Chapter 7 Rahasia Di Album Foto
Ketakutan itu kini semakin nyata. Setelah sosok nenek itu menghilang, meninggalkan bau melati yang pekat, Mario dan Saretha segera memberanikan diri untuk mengangkut kursi goyang itu keluar.
Mereka menyeretnya dengan susah payah dan meninggalkannya begitu saja di depan pagar berharap Bu Ranti mau mengambilnya kembali.
Malam itu, mereka memutuskan untuk tidur di kamar tamu. Mereka tak mau lagi berada di kamar yang berada tepat di atas ruang tamu.
Saretha duduk di lantai, bersandar di dinding, sementara Mario memeluknya erat. "Kita harus cari tahu, Yang. Kenapa nenek itu mengincar kita? Pasti ada hubungannya sama kakek-nenekmu," bisik Mario.
Saretha mengangguk. Matanya sembap karena ketakutan, "Iya, aku juga mikir gitu. Tapi apa?"
"Kita harus cek barang-barang mereka. Siapa tahu ada petunjuk," usul Mario.
Keesokan harinya, dengan sedikit keberanian yang tersisa, mereka mulai membongkar tumpukan barang-barang lama milik kakek dan nenek Saretha yang disimpan di loteng.
Ada banyak kotak kardus yang berdebu. Mereka mengobrak-abrik isi kotak-kotak itu menemukan piringan hitam, pakaian jadul, surat-surat lama, dan di dasar salah satu kotak, mereka menemukan sebuah album foto usang.
Album itu tebal dan sampulnya sudah menguning. Di dalamnya, ada foto-foto kakek dan nenek Saretha saat masih muda. Mereka terlihat bahagia, tersenyum lebar di setiap foto.
Namun, saat Saretha membalik halaman terakhir, ia terdiam. Jantungnya berdebar sangat kencang. Ia menemukan sebuah foto yang membuatnya merinding.
Foto itu adalah foto neneknya. Nenek Saretha duduk di kursi goyang yang sama persis dengan yang mereka terima dari Bu Ranti.
Neneknya tidak tersenyum. Wajahnya terlihat pucat, tatapan matanya kosong, dan tangannya mencengkeram erat sandaran kursi. Di belakangnya, samar-samar, terlihat sosok bayangan seorang wanita tua dengan rambut digelung dan wajah yang tidak jelas.
"Mario ..." panggil Saretha, suaranya tercekat. Ia menunjuk foto itu dengan tangan gemetar.
Mario mendekat, melihat foto itu, dan matanya membulat, "Itu kursi yang sama. Dan nenekmu, dia terlihat ketakutan."
"Siapa wanita di belakang nenekku?" tanya Saretha, suaranya bergetar.
Saat itu juga, mereka menyadari bahwa teror yang mereka alami bukanlah kebetulan. Kursi goyang itu, kehadiran nenek Bu Ranti, dan bahkan sosok yang menghantui mereka, semuanya terhubung dengan masa lalu yang kelam.
Pertanyaan yang selama ini ada di benak mereka kini terjawab. Kursi itu adalah benda berhantu, dan arwah yang menghantui mereka bukanlah arwah Bu Ranti, melainkan arwah nenek lain, yang entah bagaimana, berhubungan dengan kursi itu dan masa lalu kakek-nenek Saretha.
Mereka menyeretnya dengan susah payah dan meninggalkannya begitu saja di depan pagar berharap Bu Ranti mau mengambilnya kembali.
Malam itu, mereka memutuskan untuk tidur di kamar tamu. Mereka tak mau lagi berada di kamar yang berada tepat di atas ruang tamu.
Saretha duduk di lantai, bersandar di dinding, sementara Mario memeluknya erat. "Kita harus cari tahu, Yang. Kenapa nenek itu mengincar kita? Pasti ada hubungannya sama kakek-nenekmu," bisik Mario.
Saretha mengangguk. Matanya sembap karena ketakutan, "Iya, aku juga mikir gitu. Tapi apa?"
"Kita harus cek barang-barang mereka. Siapa tahu ada petunjuk," usul Mario.
Keesokan harinya, dengan sedikit keberanian yang tersisa, mereka mulai membongkar tumpukan barang-barang lama milik kakek dan nenek Saretha yang disimpan di loteng.
Ada banyak kotak kardus yang berdebu. Mereka mengobrak-abrik isi kotak-kotak itu menemukan piringan hitam, pakaian jadul, surat-surat lama, dan di dasar salah satu kotak, mereka menemukan sebuah album foto usang.
Album itu tebal dan sampulnya sudah menguning. Di dalamnya, ada foto-foto kakek dan nenek Saretha saat masih muda. Mereka terlihat bahagia, tersenyum lebar di setiap foto.
Namun, saat Saretha membalik halaman terakhir, ia terdiam. Jantungnya berdebar sangat kencang. Ia menemukan sebuah foto yang membuatnya merinding.
Foto itu adalah foto neneknya. Nenek Saretha duduk di kursi goyang yang sama persis dengan yang mereka terima dari Bu Ranti.
Neneknya tidak tersenyum. Wajahnya terlihat pucat, tatapan matanya kosong, dan tangannya mencengkeram erat sandaran kursi. Di belakangnya, samar-samar, terlihat sosok bayangan seorang wanita tua dengan rambut digelung dan wajah yang tidak jelas.
"Mario ..." panggil Saretha, suaranya tercekat. Ia menunjuk foto itu dengan tangan gemetar.
Mario mendekat, melihat foto itu, dan matanya membulat, "Itu kursi yang sama. Dan nenekmu, dia terlihat ketakutan."
"Siapa wanita di belakang nenekku?" tanya Saretha, suaranya bergetar.
Saat itu juga, mereka menyadari bahwa teror yang mereka alami bukanlah kebetulan. Kursi goyang itu, kehadiran nenek Bu Ranti, dan bahkan sosok yang menghantui mereka, semuanya terhubung dengan masa lalu yang kelam.
Pertanyaan yang selama ini ada di benak mereka kini terjawab. Kursi itu adalah benda berhantu, dan arwah yang menghantui mereka bukanlah arwah Bu Ranti, melainkan arwah nenek lain, yang entah bagaimana, berhubungan dengan kursi itu dan masa lalu kakek-nenek Saretha.
Other Stories
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...