8. Cahaya Yang Meredup
BINTANG
Gue gak bisa maafin diri gue sendiri. Setelah pertengkaran tempo hari menyisakan tangis di ujung mata cewek gue. Dan sialnya gue malah lampiaskan semua amarah ke setiap orang yang gue temui. Termasuk Langit, padahal dia berusaha ramah nanyain kabar gue yang udah berhari-hari gak ngampus.
Lalu bagaimana seharusnya gue mengadu? Setelah berita buruk itu menimpa gue. Gue yang nggak ngerti apapun tiba-tiba dikutuk Tuhan jadi orang penyakitan. Apa sebenarnya salah gue? Ibadah gue jalan! Makanan yang gue santap gak pernah aneh-aneh! Dan gue selalu olahraga rutin. Tapi tiba-tiba saja penyakit sialan itu menimpa gue? Sumpah! Gue gak terima jadi orang sekarat. Gue masih muda!
Waktu itu ketika nyokap maksa buat periksa ke dokter, gue gak ada feeling apa-apa. Yang ada di kepala cukup ikuti kemauan nyokap dan beres urusannya. Palingan dokter bilang kalau kondisi gue lagi drop aja. Butuh istirahat lebih banyak—itu yang sering gue dapet dari pemeriksaan sebelumnya.
Dan memang, pemeriksaan kemarin cukup bikin tegang juga. Ada beberapa tes kesehatan yang bikin jantung deg-degan. Takut terjadi sesuatu yang serius dengan tubuh gue. Apalagi dengan gejala-gejala aneh yang bikin gue malu di depan teman-teman—terutama Kirana. Pada akhirnya semua tersibak setelah seminggu kemudian gue balik lagi ke rumah sakit atas permintaan si dokter. Gue terkena leukemia!
Gue inget waktu itu nyokap nyaris teriak histeris, untungnya ada Lidya yang berusaha tenangin beliau. Justru gue yang gak mampu bereaksi apa-apa. Pingin teriak tapi rasanya gue gak mampu bersuara. Pingin mewek tapi air mata gue gak tumpah-tumpah. Hingga pada akhirnya gue cuma bisa berlari sejauh mungkin dari rumah sakit, berpikir kalau ini cuma sekedar mimpi. Dan berharap segera menemukan pintu menuju alam nyata.
Tapi tidak. Gue masih berada di tempat yang sama. Terik matahari di sepanjang jalan Sukajadi, teriakan suara klakson bis DAMRI yang memekakkan telinga, dan suara percakapan mahasiswa kedokteran yang tepat berada di halte depan rumah sakit membuat gue sadar bahwa ini nyata. Kenyataan kalau gue berpengidap leukimia.
Mau tidak mau, kawan-kawan mulai bisa melihat perubahan di diri gue. Ketika badan gue mudah sekali terkena infeksi, demam atau tiba-tiba mimisan saat gue latihan di studio. Tapi karena acting gue yang meyakinkan, mereka seolah percaya waktu gue bilang cuma sekedar kecapean.
Capek? Itu sungguh. Gue udah mulai capek dengan hidup gue. Mungkin kalo gue mati, semua urusan bisa kelar kali ya? Itu sebabnya waktu kecelakaan kecil di fly over Pasupati bareng Kirana kemarin, yang terucap di mulut gue malah soal kematian. Seandainya gue mati aja ninggalin Kirana. Lucu, gue sukses bikin doi ketakutan waktu bilang seperti itu. Tapi, saat itu juga gue sadar. Tenyata gue pingin hidup lebih lama. Bahkan pingin selamanya muda agar selalu bisa melihatnya bahagia di samping gue.
“Bintang gak mau pergi!” bantah gue keras di hadapan bokap-nyokap.
“Bin, Demi Tuhan! Kali ini kamu harus nurut sama Mama dan Papa. Mama takut terjadi apa-apa sama kamu,” suara parau nyokap sungguh menusuk hati gue. Ada dua rasa berseberangan di sana. Antara ketakutan orang tua gue dan kemarahan gue. Betapa mereka gak bisa pahami perasaan anaknya. Di saat genting seperti ini, yang gue butuhin adalah kasih sayang mereka, buat gue merasa tenang dan yakinkan semua akan baik-baik saja. Yang gue lihat justru wajah-wajah muram bersimbah kepedihan. Membuat gue gak mampu melangkah ke mana-mana dan diselimuti rasa takut.
“Bintang juga takut, Ma!” teriak gue. “Lalu menurut kalian, Bintang pergi ke Singapura dan hidup terasing di sana. Semua akan baik-baik saja? Kalian bisa pastikan Bintang akan selamat?” kali ini suaraku mulai bergetar. “Bintang takut gak bisa melihat kalian lagi di sisa umur Bintang.”
Ledakan tangisan Lidya membuat gue gak mampu membendung air mata. “Abang jangan bilang gitu. Tujuan Papa sama Mama baik. Kami cuma pingin Abang cepet sembuh. Di Singapura, Abang dirawat di rumah sakit terbaik. Abang jangan lupa, ada Om Henri di sana. Beliau pasti bisa sembuhin Abang,” gue terus mendekap adik gue. Selama ini Lidya yang selalu bisa meluluhkan hati gue. “Abang harus berusaha sembuh. Lidya sayang Abang.”
***
Gue menatap refleksi diri di cermin. Sepertinya gak lama lagi fisik gue yang sempurna akan berangsur hancur. Berat badan akan turun drastis, rambut tebal yang gue banggakan akan luruh perlahan, dan wajah akan semakin tirus dengan garis hitam di sekitar mata.
Bukk! Refleks gue meninju bayangan gue sendiri, hingga bongkahan kaca itu melukai jemari tangan. Perlahan darah segar mengucur membasahi lantai. Biar saja, sepertinya gue harus membiasakan diri terluka. Akan ada sakit yang lebih dahsyat dari ini.
Dan lagi-lagi gue menangis. Suer! Dalam sepuluh tahun terakhir hidup gue, baru kali ini menangis dengan intensitas yang sering. Hanya saja, gak ada bahu yang bisa gue minta untuk bersandar. Biarin! Biar gue tanggung rasa sakit ini untuk diri sendiri. Hanya kenangan manis yang ingin gue ukir bersama orang-orang yang gue sayang, selepas kepergian gue kelak.
***
“What? Lo mau keluar dari band?” Petra mendongak lalu bangkit menghampiri gue. “Kenapa? Kok tiba-tiba?”
“Nope. Gue cuma mau fokus sama kuliah dulu. Lagian gue mau berangkat ke Singapura buat lanjutin sekolah di sana,” papar gue tenang.
“Hah? Lalu gimana dengan mimpi-mimpi elo? Dan janji yang elo umbar demi band kita?”geram Raihan seolah tak terima dengan keputusan gue.
Gue cuma mengulum senyum. “Segalanya sudah berubah, Bro. Gue cuma pingin hidup bener dan lanjut sekolah di luar negeri.”
“Sialan! lo kemakan omongan lo sendiri. Gue masih inget omongan lo tahun lalu. Waktu gak akan pernah mengubah apapun. Yang terjadi justru akan menguatkan kita. Lalu sekarang? Ke mana kata-kata bijak itu? Bualan yang nyaris menggoyahkan keputusan gue buat hengkang dari band kita.”
Gue gak bisa berkata apa-apa. “Gue harus gimana? Keputusan sudah gue ambil. Sorry guys, gue pergi sekarang,” daripada mereka menyerang dengan kalimat yang bikin hati gue luruh. Mending gue cabut pulang menembus hujan yang membasahi Kota Bandung.
Entah berapa kilometer gue berlari. Gue gak peduli, selama masih bisa mengenyahkan diri dari mereka. Tujuannya ternyata mengarah pada Jembatan Pasupati. Saking seringnya ke tempat ini, kaki gue sepertinya tahu ke mana seharusnya gue melangkah. Dalam keadaan menggigil, gue duduk bersandar di sisi jembatan seraya melipat lutut. Benak gue bertanya-tanya. Gila apa ujan-ujanan di atas jembatan? Mau bunuh diri, lo? Gue malah tersenyum sinis. Bunuh diri? Ide keren. Seenggaknya gue gak perlu merasa kesakitan saat ajal menjelang nanti.
Perlahan gue bangkit. Menatap jalan raya tepat di bawah jembatan ini. Seandainya melompat dari sini, apa gue langsung mati? Entah pikiran apa yang menghasut kepala gue, kaki ini malah melangkah menaiki pembatas jembatan. Saat itu juga jantung gue berdetak kencang saat sadar kedua kaki hanya bertumpu di atas bongkahan tembok tinggi itu. Tanpa perlindungan apapun gue berusaha menyeimbangkan tubuh. Gue hempaskan napas bersiap untuk melayang dan mengakhiri semuanya.
“Lo mau mati?” seseorang mengganggu konsentrasi gue. Dan ternyata orang itu adalah Petra. Lelaki itu perlahan mendekati gue. “Lakukan. Gue gak yakin orang sepengecut elo bisa melakukannya.”
“Coba saja, elo bakal lihat gue akan mati di bawah sana!” tantang gue.
“Terlalu rendah untuk bunuh diri di jembatan ini. Mentok-mentoknya elo palingan masuk UGD. Cacat, koma atau paling parah kaki elo diamputasi,” bual Petra. “Kalau yakin mau mati. Bunuh diri di tower Bank BRI coba, atau kalo nggak di atas menara masjid agung. Kalo di sana gue yakin elo bisa mati,” lelaki itu tersenyum. “Berhenti jadi kayak anak kecil. Turun lo!” ujarnya seraya menjulurkan lengan kanannya.
Ragu-ragu gue menerima uluran tangannya lalu melompat kembali ke jalanan beraspal. “Tahu dari mana gue ada di sini?”
Petra menggelengkan kepalanya. “Gue kenal elo bukan setahun dua tahun. Gue tahu ke mana aja lo pergi kalo lagi galau. Termasuk kebohongan yang lo tutupi selama ini.”
Gue mendongak. “Maksud lo?”
“Gue tahu soal penyakit lo. Maaf, gue kemarin obrak-abrik tas elo. Dan di sana gue temuin obat-obatan yang ternyata obat anti kanker.”
“Dasar kunyuk, lo!” ujar gue pelan. “Sekarang elo tahu keadaan gue. Sekarang giliran elo kasih gue jawaban buat gue. Apa yang harus gue lakukan?”
“Berjuang. Perjuangkan mimpi-mimpi elo selama ini. Gak adil cuma karena penyakit ini, lo kubur semua cita-cita hebat lo.”
“Elo yakin gue bisa selamat?”
“Nothing is imposibble. Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk umat-Nya,” Lelaki itu mendekap gue. “Jangan patah semangat untuk berjuang. Ada keluarga, gue, juga Kirana yang selalu di samping elo.”
Kirana? Gue bahkan gak berniat menyampaikan berita ini padanya. Rasanya gak adil aja buat dia. Dan tentunya itu hanya membuat hati gue semakin sakit. Kirana gak pantes mencintai lelaki yang sekarat.
“Pet, lo mau berjanji sesuatu gak sama gue?”
“Hm?”
“Rahasiakan tentang penyakit gue ke semua orang. Terutama Kirana.”
“Kirana?”
Gue mengangguk pelan. “Gue gak mau mengiba cinta darinya. Mungkin kalo dia tahu kebenarannya, kadar cintanya akan memudar. Tergantikan oleh rasa kasihan,” gue tersenyum sinis. “Lo tahu sendiri, kan? Gue paling gak suka dikasihani.”
“Gue gak yakin sama pendapat lo,” timpal Petra. “Kirana cinta lo seratus persen. Gak mungkin dia menjauh atau bahkan jadi illfeel sama lo. Sebaliknya, dia bakal jadi motivasi lo buat sembuh.”
Gue percaya omongan lo. Sungguh. Kenyataannya gue yang gak rela Kirana menghabiskan waktu demi gue yang gak mungkin bisa ngasih dia kebahagiaan, batin gue.
Rupanya Petra bisa memahami dari pancaran mata gue. Tanpa banyak bicara lagi, ia menganggukkan kepalanya.
Di sinilah akhirnya gue berada. Bersama kelabunya langit yang berderai air mata, seolah mewakili sakit yang gue rasain. Ketika semua mimpi dan doa berhamburan tak berguna.
***
“Kamu mau lanjutin sekolah di Singapura?” akhirnya Kirana membuka mulut setelah beberapa menit kami terdiam.
Gue yang gak berani menatap matanya hanya bisa menganggukkan kepala. “Maaf…” lirih gue.
“Kamu gak pernah bahas ini sebelumnya. Kenapa mendadak sekali? Lalu gimana kuliah kamu di sini? Masih ada dua semester lagi kan? Lalu band kamu gimana? Bukannya kalian sudah tanda tangan kontrak, terus gimana…” tak terasa di ujung kalimatnya bulir kristal menetas perlahan. “… bagaimana dengan kita?”
“Aku gak ada pilihan, Kir.”
“Aku gak tanya soal pilihanmu. Aku cuma tanya soal kita. Bagaimana kita selanjutnya!?”
“Kita akhiri saja,” sungguh, bibir gue berat saat mengatakan kalimat itu.
“Aku gak mau!” tegas Kirana.
Aku mengangkat kepala. “Kirana… aku pergi jauh dan gak tahu pastinya kapan akan kembali,” terang gue.
“Aku rela nunggu! Asal kamu janji mau kembali.”
Tuhan! Sakit hati gue, sakit melihat dia mengiba seperti itu. Hentikan Kirana! Lo nyakitin gue! “Aku gak yakin bisa secepat itu bisa kembali, Kirana. Akan ada banyak rencana yang aku buat di luar sana. Aku takut tak bisa pulang secepat itu.”
“Cukup katakan kamu akan kembali. Dan aku akan setia menunggu kamu,” kukuh Kirana.
“Cukup Kirana!” gak tahan, sontak gue bangkit. Suara keras gue cukup membuat kami jadi pusat perhatian. “Baik. Aku bakal jujur sama kamu. Aku bosan, ingin menjauh dari kota ini dan mencari suasana baru.”
Lagi-lagi Kirana menantangku. “Termasuk bosan sama aku?” lirihnya.
“Ya!” gua mendongak. “Jelas? Jadi kamu jangan pernah halangi langkahku lagi. Jalan kita sudah berbeda sekarang!” Sakit memang, tapi gue rasa ini jawaban yang telak untuk membuat Kirana bungkam dan akhirnya mengerti. Kali ini gue gak sanggup lagi melihat rona di wajahnya, bergegas gue raih kunci mobil lalu meninggalkan Kirana sendiri di café itu.
Suatu hari kamu akan mengerti kenapa aku melakukan ini padamu. Maafkan aku, Kirana.
Other Stories
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
The Unkindled Of The Broken Soil
Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...