Chapter 5 Perasaan Hancur Veya
Di kamar yang gelap, Veya menyelesaikan tulisannya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan dengan semua tulisan ini.
Namun, setidaknya, ia merasa sedikit lega. Ia merasa seperti telah menuangkan semua isi hatinya pada selembar kertas yang tak akan pernah menghakimi, dan meninggalkannya.
Keesokan paginya, Veya memutuskan untuk mencoba lagi. Ia melihat Ayah sedang sarapan sendirian. Rania sudah berangkat lebih dulu. Veya berjalan mendekat, lalu membawa secangkir teh hangat.
"Ayah ini tehnya," kata Veya pelan, meletakkannya di meja.
Sang Ayah mengangkat pandangannya dari koran, sejenak menatap Veya. "Terima kasih," ucapnya singkat, lalu kembali pada korannya.
Veya tidak pergi. Ia berdiri di sana, mengumpulkan keberanian. "Ayah kemarin Veya ulang tahun," ucap Veya, suaranya tercekat.
Hendra, sang Ayah, menaruh korannya. Ia menatap Veya dengan tatapan kosong. "Ayah tahu. Ayah sudah belikan kamu kado," ucapnya, tanpa ekspresi, "Ayah taruh di meja kamu."
Hati Veya sedikit menghangat. Ia merasa senang karena Ayah mengingatnya, meskipun hanya sebentar, "Makasih, Ayah."
"Sama-sama. Sekarang, Ayah harus pergi. Ayah ada rapat," kata Hendra, beranjak dari meja makan.
Veya hanya menatap punggung Ayah yang menjauh. Ia merasakan kekecewaan. Ia pikir akan mendapatkan lebih dari sekadar ucapan terima kasih yang dingin dan hadiah yang mungkin dibeli terburu-buru.
Veya kembali ke kamarnya, dan benar saja, ada sebuah kotak kecil di mejanya. Ia membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah gelang perak yang cantik.
Veya tahu, gelang ini adalah hadiah yang mahal. Tapi, entah mengapa, ia merasa kosong dan tidak menginginkan benda mewah. Ia hanya menginginkan perhatian dan kasih sayang.
Ia mengambil ponselnya, dan melihat pesan dari Arka.
"Veya, nanti malam, mau makan bakso di tempat biasa? Biar gue traktir. Sekalian kita rayain ulang tahun lo," isi pesan itu.
Veya tersenyum. Pesan itu terasa lebih berarti daripada gelang perak yang mahal. Ia merasa Arka benar-benar melihatnya dan peduli padanya, bukan karena kewajiban, tapi karena ketulusan.
Veya membalas pesan Arka, "Mau."
Malam itu, Veya tidak pergi bersama keluarganya. Ia memilih untuk pergi bersama Arka. Ia memilih untuk berada di tempat di mana ia merasa dihargai dan dicintai.
Veya sadar, keluarganya mungkin tak akan pernah berubah. Tapi, ia punya Arka, dan itu sudah lebih dari cukup.
****
Suatu sore, Veya pulang lebih awal dari sekolah karena merasa tidak enak badan. Sepanjang perjalanan pulang, kepalanya terasa sangat pusing. Ia memutuskan untuk istirahat sebentar di kamarnya sebelum memulai tugas rumah.
Saat melewati ruang tamu, ia mendengar suara Ayah dan Rania dari ruang kerja. Pintu ruang kerja sedikit terbuka, dan Veya bisa mendengar suara mereka dengan jelas. Ia berniat menyapa, tapi kata-kata Rania menghentikan langkahnya.
"Ayah, aku nggak tahu harus bilang apa. Veya semakin aneh akhir-akhir ini," bisik Rania, "Dia pacaran dengan Arka, anak pemilik perusahaan terkenal itu. Ayah tahu sendiri, Arka itu playboy."
"Arka?" tanya Ayah dengan nada datar, "Sudahlah, biarkan saja. Ayah tidak mau repot memikirkan dia. Lagi pula, Veya hanya aib. Dia tidak punya bakat, tidak punya prestasi yang bisa dibanggakan. Lebih baik dia mencari kesibukan sendiri daripada mengganggu Ayah."
Deg!
Jantung Veya seolah berhenti berdetak. Ia mundur beberapa langkah, seolah baru saja disiram air dingin.
Kata-kata itu menusuknya lebih dalam daripada pisau mana pun.
"Hanya aib. Tidak punya bakat. Tidak punya prestasi."
"Tapi Ayah, kemarin dia menang lomba sains," Rania mencoba membela.
"Itu hanya kebetulan, Rania. Ayah tahu dia tidak sepintar kamu. Kamu itu kebanggaan Ayah. Kamu adalah satu-satunya anak yang Ayah miliki," kata Ayah, dan kalimat itu memecah hati Veya menjadi kepingan-kepingan.
Tes! Tes!
Veya tidak menunggu lagi. Air matanya sudah tumpah membanjiri pipinya. Ia berlari keluar rumah dengan mengabaikan teriakan Rania yang memanggil namanya.
Ia tidak peduli ke mana ia akan pergi. Ia hanya ingin lari sejauh mungkin dari rumah ini, dan keluarga yang menganggapnya tidak ada.
Ia terus berlari, napasnya memburu, air mata tak berhenti mengalir.
Kring! Kriiing!
Ponselnya berdering, sebuah panggilan dari Arka. Veya mengabaikannya. Ia tidak bisa bicara. Ia terlalu hancur. Ia hanya terus berlari, hingga akhirnya ia jatuh terduduk di bangku taman. Ia terisak-isak, memeluk lututnya erat.
"Veya!"
Veya mengangkat kepalanya, dan melihat Arka berdiri di depannya, napasnya terengah-engah.
Wajah Arka terlihat panik. "Kenapa kamu lari? Kenapa nggak angkat telepon gue?" tanyanya, suaranya dipenuhi kekhawatiran.
Veya tidak menjawab. Ia hanya terus menangis. Arka duduk di sampingnya, lalu memeluk Veya erat, "Ada apa, Veya? Kenapa lo nangis?"
Veya hanya bisa menggeleng. Ia tidak sanggup bicara. Ia merasa sangat rapuh, sangat hancur.
Arka hanya memeluknya, membiarkan Veya meluapkan semua kesedihan yang sudah lama ia pendam.
"Gue di sini, Veya. Lo nggak sendirian," bisik Arka, dan kata-kata itu seolah menjadi satu-satunya pelampung di tengah badai yang melanda hati Veya.
Namun, setidaknya, ia merasa sedikit lega. Ia merasa seperti telah menuangkan semua isi hatinya pada selembar kertas yang tak akan pernah menghakimi, dan meninggalkannya.
Keesokan paginya, Veya memutuskan untuk mencoba lagi. Ia melihat Ayah sedang sarapan sendirian. Rania sudah berangkat lebih dulu. Veya berjalan mendekat, lalu membawa secangkir teh hangat.
"Ayah ini tehnya," kata Veya pelan, meletakkannya di meja.
Sang Ayah mengangkat pandangannya dari koran, sejenak menatap Veya. "Terima kasih," ucapnya singkat, lalu kembali pada korannya.
Veya tidak pergi. Ia berdiri di sana, mengumpulkan keberanian. "Ayah kemarin Veya ulang tahun," ucap Veya, suaranya tercekat.
Hendra, sang Ayah, menaruh korannya. Ia menatap Veya dengan tatapan kosong. "Ayah tahu. Ayah sudah belikan kamu kado," ucapnya, tanpa ekspresi, "Ayah taruh di meja kamu."
Hati Veya sedikit menghangat. Ia merasa senang karena Ayah mengingatnya, meskipun hanya sebentar, "Makasih, Ayah."
"Sama-sama. Sekarang, Ayah harus pergi. Ayah ada rapat," kata Hendra, beranjak dari meja makan.
Veya hanya menatap punggung Ayah yang menjauh. Ia merasakan kekecewaan. Ia pikir akan mendapatkan lebih dari sekadar ucapan terima kasih yang dingin dan hadiah yang mungkin dibeli terburu-buru.
Veya kembali ke kamarnya, dan benar saja, ada sebuah kotak kecil di mejanya. Ia membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah gelang perak yang cantik.
Veya tahu, gelang ini adalah hadiah yang mahal. Tapi, entah mengapa, ia merasa kosong dan tidak menginginkan benda mewah. Ia hanya menginginkan perhatian dan kasih sayang.
Ia mengambil ponselnya, dan melihat pesan dari Arka.
"Veya, nanti malam, mau makan bakso di tempat biasa? Biar gue traktir. Sekalian kita rayain ulang tahun lo," isi pesan itu.
Veya tersenyum. Pesan itu terasa lebih berarti daripada gelang perak yang mahal. Ia merasa Arka benar-benar melihatnya dan peduli padanya, bukan karena kewajiban, tapi karena ketulusan.
Veya membalas pesan Arka, "Mau."
Malam itu, Veya tidak pergi bersama keluarganya. Ia memilih untuk pergi bersama Arka. Ia memilih untuk berada di tempat di mana ia merasa dihargai dan dicintai.
Veya sadar, keluarganya mungkin tak akan pernah berubah. Tapi, ia punya Arka, dan itu sudah lebih dari cukup.
****
Suatu sore, Veya pulang lebih awal dari sekolah karena merasa tidak enak badan. Sepanjang perjalanan pulang, kepalanya terasa sangat pusing. Ia memutuskan untuk istirahat sebentar di kamarnya sebelum memulai tugas rumah.
Saat melewati ruang tamu, ia mendengar suara Ayah dan Rania dari ruang kerja. Pintu ruang kerja sedikit terbuka, dan Veya bisa mendengar suara mereka dengan jelas. Ia berniat menyapa, tapi kata-kata Rania menghentikan langkahnya.
"Ayah, aku nggak tahu harus bilang apa. Veya semakin aneh akhir-akhir ini," bisik Rania, "Dia pacaran dengan Arka, anak pemilik perusahaan terkenal itu. Ayah tahu sendiri, Arka itu playboy."
"Arka?" tanya Ayah dengan nada datar, "Sudahlah, biarkan saja. Ayah tidak mau repot memikirkan dia. Lagi pula, Veya hanya aib. Dia tidak punya bakat, tidak punya prestasi yang bisa dibanggakan. Lebih baik dia mencari kesibukan sendiri daripada mengganggu Ayah."
Deg!
Jantung Veya seolah berhenti berdetak. Ia mundur beberapa langkah, seolah baru saja disiram air dingin.
Kata-kata itu menusuknya lebih dalam daripada pisau mana pun.
"Hanya aib. Tidak punya bakat. Tidak punya prestasi."
"Tapi Ayah, kemarin dia menang lomba sains," Rania mencoba membela.
"Itu hanya kebetulan, Rania. Ayah tahu dia tidak sepintar kamu. Kamu itu kebanggaan Ayah. Kamu adalah satu-satunya anak yang Ayah miliki," kata Ayah, dan kalimat itu memecah hati Veya menjadi kepingan-kepingan.
Tes! Tes!
Veya tidak menunggu lagi. Air matanya sudah tumpah membanjiri pipinya. Ia berlari keluar rumah dengan mengabaikan teriakan Rania yang memanggil namanya.
Ia tidak peduli ke mana ia akan pergi. Ia hanya ingin lari sejauh mungkin dari rumah ini, dan keluarga yang menganggapnya tidak ada.
Ia terus berlari, napasnya memburu, air mata tak berhenti mengalir.
Kring! Kriiing!
Ponselnya berdering, sebuah panggilan dari Arka. Veya mengabaikannya. Ia tidak bisa bicara. Ia terlalu hancur. Ia hanya terus berlari, hingga akhirnya ia jatuh terduduk di bangku taman. Ia terisak-isak, memeluk lututnya erat.
"Veya!"
Veya mengangkat kepalanya, dan melihat Arka berdiri di depannya, napasnya terengah-engah.
Wajah Arka terlihat panik. "Kenapa kamu lari? Kenapa nggak angkat telepon gue?" tanyanya, suaranya dipenuhi kekhawatiran.
Veya tidak menjawab. Ia hanya terus menangis. Arka duduk di sampingnya, lalu memeluk Veya erat, "Ada apa, Veya? Kenapa lo nangis?"
Veya hanya bisa menggeleng. Ia tidak sanggup bicara. Ia merasa sangat rapuh, sangat hancur.
Arka hanya memeluknya, membiarkan Veya meluapkan semua kesedihan yang sudah lama ia pendam.
"Gue di sini, Veya. Lo nggak sendirian," bisik Arka, dan kata-kata itu seolah menjadi satu-satunya pelampung di tengah badai yang melanda hati Veya.
Other Stories
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...