Pada Langit Yang Tak Berbintang

Reads
2.5K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
pada langit yang tak berbintang
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Penulis Petra Shandi

3. All About Langit

KIRANA
“Hah? Seriusan?” seru Bianca tidak percaya saat kukatakan kemarin habis jalan sama Bintang—vokalis Angkasa Band yang menang kompetisi Dream Band tahun ini.
Aku mengangguk dengan sedikit menyisakan senyum misterius. Senang sekali rasanya ngerjain kawanku yang satu ini. Bianca itu salah satu dari banyak cewek yang nge-fans sama Bintang. Saking sukanya, ia sempat uring-uringan saat album indie Angkasa Band hilang di rak CD—tidak tahunya dia sendiri yang lupa menaruh benda itu.
“Gimana orangnya?” cewek itu memperbaiki posisi duduk di ranjang, seolah informasi yang akan kuberikan penting banget.
“Ya biasa aja. Lagian kita ketemu cuma buat nyerahin bukti terbit hasil wawancara kemarin,” jawabku enteng, seraya memeluk boneka berbentuk love. Seketika aku tersenyum sendiri mengingat serpihan waktu yang tak bisa kulupa. Momen romantis selama di atas Jembatan Pasupati. Entah kenapa, aku melihat sisi lain seorang Bintang saat kami berada di atas. Pesona berbeda dari seorang vokalis band yang sering manggung di Petrapucino. Malam itu ia terlihat bersahaja di bawah remang lampu di sepanjang jembatan.
“Kir? Kirana? Eh kok malah senyam-senyum sendiri? Pasti ada kejadian yang gak kamu ceritain ya?” tebak Bianca. “Ayo cerita!” todongnya.
“Ih, apaan sih? Nggak kali. Cuma kebetulan aja inget tingkah Bintang yang rada lucu bin ajaib,” sepertinya kejadian kemarin gak perlu aku umbar ke siapapun. Hanya membuat Bianca semakin penasaran dan akhirnya terus mendesakku untuk bicara. “Ganti topik, ah. Gak penting banget bahas si Bintang terus,” timpalku. “Kemarin aku berantem sama Langit,” aku bangkit dari ranjang menuju meja rias.
“Kenapa lagi?” Bianca sepertinya sudah malas membahas pertemanan antara aku dan Langit yang di matanya serba samar itu.
“Kemarin kan aku niatnya mau ketemu sama Langit. Dia pingin bahas hal penting, katanya. Tapi di waktu yang sama, Bintang telepon nanyain hasil wawancara tempo hari. Aku gak enak aja sama Bintang, takutnya dia pikir wawancara kemarin cuma modus deketin dia doang. Makanya aku putusin ketemu Bintang dulu. Eh, gak taunya Langit marah-marah gak jelas gitu waktu aku bilang lagi sama Bintang,” paparku panjang lebar seraya menatap refleksi Bianca di cermin.
“Lagian kamu juga sih, udah janjian masak dilanggar. Ya marah dong doi.”
“Tapi kali ini beda. Gak biasanya dia marah segede itu. Bikin aku nangis.”
Bianca menghela napas panjang. Ia seolah bisa menebak inti dari permasalahan kami. “Nah itu dia. Bener kan yang aku bilang. It’s all about Langit! Lama-lama ini bakal jadi masalah. Sudah waktunya kamu kasih batasan yang jelas antara kalian berdua. Ini sudah gak sehat lagi, Kir.”
Aku tahu apa yang ada di benak Bianca. Bahwa Langit jatuh cinta padaku. Hal itu sudah berkali-kali Bianca sampaikan. Tapi sungguh, Aku gak ada niat buat mainin perasaan Langit. Aku sayang dia. Dia itu kayak kakakku sendiri. Aku gak mau aja gegabah menjaga jarak hingga akhirnya kami gak bisa jalan bersama lagi.
“Nggaklah Bian, aku gak mau Langit datang dan pergi sebatas karena hubungan asmara. Seandainya kami pacaran. Pasti situasinya akan lebih rumit dari sekarang. Aku gak mau kehilangan Langit yang sekarang. Langit yang care sama aku layaknya ke adik sendiri.”
Bianca menyeringai. “Itu pendapatmu. Tapi kamu kudu inget satu hal, Kir! Langit juga cowok normal. Dia bisa jatuh cinta sama siapapun, termasuk sama kamu.”
Aku menatap refleksi diriku sendiri di cermin. Berarti selama ini aku berlaku egois pada Langit? Tapi sungguh, aku gak mau kehilangan Langit. Di sisi lain rasa itu terasa samar. Aku sayang dia, namun tak cukup membuatku yakin hati ini untuknya.
***
Aku harus ambil tindakan. Tidak mungkin kami terus-terusan perang dingin seperti ini. Dalam kasus kami memang aku yang salah. Mungkin saja kemarin Langit sangat membutuhkan kehadiranku. Sungguh, untuk beberapa hal terkadang ia begitu kekanak-kanakan.
Minggu pagi aku sudah main ke rumah Langit di daerah Sarijadi. Kebetulan jarak rumah kami gak jauh-jauh amat, cuma pake angkot sekali. Saking dekatnya, aku sudah gak canggung lagi sama keluarga Langit. Bahkan aku sering main ke sini saat Langit gak ada di rumah. Ya, sekedar pingin curhat sama Tante Renny—ibunya Langit.
“Nah, akhirnya kamu dateng juga, Kir. Coba deh kamu bangunin Langit. Itu anak bandel banget buat dibangunin. Padahal semalem dia gak siaran juga,” celoteh Tante Renny.
“Masa sih Tan? Sini biar aku kasih pelajaran si kebo itu,” timpalku.
Sedikit malu-malu aku melewati Tante Renny dan Om Budi—Ayah Langit yang sedang asyik ngobrol di ruang tengah. Kupijak selangkah demi selangkah tangga menuju lantai dua. Di sana kutemukan dua pintu milik dua anak lelaki penghuni rumah ini. Yang sisi kanan kamar milik Bumi—adiknya Langit. Dan yang sisi kiri kamar milik Langit. Sasaranku tentu kamar sebelah kiri yang pada dinding pintunya tertempel stiker bergaya retro dengan tulisan “KAMAR COWOK”—sumpah, norak habis!
Perlahan aku membuka pintu yang tak dikunci itu. Benar juga. Tirai jendelanya masih tertutup rapat dengan suara radio bervolume sedang—kebiasaan Langit tidur sambil mendengarkan radio. Perlahan aku menyibak tirai membiarkan sinar pagi menembus seisi ruangan. Tak tanggung-tanggung kubuka jendela selebar mungkin hingga angin berhembus masuk.
“Langit. Bangun dong, udah siang. Temenin aku ke gramedia,” ujarku. Tak henti-hentinya aku mengagumi kamar Langit yang bernuansa cream ini. Kamar yang menurutku lebih cocok dihuni oleh perempuan. Dengan dinding kaca yang mendominasi ruangan, dan kita bisa membuka kaca itu lebar-lebar membiarkan udara masuk dengan bebasnya. Ditambah balkon yang menghadap langsung ke arah jalan dengan sepasang kursi sekedar untuk duduk santai menikmati pemandangan di luar sana. Aku sering melamun di balkon, bahkan sesekali menulis puisi kalau sedang mood.
“Siapa sih ini yang buka jendela? Silau tau!” nah akhirnya dia bersuara juga dengan suara seraknya.
Aku kembali masuk ke kamar. “Bangun, kebo! udah siang!” aku melepas paksa bed cover yang menutupi seluruh tubuh Langit.
“Eh apa-apaan sih!?” dia menarik paksa bed cover-nya. Yang ada kami malah saling tarik-tarikan.
“Jatah tidur kamu udah abis. Bed cover-nya mau dijemur dulu,” ujarku.
Hingga akhirnya ia sadar yang diajak debat adalah aku. “Kirana?” dia mengucek-ucek matanya seolah meyakinkan bahwa sosok di depannya adalah aku. Ia memasang kacamata yang sempat ia letakkan di nakas sebelah ranjang, lalu bangkit meraih t-shirt menutupi badannya yang setengah telanjang. “Kebiasaan, masuk kamar gak pake izin,” gerutunya.
“Ah, lagian gak ada yang bisa diambil di kamar kamu,” timpalku.
“Bukan gitu. Kalau aku lagi gak pake baju gimana?”
“Ya mustinya seneng dong diliatin sama cewek cakep kayak aku.”
Langit mendengus seraya mengacak-acak rambut lalu dengan malas melangkah menuju wastafel. “Aku kira kamu sudah lupa sama aku,” suaranya bercampur dengan suara keran air yang baru dinyalakan.
“Yaelah… masih marah nih ceritanya?” ujarku seraya merapikan ranjang berukuran king size itu.
Selang beberapa saat ia kembali dari wastafel. Wajahnya lebih segar setelah terpercik air. “Jelas marah lah! Kita udah janjian mau ketemu. Eh malah gak dateng,” gerutunya.
“Iya, iya… maaf,” aku terkekeh seraya merapikan meja belajar Langit yang penuh benda-benda tidak penting. Termasuk sebuah kotak merah berlapis beludru. “Eh, apaan nih, Lang?” aku meraih benda itu dan penasaran ingin melihat isinya.
Tiba-tiba benda itu disambar oleh Langit. “Bu… bukan apa-apa!” ujarnya cepat. Aku perhatikan rona wajahnya yang mendadak tegang. “Ini punya Si Bumi. Dia pesan barang dari temen aku,” alasannya.
“Emang apa isinya?” tanyaku lagi seolah tak yakin dengan jawaban Langit.
“Gak usah kepo deh,” dia langsung memasukkan benda itu di laci lemarinya.
***
“Jadi kapan Mama sama Papa pergi ke Surabaya?” tanya Tante Renny yang sedang sibuk membuat kue di dapur.
“Lusa. Rencananya mau berangkat sorenya,” balasku yang sedang menyiapkan roti isi untuk Langit.
“Loh, terus kamu di rumah sendirian?” perempuan paruh baya itu menampakkan wajahnya padaku.
“Iya,” aku duduk di depan Langit yang mulai menyantap sarapannya.
“Ya udah. Kamu tidur di sini aja. Temenin Tante, ntar kita seru-seruan curhat bareng,” Aku menggeleng. Ketahuan, Tante Renny kayaknya pingin punya anak cewek.
“Mau banget sih, Tan. Masalahnya Mama minta aku buat jagain rumah.”
“Ya udah, aku aja yang nginep di rumah kamu,” celetuk Langit.
“Enak aja,” Tante Renny memukul pelan kepala Langit dengan centong nasi. “Yang ada kamu bikin ulah di sana,” aku cuma bisa tertawa geli melihat tingkah Ibu dan anak itu. Ternyata Langit kalau sedang di rumah kelakuannya seperti anak kecil.
“Dapat salam dari Bintang.”
Seketika aku mendongak. Cerita apa aja Bintang sama Langit? Aku mulai berpikir keras. Jangan-jangan dia cerita juga soal di Jembatan Pasupati? “Salam balik,” ujarku acuh tak acuh.
“Kamu suka gak sama dia? Kalau suka aku comblangin,” Damn! What wrong with him? Dia nyindir aku?
“Dia ngomong apa aja sih? Ampe kamu ngomongnya ngelindur gitu,” tanyaku dengan nada ketus.
“Biasa aja kali ngomongnya,” timpal Langit. “Nggak. Kemarin-kemarin dia minta izin sama aku buat PDKT sama kamu.”
Aku menatap dalam lelaki itu, menelusuri kebenaran dari kalimatnya. Aku ingin melihat reaksinya seandainya kukatakan iya.
“Terus kamu jawab apa?”
“Ya aku bilang ‘it’s ok, asal gak main-main aja.’” ya Tuhan! dia menjawab tanpa beban.
“Kalau aku bilang aku juga suka sama dia, gimana?”
Sialan! Langit malah tersenyum lebar. Kukira dia akan terdiam sedikit menahan rasa cemburu atau terkejut. “Bagus kalau gitu. Itu akan mempermudah proses pencomblangan ini.”
“Langit!” gertakku. “Kamu ini kenapa sih?” sungguh. Ini bukan Langit yang kukenal.
“Loh? Kenapa gimana?” jawabnya santai.
Kini malah aku yang bingung bagaimana seharusnya bersikap. Perlahan aku bangkit meninggalkan lelaki itu sendirian. Peduli amat! Kali ini aku yang marah padanya. Marah yang aku sendiri tak mengerti alasannya.
***
Tak kupungkiri, beberapa hari ini intensitasku bertemu dengan Bintang semakin sering. Sebaliknya, waktuku bersama dengan Langit menjadi berkurang. Ini bukan masalah kekesalanku padanya tempo hari. Hanya saja Langit selalu mencari alasan untuk menghindar. Dia bilang sibuk di kampus atau di radio. Dua alasan itu saling bergantian setiap kali aku minta waktu buat ketemu.
Dan kali ini aku diajak main oleh Bintang ke Petrapucino sekedar menyaksikan aksi panggung Angkasa Band. Kupikir itu keren. Bisa berteman dengan anggota band yang lain. Termasuk Petra, gitaris Angkasa Band yang ternyata anak pemilik Petrapucino itu sendiri—mulai masuk akal kenapa mereka bisa manggung di café yang katanya bergengsi itu.
Kalau boleh kugambarkan seperti apa suara Bintang saat menyanyi. Menurutku suaranya terlalu halus untuk menyanyikan lagu-lagu bernada keras. Warna suaranya mirip Donnie, Ada Band yang memang cocok menyanyikan lagu-lagu romantis. Tapi tentu saja yang membuat mereka tampak hebat adalah performance saat di atas panggung. Aksinya tak jauh beda seperti para pemusik profesional. Mungkin karena sudah terbiasa ditonton oleh khalayak ramai, jadi sudah tidak ada lagi yang namanya nervous atau hal lainnya.
Permintaan Bintang sebenarnya tidak tepat waktu. Entah kenapa beberapa hari ini badanku terasa tidak enak. Kemarin saja sempat masuk angin hingga membolos satu hari ke kampus. Tapi melihat Bintang yang begitu berharap membuatku tidak nyaman. Hingga akhirnya kupaksakan mengikuti keinginannya.
Aku duduk di meja terdepan dengan kursi yang menyerupai sofa berbentuk bulat. Ganteng sekali vokalis Angkasa Band, aku mulai mengakui semua yang dikatakan Bianca. Rambut tebalnya terlihat pas dengan tipe wajah Bintang yang baby face. Apalagi malam ini, Bintang tampak berbeda saat di atas panggung. Memakai kostum berwarna hijau dan dihiasi aksesori khas anak band di lengan dan lehernya. Dia memang memiliki aura bintang, terutama saat ia menyanyikan lagu bernuansa unplugged dengan petikan gitar yang ia mainkan. Berpadu sempurna bersama suaranya yang khas.
“Senang sekali malam ini kami tampil kembali di Petrapucino. Memendam kerinduan setelah satu minggu kita tidak bertemu. Apalagi malam ini terasa berbeda dengan kehadiran tamu istimewa gue yang duduk di jajaran meja paling depan.”
Bintang!! Aku malu saat semua pasang mata tertuju padaku. Mereka tersenyum seraya memberi tepukan hangat untukku. Pasti orang-orang berpikir aku adalah pacar Bintang. Hingga pada akhirnya aku malah tersenyum sendiri dan melambaikan tangan padanya.
“Sebagai ungkapan terima kasih atas kehadirannya malam ini. Gue persembahkan lagu ini khusus buat Kirana,” kembali Bintang meraih gitar akustik lalu mulai melakukan aksinya. Aku terharu saat ia mulai menyanyikan lagu di setiap baitnya.
Melayang. Berbunga-bunga. Dan aku tak mau kembali.
Oh Baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever
And forever you’ll be mine, you’ll be mine
(Mine-Petra Sihombing)
***
Malam ini aku sendiri di rumah. Mama dan Papa akhirnya berangkat juga tadi sore untuk menghadiri pesta pernikahan kawan Papa yang ada di Surabaya. Mau tidak mau aku tinggal sendiri selama tiga hari ke depan. Sebenarnya itu tidak masalah. Toh aku bisa menjaga diri.
Seperti yang pernah kubilang, sejak kemarin badanku terasa tidak enak. Aku kerap kali demam namun akhirnya mereda dengan sendirinya. Puncaknya malam ini. Kepalaku rasanya sudah tidak karuan, pusingnya bukan main. Kuperiksa kotak obat, semoga bisa kutemukan apa sajalah yang bisa meredakan sakit kepalaku. Belum lagi perutku yang mulai bertingkah sejak beberapa saat yang lalu, rasanya mual dan ingin memuntahkan makanan yang ada di perutku.
Benar juga. Aku berlari ke toilet dan mulai memuntahkan apapun yang pernah kumakan. Tuhan! Sakit sekali. Tanpa sadar aku mulai menangis. Ingin rasanya telepon Mama dan memintanya untuk segera pulang. Dengan lunglai aku beranjak menuju ranjang. Kuselimuti tubuhku dan berinisiatif mengompres dahi dengan bongkahan es batu. Rasanya aku takkan bisa melewati malam ini dengan selamat. Harus ada seseorang yang menolongku. Tapi bagaimana? Ini tengah malam! Siapa yang bisa kuminta tolong?
Langit! Nama itu saja yang tiba-tiba teringat dalam benakku. Segera kuraih ponsel dan menghubunginya. Aku menunggu nada panggilan itu. Sial! Aku baru sadar malam ini dia ada jadwal siaran.
Bagaimana ini? Dengan putus asa aku hanya mampu mengirim pesan singkat ke ponsel Langit. Berharap dia membacanya.
“Lang, aku sakit. Tolong aku, Lang!” Send!
Aku menghela napas panjang. Semoga beberapa saat lagi dia telepon dan datang kemari.
Terdengar ponselku berpendar. Syukurlah Langit membaca pesanku. Dengan susah payah kuraih ponsel dan menempelkannya di telinga.
“Ha…”
“Lang, cepetan dateng, Lang. Aku gak kuat lagi. Sakit banget,” rintihku.
“Kirana? Kenapa kamu, Kir?”
Aku tak sadarkan diri.
“Kir.. Halo Kirana??!!”
***
Perutku sakit sekali. Seperti ada sesuatu yang melilit di dalamnya. Aku harus bangun dan memuntahkan sesuatu lagi. Kelopak mataku bereaksi saat selintas sinar terasa mengganggu. Perlahan mulai terbuka, hingga nampak satu siluet serupa lelaki berada di hadapanku.
Langit! Ini pasti Langit! “Lang, sakit… Lang,” parauku.
“Bertahan ya, Kir. Kamu sudah ada di rumah sakit. Coba tenangin diri. Ada aku di samping kamu.”
Hingga akhirnya mataku terbuka sempurna. Yang nampak ternyata sosok Bintang. Kuedarkan pandanganku? Ruangan asing yang bernuansa putih dengan pekatnya aroma obat-obatan.
“Bin, siapa yang bawa aku ke sini?”
“Ya aku. Maaf tadi aku terpaksa mendobrak pintu rumahmu. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu,” terangnya.
Aku tersenyum kecil. “Makasih ya, Bin.” Rasanya aku ingin bangkit dan duduk bersandar pada tumpukan bantal. Tapi ternyata tubuhku terlalu lemah walau hanya untuk melakukan gerakan sederhana. “Langit. Di mana Langit, Bin?” tanyaku lemah.
“Langit sudah tahu kamu di sini. Dia sedang dalam perjalanan. Kamu bertahan ya?” Kurasakan tangan hangatnya memegang erat jemariku. Bintang begitu gelisah melihatku. Sementara aku hanya tesenyum seraya meraba tanya, tentang apa yang terjadi beberapa menit sebelumnya.

Other Stories
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Cinta Kadang Kidding

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Download Titik & Koma