Chapter 5
Malam ini Peter kembali ke Jakarta. Dua malam berlalu begitu cepat, membuatku harus memupuk rindu sampai beberapa minggu ke depan. Meski begitu, aku sangat menikmati waktu yang pendek itu—walau sempat terganggu oleh kejadian tadi siang di supermarket. Aku senang semuanya beres. Peter tidak marah lagi soal Nael, meski konsekuensinya aku tak boleh berhubungan lagi dengannya.
“Kamu jaga diri, ya. Jangan terlalu berat bekerja. Sesekali refreshing bersama kawan-kawanmu. Ibadah juga jangan lupa.”
Aku mengulum senyum. Di mataku Peter bukan sekedar kekasih, tapi keluargaku. Ia yang selalu menjaga dan mengingatkanku akan kebaikan. Persis seperti yang dilakukan Ibu sebelum kami terpisah jauh seperti ini.
“Hei… kenapa wajahmu memerah?”
Aku tersadar dari lamunan lalu mengusap mataku. “Tidak apa-apa. Aku hanya rindu Ibu. Ucapan kamu barusan sering sekali diucapkan Ibu.”
Peter menghela napas panjang. Lelaki itu perlahan mendekapku. “Temui beliau, Az. Sekedar mencari tahu kabarnya. Aku yakin Ibu merindukanmu juga.”
Iya, setelah itu beliau akan memaksaku meninggalkanmu, rintihku dalam hati. Aku mengulas senyum sedikit. Sudahlah, aku tak mau kesedihan ini berlarut-larut. Peter harus pergi tanpa dibebani oleh masalahku. “Kalau sudah tiba, beri aku kabar, ya.”
“Oh iya, aku hampir lupa. Akan ada syukuran peresmian kantor cabang minggu depan,” Peter menepuk bahuku. “Kamu mau datang?” tambahnya.
Aku mengernyitkan dahi. “Kok? Nanti kalau karyawanmu bertanya-tanya siapa aku, bagaimana?” ujarku. “Tidak… aku tidak mau. Apa kata mereka nantinya?”
Peter malah tertawa kecil. “Ah, gampang. Bilang saja kamu sepupuku. Banyak yang bilang loh kalau wajah kita mirip,” ujarnya seolah meyakinkanku.
Aku bergeming. Bingung juga, bagaimana kelak kalau aku salah bicara atau berbuat sesuatu yang membuat Peter malu?
Peter menggenggam jemariku erat. “Mau, ya?” dia memastikan.
“Aku merasa tidak enak. Takut grogi, nanti mereka malah bertanya-tanya. Yang ada image kamu malah rusak.”
Peter tersenyum. “Tidak akan seperti itu. Masa punya sepupu hebat bikin image aku rusak? Yang ada bakal naik. Kamu salah satu orang terpandang loh di Jakarta.”
Aku tersenyum terbuai oleh kata-kata manisnya. “Terpandang bagaimana?” kutepuk bahu lelaki itu.
“Loh, apa kamu tidak menyadarinya? Pasca wawancara di majalah Business itu, nama kamu sering diperbincangkan loh.”
“Hm…” kali ini aku tak menyanggahnya. Suatu kehormatan pernah diwawancara oleh majalah besar sekaliber Business.
***
Hening. Setelah kepergian Peter, apartemenku terasa membosankan seperti sedia kala. Yang kulakukan hanya tiduran di ranjang, bangun menuju dapur mencari makanan di kulkas lalu menonton TV, terus berputar seperti itu. Lama-lama aku bisa gila juga. Sepertinya menarik jika malam ini kuhabiskan waktu bersama Geng Setan atau bersama Eka di cofee shop atau bioskop.
Aku harus keluar malam ini! kusambar kunci mobiku lalu bergegas menuju ground base. Didampingi alunan lagu-lagu keren Eli Lieb, aku terus melaju di sepanjang jalan yang lengang. Ketiga kawanku menyerukan nada yang sama. “Sorry, aku tidak bisa keluar malam ini!” membuat mood-ku semakin memburuk. Mau tidak mau hanya Eka yang tersisa. Temanku yang satu ini tidak pernah berkata ‘tidak’ kepadaku.
“Halo...” terdengar suara Eka di ujung sana.
“Hei, Ka. Sedang apa?”
“Sedang membuat laporan liputan tadi siang,” katanya. “Kamu di mana? Kok berisik?”
“Aku di jalan, muter-muter Bandung. Bosan sendirian di rumah.”
“Aku sudah bisa tebak tujuan kamu telepon aku,” lelaki itu tertawa kecil.
“Sure, you really knew me.” aku ikut tertawa.
“Yeah, baru aja ditinggal sebentar. Sudah jenuh lagi,” komentarnya. “Baiklah, kita ketemu di kafe biasa?”
Seusai menutup sambungan. Kunaikkan volume stereo car dan bernyanyi mengikuti lagu kesukaaanku.
Singing in the car with you to Zeppelin
On this perfect, endless night
Trying to build our own stairway to heaven
Yeah, I\'ve never felt so high
You turn it up
We scream along
Take all my love
A summer night with you and Zeppelin
(Eli Lieb-Zeppelin)
Alunan lagu ini membawaku pada masa itu. Awal pertama aku dan Eka bertemu. Lucu juga, di usia yang semuda itu ada seorang lelaki yang tanpa malu-malu mengungkapkan orientasi sex-nya kepadaku.
Hei! We’re too young to be Gay!
Tapi justru itulah betapa aku beruntung bertemu Eka, setidaknya aku tidak merasa sendirian.
\"Dia cakep ya?\" itu adalah kalimat pertama yang Eka lontarkan padaku saat pertama kali kami bertemu.
Tidak salah lagi, kami memang sedang memperhatikan Nael yang sedang asyik berdansa dengan Naya, pacarnya saat itu.
Aku yang tak mengerti arah pembicaraannya hanya tersenyum tipis. “Iya,” jawabku pendek.
“Bukan, maksudku temen cowok kamu itu.”
Baru, aku mulai sadar dengan pertanyaan tidak lazim yang ia katakan sebelumnya. Apa maksud dia bicara begitu? Apa dia...? Batinku mulai menerka-nerka.
“Sudahlah, aku tahu kamu gay. Aku juga gay, kok.”
Sebuah perkenalan aneh yang sungguh membuatku ingin tersenyum setiap kali mengingatnya.
Seperti sebuah drama gay ala Thailand. Maka kami mulai bersahabat setelah itu.
***
Tidak butuh waktu lama aku menunggu Eka, karena aku tahu dia tipe orang yang tepat waktu. Di Café ini aku telah siap lengkap dengan minuman favoritnya. Bertahun-tahun aku bersahabat dengan Eka, rasanya sudah hafal di luar kepala apa makanan dan minuman yang dia suka.
Tak lama kemudian, muncullah sosok yang aku tunggu. Sang jurnalis berwajah tampan.
“Menunggu lama?” sapanya.
Aku hanya tersenyum seraya menganggukkan kepala.
“Oya?”
Aku tertawa. “Nggak lah. Aku juga baru tiba kok,” kataku.
Eka meraih kursi di hadapanku lalu duduk dengan nyaman di sana. “Aku kira Peter ambil cuti supaya bisa lebih lama tinggal bersamamu,” ia meraih cangkir Cappucino lalu menyeruputnya.
“Ah… orang gila kerja seperti dia mana mungkin mau cuti,” timpalku.
“Tapi setidaknya dia masih bisa menemuimu setiap weekend.”
“Benar. Dan aku sangat menghargainya. Kamu tahu? Minggu depan giliran aku yang main ke tempatnya.”
“Oya?”
Aku menganggukkan kepala. “Dia ada acara peresmian kantor baru. Dan dia mau aku hadir di sana.”
“Uggh!” Eka tersedak mendengar pemaparanku. “Sorry,” ia melap bibirnya dengan tissue.
“Terkejut? Begitu pula aku saat dia mengutarakannya kemarin,” ujarku terkekeh.
“Kok bisa? Bagaimana reaksi orang nanti?”
“Aku tak tahu. Yang pasti dia akan memperkenalkanku sebagai sepupunya.”
“Dan kamu bersedia begitu saja?”
“Awalnya aku sempat menolak. Hanya saja Peter terus mendesakku. Dan aku seperti terjebak di tengah-tengah. Antara bersedia dan tidak.”
Eka tersenyum lalu kembali menyeruput Cappucino-nya.
“Bagaimana denganmu? Kamu ada cerita apa? Lagi dekat sama siapa?” cerocosku.
“Ah, Az… aku sedang tidak mood cari pacar,” ujarnya. “Aku masih sibuk meliput berita ke sana-kemari.”
Aku menyunggingkan bibir. Ah... Eka, Eka. Sudah tiga tahun sahabatku ini hidup sendiri. Terakhir dia menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang katanya lelaki sempurna yang pernah jadi pacarnya. Tapi sayang, saat itu Eka melakukan kesalahan fatal yang tidak bisa dimaafkan pacarnya. Sampai sekarang Eka masih menunggu, lalu mencari cara agar lelaki itu kembali padanya. Seperti itu janji Eka. Terkadang penasaran, seperti apa lelaki yang dimaksud Eka? Karena saat itu aku tak pernah bertemu sekalipun dengan lelaki yang membuat sahabatku mabuk kepayang ini.
***
Seminggu telah berlalu. Sesuai rencana aku menghadiri acara peresmian kantor barunya Peter. Ya, walau harus puas dengan hanya menyandang status “sepupu”, setidaknya aku bisa melihat secara langsung kekasihku yang bergumul di antara orang-orang hebat. Rasanya aku ingin berteriak kepada dunia. ‘Hei! That man is mine!’ Sungguh, rasanya ini seperti mimpi. Inikah lelaki yang jatuh cinta padaku? Pintar, gagah, mapan dan mandiri. Suatu hari aku berharap semua kelebihannya akan tertular padaku.
Dan demi kekasihku, sengaja kupesan secara khusus jas yang kupakai di butik langganan. Tentunya aku harus tampil sempurna untuknya dan diriku sendiri, demi menjalin relasi dengan orang-orang penting di acara ini.
Acara formal telah berakhir, diikuti oleh pesta di malam harinya. Tuhan. Aku lelah sekali. Beruntung Peter selalu menemani meski ia harus rela ke sana-kemari untuk melayani kawan-kawannya yang lain.
Langkahku perlahan menuju meja yang tersaji beraneka ragam pastry. Seraya memperhatikan Peter dari kejauhan, aku menikmati sedikit pastry itu sekedar melawan rasa laparku. Hingga akhirnya bayangan Peter menghilang dari pandangan, tergantikan oleh dua orang lelaki yang cukup menarik perhatianku. Ya. Gay radarku mulai bekerja lagi. Dua orang itu pasti pasangan gay. Satu orang lelaki yang telah berumur dengan lelaki yang sebaya denganku dengan paras orientalnya. Aku telaah lebih jauh lagi, lelaki muda itu mirip seseorang.
Sekali lagi aku hanya bisa menelan ludah. Lelaki itu adalah Heaven, alias Nathanael Prayudha!
Aku tidak mau cari masalah, segera aku menyingkir menuju tempat yang tak terjangkau olehnya. Satu tanya berkelebat dalam anganku. Mau apa dia di acara seperti ini? Tak mungkin EO-nya mengundang seorang kucing sebagai hiburan di sebuah pesta formal. Forget it! Aku tak tahu dan tak mau tahu!
Ah, syukurlah aku bisa terbebas dari bayangan Nael. Untuk sesaat ia tak menampakkan batang hidungnya. Mungkin telah dibawa pergi oleh lelaki tua itu.
Lama-lama aku mulai kelelahan berada di keramaian ini. Aku butuh tempat untuk menenangkan diri. Hingga pada akhirnya aku berjalan keluar menuju taman sekedar mencari udara segar. Kudapati sebuah kursi taman bernaung di bawah pohon rindang. Seperti menemukan tempat yang bagus, aku segera menghampiri dan merebahkan diri di kursi yang berbahan besi itu. Kuhela napas panjang seraya melonggarkan dasi yang seharian mencekik leher. Lega sekali rasanya.
“Lelah?”
Seseorang bicara padaku. Rasanya aku mengenal suara itu. Ragu-ragu aku menengok ke arah sumber suara. Sialan! Nael menangkap basah keberadaanku. Lelaki itu berdiri santai dengan rokoknya, lalu menghampiriku tanpa beban.
“Mr. Perfect, sedang apa sendirian di sini? Kasihan pacarmu sibuk sendiri di dalam.”
“Aku kecapean, Nael,” tukasku.
“Baiklah, aku temani saja kamu di sini,” Nael duduk tepat di sebelahku.
“Loh, lelaki yang tadi bersamamu mana?” gumamku spontan.
“Tahu dari mana aku dengan seorang lelaki?” dahi Nael mengerut.
Sial! aku salah bicara lagi.
Nael tertawa. “Ketahuan. Rupanya kamu memata-mataiku sejak tadi, ya?”
“Bukan. Bukan seperti itu! Aku sempat tidak sengaja melihatmu dengan seorang lelaki di dalam,” kukibaskan jemari sekedar membela diri.
Semakin terbahaklah lelaki itu melihat ekspresi bodohku. “Pulang ke Bandung kapan?” dia mulai mengganti topik pembicaraan.
“Minggu sore,” jawabku.
“Mau…” dia tak melanjutkan kalimatnya. “… pulang bersama?”
Aku malah termangu. Tepatnya tak tahu apa yang harus kujawab. Kenyataannya aku telah berjanji untuk tidak berhubungan dengan Nael.
Dering ponsel menyelamatkanku. Bergegas aku menerima panggilan itu.
“Diaz, kamu di mana?” terdengar suara Peter di ujung sana.
“Aku… aku ada di taman. Tunggu sebentar. Aku segera masuk ke dalam,” aku bergegas pergi tanpa sempat bicara lagi dengan Nael.
Nael… Nael… Nael...
Orang itu selalu muncul di manapun aku berada. Jika begini terus, bisa gila juga. Sialnya aku selalu kesulitan untuk menghindar darinya. Lelaki itu sendiri yang pertama menghampiri, seolah bisa mendeteksi keberadaanku. Syukurlah pertemuan tadi tidak diketahui oleh Peter. Pertengkaran minggu lalu sudah cukup membuatku sakit hati.
***
Pesta telah usai. Kini kami kembali ke apartemen Peter. Lelaki itu terkulai di sofa. Bisa aku bayangkan betapa kelelahannya ia. Bahkan ini adalah pertama kalinya aku melihat tampangnya yang kusut. Jauh dari kesan rapi yang ia tampakkan setiap hari. Namun sekarang? Ia seolah sudah tak peduli lagi. Lengan kemejanya dililit hingga siku, dasi dilonggarkan hingga hampir terlepas. Mungkin inilah harga mahal yang harus ia bayar di balik kesuksesannya sebagai seorang CEO.
Aku menghampiri lalu memijat bahunya. Terlihat lelaki itu menikmati setiap pijatanku.
Peter tersenyum lalu memegang jemariku. “Enak sekali,” ujarnya dengan ekspresi nyaman.
Lalu aku mencium lehernya.
“Itu lebih enak...” rayunya. Aku tertawa lalu menepuk bahunya gemas. “Terima kasih untuk partisipasi kamu malam ini,” Peter membalikkan tubuhnya ke arahku lalu mencium jemari ini.
Aku tersenyum membelai rambutnya. “Apapun akan aku lakukan buat kamu, Pete,” bisikku.
Di sofa ini kami terlelap hingga pagi menjelang.
Other Stories
Horor
horor ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
Hold Me Closer
Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...