Chapter 5 Kurir VS Sarjana
Beberapa hari berlalu. Nyak masih belum menyerah mencari calon mantu. Sementara Alina sudah pasrah. Dia lebih sering menghabiskan waktu di teras, pura-pura membaca buku tebal, padahal matanya terus mengawasi gang depan.
Tiba-tiba, motor Reihan datang lagi. Kali ini suaranya lebih berisik dari biasanya. Reihan turun, membawa dua kotak paket besar, dan sebuah botol minum.
Reihan, "Permisi, Bu. Paket lagi!"
Nyak keluar rumah dengan wajah jutek, "Reihan, kamu ini! Setiap hari datang, Nyak jadi curiga. Jangan-jangan kamu ini sales paket ya?"
Reihan tertawa, "Bukan, Bu. Ini memang paket dari orang-orang. Saya kan cuma kurir. Terus, ini ada paket khusus buat Ibu. Dari Pak Herman."
Nyak matanya langsung berbinar, "Herman? Herman si Durian?"
Reihan mengangguk, "Iya, Bu. Dia kirim paket berisi durian lagi. Tapi kali ini duriannya sudah dikupas. Biar nggak meledak lagi di jalan."
Alina yang mendengar, langsung terbahak. Dia membayangkan betapa ngenesnya Herman, rela mengupas durian satu per satu demi Nyak.
Nyak mengambil paket durian, wajahnya sumringah, "Ya ampun, Herman baik sekali! Reihan, kamu mau durian?"
Reihan, "Makasih, Bu. Tapi saya alergi."
Alina langsung memandang Reihan. Dia tidak percaya. Reihan alergi durian juga. Alina menatap Reihan dengan pandangan, "Kamu, kok mirip gue."
Alina bertanya pada Reihan, "Serius alergi?"
Reihan, "Iya, Mbak. Kalau saya makan durian, muka saya langsung gatal-gatal. Pernah dulu makan, muka saya meledak. Ya, nggak meledak sih, cuma bengkak aja kayak kena lebah."
Nyak yang mendengar langsung melotot. Dia tidak menyangka ada orang yang alergi durian juga.
Nyak, "Ya ampun. Ada-ada saja."
Tiga abang Alina, Rahmat, Ridwan, dan Rizky, keluar dari rumah. Mereka melihat Alina dan Reihan sedang mengobrol. Rahmat langsung berbisik pada adik-adiknya.
Rahmat, "Kayaknya si Alina suka sama kurir itu. Kita harus bikin dia kapok."
Ridwan, "Gimana caranya, Bang?"
Rahmat, "Kita gangguin. Biar si kurir ini takut, terus nggak mau lagi deketin Alina."
Tiga abang itu langsung mendekat. Ridwan sudah siap dengan joran pancingnya.
Ridwan, "Eh, Mas Kurir. Sini, duduk di sini. Udah lama nggak lihat Mas. Mau mancing nggak? Kolam tetangga lagi banyak ikannya."
Reihan, "Aduh, maaf, Mas. Saya harus buru-buru. Masih banyak paket yang harus saya antar."
Rizky, "Mas Kurir, Mas kan kurir, ya? Kalau ada paketan ke hati adek saya, itu paketnya udah sampai atau belum?"
Reihan hanya bisa tersenyum canggung. Dia melihat Alina yang matanya sudah melotot memberi isyarat, "Pergi sana sebelum mereka makin gila."
Reihan, "Aduh, Mas. Kalau paket ke hati itu nggak bisa di-tracking. Cuma bisa dirasakan. Saya pamit dulu ya, Bu, Mbak. Ini paketnya sudah saya kasihkan semua."
Reihan langsung naik ke motornya dan pergi. Nyak dan abang-abangnya hanya bisa menatap kepergian Reihan. Rahmat langsung memeluk Alina.
Rahmat, "Lin, kok kamu deket-deket sama kurir? Abang nggak mau, ya. Kamu itu sarjana. Jangan sama kurir!"
Alina mengangkat bahunya, "Terus kenapa? Kurir juga manusia! Daripada cowok aneh-aneh yang Nyak jodohin!"
Nyak, "Iya, benar. Daripada sama cowok yang meledak kayak durian, mending sama kurir. Eh, tapi kok kurir?"
Di tengah kekacauan itu, Alina merasa ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali bertemu Reihan, ada rasa nyaman yang tidak dia dapatkan dari kencan buta yang dipaksakan. Alina tersenyum, dalam hati ia bertanya-tanya, apakah mungkin jodohnya tidak sengaja datang, setiap hari mengantar paket ke rumahnya.
Tiba-tiba, motor Reihan datang lagi. Kali ini suaranya lebih berisik dari biasanya. Reihan turun, membawa dua kotak paket besar, dan sebuah botol minum.
Reihan, "Permisi, Bu. Paket lagi!"
Nyak keluar rumah dengan wajah jutek, "Reihan, kamu ini! Setiap hari datang, Nyak jadi curiga. Jangan-jangan kamu ini sales paket ya?"
Reihan tertawa, "Bukan, Bu. Ini memang paket dari orang-orang. Saya kan cuma kurir. Terus, ini ada paket khusus buat Ibu. Dari Pak Herman."
Nyak matanya langsung berbinar, "Herman? Herman si Durian?"
Reihan mengangguk, "Iya, Bu. Dia kirim paket berisi durian lagi. Tapi kali ini duriannya sudah dikupas. Biar nggak meledak lagi di jalan."
Alina yang mendengar, langsung terbahak. Dia membayangkan betapa ngenesnya Herman, rela mengupas durian satu per satu demi Nyak.
Nyak mengambil paket durian, wajahnya sumringah, "Ya ampun, Herman baik sekali! Reihan, kamu mau durian?"
Reihan, "Makasih, Bu. Tapi saya alergi."
Alina langsung memandang Reihan. Dia tidak percaya. Reihan alergi durian juga. Alina menatap Reihan dengan pandangan, "Kamu, kok mirip gue."
Alina bertanya pada Reihan, "Serius alergi?"
Reihan, "Iya, Mbak. Kalau saya makan durian, muka saya langsung gatal-gatal. Pernah dulu makan, muka saya meledak. Ya, nggak meledak sih, cuma bengkak aja kayak kena lebah."
Nyak yang mendengar langsung melotot. Dia tidak menyangka ada orang yang alergi durian juga.
Nyak, "Ya ampun. Ada-ada saja."
Tiga abang Alina, Rahmat, Ridwan, dan Rizky, keluar dari rumah. Mereka melihat Alina dan Reihan sedang mengobrol. Rahmat langsung berbisik pada adik-adiknya.
Rahmat, "Kayaknya si Alina suka sama kurir itu. Kita harus bikin dia kapok."
Ridwan, "Gimana caranya, Bang?"
Rahmat, "Kita gangguin. Biar si kurir ini takut, terus nggak mau lagi deketin Alina."
Tiga abang itu langsung mendekat. Ridwan sudah siap dengan joran pancingnya.
Ridwan, "Eh, Mas Kurir. Sini, duduk di sini. Udah lama nggak lihat Mas. Mau mancing nggak? Kolam tetangga lagi banyak ikannya."
Reihan, "Aduh, maaf, Mas. Saya harus buru-buru. Masih banyak paket yang harus saya antar."
Rizky, "Mas Kurir, Mas kan kurir, ya? Kalau ada paketan ke hati adek saya, itu paketnya udah sampai atau belum?"
Reihan hanya bisa tersenyum canggung. Dia melihat Alina yang matanya sudah melotot memberi isyarat, "Pergi sana sebelum mereka makin gila."
Reihan, "Aduh, Mas. Kalau paket ke hati itu nggak bisa di-tracking. Cuma bisa dirasakan. Saya pamit dulu ya, Bu, Mbak. Ini paketnya sudah saya kasihkan semua."
Reihan langsung naik ke motornya dan pergi. Nyak dan abang-abangnya hanya bisa menatap kepergian Reihan. Rahmat langsung memeluk Alina.
Rahmat, "Lin, kok kamu deket-deket sama kurir? Abang nggak mau, ya. Kamu itu sarjana. Jangan sama kurir!"
Alina mengangkat bahunya, "Terus kenapa? Kurir juga manusia! Daripada cowok aneh-aneh yang Nyak jodohin!"
Nyak, "Iya, benar. Daripada sama cowok yang meledak kayak durian, mending sama kurir. Eh, tapi kok kurir?"
Di tengah kekacauan itu, Alina merasa ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali bertemu Reihan, ada rasa nyaman yang tidak dia dapatkan dari kencan buta yang dipaksakan. Alina tersenyum, dalam hati ia bertanya-tanya, apakah mungkin jodohnya tidak sengaja datang, setiap hari mengantar paket ke rumahnya.
Other Stories
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...