berasal dari botol?Maksudku bukan yang berasal dari rumahmu?”
“Ya. Menurut analisis putriku, air disini tidak layak untuk dikonsumsi. Jadi... sejak kedatangannya kemari, aku hanya mengonsumi air mineral dari botol, tidak pernah dari rumahku.”
Seth melirik Billy. “Kau juga, Bill?”
Billy mengangguk.
“Putrimu? Hmm... apa yang dia analisa sehingga ia bisa menyimpulkan bahwa air disini tidak layak?”
“Sampel air dari beberapa rumah di sekitar sini juga beberapa sumber pengairan di sekitar pertanian gandum di sebelah selatan,” jawab seorang wanita muda yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Gadis itu tampak sepantaran Seth. Tanpa riasan make up tapi tetap terlihat menarik dengan kaos pink dan celana jins usang. “Tania Morgan,” ia memperkenalkan diri dengan menjabat tangan Seth.
“Seth Baker.”
Pembicaraan berlanjut dengan Tania, sementara Jeff istirahat setelah Billy meminuminya obat. Mereka melanjutkan pembicaraan di teras. Suasana di teras itu terasa tenang dengan angin yang berhembus. Langit jingga menghiasi sore itu dengan damai. Dengan perubahan suasana, pikiran Seth kembali melayang ketika ia membekap tubuh Kathy dan menatap matanya dalam jarak sangat dekat.
“Kau jurnalis dari Dawn Times?” tanya Tania sambil menaruh botol mineral ke samping Seth. Pertanyaan Tania menyentak kesadarannya.
Seth menatap Tania kemudian mengambil botol mineral itu. “Ya,” Seth menegak air mineral sejenak lalu melanjutkan, “Bisa kau jelaskan apa saja yang telah kau lakukan sehingga kau menyimpulkan bahwa air di sini tidak layak?”
“Aku melakukan sampling di beberapa tempat yang acak di sekitar sini. Pertama rumahku, lalu di area sekitar pabrik, dan terakhir beberapa sumber pengairan di sekitar lahan gandum.”
“Sampling?” tanya Seth seolah tidak percaya.
“Oh, maaf, aku belum menceritakan latar belakang diriku. Aku adalah konsultan bidang lingkungan di sebuah LSM di Boston. Aku alumnus UMass Boston jurusan kimia. Aku kembali kemari untuk merawat ayahku dan menemukan bahwa ayahku sakit karena perbuatan ceroboh mereka!” matanya menerawang jauh. “Tak hanya ayahku yang sakit. Billy juga, hanya saja, tingkat destruktifnya tidak separah ayahku.”
“Billy sakit?” Seth tidak percaya. “Dia tampak sehat, dia bahkan sanggup berlari cepat ketika berlari tadi bersamaku.”
“Karena obat. Tapi juga... karena Billy cepat mendapatkan pertolongan, jadi efeknya tidak terlalu destruktif terhadap tubuhnya. Walaupun begitu, ia tetap sempat menderita trakeobronchitis. Akan tetapi, masih banyak penduduk sini yang menjadi korban yang awalnya tidak menyadari bahwa ini buah perbuatan mereka.”
“Mereka...”
“Rooney Paint Industry. Aku sangat yakin, mereka melakukan kesalahan pada instalasi pengolahan limbahnya. Apa yang dibawa Billy hari ini akan menentukan kesimpulanku.”
“Billy?” Seth tersentak kaget. “Jadi kau menyuruh adikmu untuk sampling sendirian ke dalam pabrik?” gadis itu menjawab Seth dengan anggukan tanpa rasa bersalah yang membuat Seth muak. “Tempat itu berbahaya. Jika saja dia tidak bertemu denganku, dia bisa saja ditemukan orang-orang di pabrik itu!”
“Aku tahu betul adikku,” Tania mengangkat tangan. “Bill cukup lihai dalam menyelinap karena aku melatihnya. Dan dia juga tahu jalur-jalur aman untuk pelariannya di pabrik itu.”
Seth menggelengkan kepala. Ia cukup kesal dengan keputusan bodoh Tania yang menyerahkan tugas berbahaya pada anak berusia 10 tahun. Tapi ia tidak punya banyak waktu untuk menghakiminya saat ini. “Baiklah. Lalu, apa yang kau lakukan dengan hasil-hasil sampling-mu itu?”
“Aku melakukan uji spektrofotometri serapan atom di sebuah lab di Boston. Dan hasilnya, aku menemukan lebih dari 0,003 ppm kromium,” Tania bangkit dari kursi lalu masuk ke dalam sebentar. Tak lama berselang ia sudah kembali ke samping Seth sambil menyerahkan sebuah kertas.
Seth mengambil kertas itu lalu membukanya. “Ini hasil uji lab?”
Tania mengangguk.
Seth menelaah hasil uji lab itu dengan saksama. Dengan kandungan logam berat seperti Cr dan Cd yang melebihi ambang batas memang tidak bisa dipungkiri menjadi penyebab utama masalah kesehatan di Savta Hills ini.
“Hasil itu tidak terbantahkan kerena aku melakukan uji sebanyak 3 kali pengulangan.”
“Lalu...”
Belum sempat Seth bertanya, Bill sudah menghampiri mereka berdua.
“Tania,” panggilnya.
“Ya?” sahut Tania, menoleh ke arah Bill. “Apakah Dad sudah tidur?”
Billy mengangguk, kemudian menatap Seth, lalu menunduk.
“Ada apa Bill?”
Dengan enggan, Bill mengaku, “Aku gagal mengambil sampel airnya.”
Tania membuang muka sejenak. “Jadi kau gagal? Oh, Ya Tuhan....”
“Tenang dulu, Tania,” sergah Seth menengahi kakak-beradik Morgan itu. “Adikmu akan berhasil jika saja dia tidak menyelamatkan aku. Aku yang bersalah. Tolong jangan salahkan Billy!”
Terkejut sekaligus jengah setelah pria yang baru dikenalnya memanggil nama kecilnya, Tania terdiam. Kembali membuang muka, Tania menyembunyikan pipinya yang terasa panas.
“Oke, boleh kutahu apa yang akan kau simpulkan jika kau berhasil mendapatkan sampel air dari IPAL pabrik?” tanya Seth.
“Jika benar terdapat pada IPAL, maka sudah pasti, sumber utama zat cemar berasal dari pabrik itu. Pabrik itulah pelaku utamanya yang harus mempertanggungjawabkan akibat perbuatannya pada kami!”
“Lalu bagaimana jika sebaliknya?”
Pertanyaan Seth menggantung di antara mereka sehingga tak ada satupun dari mereka yang angkat bicara.
[1] Instalasi Pengolahan Limbah
Other Stories
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...