5. Owner Of My Heart
BINTANG
This is not me! Absolutely not me! Gue menatap refleksi diri gue sendiri di hadapan cermin. Damn! Seperti ini dandanan yang disuka Kirana? Kemeja slim fit lengan panjang dengan celana khaki berwarna cokelat? Kok gue malah kayak Si Langit? Apa perlu pake kacamata pula biar kayak kembaran, gitu? lama-lama gue curiga Si Langit kasih saran berdasarkan gaya berpakaiannya sendiri. Gue menggelengkan kepala, gak tertarik sama sekali dengan fashion metrosex yang Langit anut.
“Kali ini nurut sama aku. Kirana itu suka sosok cowok dewasa,” papar Langit. Risih mungkin ya, cuma gara-gara baju gue telepon Si Langit.
“Loh, emang dandanan anak band keliatan kekanak-kanakan, gitu?” jelas gue tersinggung dengan opininya.
“Susah ya diomongin! Just try for this moment only,” ujar Langit gemas. “Kamu boleh kembali ke gaya norakmu besok,” Sialan! enak aja ngatain dandanan gue norak. “Ingat, ini momen penting kamu, yang merhatiin kamu bukan Si Kirana doang. Tapi orang tuanya saat mereka menyadari siapa pemuda yang mengajak anak gadisnya pergi,” kali ini gue mulai terdiam. Benar juga ya? Mau gak mau gue harus rada jaim sama bokap-nyokapnya Kirana.
“Ok, gue ngalah,” ujar gue.
“Udah sana kamu siap-siap aja. Aku sibuk lagi siapin materi buat siaran ntar malam,” lelaki itu menutup sambungan telepon secara sepihak.
Untuk ke sekian kali gue menatap sosok diri gue di depan cermin. Kemeja ini sebenernya keren waktu gue beli di Zara. Tapi saat melekat di badan kok jadi berubah, ya? Seperti ada yang salah! Untuk beberapa saat gue mikirin sesuatu yang gak penting ini. Pusing amat! Manggil adik gue ajalah. Akhirnya gue nyerah. Dulu Lidya doyan banget dandanin gue, dan milihin baju yang oke menurut versinya—namun beberapa bulan ke belakang fungsi gue tergantikan oleh pacarnya yang baru.
Gue menghampiri pintu kamar, membukanya lalu berteriak ke arah luar. “Lidya!” Biasanya dia selalu sigap setiap kali kakaknya manggil.
“Apaan, Bang?” see? Dalam hitungan detik adik gue udah muncul di depan mata. Tuh kan, dia aja bisa tahu kalau ada yang salah dengan penampilan gue. Lidya dengan analisanya yang mumpuni langsung menelisik penampilan gue dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Ini baju yang tadi dibeli di PVJ kan?” tebak Lidya. Gue langsung mengiyakan.
“Jelek ya? Kok Abang jadi gak pede ya makenya?” bisa gue liat tatapannya yang rada illfeel. Sejak kapan kakak gue peduli sama fashion? Itu kali yang ada di benak Lidya. “Kasih masukan dong, bentar lagi Abang mau jalan nih.”
“Hmm…” lagaknya kayak pengarah gaya aja pake sok mikir gitu. Pada akhirnya Lidya menarik lengan gue ke depan cermin. “Ini kemeja kayaknya kudu dipadupadankan,” analisanya. Lidya langsung membuka lemari pakaian dan mencari sesuatu yang mungkin bisa berguna. Bros, gelang rantai, topi, sapu tangan, semua dia ubrak-abrik sampai kamar gue berantakan. Hingga matanya mulai berbinar saat menemukan syal hitam berbahan kaos yang pernah dia oleh-olehkan waktu traveling ke Turki. “Bener kan? Suatu hari benda ini bakal berguna. Aku pikir barang ini udah Abang buang.”
Tanpa berpikir panjang ia langsung melilit longgar syal itu ke leher gue. “Biru dan hitam. Klop kan?” gue hanya menyunggingkan seulas senyum seraya menatap refleksi diri gue di hadapan cermin. Langkah selanjutnya ia melipat lengan kemeja gue hingga siku. Hasilnya? Gue gak percaya! Mendadak gue jadi mirip Ariel Peterpan[1] saat lagi konser.
***
“Kamu keren sekali!” tanpa basa-basi perempuan itu memuji gue. “Ada sesuatu yang spesial kah malam ini?” please, Kirana. Don’t asking too much. Nanti juga kamu tahu sendiri.
Gue tersenyum seraya fokus pada jalanan di sekitar Jalan Dr. Djunjunan, atau bekennya disebut Jalan Pasteur. “We’ll see. Tentunya kamu juga udah bersiap-siap kan sampai dandannya cantik banget.”
“Gak sabar rasanya. Jangan-jangan kamu mau manggung lagi di Petrapucino.”
“Hm… bisa jadi,” benar juga tebakan Kirana. Tujuan gue emang mau dinner di Petrapucino. Kenapa? Karena gue mau pinjam panggungnya buat nyanyiin lagu spesial nanti. Oh damn! Belum apa-apa gue udah mulai nervous. “Sepi amat ya?” basa-basi gue. Gue langsung nyalain CD di car stereo hingga sesaat kemudian terdengar lagu You’re Beautiful-nya James Blunt—sengaja gua pilihin lagu itu atas saran Langit.
Seketika Kirana menoleh. “Lagu ini…” gumamnya.
“Hm?” tanyaku seraya fokus dengan kemudiku.
“Nggak ah…” perempuan itu malah membatalkan kalimatnya.
***
Setengah jam kami udah tiba di Petrapucino. Sial! Rame banget! Padahal ini bukan malam Minggu. Whatever! Yang pasti gue udah pesen tempat sama Petra di meja depan dekat panggung—kebetulan dia adalah tim sukses gue.
“Ciee! Yang mau dinner akhirnya datang juga,” gue tersenyum geli waktu lihat Petra memakai seragam café layaknya karyawan Petrapucino. “Silakan, malam ini gue yang layani kalian. Mari, gue anter ke meja kalian,” Di belakang Kirana, lelaki itu membuat isyarat dengan tangan dikepalkan. Semangat! Itu mungkin arti dari isyarat bibirnya. Yang jelas perasaan gue makin nggak karuan.
Kami ternyata gak bisa makan banyak. Apalagi saat ini dada gue rasanya sesak banget. Pingin mundur tapi sepertinya sudah terjebak. Pingin maju sekalian, tapi kenyataannya gue malah gak berkutik. Cuma diem sambil mainin Bintang Zero gue.
“Hei… kok malah diem? Makanannya gak enak?” ujar gue sok nyantai.
“Enak sih, cuma porsinya kebanyakan aja. Perut aku udah keburu penuh,” balas Kirana.
Gue menghela napas panjang. Waktunya semakin dekat. Rasanya sudah tidak mungkin untuk melarikan diri.
“Katanya mau ada kejutan, mana kejutannya?”
“Hm?” Damn! Gue tersadar dari lamunan saat Kirana seolah menagih janji kejutan itu. Sok cool gue menebar senyum. Padahal doi gak tahu kaki gue susah sekali buat beranjak. Gue menjentikkan jari memberi pertanda pada Petra. Tak lama sahabat gue datang seraya menyerahkan gitar akustik yang sengaja disimpan di café ini buat keperluan manggung. Lagi-lagi Petra mengepalkan tangannya—suer, lama-lama gue ilfeel sama tingkahnya.
Gue menghela napas panjang. “Gak apa-apa aku tinggal sebentar?” ujar gue saat bangkit menuju panggung. Kirana terlihat antusias seraya bertepuk tangan kecil.
Hening sekali saat semua pasang mata tertuju ke arah gue. Sepertinya gue harus mengucapkan kata-kata pembuka. Dan sialnya semua rangkaian kata yang sudah gue siapkan sejak tadi siang raib entah ke mana.
Gue berusaha saja berkata-kata sebisa mungkin. “Mari kita bicara tentang cinta. Tentang cinta yang tak kunjung mencinta. Rasanya seperti ingin menyanyi namun tak ada lagu yang bisa dinyanyikan. Yang kulakukan hanya berdiri terpaku dengan gitar yang tak mampu kupetik,” gue menundukkan kepala, lalu mengangkatnya kembali seraya tersenyum.
“Tapi itu telah berlalu. Saat seseorang menawariku sebuah lagu cinta yang bisa kunyanyikan. Dan dia akan duduk menantikan pesan cinta yang tersirat di dalamnya,” gue menatap Kirana dari jarak lima meter dari panggung. Tuhan, alangkah cantiknya perempuan itu. Ada rona kemerahan di wajah yang semakin menambah elok pesonanya. “Kirana Naila Pratista, mohon dengarkan pesan cinta dari lagu yang kamu tawarkan selama ini. Meski kamu tak menyadarinya.”
Hening. Nampaknya semua orang sudah mulai terbawa suasana. Kuhela napas panjang dan memulai memainkan chord gitar dari lagu Owner of My Heart.
If you think I’ve let you down
Tried to fool you
There’s no need to
If you think I’ve played around
Why to worry
You should know me
I’ve been true, right from the start
You’re the owner of my heart
(Owner Of My Heart-Sasha)
Tepukan meriah saat gue selesaikan menyanyikan lagu itu. Rasanya seperti peserta Indonesian Idol yang menunggu komentar dari sang juri. Gue cuma mampu berdiri bodoh dengan tangan masih menggenggam gitar. Kirana sendiri seolah tersekat kata. Dia sepertinya tahu lagu yang gue nyanyikan adalah cara lain dari pernyataan cinta gue. Tapi sialnya, perempuan itu tak mau mengeluarkan suaranya. Gue gak mau dipermalukan seperti ini! Kirana harus bicara.
“So, would you like to be owner of my heart?” tanya gue dengan suara bergetar.
Masih hening. Please Kirana, answer me! Sementara Petra membuat suasana semakin panas saat ia berteriak “Mau! Mau! Mau!” yang ternyata diikuti oleh pengunjung lainnya. Ayolah, jangan kecewakan mereka yang mendukung kita. Gue melayangkan seulas senyum seolah meyakinkannya.
Kirana akhirnya bangkit. “Yes, I’d like to be owner of your heart,” lirihnya pelan.
***
Malam semakin larut, baru sekarang gue bisa mengajak Kirana pulang. Ini gara-gara ide Petra yang ingin merayakan pesta peresmian hubungan gue sama Kirana. Gila memang, dia kira kita tunangan atau apa? Pake pesta segala.
“Maaf kita pulang terlambat, gak apa-apa kan?” tak terasa Jeep yang gue kemudikan sudah berada di Jembatan Pasupati.
Kirana menoleh lalu menebarkan senyum terindahnya. “Kamu gak mau berhenti dulu? Biasanya kamu suka menepi kalau sudah berada di atas.”
“Malam ini kayaknya nggak dulu. Waktunya mepet banget. Bisa-bisa ntar orang tua kamu musuhin aku,” canda gue. “Kir, makasih ya kamu mau nerima aku jadi orang spesial di hati kamu.”
Kirana menunduk malu. “Mungkin memang harus seperti ini jalannya, Bin. Besok-besok siap-siap aja aku dimusuhi Bianca. Dia kan nge-fans banget sama kamu,” ujarnya seraya tertawa kecil.
Mengusir kesunyian di antara kami, kunyalakan radio. Ini adalah jadwal siaran Langit di Dream FM. “Kamu sudah kasih tau Langit soal kita?” tanya gue.
Kirana menggeleng. “Seharusnya dia orang pertama yang tahu soal hubungan kita. Langit yang menyatukan kita.”
Gue mengangguk setuju. “Ya sudah, via radio gak apa-apa? Sekalian request lagu, mungkin?” tawar gue.
Matanya sedikit berbinar. “Hm… iya. Aku pingin denger lagu Owner of My Heart. Kira-kira Langit tau gak ya lagu itu?”
Aku mengulum senyum. Karena pada kenyataannya justru Langit sendiri yang menyarankan lagu tersebut dinyanyikan di depan Kirana. Entah sampai kapan rahasia ini kusimpan. Selama Langit tak membocorkannya tentu saja.
Seusai mengirim pesan ke Langit. Yang terjadi kami malah menepikan Jeep di fly over Pasupati. Menikmati Langit yang bertaburan Bintang.
“Langit rupanya tengah berdamai dengan taburan Bintang. Menciptakan daya magis yang luar biasa bagi para penghuni alam semesta. Seperti malam ini, saat dua hati mulai bersatu dalam sebuah ikatan cinta. Sebuah bukti nyata dari keajaiban langit. Congrats buat sobat Langit, Bintang dan Kirana yang baru saja jadian hari ini. Cinta memang tak pernah menjauh dari kalian. This one for you, Owner of My Heart by Sasha.”
I’ve been true, right from the start
You’re the owner of my heart…
[1] Tahun 2009 Band Peterpan belum berganti nama jadi Noah
Other Stories
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...