9. Unbreakable
KIRANA
Aku masih menerawangi peristiwa yang terjadi beberapa jam silam. Bersama denting waktu dan suara malam yang seharusnya terasa mencekam. Aku tak menghiraukan, justru kepalaku masih mencari celah jawaban akan sikap Bintang padaku. Tentang rasa bosannya, tentang amarahnya, dan tentang keinginannya untuk mengakhiri kisah kami.
Itu semua bullshit! Satu tahun aku pacaran dengannya. Cukup bisa membuatku mengenal seorang Bintang Praja Nugraha. Ya, lelaki itu tak pandai berbohong, bola matanya justru mengisyaratkan sesuatu. Seperti ada rahasia yang tak ingin ia bagi pada siapapun. Apalagi saat kudapati ia meneteskan air mata saat mulai mengendarai Jeep-nya. Membuatku yakin ada yang salah dengan perilaku Bintang! Dan aku harus cari tahu itu.
Aku menutupi wajahku dengan selimut, mencoba mengenyahkan semua rasa gundah itu. Kupaksakan hati ini menerima keputusan yang Bintang buat. Namun aku tak bisa. Cinta ini terlalu kuat untuk kuhancurkan.
Lagi-lagi kuhempaskan selimut lalu meraih ponsel yang terletak di atas nakas sebelah ranjangku. Kutuliskan semua resah yang terasa mengganggu kepalaku. Entah pada siapa kutujukan pesan ini. Pada Bintang, Langit atau Bianca? Entahlah.
“Kau lihat? Bahkan semesta pun tak terpedaya oleh bait kata yang kau ucapkan. Buktinya, rembulan tersenyum indah malam ini seakan tahu takkan terjadi serupa nestapa padaku. Jujur pada dirimu sendiri. Bahkan kaupun tak mampu merobohkan kekuatan cintamu. Someday, you will know… This love is unbreakable.”
Aku tersenyum saat ungkapan hatiku dibacakan oleh suara renyah sahabatku di acara tengah malamnya. Biar! Biar semesta tahu apa yang kurasakan saat ini. Syukur-syukur bila Bintang mendengarkannya juga.
“Pesan cinta yang aneh. Ada apa Kirana? Lagi marahan kalian?” komentar Langit. Aku tersenyum gemas. “Ok. Semoga Bintang mendengar suara hatimu, ya? This song specially for you. Unbreakable by Westlife.”
Sementara lagu indah itu mengalun indah, ponselku berpendar menandakan seseorang tengah menghubungiku. Hm… Langit ternyata.
“Halo?”
“Hei, mellow amat. Kalian kenapa? bertengkar?” tembak Langit
“Bukan bertengkar, tapi dia mutusin aku.”
“Hah! Kok bisa?”
Aku memperbaiki posisi tidurku. “Besoklah aku cerita. Kamu fokus siaran dulu, bentar lagi lagunya mau abis loh. Ntar malah keenakan denger curhatanku.”
“Janji ya kamu bakal cerita besok?”
“Suer!” dan Langit akhirnya menutup percakapan kami. Selepas itu aku malah terdiam. Ada sedikit sesal ketika kuceritakan masalah ini pada Langit. Karena aku tahu dia tak suka mendengar kisah percintaanku dengan Bintang.
***
“Cari tau coba ke si Petra, kali aja dia tau kenapa itu anak jadi galau kayak gitu,” komentar Langit sambil bermain-main gitar di atas ranjang.
Sementara aku melangkah menuju balkon dan menghela napas panjang di sana. “Feeling aku Petra gak tau apa-apa.”
“Kok bisa? Coba tanya dulu. Gak usah pesimis gitu lah,” Langit melepas gitar lalu menghampiriku. “Apa perlu aku turun tangan? Bicara langsung gitu sama dia?” ujarnya saat menoleh padaku.
Aku hanya menyeringai. Selalu begitu. Langit selalu bertingkah sok jagoan di hadapanku—meski tak kupungkiri terkadang aku sangat membutuhkan pertolongannya. “Gak usahlah. Ini urusan pribadi, aku mau selesaikan sendiri,” timpalku seraya melangkah memasuki kamar Langit.
“Kir…” lirihnya.
Aku menoleh. Ah… lelaki itu malah memberiku seulas senyum tulus padaku. Aku bisa menebak apa yang akan dia katakan selepas sunggingan bibirnya itu.
“Kamu gak apa-apa kan? Kalo kamu butuh bantuanku, bicara aja. Aku pasti bantu kamu semampuku,” tepat seperti yang kuperkirakan, dia akan mengatakan hal serupa.
“Tentu. Emangnya siapa lagi sahabat yang bisa kuminta tolong selain kamu?” aku membalas sunggingan senyumnya. “Ya sudahlah. Aku ikuti saran kamu buat tanya-tanya ke Petra. Berharap saja dia tahu sesuatu.”
***
Sepanjang perjalanan menuju Petrapucino di kawasan Jalan Padjadjaran, aku mencoba menghubungi Bintang untuk yang ke sekian kali. Meski pada akhirnya hanya menyisakan kecewa di hati karena dia tak pernah menjawab panggilanku.
Tuhan, apakah memang firasatku yang salah? Dan dia sungguh ingin mengakhiri cinta kami? Tapi mengapa dengan cara seperti itu? Putus hanya karena kepergiannya ke luar negeri. Mengapa tak sekalian dia selingkuh atau apalah yang membuatku mudah untuk melupakannya?
“Aku gak ngerti juga, Kir. Dia emang sempat bilang pingin kuliah di luar negeri. That’s it. Gak ada yang lain.”
“Tapi kenapa sampai harus mutusin aku, Pet?” kali ini aku mulai kehilangan kendali. Mungkin Petra sudah merasakan gelagatku. Karena tak lama kemudian dia menyerahkan sapu tangannya.
Lagi-lagi aku tak mampu membendung air mataku. Padahal sebelumnya telah kucamkan dalam hati, jangan dulu ada air mata sebelum kudapati alasan tepat kenapa dia memutuskanku.
“Sorry, Kir. Aku gak bisa banyak bantu kamu,” lelaki itu menepuk bahuku halus.
Aku tertawa kecil seraya menghapus air mata. “Maaf ya, aku jadi cengeng begini. Ya sudahlah, kalau memang harus berakhir kayak gini aku bisa apa? Mungkin aku bukan pasangan yang tepat buat dia.”
“Nope, jujur saja. Kamu adalah pasangan terbaik Bintang. Anak itu aja yang gak tau diri perlakukan kamu kayak gini,” ujar Petra. “Nanti aku coba bicara lagi. Siapa tau dia mau dengerin omonganku.”
Aku mengulum senyum. “Kamu emang temen yang enak diajak sharing. Pantes Bintang betah jadi sobatmu,” lelaki itu malah tertawa kecil. “Oh iya? Aku denger kamu lagi deket sama Bianca ya?” sengaja kuganti topik pembicaraan ke arah yang lebih menyenangkan.
Kali ini Petra tertawa lebih keras. “Yaelaahh… Bianca cerita apa aja sama kamu?” ujarnya setengah malu.
“Mau tau aja,” candaku. “Tapi beneran loh, aku dukung hubungan kalian ke arah yang lebih serius. Dia beneran suka kamu…” bisikku nakal. Semakin merahlah paras lelaki itu.
***
Aku menyerah! Sepertinya Bintang sudah mantap dengan keputusannya itu. Tapi sungguh, yang membuatku tak bisa menerima adalah sikapnya yang seolah menghindar. Aku pernah menyambangi kampusnya demi bisa bertemu muka dengannya, dan entah kenapa dia bisa hilang secepat itu saat kudapati sosoknya dari kejauhan. Perjuanganku yang lain, malam Minggu kemarin aku sengaja datang ke Petrapucino, kenyataannya Angkasa Band malah tidak tampil. Sungguh, kali ini bukan hanya Bintang yang berubah, eksistensi Angkasa Band pun ikut tenggelam karenanya.
Tinggal aku dan puing-puing air mata yang berserakan di kamar mungil ini. Rasanya ingin sekali menghampiri Bintang lalu menamparnya keras. Biar dia rasakan sakit yang menghujam dalam di hati ini.
“Say, lagi ngapain?” Bianca mengusik keheninganku lewat sambungan telepon di ujung sana.
“Cuma ngelamun di kamar aja, suntuk banget.”
“Jangan gitu dong, Say. Jangan terlalu mikirin soal si Bintang,” ujar Bianca dengan suara mengiba.
“Kamu ini lagi di mana? Kok berisik bener,” aku hampir kesulitan menangkap suara Bianca karena bersaing dengan kebisingan di sekitarnya.
“Ssst.. aku lagi kencan sama Petra. Doi lagi ke toilet dulu. Makanya aku bisa telepon kamu,” perempuan itu malah cekikikan.
“Ciee… ! Di mana? Petrapucino?”
“Di mana lagi? Tempat pacaran gratis buat kami ya cuma di sini,” aku ikut tertawa mendengar candanya. “Eh, tunggu sebentar. Itu bukannya… Bintang?”
“Hm?”
“Iya. Bintang datang ke Petrapucino sama seseorang. Siapa ya?” ujarnya menerka-nerka. “Yaelah! Itu si Langit. Ngapain mereka ketemu? Kalian janjian mau ketemu?”
“Nggak,” timpalku. Tidak tahu kenapa aku merasa ada firasat yang tidak mengenakkan. Kira-kira ada urusan apa keduanya bertemu. Setahuku mereka berinteraksi hanya saat berada di kampus. Atau jangan-jangan… aku terperangah. Tidak boleh! Aku tidak mau Langit ikut campur urusan aku sama Bintang. Bisa tambah runyam nantinya. Apalagi dengan sikap Bintang yang tak bersahabat akhir-akhir ini.
“Kir? Kirana? Halo?? Where are you??”
Aku kembali tersadar. “Aku tutup dulu ya? Kayaknya aku harus hindari mereka buat ketemu,” tanpa banyak isyarat aku menutup sambungan telepon. Bergegas aku bangkit lalu mengganti pakaian seadanya.
Setengah jam waktu yang kutempuh hingga berhasil menapaki diri di Petrapucino. Tinggal beberapa meter menuju café itu, Bianca menghubungiku kembali.
“Halo?” ujarku dengan langkah terpacu.
“Kir? Kamu di mana? Cepetan, itu Bintang berantem sama Langit!”
Aku terperangah. “Apa? Yaudah, ini aku ada di depan,” kupaksakan untuk berlari, berharap bisa segera melerai dua manusia bodoh itu. Sungguh! Apa yang ada di kepala mereka sampai harus buat keributan di tempat umum.
Benar juga! Saat aku tiba di teras Petrapucino, nampak orang-orang bergumul di salah satu sudut café. Mereka berusaha melerai adu mulut dari dua orang lelaki yang kukenal. Bahkan kulihat Petra berada di antara mereka. Berusaha memisahkan keduanya.
“Lo yang harusnya tau diri! Ini urusan gue sama Kirana. Lo gak ada hak ikut campur sampai sejauh ini!” tunjuk Bintang.
Karena geram, Langit mencengkeram t-shirt Bintang. “Apa kamu lupa hah? Peringatanku waktu mulai pendekatan ke Kirana? Kubilang menyingkir kalau hanya mau bermain-main dengannya!”
Bintang berusaha menghempas jeratan tangan di t-shirt-nya hingga akhirnya berhasil melepaskan diri dan menyebabkan kacamata Langit terpelanting ke lantai. Tak kuasa lagi menahan amarah, tak segan-segan Langit menyerang pipi lelaki di hadapannya. Pukulannya telak hingga membuat Bintang tersungkur.
“Kamu memang susah buat dikasih tahu!”
Sementara Bintang bangkit dengan serangan yang tak kalah kerasnya. Satu tinju di pelipis kanan cukup membuat Langit oleng untuk sesaat. Namun keduanya tak mau memperlihatkan kelemahan masing-masing. Tak peduli teriakan para pengunjung perempuan yang ketakutan atau beberapa orang yang berusaha melerai. Mereka tak bisa dihentikan.
Kirana melangkah cepat dan melepas dua tubuh yang saling beradu otot itu. “Hentikan sialan!” teriak Kirana. Tak bisa dihindari, kedua lelaki itu sama-sama terkejut saat Kirana nampak di antara mereka.
“Tanya sahabat kamu yang sok jagoan ini, Kir!” tunjuknya pada Langit. “Lagian kamu juga buat apa sih cerita-cerita masalah kita sama orang ini? Kamu mau cari perlindungan?”
“Bintang! Jaga bicara kamu!” teriak Kirana. Sungguh aku tak ada daya untuk menyanggah. Sasaranku kini mengarah pada langit. Aku menatap dalam lelaki itu. Langit dengan pelipis yang terluka dan kacamata retaknya. Plaak! Sungguh, tadinya aku ingin menahan diri. Tapi entah kenapa tanganku ingin sekali bereaksi. “Kamu lihat kan sekarang? Semua jadi gak terkendali gara-gara kelakuan kamu.”
“Kirana…” lirihnya. Sepertinya Langit tak percaya dengan amarahku yang meluap tak terkira.
“Sudahlah, mending kalian yang pacaran! Gue sudah gak sanggup main drama kayak gini,” umpat Bintang. Sungguh di balik amarahnya, aku masih lihat serupa penyesalan di wajah Bintang. “Gue cabut!” bergegas Bintang berlalu meninggalkan Petrapucino.
“Bin! Tunggu Bin!” entah ide ini datang dari mana. Aku ingin terus berkomunikasi dengannya.
Saat satu langkah kutapaki. Langit menyanggahku. “Kir… jangan pergi!” aku menoleh. Sungguh, bayangan Langit terhalau oleh amarahku sendiri. Hingga kuberanikan melangkah sekali lagi. “Kumohon, Kirana. Jangan pergi,” rintih Langit.
“Diam! Kalau bukan karena kamu, kejadian ini gak akan pernah ada!” tunjukku penuh emosi.
Tanpa ragu aku berlari menapaki langkah Bintang ke arah menuju Istana Plaza. Di mana dia? Ah, aku masih bisa melihat t-shirt birunya tepat seratus meter di hadapanku. Aku melangkah menerobos rawannya kendaraan yang hilir mudik di perempatan jalan.
“Kirana… awaas!” suara seseorang cukup membuatku tersentak hingga kusadari sebuah Kijang Innova berada beberapa meter di hadapanku. Seperti mimpi, tubuhku tiba-tiba melayang dan terjerembap di ruas sisi jalan. Seseorang telah menyelamatkanku dari maut. Tubuhku terasa perih, saat kusadari sepanjang lenganku terluka akibat gesekan dengan jalanan beraspal. Sementara sosok penyelamat—yang ternyata adalah Langit—hanya bisa meringis menahan sakit di sekitar punggungnya.
“Kirana!” Bintang akhirnya menghampiri. “Maafkan aku, Sayang!” rintihnya penuh penyesalan. Tanpa segan lelaki itu membantuku untuk bangkit.
“Langit… Langit! Kamu gak apa-apa?” aku khawatir dengan keadaan sahabatku. Sementara Langit hanya mengangguk seraya membersihkan luka yang bercampur dengan pasir.
***
Semua berawal dan berakhir di Petrapucino. Saat kami bertiga termenung di bagian kantor cafe itu, tak ada suara yang keluar dari mulut kami. Entah bagaimana kugambarkan perasaanku saat ini. Malu, geram sekaligus lega. Karena akhirnya kami bertiga bisa berada dalam satu ruangan dengan kepala yang lebih dingin.
“Maafin aku, Kirana. Sudah dua kali aku bikin kamu terluka,” lirih Bintang saat meraih jemari tanganku.
“Dan kamu akan membuat luka ketiga sebentar lagi,” timpalku. “Aku gak mau menyerah pada cinta kita. Jika ini soal waktu, aku sungguh gak peduli. Kamu boleh pergi ke Singapura. Tapi tak harus sampai mengorbankan hubungan ini. Kecuali jika kamu memang sungguh gak sayang aku lagi!” entah bagaimana tiba-tiba saja luapan hatiku terucap dengan lancarnya.
“Ini gak semudah yang kamu pikirkan, Kir.” Bintang menundukkan kepalanya. “Ini lebih berat dari sekedar menunggu. Kamu akan menyesal, dan aku gak mau itu terjadi.”
“Coba saja! Aku siap diuji! Jarak bukanlah alasan yang tepat meninggalkan hati seseorang. Mau berapa lamapun kamu berada di sana, aku siap menunggu!” timpalku mantap.
Ada sebulir air mata haru di sudut mata Bintang. “Kamu tahu, aku tak punya alasan tepat untuk membuatmu enyah dari hidupku. Kupikir dengan alasan kepergianku ke Singapura, kamu akan menyerah kalah. Tapi kenyataannya… kamu malah membuatku takut. Aku takut benar-benar kehilanganmu.”
“Karena aku tahu, kamu masih sayang aku. Kamu gak sungguh-sungguh berharap aku pergi. Aku tak peduli apa motif terselubung dari kelakuanmu itu. Karena kamu bohong! Kamu bohong saat bilang bosan dengan semuanya. Yang kutahu kamu bahagia berada di tengah orang-orang yang menyayangimu. Musik, keluarga, Band Angkasa dan aku… kami adalah hidupmu,” aku meraih jemari hangat kekasihku.
Langit bangkit dan bersiap untuk melangkah keluar dari kantor. Sepertinya percakapan kami membuatnya merasa tidak nyaman. “Kamu mau ke mana, Lang?”
Lelaki itu menoleh. “Sepertinya kalian harus bicara berdua. Aku tidak mau mengganggu kalian.”
“Ini bukan tentang kami berdua, Lang. Tapi kita bertiga,” tiba-tiba saja Bintang menyanggah. Perlahan ia melepas jemarinya dari lenganku lalu mendekati Langit. “Maafin kata-kata kasar gue tadi ya? Gue sungguh gak tau diri bicara yang enggak-enggak sama lo. Karena kenyataannya justru karena lo, gue sama Kirana bisa bersatu seperti ini. Dan gue tahu, lo lakuin ini semua semata-mata hanya ingin melindungi Kirana dari perangai kurang ajar gue.”
“Sudahlah… kita bahas ini lain kali. Sekarang urus dulu persoalan kalian. Aku bisa nunggu di luar,” timpal Langit.
“Maafin aku juga, Lang. Aku gak tau kenapa tadi bisa ngomong kasar gitu sama kamu,” sungguh aku malu pada lelaki itu.
“Gak usah dipikirin. Aku gak marah kok,” Langit menyunggingkan senyuman lalu melanjutkan langkahnya.
***
Atas nama cinta, kami pertahankan hubungan ini. Aku merelakan Bintang pergi mengejar cita-citanya di Singapura. Lebih baik menunggu selama tiga tahun daripada Bintang pergi dan tak bisa kuraih lagi. Sulit memang, tapi entah kenapa senyumannya seolah bisa menjaminku untuk bertahan. Senyuman yang ia pastikan hanya untukku, dan kembali ia akan persembahkan saat kepulangannya kelak.
“Kamu gak kecewa kan soal keputusanku untuk pergi?” sekali lagi Bintang meyakinkan diri saat berada di lobi bandara.
Aku menggeleng. “Setiap orang berhak untuk mengejar cita-citanya. Kamu pergilah dengan tenang. Aku setia nunggu sampai kamu kembali,” wajah lelaki itu bersemu merah. Entahlah, apa ini perasaanku atau bukan. Beberapa hari ke belakang, Bintang selalu dirundung kesedihan. Wajahnya seringkali muram. Bahkan beberapa kali aku mendapatinya termenung di Jeep seraya menatap foto keluarganya.
“Tetap bertahan di sini, Kirana. Aku akan berjuang buat kamu,” sebutir air mata mengalir di sana. Seketika ia tertawa lalu menghapus air matanya. “Maaf, aku mendadak melankolis seperti ini.”
“Ayo, sudah waktunya kita masuk,” orang tua Bintang mengingatkan. Baiklah, tak ada lagi alasan untuk mengundur waktu. Bintang memeluk satu per satu kawannya, termasuk Langit.
“Jaga Kirana buat gue, ya!?” bisikan itu terdengar olehku saat ia berbicara dengan Langit. Aku menggeleng seraya mengembangkan senyuman.
Selepas kepergiannya, aku tahu akan ada sesuatu yang hilang. Tapi tak mengapa, selama cinta ini bertakhta di sanubari, aku pastikan akan tetap bertahan. Like our love… Unbreakable.
Other Stories
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...