Chapter 6 Kursi Itu Bergoyang Sendiri
Hari itu, Mario dan Saretha memutuskan untuk mencoba bersikap normal.
Mereka memesan pizza, menyetel film horor komedi, dan duduk di sofa mencoba mengabaikan hawa dingin yang selalu terasa di sudut ruang tamu.
Mereka mencoba meyakinkan diri bahwa semua keanehan yang mereka alami hanyalah efek dari sugesti.
"Tuh, lihat. Filmnya lucu banget!" seru Saretha, mencoba memecah kesunyian.
Mario tertawa hambar. "Iya, lucu banget, Yang."
Tepat saat adegan film mencapai klimaksnya, suara derit pelan terdengar. Suaranya berasal dari sudut ruang tamu, tempat di mana kursi goyang itu berada.
Jantung Mario dan Saretha langsung berdebar kencang. Mereka saling pandang, lalu menoleh perlahan.
Kursi goyang itu yang tadinya diam tak bergerak, kini mulai bergoyang. Awalnya perlahan, seolah ada yang baru saja duduk di sana dan mengayunkannya pelan. Lalu, ayunannya semakin lama semakin cepat. Gerakannya tak lagi tenang, melainkan agresif, seolah diduduki oleh seseorang yang marah dan tak sabar.
"Mario ..." bisik Saretha, suaranya bergetar. Tangannya mencengkeram lengan Mario kuat-kuat.
Mario tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap kursi itu dengan mata terbelalak. Ia melihat bantal beludru merah di kursi itu bergeser, seolah ada yang sedang menggerakkan tubuhnya. Di udara, tercium bau melati yang pekat dan menusuk.
Tiba-tiba, kursi itu berhenti bergerak. Hening. Namun, keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada deritan yang tadi.
Tepat di atas bantal kursi, muncul bayangan buram. Bayangan itu perlahan-lahan membentuk wujud. Rambut putih digelung, wajah keriput, dan sepasang mata merah menyala yang menatap mereka berdua dengan kebencian mendalam.
Itu adalah sosok yang sama persis dengan bayangan yang dilihat Saretha sebelumnya.
Kini, wujudnya nyata, berdiri di depan mereka, seolah menantang. Mario dan Saretha hanya bisa membeku tak bisa bergerak, dan berteriak.
Teror yang mereka rasakan selama ini kini telah berwujud. Mereka tahu, kursi itu bukan sekadar kursi. Itu adalah pintu, dan di baliknya, ada sesuatu yang sangat jahat yang kini telah keluar.
Mereka memesan pizza, menyetel film horor komedi, dan duduk di sofa mencoba mengabaikan hawa dingin yang selalu terasa di sudut ruang tamu.
Mereka mencoba meyakinkan diri bahwa semua keanehan yang mereka alami hanyalah efek dari sugesti.
"Tuh, lihat. Filmnya lucu banget!" seru Saretha, mencoba memecah kesunyian.
Mario tertawa hambar. "Iya, lucu banget, Yang."
Tepat saat adegan film mencapai klimaksnya, suara derit pelan terdengar. Suaranya berasal dari sudut ruang tamu, tempat di mana kursi goyang itu berada.
Jantung Mario dan Saretha langsung berdebar kencang. Mereka saling pandang, lalu menoleh perlahan.
Kursi goyang itu yang tadinya diam tak bergerak, kini mulai bergoyang. Awalnya perlahan, seolah ada yang baru saja duduk di sana dan mengayunkannya pelan. Lalu, ayunannya semakin lama semakin cepat. Gerakannya tak lagi tenang, melainkan agresif, seolah diduduki oleh seseorang yang marah dan tak sabar.
"Mario ..." bisik Saretha, suaranya bergetar. Tangannya mencengkeram lengan Mario kuat-kuat.
Mario tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap kursi itu dengan mata terbelalak. Ia melihat bantal beludru merah di kursi itu bergeser, seolah ada yang sedang menggerakkan tubuhnya. Di udara, tercium bau melati yang pekat dan menusuk.
Tiba-tiba, kursi itu berhenti bergerak. Hening. Namun, keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada deritan yang tadi.
Tepat di atas bantal kursi, muncul bayangan buram. Bayangan itu perlahan-lahan membentuk wujud. Rambut putih digelung, wajah keriput, dan sepasang mata merah menyala yang menatap mereka berdua dengan kebencian mendalam.
Itu adalah sosok yang sama persis dengan bayangan yang dilihat Saretha sebelumnya.
Kini, wujudnya nyata, berdiri di depan mereka, seolah menantang. Mario dan Saretha hanya bisa membeku tak bisa bergerak, dan berteriak.
Teror yang mereka rasakan selama ini kini telah berwujud. Mereka tahu, kursi itu bukan sekadar kursi. Itu adalah pintu, dan di baliknya, ada sesuatu yang sangat jahat yang kini telah keluar.
Other Stories
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...
Percobaan
percobaan ...
Di Luar Rencana
Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...