Chapter 9 Kehadiran Yang Jelas
Penemuan buku harian itu memberikan mereka jawaban, tapi juga membawa ketakutan baru.
Mereka tahu, arwah Nenek Gayatri kini mengincar Saretha untuk menyelesaikan perjanjian yang dilanggar kakeknya.
Malam itu, mereka duduk di sofa ruang tamu, tak berani naik ke kamar. Lampu-lampu rumah menyala terang, tapi itu tidak menghalau hawa dingin yang menusuk.
Tiba-tiba, lampu mulai berkedip-kedip, lalu mati total meninggalkan mereka dalam kegelapan yang pekat.
Hening. Hanya suara napas mereka yang terengah-engah yang terdengar.
Di sudut ruangan, kursi goyang yang tadi mereka buang sudah kembali. Kursi itu berdiri tegak, seolah-olah diletakkan di sana dengan sengaja. Perlahan, kursi itu mulai bergoyang. Tidak agresif, tapi pelan dan pasti, seolah-olah ada yang duduk di sana, memandang mereka.
Lalu, sebuah suara melengking memenuhi ruangan. Bukan suara tawa, tapi suara yang penuh amarah, "Kau harus tepati janji kakekmu, cucu tepati janjinya!"
Kursi itu kini bergoyang lebih cepat, dan bayangan buram mulai muncul. Sosok Nenek Gayatri kini terlihat lebih jelas. Rambut putihnya tergerai, wajahnya yang keriput terlihat marah, dan matanya menyala merah. Ia tidak hanya berdiri di samping kursi, tapi seolah-olah mengambang. Ia mengulurkan tangan kurusnya ke arah Saretha.
"Kau harus jadi milikku, cucu ikut aku tepati janjinya!" suaranya serak dan menusuk.
"Arrrrgghhhh ..."
Saretha menjerit, memeluk Mario erat.
Mario bangkit, berdiri di depan Saretha, mencoba melindunginya, "Jangan sentuh dia! Dia tidak tahu apa-apa!"
Nenek Gayatri tertawa sinis, "Kau tahu, anak muda. Kalian mengambil sesuatu yang seharusnya tidak kalian ambil. Kursi ini adalah pintu. Dan sekarang, aku sudah keluar!"
Nenek Gayatri mendekat, dan Mario merasa tubuhnya membeku. Mereka terperangkap. Kursi goyang itu bukan lagi benda mati, melainkan sebuah portal, dan kini Nenek Gayatri yang keluar dari sana tidak hanya mengincar Saretha, tetapi juga Mario.
Mereka tahu, arwah Nenek Gayatri kini mengincar Saretha untuk menyelesaikan perjanjian yang dilanggar kakeknya.
Malam itu, mereka duduk di sofa ruang tamu, tak berani naik ke kamar. Lampu-lampu rumah menyala terang, tapi itu tidak menghalau hawa dingin yang menusuk.
Tiba-tiba, lampu mulai berkedip-kedip, lalu mati total meninggalkan mereka dalam kegelapan yang pekat.
Hening. Hanya suara napas mereka yang terengah-engah yang terdengar.
Di sudut ruangan, kursi goyang yang tadi mereka buang sudah kembali. Kursi itu berdiri tegak, seolah-olah diletakkan di sana dengan sengaja. Perlahan, kursi itu mulai bergoyang. Tidak agresif, tapi pelan dan pasti, seolah-olah ada yang duduk di sana, memandang mereka.
Lalu, sebuah suara melengking memenuhi ruangan. Bukan suara tawa, tapi suara yang penuh amarah, "Kau harus tepati janji kakekmu, cucu tepati janjinya!"
Kursi itu kini bergoyang lebih cepat, dan bayangan buram mulai muncul. Sosok Nenek Gayatri kini terlihat lebih jelas. Rambut putihnya tergerai, wajahnya yang keriput terlihat marah, dan matanya menyala merah. Ia tidak hanya berdiri di samping kursi, tapi seolah-olah mengambang. Ia mengulurkan tangan kurusnya ke arah Saretha.
"Kau harus jadi milikku, cucu ikut aku tepati janjinya!" suaranya serak dan menusuk.
"Arrrrgghhhh ..."
Saretha menjerit, memeluk Mario erat.
Mario bangkit, berdiri di depan Saretha, mencoba melindunginya, "Jangan sentuh dia! Dia tidak tahu apa-apa!"
Nenek Gayatri tertawa sinis, "Kau tahu, anak muda. Kalian mengambil sesuatu yang seharusnya tidak kalian ambil. Kursi ini adalah pintu. Dan sekarang, aku sudah keluar!"
Nenek Gayatri mendekat, dan Mario merasa tubuhnya membeku. Mereka terperangkap. Kursi goyang itu bukan lagi benda mati, melainkan sebuah portal, dan kini Nenek Gayatri yang keluar dari sana tidak hanya mengincar Saretha, tetapi juga Mario.
Other Stories
Permainan Mematikan: Narsistik
Delapan orang asing diculik dan dipaksa mengikuti serangkaian permainan mematikan. Tujuh d ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Se-birru Langit. Se-bening Embun
Liburan—antara tawa dan air mata. Birru dan Bening, saudara kembar yang harus berpisah s ...
Desa Seribu Sesajen
"Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan." Liburan semester enam mahasis ...