Chapter 4 Ulang Tahun Terlupakan
November, hari ulang tahun Veya tiba. Ia terbangun dengan perasaan hampa.
Tentu saja, ia tidak berharap ada ucapan selamat dari Ayah atau Rania. Pagi itu, seperti biasa, mereka sarapan dalam diam. Ayah sibuk dengan korannya, dan Rania sibuk dengan ponselnya.
Veya mencoba menahan diri agar tidak menangis. Ia tahu hari ini akan terasa berat. Ia berangkat ke sekolah dengan hati yang berat.
Di sekolah, Veya berusaha terlihat biasa saja. Ia belajar, menulis, dan berinteraksi seperti biasanya. Tapi, setiap kali melihat orang lain tersenyum hatinya terasa perih.
Ia membayangkan betapa bahagianya jika Ayah dan Rania mengingat hari spesialnya.
Saat istirahat, ponsel Veya berdering. Arka menelepon. "Kamu ada di mana, Veya?" tanya Arka.
"Di kelas," jawab Veya pelan.
"Jangan ke mana-mana. Tunggu di sana," kata Arka, lalu sambungan terputus.
Veya menunggu dengan bingung. Tak lama kemudian, Arka datang dengan sebuah kotak kue kecil. Ia tersenyum lebar.
"Selamat ulang tahun, Veya!"
Mata Veya berkaca-kaca. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Arka meletakkan kotak kue di meja, lalu memeluk Veya erat, "Jangan nangis, Veya. Hari ini hari bahagia kamu. Gue ada di sini."
Veya membalas pelukan Arka. Ia menangis di bahu Arka, melepaskan semua kesedihan yang selama ini ia pendam.
Arka mengusap punggung Veya dengan lembut, "Udah, ya. Kita potong kuenya. Bikin wish."
Veya mengangguk. Ia memejamkan mata, memanjatkan harapan agar ia bisa bahagia. Setelah meniup lilin, Veya membuka matanya dan melihat Arka tersenyum.
"Apa wish kamu?" tanya Arka.
"Rahasia," jawab Veya, lalu ia tertawa kecil.
Arka dan Veya menghabiskan sisa jam istirahat dengan makan kue bersama.
Sore harinya, Arka mengantar Veya pulang. Sebelum turun dari mobil, Veya mengucapkan terima kasih, "Makasih, Arka. Kamu yang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun."
Arka tersenyum. "Kamu itu penting, Veya. Jangan pernah lupa itu," katanya, dan Veya merasa hatinya terasa hangat.
Saat Veya masuk ke rumah, ia mendengar Rania berbicara di telepon. "Ayah, Rania nanti malam mau makan di restoran, ya? Rania yang traktir. Sekalian kita rayain Rania yang berhasil menang lomba esai."
Veya terdiam. Di hari ulang tahunnya, keluarganya merayakan prestasi Rania. Hati Veya terasa hancur berkeping-keping.
Air mata yang sudah susah payah ditahan oleh Veya, akhirnya tumpah juga. Ia berlari ke kamarnya, mengabaikan tatapan heran dari Rania.
Di dalam kamar, Veya langsung mengunci pintu. Ia menjatuhkan diri di lantai, memeluk lututnya, dan menangis sejadi-jadinya. Suara isak tangisnya tertahan hanya terdengar lirih di dalam kamar yang sunyi.
Ia meraih ponselnya berniat menghubungi Arka. Tapi ia urungkan. Veya tidak ingin Arka melihatnya selemah ini. Ia tidak ingin Arka tahu betapa menyedihkannya di rumah ini.
Veya mencoba menenangkan dirinya. Ia mengambil bingkai foto ibunya. "Bu, lihat aku dapat kado dari Arka," bisiknya, menunjukkan sisa kue yang ia bawa dari sekolah, "Dia baik banget, Bu. Dia yang membuat hari ini jadi spesial."
Ia memeluk foto ibunya berharap bisa merasakan kehangatan yang telah lama hilang. Ia memejamkan mata, membiarkan rasa sakit itu merayap di setiap sudut hatinya.
Setelah puas menangis, Veya bangkit. Ia mengambil kuenya dan memakannya sendirian di dalam kamar.
Sementara itu, di lantai bawah, Rania yang mendengar tangisan Veya, berjalan ke arah Ayah. "Ayah, Veya nangis, deh. Kayaknya dia sedih karena nggak kita kasih kado," kata Rania, terdengar sedikit merasa bersalah.
Ayah hanya menghela napas, "Sudahlah, Rania. Dia sudah dewasa. Lagi pula, dia kan tidak pernah minta apa-apa."
"Tapi, Ayah. Hari ini kan ulang tahun Veya," ucap Rania.
"Ayah tahu. Tapi, Ayah sudah pesan makan malam untuk kita. Nanti Ayah belikan Veya kado lain kali," jawab Ayah, kembali fokus pada ponselnya.
Rania terdiam. Ia tahu Ayah tidak akan pernah menempatkan Veya sebagai prioritas. Ia merasa sedikit bersalah, tapi tidak tahu harus berbuat apa.
Selama ini, ia hanya mengikuti pola yang sudah Ayah ciptakan. Ia selalu merasa menjadi anak emas, dan takut jika ia peduli pada Veya, posisinya akan tergantikan.
Malam itu, Veya mendengar Ayah dan Rania pergi. Mereka makan malam di restoran mewah, merayakan prestasi Rania. Veya hanya memandang dari balik jendela kamarnya. Ia tidak merasa marah hanya merasa kosong. Ia tahu ia tidak akan pernah menjadi bagian dari mereka.
Ia kembali ke mejanya, mengambil kertas dan pulpen. Veya mulai menulis. Ia menulis tentang semua yang ia rasakan. Tentang rasa sakit, kesepian, dan juga Arka.
Arka adalah satu-satunya sumber kebahagiaannya.
Tentu saja, ia tidak berharap ada ucapan selamat dari Ayah atau Rania. Pagi itu, seperti biasa, mereka sarapan dalam diam. Ayah sibuk dengan korannya, dan Rania sibuk dengan ponselnya.
Veya mencoba menahan diri agar tidak menangis. Ia tahu hari ini akan terasa berat. Ia berangkat ke sekolah dengan hati yang berat.
Di sekolah, Veya berusaha terlihat biasa saja. Ia belajar, menulis, dan berinteraksi seperti biasanya. Tapi, setiap kali melihat orang lain tersenyum hatinya terasa perih.
Ia membayangkan betapa bahagianya jika Ayah dan Rania mengingat hari spesialnya.
Saat istirahat, ponsel Veya berdering. Arka menelepon. "Kamu ada di mana, Veya?" tanya Arka.
"Di kelas," jawab Veya pelan.
"Jangan ke mana-mana. Tunggu di sana," kata Arka, lalu sambungan terputus.
Veya menunggu dengan bingung. Tak lama kemudian, Arka datang dengan sebuah kotak kue kecil. Ia tersenyum lebar.
"Selamat ulang tahun, Veya!"
Mata Veya berkaca-kaca. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Arka meletakkan kotak kue di meja, lalu memeluk Veya erat, "Jangan nangis, Veya. Hari ini hari bahagia kamu. Gue ada di sini."
Veya membalas pelukan Arka. Ia menangis di bahu Arka, melepaskan semua kesedihan yang selama ini ia pendam.
Arka mengusap punggung Veya dengan lembut, "Udah, ya. Kita potong kuenya. Bikin wish."
Veya mengangguk. Ia memejamkan mata, memanjatkan harapan agar ia bisa bahagia. Setelah meniup lilin, Veya membuka matanya dan melihat Arka tersenyum.
"Apa wish kamu?" tanya Arka.
"Rahasia," jawab Veya, lalu ia tertawa kecil.
Arka dan Veya menghabiskan sisa jam istirahat dengan makan kue bersama.
Sore harinya, Arka mengantar Veya pulang. Sebelum turun dari mobil, Veya mengucapkan terima kasih, "Makasih, Arka. Kamu yang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun."
Arka tersenyum. "Kamu itu penting, Veya. Jangan pernah lupa itu," katanya, dan Veya merasa hatinya terasa hangat.
Saat Veya masuk ke rumah, ia mendengar Rania berbicara di telepon. "Ayah, Rania nanti malam mau makan di restoran, ya? Rania yang traktir. Sekalian kita rayain Rania yang berhasil menang lomba esai."
Veya terdiam. Di hari ulang tahunnya, keluarganya merayakan prestasi Rania. Hati Veya terasa hancur berkeping-keping.
Air mata yang sudah susah payah ditahan oleh Veya, akhirnya tumpah juga. Ia berlari ke kamarnya, mengabaikan tatapan heran dari Rania.
Di dalam kamar, Veya langsung mengunci pintu. Ia menjatuhkan diri di lantai, memeluk lututnya, dan menangis sejadi-jadinya. Suara isak tangisnya tertahan hanya terdengar lirih di dalam kamar yang sunyi.
Ia meraih ponselnya berniat menghubungi Arka. Tapi ia urungkan. Veya tidak ingin Arka melihatnya selemah ini. Ia tidak ingin Arka tahu betapa menyedihkannya di rumah ini.
Veya mencoba menenangkan dirinya. Ia mengambil bingkai foto ibunya. "Bu, lihat aku dapat kado dari Arka," bisiknya, menunjukkan sisa kue yang ia bawa dari sekolah, "Dia baik banget, Bu. Dia yang membuat hari ini jadi spesial."
Ia memeluk foto ibunya berharap bisa merasakan kehangatan yang telah lama hilang. Ia memejamkan mata, membiarkan rasa sakit itu merayap di setiap sudut hatinya.
Setelah puas menangis, Veya bangkit. Ia mengambil kuenya dan memakannya sendirian di dalam kamar.
Sementara itu, di lantai bawah, Rania yang mendengar tangisan Veya, berjalan ke arah Ayah. "Ayah, Veya nangis, deh. Kayaknya dia sedih karena nggak kita kasih kado," kata Rania, terdengar sedikit merasa bersalah.
Ayah hanya menghela napas, "Sudahlah, Rania. Dia sudah dewasa. Lagi pula, dia kan tidak pernah minta apa-apa."
"Tapi, Ayah. Hari ini kan ulang tahun Veya," ucap Rania.
"Ayah tahu. Tapi, Ayah sudah pesan makan malam untuk kita. Nanti Ayah belikan Veya kado lain kali," jawab Ayah, kembali fokus pada ponselnya.
Rania terdiam. Ia tahu Ayah tidak akan pernah menempatkan Veya sebagai prioritas. Ia merasa sedikit bersalah, tapi tidak tahu harus berbuat apa.
Selama ini, ia hanya mengikuti pola yang sudah Ayah ciptakan. Ia selalu merasa menjadi anak emas, dan takut jika ia peduli pada Veya, posisinya akan tergantikan.
Malam itu, Veya mendengar Ayah dan Rania pergi. Mereka makan malam di restoran mewah, merayakan prestasi Rania. Veya hanya memandang dari balik jendela kamarnya. Ia tidak merasa marah hanya merasa kosong. Ia tahu ia tidak akan pernah menjadi bagian dari mereka.
Ia kembali ke mejanya, mengambil kertas dan pulpen. Veya mulai menulis. Ia menulis tentang semua yang ia rasakan. Tentang rasa sakit, kesepian, dan juga Arka.
Arka adalah satu-satunya sumber kebahagiaannya.
Other Stories
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...