Chapter 11 Veyaa
November, tepat bulan kelahiran Veya. Ia bukan untuk merayakan ulang tahun secara meriah, namun di hadapkan dengan ruang operasi yang steril, Veya memejamkan mata. Ia menggenggam erat tangan Arka yang menggenggamnya dari luar pintu. Di sisi lain, Ayah dan Rania berdiri, wajah mereka pucat penuh ketakutan. Mereka semua tahu, ini adalah pertaruhan terakhir.
"Aku mencintaimu, Arka," bisik Veya, sebelum perawat menyuntikkan obat bius.
"Aku juga mencintaimu, Veya. Selamanya," jawab Arka, mencium kening Veya.
Operasi berlangsung selama berjam-jam. Arka, Ayah, dan Rania menunggu dengan cemas.
Hati mereka berdebar kencang, berharap Veya bisa bertahan. Namun, di tengah operasi, lampu di atas pintu ruang operasi berkedip-kedip, lalu padam. Seorang dokter keluar dengan wajah muram.
"Maaf ... kami sudah berusaha. Tapi tumornya terlalu besar. Kami tidak bisa menyelamatkan Veya," ucap dokter itu.
"Apa?!"
"TIDAK! TIDAK MUNGKIN!"
"Veyaaa ..."
"Veya, Maafin Kakak."
"Veya, Maafin Ayah."
Dunia Arka, Ayah, dan Rania runtuh. Tangisan pilu Rania memecah keheningan. Ayah jatuh terduduk, air mata mengalir deras dari matanya. Dan Arka, ia hanya terdiam. Ia menatap kosong ke pintu, tidak percaya Veya telah pergi. Ia kehilangan satu-satunya tempat bersandar.
****
Tujuh tahun kemudian ...
Ayah kini menjadi relawan di yayasan kanker anak, mengenang Veya dengan setiap tindakan baiknya.
Rania yang dulunya egois, kini menjadi dokter. Ia mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak yang menderita kanker, berharap bisa menebus kesalahannya di masa lalu.
Dan Arka, ia tidak pernah melupakan Veya. Ia mendirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Veya untuk membantu anak-anak penderita kanker agar tidak merasa sendirian.
Ia tahu, Veya tidak dapat bertahan, tetapi ia dapat membuat Veya hidup selamanya dalam kenangan orang-orang.
Arka, seorang pria dewasa, berjalan di taman tempat dulu memeluk Veya saat dalam keadaan hatinya hancur. Ia duduk di bangku yang sama. Ponselnya berdering.
Ting!
Pesan masuk dari Ayah Veya, "Arka, jangan lupa makan malam di rumah. Rania sudah memasak makanan kesukaanmu."
Arka tersenyum. Ia tidak kehilangan Veya.
Ia kehilangan sosok Veya, tapi ia mendapatkan keluarga.
Ia mendapatkan Ayah, dan Rania. Mereka kini menjadi keluarganya. Dan Veya akan selalu hidup di hati mereka semua.
Cinta itu bukan tentang seberapa banyak yang kamu berikan, tapi seberapa tulus kamu menerimanya, bahkan saat seluruh dunia menolakmu.
_TAMAT_
"Aku mencintaimu, Arka," bisik Veya, sebelum perawat menyuntikkan obat bius.
"Aku juga mencintaimu, Veya. Selamanya," jawab Arka, mencium kening Veya.
Operasi berlangsung selama berjam-jam. Arka, Ayah, dan Rania menunggu dengan cemas.
Hati mereka berdebar kencang, berharap Veya bisa bertahan. Namun, di tengah operasi, lampu di atas pintu ruang operasi berkedip-kedip, lalu padam. Seorang dokter keluar dengan wajah muram.
"Maaf ... kami sudah berusaha. Tapi tumornya terlalu besar. Kami tidak bisa menyelamatkan Veya," ucap dokter itu.
"Apa?!"
"TIDAK! TIDAK MUNGKIN!"
"Veyaaa ..."
"Veya, Maafin Kakak."
"Veya, Maafin Ayah."
Dunia Arka, Ayah, dan Rania runtuh. Tangisan pilu Rania memecah keheningan. Ayah jatuh terduduk, air mata mengalir deras dari matanya. Dan Arka, ia hanya terdiam. Ia menatap kosong ke pintu, tidak percaya Veya telah pergi. Ia kehilangan satu-satunya tempat bersandar.
****
Tujuh tahun kemudian ...
Ayah kini menjadi relawan di yayasan kanker anak, mengenang Veya dengan setiap tindakan baiknya.
Rania yang dulunya egois, kini menjadi dokter. Ia mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak yang menderita kanker, berharap bisa menebus kesalahannya di masa lalu.
Dan Arka, ia tidak pernah melupakan Veya. Ia mendirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Veya untuk membantu anak-anak penderita kanker agar tidak merasa sendirian.
Ia tahu, Veya tidak dapat bertahan, tetapi ia dapat membuat Veya hidup selamanya dalam kenangan orang-orang.
Arka, seorang pria dewasa, berjalan di taman tempat dulu memeluk Veya saat dalam keadaan hatinya hancur. Ia duduk di bangku yang sama. Ponselnya berdering.
Ting!
Pesan masuk dari Ayah Veya, "Arka, jangan lupa makan malam di rumah. Rania sudah memasak makanan kesukaanmu."
Arka tersenyum. Ia tidak kehilangan Veya.
Ia kehilangan sosok Veya, tapi ia mendapatkan keluarga.
Ia mendapatkan Ayah, dan Rania. Mereka kini menjadi keluarganya. Dan Veya akan selalu hidup di hati mereka semua.
Cinta itu bukan tentang seberapa banyak yang kamu berikan, tapi seberapa tulus kamu menerimanya, bahkan saat seluruh dunia menolakmu.
_TAMAT_
Other Stories
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...