Chapter 3 Dua Dunia Yang Berbeda
Sejak kejadian di gudang, hubungan Veya dan Arka semakin dekat. Arka tidak hanya mengantar dan menjemput Veya, tetapi juga menjadi pendengar setianya.
Setiap Veya merasa sedih karena perlakuan keluarganya, ia hanya perlu mengirim pesan pada Arka, dan Arka akan datang dengan seulas senyum dan tingkah konyolnya.
Suatu hari, saat jam istirahat, Arka mengajak Veya ke kantin. "Lo harus cobain bakso di sini, Veya. Rasanya nggak ada lawan!" seru Arka semangat.
Veya ragu. Kantin adalah tempat yang paling ramai di sekolah, tempat di mana semua mata akan tertuju pada Arka. "Nggak usah, Arka. Aku di sini aja. Kamu ke kantin duluan," tolak Veya. Ia tak mau menjadi pusat perhatian, apalagi ketika ia hanya berdiri di samping Arka.
"Ayolah, Veya. Gue temenin. Lo nggak perlu khawatir," bujuk Arka, "Lagian, gue udah lari dari kejaran para fans yang minta nomor WhatsApp."
Arka memasang wajah dramatis, membuat Veya tertawa.
Veya akhirnya setuju. Mereka berjalan beriringan menuju kantin. Benar saja, langkah mereka langsung menarik perhatian.
Beberapa siswi menatap Veya dengan pandangan iri, sementara beberapa siswa lain menatap Arka dengan pandangan kagum. Veya merasa tidak nyaman, tapi Arka seolah tidak peduli.
Ia terus bercanda, membuat Veya melupakan tatapan-tatapan itu.
"Sini, Veya, duduk di sini. Gue pesenin bakso," kata Arka, menuntun Veya ke sebuah meja, "Lo mau tahu rahasia makan bakso enak? Lo harus tambahin saus super pedas, biar keringat lo keluar. Katanya, itu bisa ngilangin stres!"
Veya tertawa lagi, "Kamu aneh-aneh aja, Arka."
Saat mereka sedang makan, seorang gadis cantik dengan rambut dikuncir kuda mendekati meja mereka. "Arka, nanti sore kamu free, kan?" tanyanya manja, "Aku mau ajak kamu nonton film baru."
"Maaf, Vira. Gue ada acara sama Veya," jawab Arka singkat tanpa memandang Vira.
Wajah Vira berubah masam. Ia menatap Veya dari atas ke bawah, seolah menilai, "Oh... Veya. Aku nggak tahu kalau kamu sekarang main sama cewek aneh ini, Arka." Vira tersenyum sinis.
Mendengar itu, Veya langsung menunduk. Ia merasa malu dan sakit hati. Namun, sebelum ia sempat membalas, Arka sudah lebih dulu menyahut, "Jaga ucapan lo, Vira. Veya bukan cewek aneh. Dia pacar gue," ucap Arka tiba-tiba, membuat Veya dan Vira terkejut.
Vira terdiam, rahangnya mengeras, tangannya mengepal, "Terserah kamu deh, Arka. Ayo, teman-teman, kita pergi!" Vira beranjak pergi dengan kesal, diikuti oleh teman-temannya.
Veya menatap Arka dengan mata membulat, "Arka, kamu kenapa bilang gitu?"
Arka menatap mata Veya. "Veya, lo nggak pantes dihina kayak gitu. Gue cuma bilang yang sebenarnya," jawabnya santai, "Dan soal pacar lo nggak keberatan kan kalau gue panggil lo pacar gue mulai sekarang?"
Veya terdiam. Di satu sisi, ia merasa terkejut, namun di sisi lain, ada rasa bahagia yang meledak-ledak di dalam hatinya. Ia akhirnya menemukan tempatnya. Ia akhirnya menemukan seseorang yang mau mengakuinya.
Veya terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia menatap Arka dengan mata yang membulat, mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi. Arka baru saja menyebutnya pacar.
Sebuah kata yang terasa begitu asing, namun juga sangat membahagiakan.
"Arka, kamu kenapa bilang gitu?" tanya Veya, suaranya bergetar.
Arka menyendok baksonya, lalu menatap Veya dengan santai. "Veya, kamu nggak pantas dihina kayak gitu. Vira, dia cuma cemburu karena kamu bisa dekat sama aku," jawabnya, seolah itu hal yang paling normal di dunia.
"Tapi, soal pacar?"
"Ya, soal pacar. Kamu nggak keberatan, kan? Kalau kamu keberatan, aku nggak akan bilang begitu lagi," potong Arka, ekspresinya berubah serius.
Hati Veya terasa hangat. Ia tidak pernah membayangkan akan ada orang yang peduli padanya seperti ini.
Ayah dan kakaknya bahkan tak pernah repot-repot bertanya bagaimana kabarnya. Tapi Arka, orang yang baru dikenalnya begitu tulus melindunginya.
"Aku nggak keberatan, Arka," jawab Veya pelan, pipinya merona.
Senyum Arka langsung merekah, senyum yang begitu tulus.
"Bagus kalau begitu. Jadi, mulai sekarang, kamu pacar aku, ya," ucap Arka, seraya mengulurkan tangannya dan mengacak rambut Veya pelan.
Mulai saat itu, hubungan Veya dan Arka berubah. Arka benar-benar memperlakukan Veya sebagai pacarnya. Ia sering mengirimkan pesan lucu, menelepon Veya untuk memastikan ia sudah makan, dan bahkan membawakan makanan ke rumah Veya saat gadis itu bilang sedang tidak enak badan.
Suatu hari, Veya sedang mengerjakan tugas di perpustakaan. Arka duduk di hadapannya, memainkan ponselnya sambil menunggu Veya selesai.
Tiba-tiba, ponsel Arka bergetar. Ada pesan masuk dari ayahnya.
"Ayahmu menelepon, Arka?" tanya Veya.
"Bukan, Veya. Ayahku menyuruhku datang ke rumah temannya. Mereka mau makan malam bersama," jawab Arka.
Veya mengangguk mengerti, "Kalau begitu, kamu pergi saja, Arka. Nggak apa-apa."
"Nggak. Aku mau nungguin kamu sampai selesai," ucap Arka.
Veya tersenyum, "Tapi, kamu harus bertemu ayahmu."
"Nggak apa-apa, Veya. Ayahku itu sibuk. Dia tidak akan peduli aku datang atau tidak," Arka berujar dengan nada datar yang membuat Veya terkejut.
Veya menatap Arka. Di balik sikap ceria dan konyolnya, ia bisa melihat ada kesedihan yang tersembunyi.
Ternyata, Arka juga memiliki masalah dengan keluarganya. Veya menyadari bahwa mereka berdua memiliki kesamaan, yaitu sama-sama merasa kesepian meskipun memiliki keluarga yang lengkap.
"Arka kenapa kamu bilang begitu?" Veya bertanya dengan hati-hati.
Arka menghela napas. "Ayahku punya banyak pekerjaan. Dia punya bisnis besar. Dia punya segalanya, kecuali waktu untukku," jawab Arka, menatap Veya, "Dia hanya peduli pada uang. Dia bahkan nggak peduli kalau aku pacaran dengan siapa."
Hati Veya terasa sakit. Ia tahu bagaimana rasanya diabaikan. Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Arka.
Arka menoleh dan menatap tangan mereka yang bersatu. Veya tidak berkata apa-apa. Ia hanya ingin Arka tahu bahwa ia mengerti perasaannya.
"Makasih, Veya," bisik Arka, senyumnya tidak sampai ke mata, "Sekarang, aku nggak sendirian."
Setiap Veya merasa sedih karena perlakuan keluarganya, ia hanya perlu mengirim pesan pada Arka, dan Arka akan datang dengan seulas senyum dan tingkah konyolnya.
Suatu hari, saat jam istirahat, Arka mengajak Veya ke kantin. "Lo harus cobain bakso di sini, Veya. Rasanya nggak ada lawan!" seru Arka semangat.
Veya ragu. Kantin adalah tempat yang paling ramai di sekolah, tempat di mana semua mata akan tertuju pada Arka. "Nggak usah, Arka. Aku di sini aja. Kamu ke kantin duluan," tolak Veya. Ia tak mau menjadi pusat perhatian, apalagi ketika ia hanya berdiri di samping Arka.
"Ayolah, Veya. Gue temenin. Lo nggak perlu khawatir," bujuk Arka, "Lagian, gue udah lari dari kejaran para fans yang minta nomor WhatsApp."
Arka memasang wajah dramatis, membuat Veya tertawa.
Veya akhirnya setuju. Mereka berjalan beriringan menuju kantin. Benar saja, langkah mereka langsung menarik perhatian.
Beberapa siswi menatap Veya dengan pandangan iri, sementara beberapa siswa lain menatap Arka dengan pandangan kagum. Veya merasa tidak nyaman, tapi Arka seolah tidak peduli.
Ia terus bercanda, membuat Veya melupakan tatapan-tatapan itu.
"Sini, Veya, duduk di sini. Gue pesenin bakso," kata Arka, menuntun Veya ke sebuah meja, "Lo mau tahu rahasia makan bakso enak? Lo harus tambahin saus super pedas, biar keringat lo keluar. Katanya, itu bisa ngilangin stres!"
Veya tertawa lagi, "Kamu aneh-aneh aja, Arka."
Saat mereka sedang makan, seorang gadis cantik dengan rambut dikuncir kuda mendekati meja mereka. "Arka, nanti sore kamu free, kan?" tanyanya manja, "Aku mau ajak kamu nonton film baru."
"Maaf, Vira. Gue ada acara sama Veya," jawab Arka singkat tanpa memandang Vira.
Wajah Vira berubah masam. Ia menatap Veya dari atas ke bawah, seolah menilai, "Oh... Veya. Aku nggak tahu kalau kamu sekarang main sama cewek aneh ini, Arka." Vira tersenyum sinis.
Mendengar itu, Veya langsung menunduk. Ia merasa malu dan sakit hati. Namun, sebelum ia sempat membalas, Arka sudah lebih dulu menyahut, "Jaga ucapan lo, Vira. Veya bukan cewek aneh. Dia pacar gue," ucap Arka tiba-tiba, membuat Veya dan Vira terkejut.
Vira terdiam, rahangnya mengeras, tangannya mengepal, "Terserah kamu deh, Arka. Ayo, teman-teman, kita pergi!" Vira beranjak pergi dengan kesal, diikuti oleh teman-temannya.
Veya menatap Arka dengan mata membulat, "Arka, kamu kenapa bilang gitu?"
Arka menatap mata Veya. "Veya, lo nggak pantes dihina kayak gitu. Gue cuma bilang yang sebenarnya," jawabnya santai, "Dan soal pacar lo nggak keberatan kan kalau gue panggil lo pacar gue mulai sekarang?"
Veya terdiam. Di satu sisi, ia merasa terkejut, namun di sisi lain, ada rasa bahagia yang meledak-ledak di dalam hatinya. Ia akhirnya menemukan tempatnya. Ia akhirnya menemukan seseorang yang mau mengakuinya.
Veya terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia menatap Arka dengan mata yang membulat, mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi. Arka baru saja menyebutnya pacar.
Sebuah kata yang terasa begitu asing, namun juga sangat membahagiakan.
"Arka, kamu kenapa bilang gitu?" tanya Veya, suaranya bergetar.
Arka menyendok baksonya, lalu menatap Veya dengan santai. "Veya, kamu nggak pantas dihina kayak gitu. Vira, dia cuma cemburu karena kamu bisa dekat sama aku," jawabnya, seolah itu hal yang paling normal di dunia.
"Tapi, soal pacar?"
"Ya, soal pacar. Kamu nggak keberatan, kan? Kalau kamu keberatan, aku nggak akan bilang begitu lagi," potong Arka, ekspresinya berubah serius.
Hati Veya terasa hangat. Ia tidak pernah membayangkan akan ada orang yang peduli padanya seperti ini.
Ayah dan kakaknya bahkan tak pernah repot-repot bertanya bagaimana kabarnya. Tapi Arka, orang yang baru dikenalnya begitu tulus melindunginya.
"Aku nggak keberatan, Arka," jawab Veya pelan, pipinya merona.
Senyum Arka langsung merekah, senyum yang begitu tulus.
"Bagus kalau begitu. Jadi, mulai sekarang, kamu pacar aku, ya," ucap Arka, seraya mengulurkan tangannya dan mengacak rambut Veya pelan.
Mulai saat itu, hubungan Veya dan Arka berubah. Arka benar-benar memperlakukan Veya sebagai pacarnya. Ia sering mengirimkan pesan lucu, menelepon Veya untuk memastikan ia sudah makan, dan bahkan membawakan makanan ke rumah Veya saat gadis itu bilang sedang tidak enak badan.
Suatu hari, Veya sedang mengerjakan tugas di perpustakaan. Arka duduk di hadapannya, memainkan ponselnya sambil menunggu Veya selesai.
Tiba-tiba, ponsel Arka bergetar. Ada pesan masuk dari ayahnya.
"Ayahmu menelepon, Arka?" tanya Veya.
"Bukan, Veya. Ayahku menyuruhku datang ke rumah temannya. Mereka mau makan malam bersama," jawab Arka.
Veya mengangguk mengerti, "Kalau begitu, kamu pergi saja, Arka. Nggak apa-apa."
"Nggak. Aku mau nungguin kamu sampai selesai," ucap Arka.
Veya tersenyum, "Tapi, kamu harus bertemu ayahmu."
"Nggak apa-apa, Veya. Ayahku itu sibuk. Dia tidak akan peduli aku datang atau tidak," Arka berujar dengan nada datar yang membuat Veya terkejut.
Veya menatap Arka. Di balik sikap ceria dan konyolnya, ia bisa melihat ada kesedihan yang tersembunyi.
Ternyata, Arka juga memiliki masalah dengan keluarganya. Veya menyadari bahwa mereka berdua memiliki kesamaan, yaitu sama-sama merasa kesepian meskipun memiliki keluarga yang lengkap.
"Arka kenapa kamu bilang begitu?" Veya bertanya dengan hati-hati.
Arka menghela napas. "Ayahku punya banyak pekerjaan. Dia punya bisnis besar. Dia punya segalanya, kecuali waktu untukku," jawab Arka, menatap Veya, "Dia hanya peduli pada uang. Dia bahkan nggak peduli kalau aku pacaran dengan siapa."
Hati Veya terasa sakit. Ia tahu bagaimana rasanya diabaikan. Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Arka.
Arka menoleh dan menatap tangan mereka yang bersatu. Veya tidak berkata apa-apa. Ia hanya ingin Arka tahu bahwa ia mengerti perasaannya.
"Makasih, Veya," bisik Arka, senyumnya tidak sampai ke mata, "Sekarang, aku nggak sendirian."
Other Stories
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...