November Kelabu

Reads
1.7K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 6 Gejala Awal Yang Mencurigakan

Setelah kejadian itu, Veya menjalani hidupnya dengan lebih tenang. Ia tidak lagi berusaha mencari perhatian Ayah dan Rania. Ia tahu tempatnya adalah di sisi Arka.

Mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama, entah itu di perpustakaan, kafe, atau sekadar berjalan-jalan di taman. Di samping Arka, Veya merasa utuh dan dicintai.

Namun, di tengah kebahagiaan yang baru saja ia temukan, gejala aneh mulai muncul. Awalnya hanya pusing biasa. Veya mengira itu karena kelelahan, jadi ia hanya meminum obat pereda nyeri. Tapi pusing itu semakin sering datang, lebih parah dari sebelumnya. Kadang, pandangannya menjadi kabur dan ia merasa mual hebat, terutama saat ia makan.

Suatu sore, saat Veya sedang mengerjakan tugas di perpustakaan bersama Arka, kepalanya terasa berdenyut sangat kencang. Ia mencoba menahannya, tapi rasa sakit itu begitu kuat hingga ia tak bisa fokus.

Arka yang melihat Veya memegangi kepalanya, bertanya khawatir, "Veya, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali."

Veya mencoba tersenyum, "Nggak apa-apa, Arka. Aku cuma pusing sedikit."

"Pusing sedikit? Kamu pucat banget. Udah berapa hari kayak gini?" Arka bertanya, memegang tangan Veya yang terasa dingin.

Veya tidak menjawab. Ia hanya menggeleng. Ia tidak ingin Arka khawatir. Ia tidak ingin Arka terbebani oleh kondisinya.

Tiba-tiba, pandangan Veya mengabur. Telinganya berdengung, dan ia merasa seolah dunia berputar. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya terlalu lemah. Veya jatuh, dan kesadarannya menghilang.


BRUK!


Arka panik. Ia langsung mengangkat tubuh Veya dan membawanya keluar dari perpustakaan. "Veya! Bangun! Veya!" panggilnya, tapi Veya tidak memberikan respons.

Arka segera membawa Veya ke UKS sekolah. Guru UKS memeriksa Veya. "Dia pingsan karena kelelahan, mungkin kurang istirahat," kata guru UKS, "Biarkan dia istirahat di sini. Kamu bisa kembali ke kelas."

Namun, Arka menolak. "Nggak, Bu. Saya mau jaga Veya. Dia butuh saya," jawab Arka, nadanya penuh ketegasan.

Guru UKS menghela napas, "Baiklah, Arka. Tapi jangan sampai bolos pelajaran lagi."

Arka mengangguk. Ia duduk di samping ranjang Veya, menggenggam tangannya erat. Ia menatap Veya yang terbaring tak sadarkan diri, dan hatinya terasa hancur. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ini bukan hanya kelelahan biasa.

Arka membelai rambut Veya. "Veya, cepat bangun. Gue ada di sini," bisiknya pelan. Ia tidak akan membiarkan Veya sendirian, tidak akan pernah. Ia bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Veya.

****

Pagi menjelang, dan Veya perlahan membuka matanya. Ia merasakan kepalanya masih berdenyut, namun Arka yang masih memegang tangannya dengan memberi kekuatan. Veya mencoba tersenyum, meski bibirnya terasa kering.

"Arka, kenapa kamu di sini?" bisik Veya.

"Gue nungguin lo. Gue nggak mau lo sendirian," jawab Arka, menatap Veya dengan tatapan lega, "Kenapa lo nggak bilang kalau lo sakit, Veya?"

Air mata Veya mengalir. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya lagi. Ia merasa kondisinya semakin memburuk, "Aku takut, Arka. Aku nggak mau kamu khawatir."

"Lo pikir gue nggak khawatir?" Arka membalas, suaranya dipenuhi emosi, "Gue panik setengah mati. Kenapa lo harus menanggung semuanya sendirian? Kita pacaran, Veya. Kita itu tim. Gue ada buat lo."

Veya tak bisa menahan isak tangisnya. Ia memeluk Arka erat, "Aku nggak mau kamu tahu, lalu kamu pergi ..."

"Gue nggak akan pergi, Veya. Nggak akan pernah," Arka membalas pelukan Veya, mencium keningnya, "Sekarang, kita ke dokter, ya? Kita periksa, biar lo sembuh. Gue akan temenin lo. Gue akan selalu ada di samping lo."

Veya mengangguk. Ia tahu ia tidak bisa menutupi semua ini lagi. Ia membutuhkan Arka. Ia membutuhkan seseorang untuk menemaninya.

Setelah Veya merasa lebih baik, Arka membawanya ke rumah sakit. Mereka berjalan beriringan.

Veya merasa cemas, tapi Arka selalu menggenggam tangannya, memberinya kekuatan.

Di rumah sakit, Veya menjalani serangkaian pemeriksaan. Ia merasakan sakit, ia menangis, tapi Arka selalu ada. Ia menghapus air mata Veya, membisikkan kata-kata penyemangat, dan memastikan Veya tidak merasa sendirian.

Setelah serangkaian pemeriksaan, Veya dan Arka menunggu di ruang tunggu. Veya terlihat gelisah, menggenggam tangan Arka erat-erat.

Arka bisa merasakan tangan Veya yang dingin dan berkeringat, tanda kegelisahan yang sama seperti yang ia rasakan.

"Nggak apa-apa, Veya. Semuanya akan baik-baik saja," bisik Arka, mencoba menenangkan.

"Arka, aku takut," Veya membalas, suaranya bergetar, "Bagaimana kalau aku sakit parah?"

Arka mengusap kepala Veya. "Apapun hasilnya, kita hadapi bersama. Aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu," ucap Arka.

Beberapa menit kemudian, seorang perawat memanggil nama Veya. Veya dan Arka beranjak, dan masuk ke ruang dokter.

Dokter mempersilakan mereka duduk, lalu menatap Arka dan Veya dengan tatapan prihatin, "Sebelumnya, saya ingin bertanya, apakah Anda sudah siap dengan hasilnya?"

Veya hanya bisa mengangguk, ia menahan napasnya. Arka menggenggam tangan Veya erat.

Dokter menarik napas panjang, "Berdasarkan hasil MRI dan tes darah, kami menemukan ada tumor di otak Anda, Nona Veya."


Deg!


Jantung Veya seakan berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya terasa sunyi. Ia hanya bisa mendengar suara Arka yang terkejut, "Tumor?"

"Ya. Tapi jangan khawatir, ini masih bisa ditangani," ujar dokter, "Tumor ini bersifat ganas, jadi kita harus segera melakukan pengobatan."

"Kanker otak?" Veya berucap, suaranya begitu lirih. Wajahnya pucat, air mata yang selama ini ia tahan, akhirnya tumpah membasahi pipi.

Dokter mengangguk, "Ya, kanker otak stadium dua."

Veya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap kosong ke depan. Hidupnya, yang baru saja ia rasakan, seolah ditarik paksa darinya. Ia merasa hancur, dan semua harapan yang ia bangun bersama Arka, kini terasa sia-sia.

Arka, yang tadinya terdiam, kini memeluk Veya erat. Ia juga terkejut, ia juga takut. Tapi ia tahu, Veya lebih butuh dirinya sekarang. Ia harus kuat untuk Veya. "Veya kita lawan, ya? Kita pasti bisa lewatin ini semua," bisik Arka, menciumi puncak kepala Veya.

Other Stories
I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Viral

Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...

Kala Kisah Menjadi Cahaya

seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Download Titik & Koma