Chapter 4 Gangguan Di Malam Hari
Hari-hari berikutnya, teror yang dialami Mario berlanjut, bahkan semakin nyata.
Suara-suara aneh mulai terdengar. Di tengah malam saat seisi rumah sunyi, suara langkah kaki pelan terdengar di koridor, seolah-olah ada seseorang yang berjalan mondar-mandir di antara kamar mereka dan ruang tamu.
Saretha, yang awalnya tidak menyadari mulai ikut gelisah. Suatu malam, ia terbangun karena suara berderit dari lantai bawah.
"Mario, kamu denger itu nggak?" bisik Saretha sambil mengguncang bahu Mario.
Mario yang memang belum tidur langsung sigap, "Denger. Kayaknya dari ruang tamu."
Mereka berdua turun ke bawah. Ruangan gelap gulita, hanya disinari oleh cahaya bulan yang masuk dari jendela. Suara itu sudah berhenti.
Mario menyalakan senter di ponselnya, menyapu setiap sudut ruangan. Tidak ada siapa-siapa. Tapi, matanya menangkap sesuatu. Kursi goyang itu yang mereka tinggalkan dalam keadaan diam, kini sedikit berayun ke depan dan ke belakang, sangat perlahan.
"Itu kursinya gerak," bisik Saretha, suaranya bergetar.
Mario memberanikan diri mendekat. Ia menyentuh kursi itu. Dingin. Sangat dingin. "Mungkin karena ada angin dari jendela yang terbuka, Sayang," katanya, berusaha menenangkan Saretha dan dirinya sendiri.
Namun, saat mereka berbalik untuk naik ke atas, sebuah suara tawa perempuan yang serak dan pelan terdengar dari arah kursi goyang itu.
Suaranya dingin, menggema di ruang tamu yang gelap. Seketika, bulu kuduk Saretha dan Mario berdiri tegak.
Mereka berdua saling pandang dengan mata membelalak, lalu tanpa bicara lagi, mereka berlari kembali ke kamar dan mengunci pintunya.
Malam itu, mereka tidak bisa tidur. Mereka tahu, suara itu bukan suara angin. Suara itu berasal dari kursi goyang tersebut, dan ia sedang tertawa mengejek mereka.
Suara-suara aneh mulai terdengar. Di tengah malam saat seisi rumah sunyi, suara langkah kaki pelan terdengar di koridor, seolah-olah ada seseorang yang berjalan mondar-mandir di antara kamar mereka dan ruang tamu.
Saretha, yang awalnya tidak menyadari mulai ikut gelisah. Suatu malam, ia terbangun karena suara berderit dari lantai bawah.
"Mario, kamu denger itu nggak?" bisik Saretha sambil mengguncang bahu Mario.
Mario yang memang belum tidur langsung sigap, "Denger. Kayaknya dari ruang tamu."
Mereka berdua turun ke bawah. Ruangan gelap gulita, hanya disinari oleh cahaya bulan yang masuk dari jendela. Suara itu sudah berhenti.
Mario menyalakan senter di ponselnya, menyapu setiap sudut ruangan. Tidak ada siapa-siapa. Tapi, matanya menangkap sesuatu. Kursi goyang itu yang mereka tinggalkan dalam keadaan diam, kini sedikit berayun ke depan dan ke belakang, sangat perlahan.
"Itu kursinya gerak," bisik Saretha, suaranya bergetar.
Mario memberanikan diri mendekat. Ia menyentuh kursi itu. Dingin. Sangat dingin. "Mungkin karena ada angin dari jendela yang terbuka, Sayang," katanya, berusaha menenangkan Saretha dan dirinya sendiri.
Namun, saat mereka berbalik untuk naik ke atas, sebuah suara tawa perempuan yang serak dan pelan terdengar dari arah kursi goyang itu.
Suaranya dingin, menggema di ruang tamu yang gelap. Seketika, bulu kuduk Saretha dan Mario berdiri tegak.
Mereka berdua saling pandang dengan mata membelalak, lalu tanpa bicara lagi, mereka berlari kembali ke kamar dan mengunci pintunya.
Malam itu, mereka tidak bisa tidur. Mereka tahu, suara itu bukan suara angin. Suara itu berasal dari kursi goyang tersebut, dan ia sedang tertawa mengejek mereka.
Other Stories
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Filosofi Sampah (catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...