Chapter 9 Nyak Milih Jodoh Sendiri
Sore yang hening di rumah Alina. Nyak terlihat duduk di teras, wajahnya lesu. Sudah seminggu tidak ada lagi calon menantu yang datang. Alina merasa lega, tapi Nyak justru merasa seperti pecundang.
Nyak, "Alina, Nyak capek. Nyak nyerah. Nggak ada satu pun cowok yang betah di sini."
Alina, "Ya, kan, Nyak. Alina juga udah bilang. Jodoh itu bukan dicari, tapi datang sendiri."
Nyak, "Datang sendiri? Kamu kira jodoh itu kayak tukang bakso? Nyak harus ngapain? Teriak-teriak baksoooo gitu?"
Alina tersenyum, "Ya nggak gitu juga, Nyak. Maksudnya, kalau jodoh itu beneran jodoh, dia akan datang dengan cara yang nggak kita duga."
Tin! Tin!
Tiba-tiba, terdengar suara klakson motor. Motor berisik itu. Reihan, sang kurir, datang lagi. Kali ini ia membawa paket yang ukurannya cukup besar.
Reihan, "Permisi, Bu. Paket!"
Reihan turun dari motor, membawa paket itu, lalu meletakkannya di teras. Nyak melihat Reihan, lalu melihat Alina. Wajahnya langsung berubah. Seperti ada ide gila yang baru saja muncul di kepalanya.
Nyak memanggil, "Reihan, sini! Sini, duduk!"
Reihan merasa heran, tapi ia tetap duduk di kursi yang ditunjuk Nyak.
Nyak bertanya, "Reihan, kamu kerja apa?"
Reihan, "Kurir, Bu. Saya kurir paket."
Nyak, "Terus, kamu punya istri?"
Reihan, "Belum, Bu. Saya masih bujang."
Nyak menatap Alina, lalu menatap Reihan, "Alhamdulillah. Reihan, kamu mau gak jadi menantu Nyak?"
Reihan dan Alina terkejut. Alina sampai tersedak es teh manis yang sedang diminumnya. Reihan menatap Alina, lalu menatap Nyak. Ia tidak bisa berkata-kata.
Nyak, "Ya, daripada Nyak pusing cari jodoh buat Alina. Nyak lihat, kamu kan sering ke sini. Kamu tahu semua drama yang ada di rumah ini. Kamu juga tahu kalau anak-anak Nyak itu aneh. Jadi, kamu sudah siap mental, kan?"
Reihan tergagap, "Bu, sa-saya cuma kurir."
Nyak berkata dengan lembut, "Kurir juga manusia! Justru bagus! Berarti kamu orangnya sabar, tekun, kuat angkat paket. Kamu kan sudah tahu, semua calon mantu yang datang ke sini pada kabur. Kamu nggak kabur. Berarti kamu cocok!"
Alina hanya bisa memijat pelipisnya. Ibunya sudah gila. Reihan, yang masih terkejut, mencoba mencari kata-kata yang tepat.
Reihan panik, "Aduh, Bu. Saya aduh..."
Tiba-tiba, Rahmat, Ridwan, dan Rizky keluar dari rumah. Mereka mendengar percakapan itu. Rahmat langsung mendekati Reihan dan menepuk bahunya.
Rahmat menepuk bahu Reihan, "Woi, Mas Kurir! Lo mau jadi adik ipar gue?"
Ridwan, "Mas, kalau lo jadi adik ipar gue, lo harus sering-sering mancing bareng gue, ya!"
Rizky, "Mas, kalau lo mau nikah sama adik gue, lo harus punya aura yang bagus."
Reihan yang kaget, langsung berdiri. Ia menatap Alina, lalu menatap Nyak, lalu menatap tiga abang Alina yang sudah mulai berdebat tentang aura dan memancing. Reihan yang tidak kuat melihat tingkah mereka, tiba-tiba memegang dadanya, lalu jatuh.
BRUK!
Alina panik, "Reihan! Kenapa?"
Reihan pura-pura pingsan. Nyak, panik. Ia langsung mengipas-ngipas Reihan dengan majalah.
Nyak panik, "Ya ampun, Nak! Bangun! Jangan mati dulu! Nyak belum kasih restu!"
Alina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu, Reihan tidak pingsan. Ia hanya pura-pura. Reihan hanya mencari cara paling konyol untuk melarikan diri dari kegilaan keluarga ini.
****
Reihan yang masih pura-pura pingsan, tiba-tiba membuka satu matanya. Ia melirik Alina, lalu melirik Nyak yang masih panik mengipas-ngipas. Reihan menghela napas, lalu bangkit duduk.
Reihan sambil memegang kening, "Aduh, tadi kok tiba-tiba gelap ya, Bu?"
Nyak, "Ya ampun, Nak Reihan! Kamu kenapa? Jantung kamu lemah? Sini, Nyak pijitin."
Nyak hendak memijat Reihan, tapi Reihan langsung menepis tangan Nyak dengan lembut.
Reihan, "Nggak usah, Bu. Saya nggak apa-apa. Cuma kaget. Tadi Ibu tiba-tiba mau jodohin saya."
Nyak, "Ya, kan, Nyak pusing. Udah semua Nyak cariin, semuanya kabur. Kamu nggak kabur. Berarti kamu cocok."
Reihan tersenyum canggung, "Cocok jadi kurir, Bu. Bukan jadi menantu."
Alina yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara.
Alina, "Nyak, Reihan itu sudah baik. Jangan Nyak paksa-paksa. Lagian, jodoh itu bukan cuma soal cocok, Nyak. Jodoh itu soal hati."
Nyak melirik Alina dengan curiga, "Hati? Kamu jangan-jangan sudah suka sama dia? Hayo, ngaku!"
Alina langsung memerah. Ia tidak bisa menjawab. Sementara Reihan, ia hanya bisa menunduk sambil menahan senyum.
Reihan, "Aduh, Bu. Saya mau pamit dulu. Saya masih ada paket yang harus diantar."
Reihan langsung berdiri, mengambil paketnya, lalu hendak pergi. Nyak menahan tangannya.
Nyak, "Tunggu, Nak Reihan! Nyak belum selesai ngomong. Nyak mau tanya, kamu beneran nggak mau sama Alina?"
Reihan menatap Nyak, lalu menatap Alina. Ia menghela napas, lalu meletakkan paketnya di teras.
Reihan, "Bu, jujur ya. Saya suka sama Mbak Alina."
Nyak dan Alina terkejut. Alina sampai tidak bisa berkata-kata.
Nyak, "Tuh kan! Nyak bilang juga apa! Jodoh itu nggak kemana-mana! Tinggal di depan rumah Nyak aja kok dicari sampai Eropa!"
Reihan, "Tapi, Bu. Saya ini cuma kurir. Mbak Alina ini sarjana. Saya takut nggak bisa bahagiain Mbak Alina."
Nyak langsung memotong ucapan Reihan.
Nyak, "Siapa bilang? Reihan, kamu itu kurir, ya? Berarti kamu tahu di mana letak kebahagiaan. Kamu tahu di mana orang-orang butuh paket. Kamu tahu jalan. Alina, kamu itu sarjana, ya? Sarjana itu pintar, tapi kadang nggak tahu jalan. Kalian berdua itu saling melengkapi. Reihan yang tahu jalan, Alina yang bisa cari jalan. Cocok!"
Alina tidak bisa berkata-kata. Tiga abangnya yang dari tadi menguping, langsung keluar.
Rahmat, "Wah, mantap! Gue setuju!"
Ridwan, "Gue juga! Sekarang gue punya temen mancing baru!"
Rizky, "Gue juga! Gue bakal kasih lo aura yang bagus, Mas!"
Reihan hanya bisa tertawa. Ia menatap Alina.yang kini tersenyum. Senyum tulus yang tidak dibuat-buat. Reihan menyadari, jalan pulang yang selama ini dicari, kini sudah ia temukan. Tidak di jalanan, tapi di rumah Nyak, di mana ada seorang sarjana yang menunggunya setiap hari.
Nyak, "Alina, Nyak capek. Nyak nyerah. Nggak ada satu pun cowok yang betah di sini."
Alina, "Ya, kan, Nyak. Alina juga udah bilang. Jodoh itu bukan dicari, tapi datang sendiri."
Nyak, "Datang sendiri? Kamu kira jodoh itu kayak tukang bakso? Nyak harus ngapain? Teriak-teriak baksoooo gitu?"
Alina tersenyum, "Ya nggak gitu juga, Nyak. Maksudnya, kalau jodoh itu beneran jodoh, dia akan datang dengan cara yang nggak kita duga."
Tin! Tin!
Tiba-tiba, terdengar suara klakson motor. Motor berisik itu. Reihan, sang kurir, datang lagi. Kali ini ia membawa paket yang ukurannya cukup besar.
Reihan, "Permisi, Bu. Paket!"
Reihan turun dari motor, membawa paket itu, lalu meletakkannya di teras. Nyak melihat Reihan, lalu melihat Alina. Wajahnya langsung berubah. Seperti ada ide gila yang baru saja muncul di kepalanya.
Nyak memanggil, "Reihan, sini! Sini, duduk!"
Reihan merasa heran, tapi ia tetap duduk di kursi yang ditunjuk Nyak.
Nyak bertanya, "Reihan, kamu kerja apa?"
Reihan, "Kurir, Bu. Saya kurir paket."
Nyak, "Terus, kamu punya istri?"
Reihan, "Belum, Bu. Saya masih bujang."
Nyak menatap Alina, lalu menatap Reihan, "Alhamdulillah. Reihan, kamu mau gak jadi menantu Nyak?"
Reihan dan Alina terkejut. Alina sampai tersedak es teh manis yang sedang diminumnya. Reihan menatap Alina, lalu menatap Nyak. Ia tidak bisa berkata-kata.
Nyak, "Ya, daripada Nyak pusing cari jodoh buat Alina. Nyak lihat, kamu kan sering ke sini. Kamu tahu semua drama yang ada di rumah ini. Kamu juga tahu kalau anak-anak Nyak itu aneh. Jadi, kamu sudah siap mental, kan?"
Reihan tergagap, "Bu, sa-saya cuma kurir."
Nyak berkata dengan lembut, "Kurir juga manusia! Justru bagus! Berarti kamu orangnya sabar, tekun, kuat angkat paket. Kamu kan sudah tahu, semua calon mantu yang datang ke sini pada kabur. Kamu nggak kabur. Berarti kamu cocok!"
Alina hanya bisa memijat pelipisnya. Ibunya sudah gila. Reihan, yang masih terkejut, mencoba mencari kata-kata yang tepat.
Reihan panik, "Aduh, Bu. Saya aduh..."
Tiba-tiba, Rahmat, Ridwan, dan Rizky keluar dari rumah. Mereka mendengar percakapan itu. Rahmat langsung mendekati Reihan dan menepuk bahunya.
Rahmat menepuk bahu Reihan, "Woi, Mas Kurir! Lo mau jadi adik ipar gue?"
Ridwan, "Mas, kalau lo jadi adik ipar gue, lo harus sering-sering mancing bareng gue, ya!"
Rizky, "Mas, kalau lo mau nikah sama adik gue, lo harus punya aura yang bagus."
Reihan yang kaget, langsung berdiri. Ia menatap Alina, lalu menatap Nyak, lalu menatap tiga abang Alina yang sudah mulai berdebat tentang aura dan memancing. Reihan yang tidak kuat melihat tingkah mereka, tiba-tiba memegang dadanya, lalu jatuh.
BRUK!
Alina panik, "Reihan! Kenapa?"
Reihan pura-pura pingsan. Nyak, panik. Ia langsung mengipas-ngipas Reihan dengan majalah.
Nyak panik, "Ya ampun, Nak! Bangun! Jangan mati dulu! Nyak belum kasih restu!"
Alina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu, Reihan tidak pingsan. Ia hanya pura-pura. Reihan hanya mencari cara paling konyol untuk melarikan diri dari kegilaan keluarga ini.
****
Reihan yang masih pura-pura pingsan, tiba-tiba membuka satu matanya. Ia melirik Alina, lalu melirik Nyak yang masih panik mengipas-ngipas. Reihan menghela napas, lalu bangkit duduk.
Reihan sambil memegang kening, "Aduh, tadi kok tiba-tiba gelap ya, Bu?"
Nyak, "Ya ampun, Nak Reihan! Kamu kenapa? Jantung kamu lemah? Sini, Nyak pijitin."
Nyak hendak memijat Reihan, tapi Reihan langsung menepis tangan Nyak dengan lembut.
Reihan, "Nggak usah, Bu. Saya nggak apa-apa. Cuma kaget. Tadi Ibu tiba-tiba mau jodohin saya."
Nyak, "Ya, kan, Nyak pusing. Udah semua Nyak cariin, semuanya kabur. Kamu nggak kabur. Berarti kamu cocok."
Reihan tersenyum canggung, "Cocok jadi kurir, Bu. Bukan jadi menantu."
Alina yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara.
Alina, "Nyak, Reihan itu sudah baik. Jangan Nyak paksa-paksa. Lagian, jodoh itu bukan cuma soal cocok, Nyak. Jodoh itu soal hati."
Nyak melirik Alina dengan curiga, "Hati? Kamu jangan-jangan sudah suka sama dia? Hayo, ngaku!"
Alina langsung memerah. Ia tidak bisa menjawab. Sementara Reihan, ia hanya bisa menunduk sambil menahan senyum.
Reihan, "Aduh, Bu. Saya mau pamit dulu. Saya masih ada paket yang harus diantar."
Reihan langsung berdiri, mengambil paketnya, lalu hendak pergi. Nyak menahan tangannya.
Nyak, "Tunggu, Nak Reihan! Nyak belum selesai ngomong. Nyak mau tanya, kamu beneran nggak mau sama Alina?"
Reihan menatap Nyak, lalu menatap Alina. Ia menghela napas, lalu meletakkan paketnya di teras.
Reihan, "Bu, jujur ya. Saya suka sama Mbak Alina."
Nyak dan Alina terkejut. Alina sampai tidak bisa berkata-kata.
Nyak, "Tuh kan! Nyak bilang juga apa! Jodoh itu nggak kemana-mana! Tinggal di depan rumah Nyak aja kok dicari sampai Eropa!"
Reihan, "Tapi, Bu. Saya ini cuma kurir. Mbak Alina ini sarjana. Saya takut nggak bisa bahagiain Mbak Alina."
Nyak langsung memotong ucapan Reihan.
Nyak, "Siapa bilang? Reihan, kamu itu kurir, ya? Berarti kamu tahu di mana letak kebahagiaan. Kamu tahu di mana orang-orang butuh paket. Kamu tahu jalan. Alina, kamu itu sarjana, ya? Sarjana itu pintar, tapi kadang nggak tahu jalan. Kalian berdua itu saling melengkapi. Reihan yang tahu jalan, Alina yang bisa cari jalan. Cocok!"
Alina tidak bisa berkata-kata. Tiga abangnya yang dari tadi menguping, langsung keluar.
Rahmat, "Wah, mantap! Gue setuju!"
Ridwan, "Gue juga! Sekarang gue punya temen mancing baru!"
Rizky, "Gue juga! Gue bakal kasih lo aura yang bagus, Mas!"
Reihan hanya bisa tertawa. Ia menatap Alina.yang kini tersenyum. Senyum tulus yang tidak dibuat-buat. Reihan menyadari, jalan pulang yang selama ini dicari, kini sudah ia temukan. Tidak di jalanan, tapi di rumah Nyak, di mana ada seorang sarjana yang menunggunya setiap hari.
Other Stories
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...