Chapter 8 Buku Harian Kakek
Setelah menemukan foto yang mengerikan itu, Saretha dan Mario semakin yakin bahwa jawaban atas semua teror ini ada di masa lalu.
Mereka kembali ke loteng, mencari petunjuk lain. Mereka membongkar semua kotak yang ada, mencari apa pun yang bisa menjelaskan hubungan antara nenek Saretha, kursi goyang itu, dan sosok yang menghantui mereka.
Di balik tumpukan koran-koran lusuh, Mario menemukan sebuah kotak kayu kecil yang terkunci. Ia mencoba membukanya, tapi kuncinya tidak ada.
Dengan sabar, ia mengambil obeng dan mencongkelnya sampai terbuka. Di dalamnya, ada sebuah buku bersampul kulit tua. Itu adalah buku harian kakek Saretha.
Dengan tangan gemetar, Saretha mulai membacanya. Tulisan tangan kakeknya rapi, tapi isinya membuat jantung mereka berdegup kencang.
Halaman-halaman awal berisi kisah cinta kakek dan neneknya. Tapi, di halaman tengah ceritanya berubah. Kakek Saretha menulis tentang kesulitan ekonomi yang mereka hadapi. Ia merasa putus asa dan ingin mencari jalan keluar.
"Aku bertemu dengan seorang dukun di desa sebelah," tulis kakek Saretha, "Namanya Nenek Gayatri. Dia bilang bisa membantuku agar bisnisku sukses. Dia meminta imbalan, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin kaya."
Saretha dan Mario saling pandang. Mereka terus membaca. Kakek Saretha menulis tentang perjanjian aneh yang ia buat dengan Nenek Gayatri. Nenek itu meminta kakek Saretha untuk membuatkan kursi goyang mewah dan menyerahkannya sebagai tempat Nenek Gayatri bersemayam setelah meninggal.
Dengan begitu, katanya, arwahnya akan terus menjaga dan memastikan bisnis kakek Saretha lancar.
"Aku harus berjanji, anakku harus juga berjanji untuk meneruskan perjanjian ini," tulis kakeknya, "Tapi janji itu terlalu berat. Aku tidak bisa membiarkan anakku terlibat. Aku membuang kursi itu setelah Nenek Gayatri meninggal. Aku berharap bisa memutus janji itu."
Halaman terakhir buku itu sangat singkat, "Nenek Gayatri tidak suka janjinya dilanggar. Ia datang. Kursi itu, bukan hanya tempatnya, tapi juga wujud amarahnya."
Saretha dan Mario terdiam. Mereka kini mengerti semuanya. Arwah yang menghantui mereka adalah Nenek Gayatri. Kursi goyang itu adalah rumahnya, dan Nenek Gayatri marah karena janji yang dibuat kakek Saretha tidak pernah dipenuhi.
Nenek Gayatri tidak dibuang oleh Bu Ranti, ia sengaja kembali ke rumah ini mencari janji yang tidak terpenuhi itu.
Kini, bukan hanya nyawa mereka yang terancam. Nenek Gayatri juga mengincar keturunan kakek Saretha, yaitu Saretha sendiri.
Mereka kembali ke loteng, mencari petunjuk lain. Mereka membongkar semua kotak yang ada, mencari apa pun yang bisa menjelaskan hubungan antara nenek Saretha, kursi goyang itu, dan sosok yang menghantui mereka.
Di balik tumpukan koran-koran lusuh, Mario menemukan sebuah kotak kayu kecil yang terkunci. Ia mencoba membukanya, tapi kuncinya tidak ada.
Dengan sabar, ia mengambil obeng dan mencongkelnya sampai terbuka. Di dalamnya, ada sebuah buku bersampul kulit tua. Itu adalah buku harian kakek Saretha.
Dengan tangan gemetar, Saretha mulai membacanya. Tulisan tangan kakeknya rapi, tapi isinya membuat jantung mereka berdegup kencang.
Halaman-halaman awal berisi kisah cinta kakek dan neneknya. Tapi, di halaman tengah ceritanya berubah. Kakek Saretha menulis tentang kesulitan ekonomi yang mereka hadapi. Ia merasa putus asa dan ingin mencari jalan keluar.
"Aku bertemu dengan seorang dukun di desa sebelah," tulis kakek Saretha, "Namanya Nenek Gayatri. Dia bilang bisa membantuku agar bisnisku sukses. Dia meminta imbalan, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin kaya."
Saretha dan Mario saling pandang. Mereka terus membaca. Kakek Saretha menulis tentang perjanjian aneh yang ia buat dengan Nenek Gayatri. Nenek itu meminta kakek Saretha untuk membuatkan kursi goyang mewah dan menyerahkannya sebagai tempat Nenek Gayatri bersemayam setelah meninggal.
Dengan begitu, katanya, arwahnya akan terus menjaga dan memastikan bisnis kakek Saretha lancar.
"Aku harus berjanji, anakku harus juga berjanji untuk meneruskan perjanjian ini," tulis kakeknya, "Tapi janji itu terlalu berat. Aku tidak bisa membiarkan anakku terlibat. Aku membuang kursi itu setelah Nenek Gayatri meninggal. Aku berharap bisa memutus janji itu."
Halaman terakhir buku itu sangat singkat, "Nenek Gayatri tidak suka janjinya dilanggar. Ia datang. Kursi itu, bukan hanya tempatnya, tapi juga wujud amarahnya."
Saretha dan Mario terdiam. Mereka kini mengerti semuanya. Arwah yang menghantui mereka adalah Nenek Gayatri. Kursi goyang itu adalah rumahnya, dan Nenek Gayatri marah karena janji yang dibuat kakek Saretha tidak pernah dipenuhi.
Nenek Gayatri tidak dibuang oleh Bu Ranti, ia sengaja kembali ke rumah ini mencari janji yang tidak terpenuhi itu.
Kini, bukan hanya nyawa mereka yang terancam. Nenek Gayatri juga mengincar keturunan kakek Saretha, yaitu Saretha sendiri.
Other Stories
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...