Chapter 2 Hadiah Aneh
Pagi datang dengan kabut tipis dan udara yang masih segar. Saretha keluar rumah untuk menyiram tanaman yang layu di teras, tapi langkahnya terhenti.
Tepat di depan pagar mereka, ada sebuah kursi goyang. Kursi itu bukan sembarang kursi; ukirannya detail dan rumit, warnanya cokelat tua dengan bantal beludru merah yang masih terlihat mewah. Anehnya, kursi itu terlihat seperti baru, bersih tanpa debu sedikit pun.
"Mario! Lihat, deh!" seru Saretha.
Mario yang sedang menyeduh kopi ikut keluar. Matanya membulat, "Kursi siapa itu? Kok ada di depan rumah kita?"
"Nggak tahu. Tapi kayaknya bukan kursi biasa," jawab Saretha, penasaran, "Mewah banget."
Tiba-tiba, pagar rumah sebelah terbuka. Muncul seorang nenek dengan rambut putih digelung rapi dan senyum ramah di wajahnya. Nenek itu yang kemarin sudah memperkenalkan diri bernama Ranti, ia berjalan menghampiri mereka.
"Pagi, Nak! Wah, sudah bangun rupanya," sapa Bu Ranti, "Itu, Nak. Kursi goyang buat kalian."
Saretha dan Mario saling pandang, bingung, "Buat kita, Nek?" tanya Mario, "Ini kan kursi bagus. Kenapa dibuang?"
"Ah, tidak dibuang, Nak. Hanya dipindah ke tempat yang lebih cocok," jawab Bu Ranti sambil terkekeh pelan, "Dulu ini kursi goyang nenek saya, tapi saya sudah tua. Punggung saya sakit kalau duduk di kursi ini. Lebih baik kursi ini punya tuan baru yang bisa merawatnya, kan?"
Nenek itu tersenyum, tapi tatapan matanya sedikit aneh seperti menyembunyikan sesuatu. Mario merasakan firasat tidak enak, seolah ada hal lain yang tidak dikatakan nenek itu. Ia menatap kursi goyang itu, dan entah kenapa udara di sekitarnya terasa dingin.
"Terima kasih banyak ya, Nek," kata Saretha dengan senyum tulus, tidak menyadari perasaan aneh Mario, "Wah, ini beneran bagus banget. Cocok buat di ruang tamu."
"Sama-sama, Nak. Nanti kalau ada apa-apa, jangan sungkan tanya ke Nenek, ya," kata Bu Ranti sebelum kembali masuk ke rumahnya.
Setelah nenek itu pergi, Mario dan Saretha berdebat kecil.
"Mending nggak usah kita ambil, Yang," kata Mario, "Rasanya aneh. Kenapa harus dikasih ke kita?"
"Ih, Mario! Cuma kursi doang, kok! Jangan mikir yang aneh-aneh. Lumayan kan, kita nggak perlu beli kursi baru," jawab Saretha, "Ayo, bantu angkat. Lumayan berat, nih!"
Dengan terpaksa, Mario membantu Saretha mengangkat kursi goyang mewah itu ke dalam rumah.
Saat mereka meletakkannya di sudut ruang tamu, tepat di samping jendela besar, Mario merasa hawa dingin itu semakin menusuk. Ia melihat sekilas ke arah kursi itu, dan rasanya seperti ada yang mengawasi mereka.
Saretha dengan mata berbinar memandangi kursi itu, "Nah, kan! Kelihatan lebih hidup sekarang ruang tamu kita."
Mario hanya mengangguk pelan, hatinya tidak tenang. Kursi goyang itu, entah kenapa terasa seperti membawa sesuatu yang tidak diinginkan ke dalam rumah mereka. Sesuatu yang dingin dan misterius.
Tepat di depan pagar mereka, ada sebuah kursi goyang. Kursi itu bukan sembarang kursi; ukirannya detail dan rumit, warnanya cokelat tua dengan bantal beludru merah yang masih terlihat mewah. Anehnya, kursi itu terlihat seperti baru, bersih tanpa debu sedikit pun.
"Mario! Lihat, deh!" seru Saretha.
Mario yang sedang menyeduh kopi ikut keluar. Matanya membulat, "Kursi siapa itu? Kok ada di depan rumah kita?"
"Nggak tahu. Tapi kayaknya bukan kursi biasa," jawab Saretha, penasaran, "Mewah banget."
Tiba-tiba, pagar rumah sebelah terbuka. Muncul seorang nenek dengan rambut putih digelung rapi dan senyum ramah di wajahnya. Nenek itu yang kemarin sudah memperkenalkan diri bernama Ranti, ia berjalan menghampiri mereka.
"Pagi, Nak! Wah, sudah bangun rupanya," sapa Bu Ranti, "Itu, Nak. Kursi goyang buat kalian."
Saretha dan Mario saling pandang, bingung, "Buat kita, Nek?" tanya Mario, "Ini kan kursi bagus. Kenapa dibuang?"
"Ah, tidak dibuang, Nak. Hanya dipindah ke tempat yang lebih cocok," jawab Bu Ranti sambil terkekeh pelan, "Dulu ini kursi goyang nenek saya, tapi saya sudah tua. Punggung saya sakit kalau duduk di kursi ini. Lebih baik kursi ini punya tuan baru yang bisa merawatnya, kan?"
Nenek itu tersenyum, tapi tatapan matanya sedikit aneh seperti menyembunyikan sesuatu. Mario merasakan firasat tidak enak, seolah ada hal lain yang tidak dikatakan nenek itu. Ia menatap kursi goyang itu, dan entah kenapa udara di sekitarnya terasa dingin.
"Terima kasih banyak ya, Nek," kata Saretha dengan senyum tulus, tidak menyadari perasaan aneh Mario, "Wah, ini beneran bagus banget. Cocok buat di ruang tamu."
"Sama-sama, Nak. Nanti kalau ada apa-apa, jangan sungkan tanya ke Nenek, ya," kata Bu Ranti sebelum kembali masuk ke rumahnya.
Setelah nenek itu pergi, Mario dan Saretha berdebat kecil.
"Mending nggak usah kita ambil, Yang," kata Mario, "Rasanya aneh. Kenapa harus dikasih ke kita?"
"Ih, Mario! Cuma kursi doang, kok! Jangan mikir yang aneh-aneh. Lumayan kan, kita nggak perlu beli kursi baru," jawab Saretha, "Ayo, bantu angkat. Lumayan berat, nih!"
Dengan terpaksa, Mario membantu Saretha mengangkat kursi goyang mewah itu ke dalam rumah.
Saat mereka meletakkannya di sudut ruang tamu, tepat di samping jendela besar, Mario merasa hawa dingin itu semakin menusuk. Ia melihat sekilas ke arah kursi itu, dan rasanya seperti ada yang mengawasi mereka.
Saretha dengan mata berbinar memandangi kursi itu, "Nah, kan! Kelihatan lebih hidup sekarang ruang tamu kita."
Mario hanya mengangguk pelan, hatinya tidak tenang. Kursi goyang itu, entah kenapa terasa seperti membawa sesuatu yang tidak diinginkan ke dalam rumah mereka. Sesuatu yang dingin dan misterius.
Other Stories
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Menantimu
Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...