People Like Us

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

Chapter 2

Jiwa berpeluh menahan deru
Kau cium napasku dalam gairah semu
Lalu lumuri ragaku dengan pekat dosa
Goncangkan batas pertahananku
Bergemuruh, kisruh, rusuh
Dan akhirnya berlabuh
Sialan! Suasana di private room semakin gerah. Bukan semata karena tingkah tak tahu malu para kucing, tapi aroma Nael seolah membiusku di ruang remang ini. Lelaki itu tak jauh beda dengan para kucing lainnya. Merajuk, mencumbu dan menggerayangi setiap lekuk tubuhku. Aku berada di tengah-tengah. Dilema menghadapi rasa rindu yang menyeruak tanpa ampun, bersatu dengan amarahku menghadapi ribuan tanya tanpa kutemukan jawabnya. Ada apa dengan Nael? Bagaimana bisa dia terjebak di jaring nista ini? Dan bagaimana bisa dia nyaman menghadapiku? Sahabatnya sendiri!
Aku ingin keluar! Aku ingin keluar dari neraka ini!
Aku dorong paksa tubuh Nael yang hampir menindihku. Sudah cukup kegilaan ini, sebelum semua semakin tak terkendali. Nael yang tersungkur di lantai mendongak tak mampu bicara, ia menatapku seolah bibirnya tersekat.
Lalu Nael beranjak. “Kenapa?”
“Aku…” di tengah pikiran yang membuncah, kucoba mencari alasan yang masuk akal. “Aku harus pulang! Besok pagi aku harus bekerja.”
“Loh kok? Ini belum puncaknya, Brother!” Bobby sialan! Dia telah mabuk rupanya.
“Kamu…!” tunjukku pada si sialan Bobby. “Aaah... sudahlah, susah aku bicara dengan kalian!” bergegas aku merapikan kemeja. Memasang kembali resleting dan kancing baju yang sempat terbuka. “Aku pergi!” ujarku setelah menenggak segelas penuh bir.
“Diaz! Tunggu!” sergah Dimas. Aku tak indahkan lagi suara-suara itu. Entah kenapa mendengar suara mereka membuatku muak setengah mati!
Ini perbuatan kalian! Kalian yang membawaku ke tempat ini dan menoreh lukaku di masa lalu!
Hingga di halaman Metropolis aku masih kebingungan. Kuedarkan pandanganku ke segala arah. Kota bertabur bintang ini mendadak lengang dalam sekejap. Di mana taksi-taksi yang biasa berjajar di sepanjang ruas Jalan Merdeka? Dan sial! tak ada satupun kendaraan umum yang melintasi jalan ini.
“Hm…” seseorang berdehem. Saat kuberbalik. Damn! Nael masih membuntutiku. “Sepertinya kamu kurang sehat. Akan lebih baik kalau aku antar kamu pulang, bagaimana?”
“Sialan!” kuacak-acak rambutku. Bingung, bagaimana harus menghadapi lelaki itu? Dan Nael sendiri dengan perangai tenangnya bersikap seolah tidak ada yang salah di antara kami. Benar-benar tak tahu malu!
“Keberadaanku membuatmu bingung ya?” tanpa segan dia meraih pergelangan tanganku. “Just relax, Babe. It’s all about time. Suatu hari kamu pasti bisa menerima kenyataan ini,” ujarnya tenang. “Cukup jalani hidupmu lalu lupakan lelaki bernama Nael,” dia menghela napas panjang. “Lagipula aku tidak akan pernah mengganggu hidupmu. Kita berada di kasta berbeda sekarang, Mr Perfect,” jemarinya mengelus pipiku lembut.
Terbuai oleh kata-katanya aku menunduk terpekur.
“Ayo kita pergi ke suatu tempat,” ajaknya.
“Hm…” aku mengangkat wajah.
“Kita mabuk malam ini. Lupakan semua masalah gila yang menderamu. Aku janji tidak akan macam-macam. Just wanna be your friend. I promise,” Nael mengangkat jemarinya.
Dengan bodohnya aku hanya menganggukkan kepala.
***
Sepanjang perjalanan aku tak mampu berkata-kata. Semua amarah yang sempat meluap bungkam dalam sesaat. Dan si brengsek ini, sejak awal seharusnya kutolak saja ajakannya—dia hanya membuatku semakin tidak karuan.
“Are you ok?”
“Hm… fine,” kujawab meskipun dengan suara datar. “Dengar, Nael. Kupikir ini bukan waktu yang tepat untuk minum. Be…”
“Huss…” telunjuknya seketika mendarat di bibirku. Kalau saja aku berani, ingin rasanya melumat ujung jemari yang nyaris menempel di lidahku. “Aku tidak akan memakanmu. Take it easy…” bisiknya.
Sejenak kutatap lekat-lekat wajah oriental itu. Perlahan aku tersenyum saat mulai membanding-bandingkan raut wajahnya dengan Nael sepuluh tahun silam. Tidak ada yang berubah. Selain rambutnya yang kini lebih stylish. Dan tentu saja alis matanya yang tebal seolah menjadi ciri khas yang masih terjaga hingga kini.
“Diaz…”
Sial! terlalu lama aku menatapnya. “Hm... maaf,” aku segera menoleh ke arah jalan raya, menutup malu.
Si brengsek itu malah tertawa seolah puas membuatku tidak nyaman. “Kamu ini sejak dulu tidak juga berubah.”
Aku tetap memperhatikan jalanan melalui jendela mobil, seolah tak mendengar ocehannya.
“Well, it’s ok. Setidaknya itu yang membuatmu terlihat menarik.”
“Stop, Bang!” kuhentikan taksi tepat di halaman sebuah café daerah Braga. Sebelum dia mengoceh macam-macam, aku harus bisa mengendalikan suasana. “Kita minum di café ini ya?” tanpa meminta persetujuannya, segera kudorong pintu dan meloncat keluar. Tentu saja si brengsek itu masih tertawa-tawa di belakangku.
Cafe dengan bangunan zaman kolonial ini seolah menjadi saksi kebersamaan kami. Bahkan sempat kusyukuri masih bisa bersamanya malam ini. Sebotol Chivas Regal dan dua gelas berisi bongkahan es batu tersaji di meja. Syukurlah Nael sudah tidak bicara macam-macam lagi.
“Ke mana saja kamu selama ini, Az?” dia terlihat lebih santai seraya menyalakan sebatang Marlboro tepat di depan wajahku. “Kamu sekarang menjelma menjadi Mr. Perfect. Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu lagi,” asap mengepul saat ia mengeluarkan napas di mulutnya.
Kutatap sorot matanya yang dalam. Entah kenapa kalimatnya membuatku emosi. Kuteguk segelas penuh minuman itu lalu meladeni pertanyaan itu. “Aku? Ya, kamu lihat sendiri kan? Aku bahagia sekarang! Hidupku sempurna, uang di sekelilingku, bahkan kamu pun bisa kubeli!” Ya Tuhan! Dari mana datangnya kekuatan ini? Semua meluap tak terkendali.
Tak kupungkiri Nael tersentak oleh gertakanku. Perlahan dia terdiam lalu menurunkan wajahnya. “Aku tahu kamu tidak suka melihatku seperti ini,” mendengar suaranya yang parau membuatku bulu kudukku berdiri. Ada perasaan sakit di dalam hati. Aku yakin tak lama lagi air mataku akan menetes. Benar-benar! Hentikan suasana haru ini!
“Kenapa, Nael? Tidak pernah tebersit di kepalaku kamu akan seperti ini. Apa yang terjadi? Bukannya kamu tidak suka orang-orang seperti aku?”
“Semua bisa saja terjadi,” Nael masih tak mau mengangkat kepalanya.
“Seharusnya kamu diam saja saat kucium waktu itu! Tidak usah merasa sok suci!” ujarku sarkastis. Pengaruh minuman membuatku gila seketika.
Nael masih duduk tenang membiarkanku bicara seenaknya—hanya menghela napas panjang lalu menyunggingkan bibirnya kembali. Sungguh. Kalau saja tenagaku masih tersisa, ingin sekali kuhajar mukanya hingga tak mampu tersenyum lagi.
***
Lelaki berambut cepak itu menatapku dari kejauhan. Ingin rasanya mendekat, tapi langkah kakiku tak juga beranjak. Hanya terpaku pada seraut wajah penuh kebencian. Baiklah, kucoba bicara. Lagi-lagi lidahku kelu. Demi Tuhan! Aku tidak mau kehilangannya. Sekuat tenaga kuucapkan nama itu. Nael… Nael… Nael….
Perlahan kubuka mata. Dingin merayap di sekujur tubuhku. Pantas, aku hanya berlapis selimut tebal. Tidak biasanya aku tidur telanjang seperti ini. Ah, sudahlah. Mungkin terlalu mabuk untuk ingat apa yang kulakukan semalam.
Jam berapa sekarang? Lenganku meraih weker di atas nakas. Kreek… Ah, suara apa itu? Perlahan sinar matahari menyorot tajam ke arah ranjang. Membuatku kesulitan menebak siapa gerangan bayangan hitam di sebelah gorden.
“Tidurmu nyenyak sekali…” sosok dalam mimpiku tiba-tiba nampak di depan mata. Ah, masih bermimpikah? Kucoba mengusap mataku perlahan. Sial! Nathanael Prayudha berdiri tepat di hadapanku!
“Kamu? Sedang apa kamu di sini?” aku memijat pelipisku yang masih sedikit pusing.
“Hm…” lelaki itu menatapku heran. “Aaah… rupanya kamu terlalu mabuk untuk ingat soal semalam,” tuduhnya.
Kukerutkan dahi, meraba-raba ingatanku soal semalam. Apa Nael yang membantuku pulang, lalu bermalam di sini? Dan pakaianku? Nael yang melucutinya? Astaga! Apa kami melakukannya semalam? Aku mulai gelisah menebak-nebak apa yang telah terjadi beberapa jam yang lalu.
“Nael… apa yang terjadi semalam?” tanyaku hati-hati.
Tak ada sepatah katapun yang pasti. Namun aku tahu tatapan matanya menunjukkan kebenaran itu. Kebenaran bahwa kami telah melalui malam yang penuh gairah beberapa jam yang lalu. Sial! Sudah kuduga minuman hanya akan membuat segalanya tak terkendali. Kini, apa yang harus kulakukan? Entah kenapa aku tak menemukan satu ide pun untuk mengatasi keadaan ini.
“Lupakan saja, Az. Toh semua telah terjadi. Lagipula kita hanya bercinta. Tentunya kamu sering bercinta di luar sana kan?”
Kutatap tajam matanya. Tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutku. Semua tersekat oleh rasa bersalahku. Namun yang pasti aku benci padanya!
“Aku pergi…” tanpa peduli dengan keadaanku, Nael berbalik memunggungiku siap untuk meninggalkan kamar.
“Tunggu…” bergegas kuraih dompet. “Biayanya?”
Nael menyeringai, lalu menghampiriku perlahan. “Kamu benar-benar menganggapku sebagai seorang kucing?”
“Maaf… aku… aku…” sial! Aku harus bilang apa?
Lelaki itu tertawa kecil. “Aku tahu kamu sanggup membayarku berapa saja. Kamu tahu? Tidak semurah itu mereka bisa tidur denganku,” wajahnya semakin mendekat, lalu membisikkan sesuatu tepat di telingaku. “Untukmu? Aku rela tak dibayar. You’re my special one.”
Tanpa kuduga lelaki itu berani mengecup bibirku, dan sialnya aku tak mampu bereaksi sekedar menghempas wajahnya dariku. Ya. Aku melayang menelusuri masa remajaku sepuluh tahun silam. Saat yang sama ketika kukecup bibirnya ketika tertidur.
Dan Nathanael berlalu menyisakan senyuman yang berhasil menggoncangkan imanku.
***

Other Stories
Chronicles Of The Lost Heart

Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Dear Zalina

Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...

Download Titik & Koma