People Like Us

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

Chapter 4

Aku sebenarnya sudah terjaga meski enggan membuka mata. Sungguh terasa sayang bila kulalui malam hanya sekedar terlelap. Apalagi Peter hanya bisa menemaniku selama dua hari. Besok sore ia harus kembali ke Jakarta.
“Bangun Pangeran. Waktu sudah beranjak pagi,” aku tahu persis itu suara Peter. Aroma sabun mandi yang tercium segar di hidungku menandakan ia telah bangun sejak tadi pagi dan melakukan aktivitas rutin yang biasa ia lakukan. Hmm… geli. Apa sih ini? Aku membuka mataku pelan-pelan. Rupanya Peter memainkan bulu-bulu kasar yang sudah tumbuh di dagunya ke wajahku.
“Aku akan terus mengganggumu sampai kamu benar-benar bangun,” bisiknya lembut.
Aku bergumam malas. “Sebentar, aku masih ngantuk,” ujarku pura-pura. Kembali kututup wajah dengan selimut tebal.
“Aku sudah menyiapkan sarapan spesial untuk kamu,” Peter malah mendekapku dari belakang.
“Oya? apa itu?” masih dengan mata tertutup.
“Makanya kamu bangun dong,” bisiknya.
“Masih ngantuuuukk!!” aku merajuk manja.
“Ayo bangun, kalau tidak…”
“Kalo tidak, kenapa?”
“Aku... telanjangin...” bisiknya nakal.
Sialan. Pagi-pagi Peter sudah membuat jantungku bergemuruh tidak karuan. Baiklah, kubuat dia sedikit kesal. “Mending ditelanjangin...” kita lihat apa reaksinya.
“Bener nih...” Peter mulai mengerayangi badanku. Dasar! Sepertinya dia tahu titik peka di tubuhku. Hingga akhirnya memaksaku untuk bangkit dan sedikit menggeliat. Saat membuka mata. Benar juga ia telah menyiapkan sandwich yang berisi sayuran dan ikan tuna kesukaannya.
“Seharusnya aku yang menyiapkan sarapanmu,” gumamku manja.
Lelaki itu malah tersenyum seraya mengacak-acak rambutku. “Lain kali aku tunggu sarapan spesial dari kamu,” ujarnya seraya menyerahkan piring kepadaku. Kami akhirnya sarapan di atas ranjang. Satu hal yang aku suka. Peter selalu lahap dengan makanan yang ia santap. Love it! Bahkan bila makananku tak habis, ia dengan sukarela mengambil bagianku hingga tak tersisa.
“Oh iya. Tadi aku lihat di ranjang kamu ada saputangan kotor. Dicuci kenapa? sampai didiamkan di ranjang. Kotor kena seprai,” komentar Peter di sela kunyahannya.
Seketika aku termangu, mencoba mencerna kalimat yang barusan terucap. Saputangan? Seumur hidup aku belum pernah sejorok itu menyimpan saputangan kotor di ranjang. “Ah, saputangan? Masa sih? Mana?” tanyaku penasaran.
“Sudah aku taruh di keranjang cucian,” katanya sambil menerima makananku yang hanya habis setengahnya. Seperti biasa, ia menghabiskannya untukku.
Saputangan? Sejenak aku mengerutkan dahi lalu beranjak dari ranjang, memeriksa saputangan yang Peter Maksud di belakang. Tak lama nampak sehelai kain bertumpukan dengan pakaian kotorku yang lain. Saputangan berwarna biru dengan inisial huruf “H” di bagian sudutnya. Milik siapa ini? Rasanya baru pertama kali aku melihat saputangan ini.
Peter menghampiri dari belakang. “Kenapa harus dilihat lagi?” ujarnya.
Aku memperlihatkan benda itu padanya dengan tatapan tanda tanya.
“Kenapa? masa kamu tidak ingat barangmu sendiri?”
Kugelengkan kepala. Peter sungguh tak memahaminya. Ya sudahlah. Aku melempar saputangan itu ke tempat semula. Namun seketika teringat sesuatu. Inisial ‘H’ apa itu berarti ‘Heaven’? Dan benda itu dipakai saat melap keringat di wajahku saat itu? Bergegas kuraih kembali saputangan itu.
Aku meremas saputangan misterius ini. Oh Tuhan, Peter tidak boleh tahu hal ini! Baiklah. Just relax. Kuhela napas panjang mencoba bersikap setenang mungkin. “ Oh iya. Aku ingat. ini saputangan baru,” kupalingkan wajah seraya menebar senyum tanpa berani menatap bola mata Peter. lalu melempar kembali saputangan itu ke tumpukan semula. “Mau ke mana kita hari ini?” kualihkan arah perbincangan.
“Lah, aku kan tamu. Kamu dong yang tentukan mau ke mana.”
Aku menyeringai. “Pacar sendiri dianggap tamu,” komentarku, lalu tertawa seraya menuju bath room. Baiklah untuk sementara aku bisa melupakan soal saputangan misterius itu.
Tak lama seseorang memencet bel pintu apartemenku.
“Pete, minta tolong bukakan pintu! Mungkin itu petugas kebersihan mau ambil cucian sama sampah,” teriakku yang sudah terlanjur berada di bath room.
“Oke!” timpal Peter.
Hingga beberapa menit kemudian aku keluar dari bath room. Terdengar seperti perbincangan antara Peter dengan seseorang. Dahiku mengerut, bertanya-tanya siapa gerangan lelaki yang bertamu ke rumahku? Karena penasaran, aku mengawasi melalui lubang pintu kamar.
Kejutan! Ternyata itu Eka. Kebetulan sekali aku ingin mengenalkan Peter padanya. Kupikir ini waktu yang tepat ketika keduanya berada di tempat yang sama dalam situasi yang pas pula. Lamat-lamat terdengar perbincangan mereka. Dari nada percakapan itu, sepertinya mereka bicara serius. Apa yang sedang mereka bicarakan? Bergegas aku memakai kaos dan celana pendek, lalu menghampiri mereka.
“Halo, Ka. Tumben nih pagi-pagi datang kemari?” aku menyambutnya dengan sumringah.
“Sorry Az, aku kira tidak ada Peter,” Eka bangkit dan menyambut uluran tanganku.
Dahiku mengerut. Padahal kemarin aku bercerita kalau Peter ada di tempatku. “Tidak apa-apa kok,” Aku tersenyum. “Sekalian kalian kenalan. Bukannya kamu belum tahu yang namanya Peter?” lanjutku seraya melirik Peter. Yang dilirik hanya tersenyum pendek.
“Kalian mau jalan-jalan ke mana nih?” tanya Eka.
Aku berpikir sejenak seraya menatap wajah Peter. “Bagaimana kalau kita belanja? Dari kemarin aku belum sempat belanja buat penuhin isi kulkas. Lumayan kan ada sukarelawan,” aku mengedipkan mata ke arah Peter.
Peter hanya menghela napas sambil cemberut, sesaat kemudian tersenyum kembali. “Asal jangan disuruh bayarin juga,” candanya.
Eka tertawa. “Ya sudah, sebaiknya aku pulang. Have a nice day!”
“Loh, kamu datang ke sini bukannya ada urusan denganku?” tanyaku keheranan.
“Nanti saja,” lelaki itu bangkit dan bersiap-siap meninggalkan apartemenku.
Aku dan Peter saling bertatapan dengan wajah penuh tanda tanya. “Jauh-jauh kemari hanya bilang begitu saja?” masih dengan mimik heran.
“Hm...” sepertinya dia tidak begitu tertarik membicarakan Eka. “Kamu jangan terlalu dekat sama orang itu, ya?\" katanya serius.
Aku yang masih keheranan dengan sikap Eka malah semakin heran dengan perkataan Peter. “Loh? Emang kenapa? Dia sahabatku sejak lama. Kami sangat dekat,” timpalku.
\"Aku tidak suka temanmu itu,” Peter berlalu begitu saja ke dapur tanpa pedulikan aku yang berdiri mematung. Kenapa suasananya menjadi tidak enak seperti ini?
***
Siang ini kami tampil sempurna. Aku mengenakan celana pendek Zara yang dipadu dengan T-shirt tipis berwarna putih. Sementara Peter mengenakan celana khaki berwarna krem dan T-shirt hitam berleher V—tanpa melupakan kacamata hitam Prada kesukaannya. Berdua kami mengelilingi setiap lorong di Carrefour, sekedar mencari barang untuk bisa mengisi kulkasku. Sengaja kubiarkan Peter memilih, agar tahu makanan apa saja kesukaannya.
Begitu menikmatinya, hingga kami tak sadar telah berada di lorong yang berbeda. Peter mungkin sedang mencari sesuatu. Aku lanjutkan saja mencari barang keperluanku sendiri.
Tiba-tiba aku merasa seseorang mengawasiku. Dan aku tahu itu bukan Peter. Kuedarkan pandanganku ke segala arah. Tidak ada siapapun yang kukenal. Ah, sudahlah. Mungkin ini hanya perasaanku saja.
“Halo Mr. Perfect...”
Begitu terkejutnya aku menghentikan troli barang yang kudorong.
“Nael?” aku terkesiap.
Lelaki bodoh itu malah tersenyum. Tapi… damn! Dia sangat tampan. Penampilan Nael sebenarnya biasa saja, hanya kaos hitam bermotif dipadu celana pendek kotak-kotak. Tapi di mataku. I’m speechless.
Sesaat aku mengedarkan pandangan ke segala arah, khawatir Peter melihat kami.
“Kenapa? Tampangmu terlihat kebingungan. Kamu sedang mencari seseorang?” dia bertanya seperti itu hanya membuatku semakin tak karuan.
“Tidak… hanya saja… aah, forget it!” Damn! Bagaimana bisa aku mempermalukan diri sendiri. “Kamu sendirian?” tanyaku.
“Iya. Biasa, hari santai seperti ini pinginnya shopping, sekedar menghibur diri,” katanya. Bola matanya yang bening itu masih saja merayuku. Dan sialnya lagi, dia seolah tahu kelemahanku yang satu ini; tak bisa menafikan senyumnya yang seperti malaikat.
“Oh iya, saputanganmu ada di tempatku,” untung aku punya topik yang bisa kubahas. Setidaknya bisa menyelamatkanku dari kegilaan ini.
Nael tertawa. “Sudahlah, kamu simpan saja. Anggap kenang-kenangan dariku.”
“Diaz...” Sial! Peter mencariku. Tuhan, bagaimana ini? Jantungku bergemuruh tidak karuan. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Tak dapat dihindari lagi. Peter akhirnya menemukanku lalu bergegas mendekati kami. Langkahnya sempat terhenti saat menyadari sosok ‘Heaven’ ada di depan mata.
“Pete, kenalin ini...” aku terpaksa berbicara.
“Aku Nael, kawan semasa SMA Diaz,” ujar Nael sopan.
Peter melihat dengan tatapan tak bersahabat. “Kamu… Heaven?” tak perlu ditanya, Peter sebenarnya tahu siapa sebenarnya lelaki yang kukenalkan.
Nael tertawa. “Tidak salah, hanya saja kali ini aku sedang tidak bekerja. Kali ini aku adalah temen lamanya Diaz, Nael.” meski diperlakukan sinis seperti itu, Nael berusaha bersikap manis.
“Peter,” ucapnya acuh lalu berbalik memperhatikanku. Sungguh aku tak suka tatapan curiga yang ia perlihatkan.
Selama beberapa saat aku tak bisa mengendalikan situasi, yang ada kami bertiga malah diam seribu bahasa. Aku sendiri bingung bagaimana agar suasananya bisa mencair. Tak bisa menebak apa yang ada di benak kedua lelaki ini.
“Baiklah, Nael. Sepertinya kami harus segera pergi. Next, kita bicara lagi, ya?” lebih baik aku yang cepat bertindak. Aku menarik lengan Peter lalu bergegas meninggalkan Nael.
Benar dugaanku, Peter marah besar. Selama perjalanan ia tak berbicara sama sekali. Bahkan ia berjalan begitu cepat, hingga aku harus mengejarnya dari belakang. “Pete… kamu marah?” Stupid question, right? “Maaf, sungguh aku gak tahu Nael adalah Heaven. Malam itu aku tidak yakin dia adalah Nael, karena kamu bilang namanya Heaven. Aku sungguh-sungguh, Pete…” bujukku.
“Kamu jangan temui orang itu lagi!” lagi-lagi ia bergegas meninggalkanku tanpa peduli keranjang besar yang kujinjing. Sungguh, aku bisa berubah membencinya ketika mood Peter sedang memburuk. Terkadang, kelakuannya bisa seperti anak bocah berumur 10 tahun. And I hate this!
Peter mengemudikan kendaraannya dengan tenang, seakan tidak ada seorang pun di sampingnya. “Sepertinya kalau tidak ada aku, kalian akan ngobrol lama. Tertawa dan akhirnya bernostalgia mengingat masa lalu,” gumam Peter sinis.
Aku menghela napas panjang. Sungguh, rasanya aku ingin turun dari mobil ini dan pulang sendiri memakai taksi. Tapi tidaklah, harus ada yang mengalah di antara kami. “Kamu jangan berlebihan seperti itu dong, Pete,” kubelai rambutnya perlahan. “Dia hanya kawan lama.”
“Kamu bisa bilang seperti itu, tapi hatimu tidak kan? Masih ingat kenangan indah dulu,” sindirnya lagi.
“Pete! Itu masa lalu! Kamu pikir Nael tidak bertemu orang lain selama sepuluh tahun? Dia juga punya pacar sendiri lah!” aku setengah naik pitam.
“Ah, pelacur mana ada pacarnya.”
Aku berusaha tidak menanggapi. “Ok, sekarang mau kamu bagaimana? Aku ikuti apapun maumu.”
Peter menepikan mobilnya. Lalu menatapku dengan sendu. Sepertinya dia menyesal membuatku merasa bersalah.
“Diaz. Aku cemburu. Aku tahu masa lalumu dengan si Heaven itu. So, can you forget him and always be my side?”
Aku tidak bereaksi.
“Jangan temui dia lagi!” tekannya.
Aku menganggukkan kepala.
See? Belum apa-apa Peter sudah bersikap seperti itu. Sebenarnya tanpa diminta pun aku akan melakukan permintaannya. Aku cukup tahu diri. Meskipun masih memikirkan Nael, belum tentu sebaliknya dengan dia. Lelaki itu pasti memiliki kawan spesial selama 10 tahun terakhir. Meski tak bisa kupungkiri gemuruh jantungku masih kencang setiap kali kami bertemu—bahkan sampai saat ini.

Other Stories
Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

32 Detik

Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...

Download Titik & Koma