November Kelabu

Reads
1.7K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 7 Diagnosis Yang Menghancurkan

Ruangan dokter terasa dingin. Suara dokter yang menjelaskan detail penyakit Veya terdengar seperti dengungan yang jauh.

Veya tidak bisa fokus. Yang ia tahu, kata-kata kanker otak telah merenggut semua yang baru saja ia bangun. Ia menatap kosong, air matanya tak lagi mengalir.

Seolah-olah, air mata pun tak sanggup lagi menampung rasa sakit yang ia rasakan.

Arka tidak melepaskan pelukan. Ia menggenggam tangan Veya erat, seolah mencoba menyalurkan seluruh kekuatannya. "Veya, dengerin aku. Ini bukan akhir," bisik Arka, suaranya bergetar. Ia menoleh ke arah dokter, "Dokter, apa yang harus kami lakukan? Apa Veya bisa sembuh?"

Dokter menjelaskan tentang pilihan pengobatan yaitu, kemoterapi, radiasi, atau operasi. Veya mendengarkan, tapi tak ada satu pun kata yang masuk ke otaknya. Ia hanya bisa memikirkan satu hal. Ia akan mati, dan meninggalkan Arka.

Di perjalanan pulang, Veya hanya terdiam.

Ia menatap keluar jendela, membiarkan Arka mengemudi dalam keheningan. "Arka," panggil Veya, suaranya begitu lirih.

"Ya, Sayang?" Arka menjawab, menoleh sekilas.

"Kita putus aja," kata Veya, tanpa menoleh.


Ciit!


Arka langsung menginjak rem, membuat mobil berhenti mendadak. Ia menatap Veya dengan mata terkejut, "Apa? Veya, kenapa?"

"Aku nggak mau ngerepotin kamu," jawab Veya, air matanya kembali tumpah, "Kamu anak orang kaya, most wanted, kamu punya masa depan yang cerah. Aku hanya aib. Aku nggak mau kamu terbebani."

Arka memegang kedua pipi Veya, memaksanya menatap matanya, "Veya, dengerin aku baik-baik. Kamu bukan beban. Kamu itu anugerah. Dan aku nggak akan ninggalin kamu. Nggak akan pernah. Kita lewatin ini semua bareng-bareng."

"Tapi aku akan sakit, Arka. Aku akan jadi jelek. Aku akan kehilangan rambutku. Aku nggak mau kamu lihat aku kayak gitu," Veya terisak, rasa takutnya terekspresikan sepenuhnya.

Arka memeluk Veya erat, menciumi puncak kepalanya, "Aku mencintai kamu, Veya. Bukan karena penampilanmu. Tapi karena kamu. Selamanya, aku akan tetap di sampingmu."

Mendengar itu, Veya kembali menangis. Ia tahu Arka tulus. Ia tahu Arka benar-benar mencintainya. Tapi rasa takutnya lebih besar. Ia takut Arka akan meninggalkannya, seperti yang selalu dilakukan orang lain.

Di bangku mobil yang dingin, Veya masih terisak di pelukan Arka. Kata-kata Arka, "Aku mencintaimu," berulang kali terngiang di telinganya, tapi rasa sakit dan ketakutan itu terlalu besar untuk ditutupi. Ia menatap Arka dengan mata sembap.

"Aku nggak mau, Arka. Kamu nggak bisa," lirih Veya, melepaskan pelukan Arka, "Aku nggak mau kamu terikat sama orang yang bakal mati. Aku nggak mau kamu lihat aku sakit."

Arka memegang tangan Veya. "Veya, dengerin gue. Semua orang bakal mati, Sayang. Entah itu hari ini atau besok. Gue cuma mau habiskan sisa hidup gue sama lo. Gue nggak peduli lo sakit, gue nggak peduli lo bakal kehilangan rambut. Gue peduli sama lo. Itu aja," jawab Arka, matanya memancarkan ketulusan yang tak tergoyahkan.

Veya kembali menangis, kali ini air mata yang tumpah adalah air mata haru. Ia tidak menyangka ada orang yang bisa mencintainya sebesar ini. Ia tidak menyangka ada orang yang mau menemaninya dalam menghadapi badai yang mengerikan ini.

"Makasih, Arka," bisik Veya, memeluk Arka lagi, "Makasih karena udah milih aku."

Arka membalas pelukan Veya erat. "Selamanya, Veya. Selamanya," ucap Arka.

Di sisi lain, di rumah Veya, Rania melihat Veya dan Arka di dalam mobil. Ia bisa melihat Veya menangis, dan Arka yang memeluknya. Ia terdiam. Ada rasa bersalah yang menggerogoti hatinya. Ia tahu Veya tidak pernah berbohong soal pusing dan mual. Ia tahu Veya sakit.

Tapi, ia mengabaikannya. Rania merasa menyesal. Ia ingin menghampiri Veya, memeluknya, dan meminta maaf. Tapi, ia terlalu takut untuk mengakui bahwa ia telah salah.

Sementara itu, Veya dan Arka berjanji untuk berjuang bersama. Mereka akan memulai pengobatan kemoterapi. Arka akan selalu ada di sisi Veya. Ia akan menemaninya di setiap sesi kemoterapi, memastikan Veya tidak merasa sendirian.

Namun, Veya tahu, perjalanannya tidak akan mudah. Ia harus kuat. Ia harus berjuang. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk Arka, orang yang telah mengajarinya arti cinta, dan telah menjadi satu-satunya tempat bersandarnya.

****

Di kamar rawat yang berbau obat, Veya memejamkan mata. Pelukan Arka adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa nyata.

Perkataan dokter tentang kemoterapi, radiasi, dan operasi masih berputar di kepalanya, menakutkan, seperti mimpi buruk yang tidak ingin ia bangunkan. Namun, kehadiran Arka di sisinya seperti jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam.

"Aku takut," bisik Veya.

Arka mencium keningnya, "Ada aku, Veya. Kita lewatin ini semua bareng-bareng."

Saat Veya membuka mata, ia melihat Arka sedang menatapnya. Mata Arka memancarkan kesedihan, tapi juga tekad yang kuat.

Arka menyeka air mata yang membasahi pipi Veya, "Veya, mulai sekarang, jangan lagi takut. Kamu punya aku, dan kita akan lawan penyakit ini. Aku janji, aku akan selalu di sini."

Tiba-tiba, Arka menggerakkan tangannya ke wajah Veya. "Sini, ada debu," katanya, menyeka debu yang menempel di pipi Veya. Pandangan mereka bertemu, dan entah mengapa momen itu terasa begitu spesial.

"Arka, makasih ya," bisik Veya, suaranya bergetar.

"Makasih untuk apa?" tanya Arka.

"Untuk semuanya.Telah peduli untuk melihat aku," jawab Veya.

Arka tersenyum. "Veya, lo bukan bayangan. Lo ada. Dan sekarang, lo punya gue."

Other Stories
Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

Sinopsis

hdhjjfdseetyyygfd ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Download Titik & Koma