Misteri Kursi Goyang

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Misteri kursi goyang
Misteri Kursi Goyang
Penulis Moycha Zia

Chapter 1 Pindah Ke Rumah Tua


Angin sore berhembus, namun terasa lengket, tapi buat Saretha dan Mario sepasang suami-istri, rasanya kayak angin surga. Akhirnya, setelah berbulan-bulan nabung mati-matian, mereka pindah ke rumah tua warisan kakek-nenek Saretha.

Rumahnya berdiri kokoh di pojok jalan dengan cat putih yang sudah mengelupas di sana-sini dan jendela kayu jati yang besar. Kuno banget, tapi juga punya daya tarik tersendiri.

"Lihat deh, Yang! Kayak rumah hantu di film-film," celetuk Mario sambil menurunkan kardus berisi buku-buku. Ia mengusap dahinya yang berkeringat, "Tapi aku suka! Ada aura damai gitu."

Saretha tertawa, "Aura damai apaan? Aura debu ini mah."


Ciit!


Ia membuka pintu kayu yang berat mengeluarkan bunyi derit panjang yang membuat mereka berdua saling pandang.
Di dalam, ruang tamu terasa dingin meskipun di luar matahari masih terik. Udara di dalam rumah berbau apak dan kayu tua. Jaring laba-laba ada di mana-mana, seolah menyambut kedatangan mereka.

"Kamu yakin kita bisa betah di sini, Mario?" tanya Saretha sambil mengelus dinding yang terasa dingin.

"Yakin banget! Kita kan pasangan petualang!" Mario memeluknya dari belakang, "Anggap aja ini tantangan. Kita sulap rumah hantu ini jadi sarang cinta kita. Kamu bagian bersih-bersih, aku bagian main games."

Saretha memukul pelan tangan Mario, "Enak aja! Bantu, lah!"

Mereka mulai memindahkan barang-barang. Setiap sudut rumah punya ceritanya sendiri. Ada lukisan pemandangan sawah yang usang, jam dinding besar yang sudah berhenti berdetak, dan tumpukan koran lama yang menguning. Saretha membayangkan kakek dan neneknya duduk di sini sedang membaca koran sambil minum teh. Ia merasa hangat, seolah-olah mereka masih ada di sana sedang mengawasi.

"Ada banyak barang antik di sini," kata Mario sambil menunjuk ke sebuah lemari ukir yang besar, "Kita bisa jual buat beli perabotan baru."

"Jangan, Mario," jawab Saretha cepat, "Ini barang peninggalan. Kakek pasti nggak mau kalau kita jual. Aku mau pertahankan semua, persis seperti aslinya."

Mereka menghabiskan sore itu dengan menyapu dan mengepel. Rumah itu mulai terasa lebih hidup, meskipun bau apak masih sulit hilang. Langit di luar berubah oranye, dan mereka memutuskan untuk istirahat. Di teras depan, mereka duduk di anak tangga sambil menatap rumah yang kini menjadi milik mereka.

"Akhirnya ya, Yang," bisik Saretha, menyandarkan kepalanya di bahu Mario, "Rumah ini terasa seperti pulang."

Mario mengangguk, "Iya, Sayang. Rumah ini bakal jadi saksi petualangan kita."

Saretha hanya tersenyum.

Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Hafidz Cerdik

Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...

Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...

Download Titik & Koma