November Kelabu

Reads
1.7K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 2 Sebuah Pertemuan

Di depan gerbang, Veya melihat sebuah mobil mewah berhenti. Jendela mobil terbuka, dan Arka, siswa paling populer di sekolah menyembulkan kepalanya. Senyumnya yang cerah seolah kontras dengan awan mendung di hati Veya.

"Veya, kenapa matamu bengkak? Habis nangis?" tanyanya lembut, "Ayo, masuk. Gue anterin ke sekolah."

Veya terdiam, ragu. Ia menatap Arka yang tulus. Tiba-tiba, ia merasa ada yang melihatnya. Ada yang peduli padanya.

Cklak!

Tanpa berpikir panjang, Veya masuk ke mobil Arka. Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, ia tidak merasa seperti bayangan. Ia merasa ada di sana. Dan untuk pertama kalinya merasa memiliki tempat untuk bersandar.

Di dalam mobil Arka, suasana canggung yang tipis menyelimuti. Veya masih terdiam. Ia merasa malu dan cemas, "Bagaimana jika Arka melihat betapa bengkaknya matanya? Bagaimana jika ia bertanya lagi tentang alasan di balik air matanya?"

Arka memecah keheningan. "Gue tahu, lo nggak perlu cerita sekarang," katanya, pandangannya lurus ke depan, "Setiap orang punya hal yang nggak bisa dibagi, dan itu nggak masalah."

Kalimat sederhana itu entah mengapa membuat hati Veya sedikit menghangat. Arka tidak memaksa, tidak menghakimi. Ia hanya ada, dan itu sudah lebih dari cukup. Veya melirik Arka.

Rambutnya yang sedikit berantakan, seragamnya yang tidak dikancing dengan sempurna, dan tatapannya yang teduh. Di mata Veya, Arka tidak terlihat seperti siswa populer yang digilai banyak orang, melainkan seperti tempat aman yang tiba-tiba ia temukan.

Sesampainya di sekolah, Veya buru-buru turun, "Makasih, Arka," ucapnya pelan.

"Santai aja. Sampai ketemu nanti," Arka tersenyum.

Veya berjalan menuju kelas dengan langkah lebih ringan. Namun, di tengah pelajaran, kepalanya mulai terasa pusing.

Pandangannya kabur, dan ia merasakan mual yang tak tertahankan. Guru yang melihatnya pucat segera menyuruhnya pergi ke UKS.

"Veya, kamu pucat sekali. Istirahat saja dulu di UKS," kata guru wali kelasnya.

Veya berjalan dengan lunglai menuju UKS. Ia berbaring di salah satu kasur berharap pusingnya akan hilang.

BRUK!

"VEYA!"

Namun, kondisinya tidak membaik. Veya merasa sangat lemah. Ia memejamkan mata membiarkan kegelapan menelannya.

Saat Veya terbangun, ia mencium aroma antiseptik yang khas. Di sampingnya, Arka sedang duduk sambil memegang botol air minum. Ia menatap Veya dengan cemas.

"Lo pingsan, Veya," ucapnya pelan, "Untung gue pas lewat depan UKS. Lo bikin gue panik setengah mati."

Veya terkejut. "Kok, kamu bisa di sini?"

"Gue bolos pelajaran. Nggak bisa biarin lo sendirian," jawab Arka, enteng. Ia menyodorkan air minum, "Minum dulu, ya."

Veya meminum air itu dengan lambat. Ia merasa bersalah karena Arka sampai harus bolos pelajaran demi dirinya, "Makasih, Arka. Maaf udah ngerepotin."

"Apa sih. Nggak ada kata repot buat lo," Arka tersenyum, kali ini senyum yang tulus, "Mulai sekarang, kalau ada apa-apa lo bisa bilang ke gue."

Veya tertawa kecil, suara yang nyaris asing di telinganya sendiri, "Tapi kamu bolos, Arka. Nanti nilai kamu."

Arka mengangkat bahu, "Nilai bisa dikejar. Kalau lo pingsan, itu yang bahaya." Ia tiba-tiba mengambil sebuah termometer dari meja, memasukkannya ke mulut Veya, dan menatapnya dengan serius, "Sebentar, ya. Biar gue cek, lo beneran sakit apa pura-pura biar bisa berduaan sama gue?"

Veya melotot, namun tak bisa menahan senyumnya, "Ish, Arka! Aku beneran pusing!"

"Hahaha, gue cuma bercanda." Arka tertawa renyah, senyumnya menular ke Veya, "Tapi serius, Veya. Lo pucat banget. Pulang aja, ya? Gue anterin."

Veya menggeleng, "Nggak, Arka. Aku nggak mau bikin repot lagi. Nanti sore aku juga harus bersihkan gudang di rumah."

Mendengar kata-kata Veya, raut wajah Arka berubah, "Bersihkan gudang? Emang di rumah lo nggak ada ART?"

Veya hanya terdiam. Ia tak mau menjelaskan kondisi keluarganya. Arka yang peka segera mengerti. Ia tidak bertanya lebih jauh.

Setelah jam sekolah usai, Arka sudah menunggu Veya di depan gerbang. "Naik, Veya. Gue temenin lo bersihin gudang," katanya sambil membuka pintu mobil.

Veya terkejut, "Arka, nggak usah. Kamu pulang aja. Ini udah sore."

"Nggak ada penolakan, Veya. Lo butuh bantuan, dan gue yang paling pantas buat itu," ujar Arka penuh keyakinan, "Udah buruan naik. Keburu gelap."

Veya akhirnya menyerah. Di perjalanan, Veya memandang jalanan dan Arka yang fokus menyetir.

Tiba-tiba, Arka bersenandung dengan suara yang sumbang, "Kamu tahu lagu ini nggak, Veya?" tanya Arka.

"Nggak," jawab Veya sambil menahan tawa.

"Yah, padahal ini lagu favorit gue. Dengar baik-baik ya," kata Arka, lalu mulai bernyanyi dengan volume lebih keras.

Suaranya benar-benar sumbang, membuat Veya tak bisa menahan tawa.

"Arka, suara kamu jelek banget!" Veya tertawa sampai terpingkal-pingkal.

Arka ikut tertawa, "Kan, lo jadi ketawa. Lo lebih cantik kalau ketawa, Veya. Jangan nangis terus."

Tawa Veya mereda. Ia menatap Arka yang sedang tersenyum. Veya merasa di samping Arka, ia bisa menjadi dirinya sendiri. Ia tidak perlu berpura-pura kuat, dan menyembunyikan rasa sakitnya.

Tiba di rumah Veya, Arka langsung terkesima melihat kemegahan rumahnya. Namun, ekspresinya berubah saat Veya menunjuk ke arah gudang di belakang.

"Ini yang harus aku bersihkan, Arka," ucap Veya, suaranya terdengar lelah.

"Oke, siap!" Arka mengacungkan jempolnya, "Nggak ada tikus yang berani sama kita, Veya! Nanti kalau ada tikus, biar gue aja yang ngejar."

Veya tertawa kecil, "Memangnya kamu nggak takut tikus?"

"Takut sih tapi demi kamu, apa pun bakal gue lakukan!" Arka menjawab dengan nada berlebihan mencoba membuat Veya tertawa lagi.

Ia berhasil. Senyum Veya kembali mengembang, membuat Arka merasa senang.

Mereka pun mulai membersihkan gudang. Debu beterbangan, membuat Veya beberapa kali batuk, "Uhuk! Uhuk!"

Arka dengan sigap mengambil sapu tangan dari sakunya dan memberikannya kepada Veya. "Pakai ini, Veya. Jangan sampai sakit," katanya lembut.

Di tengah-tengah membersihkan, Arka menemukan sebuah kotak kardus tua. "Ini kayaknya punya lo," kata Arka sambil membukanya perlahan. Di dalamnya ada tumpukan buku gambar dan beberapa boneka.

Veya mendekat, matanya berkaca-kaca melihat kenangan masa lalunya. "Itu punya aku. Waktu kecil," ucapnya lirih, "Ibu yang simpan."

Arka memandang Veya dengan tatapan simpati. Ia tahu betapa berharganya kenangan itu bagi Veya. Ia menemukan sebuah album foto kecil.

Ketika Arka membukanya, ia melihat foto seorang wanita yang tersenyum hangat, persis seperti senyuman Veya. "Ini ibumu?" tanya Arka.

Veya mengangguk, "Ya."

Arka mengamati foto itu lebih dekat, "Kamu mirip banget sama ibu kamu. Cantik."

Ucapan Arka membuat hati Veya menghangat. Selama ini, tak ada seorang pun di rumah yang pernah memujinya atau menganggapnya cantik. Veya merasa sangat bersyukur Arka ada di sampingnya.

Tiba-tiba, Arka menggerakkan tangannya ke wajah Veya. "Sini, ada debu," katanya, menyeka debu yang menempel di pipi Veya.

Pandangan mereka bertemu, dan entah mengapa, momen itu terasa begitu spesial.

"Arka, makasih ya," bisik Veya, suaranya bergetar.

"Makasih untuk apa?" tanya Arka.

"Untuk semuanya. Untuk menemani, dan peduli melihat aku," jawab Veya.

Arka tersenyum, "Veya, lo bukan bayangan. Lo ada. Dan sekarang, lo punya gue."


Other Stories
Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Test

Test ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

Download Titik & Koma