People Like Us

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

Chapter 7

Aku memikirkan dia berjam-jam lamanya. Tepat ketika waktu menunjukkan pukul 05.59 aku mematikan weker sebelum akhirnya alarm itu berbunyi. Ah, Tuhan… rupanya aku tidak bisa memejamkan mata. Penggalan kisah semalam masih terbayang dalam lamunan. Ketika seorang Nael memelukku begitu mesra, sentuhan yang pernah kunikmati sepuluh tahun silam.
Sedikitpun aku tak pernah mengira. Kegelisahan masa remajaku ternyata dialami oleh dirinya—cinta pertamaku. Meski pada akhirnya ia memutuskan untuk bertahan di poros yang benar. Menafikanku, orang yang semestinya dia cinta.
Ah, Nael. Bodoh sekali kamu menyibak kisahmu. Ketika semua terlambat untuk kita jalani. Kamu terlalu lama untuk memahamiku. Dan aku tak memiliki cukup kesabaran untuk menanti. Ketika cinta hanya berjarak satu meter di depan mata. Di samping meja kelasku.
Perlahan aku beranjak dari pembaringan. Entah mengapa tubuhku terasa lemas. Bahkan tenggorokanku terasa sakit. Kumohon, Tuhan, jangan sekarang! Aku butuh energi untuk menyelesaikan semua pekerjaanku. Perlahan mulai kurasakan keganjilan tubuhku. Perutku perih dan ulu hati terasa melilit. Apa iya maag yang kuderita kumat lagi?
Dengan sangat terpaksa aku harus mengacaukan rencana kerja yang sudah kubuat seminggu yang lalu. Rasanya aku tak mungkin bisa memaksakan diri pergi dengan suhu tubuh yang di atas normal seperti sekarang. Mungkin ini efek perjalananku semalam. Semoga saja dengan tidur seharian, aku akan kembali bugar di keesokan hari.
“Susi. Hari ini aku tidak masuk kerja,” kuhubungi sekretarisku. “Tolong ditunda dulu meeting hari ini, dan jadwalkan besok. Aku yakin kondisiku akan segera membaik,” ujarku dengan suara lemah. “Apa? Tidak usah repot-repot. Aku bisa pesan makanan sendiri,” aku mengernyitkan dahi. “Begitu? Ya sudah terserah kamu, nanti suruh office boy datang agak siangan saja.”
Aku tersenyum saat menutup percakapan kami. Sekretaris yang baik. Demi seorang atasan dia bersedia mengantarkan makanan dan obat-obatan kemari.
Namun seketika aku kembali meringis. Perutku terasa mual. Sakit sekali. Dengan tergopoh-gopoh aku berhasil melangkah menuju toilet. Tak bisa kuhindari lagi. Kumuntahkan isi perutku.
Napasku tidak beraturan hingga tak terasa peluh telah membasahi wajah. Sial! sepertinya aku memang masuk angin—berharap saja seperti itu. Ponselku berdering saat aku berkumur. Siapa pula yang mencariku di pagi buta seperti ini?
Dengan langkah lunglai aku kembali ke ranjang dan menerima panggilan ponsel tersebut.
“Halo Mr. Perfect? Apa kabarmu pagi ini?” Nael?
“Aku sedang tidak enak badan, Nael. Mungkin efek perjalanan semalam,” ujarku seraya menelentangkan tubuh di ranjang.
“Kamu sakit? Ya sudah aku ke tempatmu sekarang!” ujarnya tergesa-gesa.
“Tidak perlu…”
Tuut... tuut... tuut.... sambungan terlanjur terputus.
***
Seorang dokter mucul di depan pintu apartemenku. Aku tak ingin bertanya-tanya siapa gerangan yang mengutus lelaki berkemeja biru itu kemari. Yang kupikirkan sekarang bagaimana caranya agar sakit ini segera enyah dari tubuhku.
Aku mempersilakannya masuk dan mulai membiarkan dia menganalisa penyakitku dengan stetoskop yang melingkar di lehernya.
Setelah diperiksa dan diberi satu suntikan, sang dokter memberikan satu resep dan beberapa petuah khas seorang dokter kepada pasiennya. Makan teratur, olahraga, makan buah-buahan dan hal lainnya yang sebenarnya bisa kupahami lewat buku-buku kesehatan.
“Dok, siapa yang mengutus dokter kemari? Padahal saya belum berencana untuk berobat sebelumnya,” tanyaku.
“Nael yang menghubungi. Dia yang meminta saya untuk datang. Kebetulan Nael kawan baik saya juga.”
Surprise! Entah kejutan ke berapa yang Nael berikan kepadaku. “Terima kasih dokter…” aku terhenti sejenak. Sadar sejak awal tak pernah tahu identitas si dokter. “Edgar, panggil Edgar. Karena kamu kawan Nael, berarti kamu kawanku juga.”
“Sure,” aku menyalaminya. “Namaku Diaz. It’s nice to meet you.”
“Nice to meet you, too. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi dengan kondisi yang lebih baik.”
Aku mengangguk, lalu mengantarnya hingga ke mulut pintu apartemen.
Untunglah Office Boy suruhan Susi telah datang dengan membawa sekotak bubur ayam untukku, hingga aku bisa menyuruhnya menebus resep obat yang Edgar berikan padaku.
Tak lama sesaat setelah Edgar berbalik arah, nampaklah Nael dari balik pintu lift. Belum apa-apa dia sudah menunjukkan pesonanya saat kacamata hitam itu dia lepaskan. Tanpa ragu ia melempar senyum ke arah kami.
“Hei, Edgar. Kamu sudah datang rupanya?”
Lelaki itu menyambut Nael dengan sebuah pelukan kecil. “Ya. Seperti yang kau bilang. Ada yang sakit di gedung apartemen ini. Tak ada yang bisa kulakukan selain segera mengobatinya,” Edgar melirik ke arahku. Tuhan, aku baru sadar dokter ini ternyata tampan sekali. Setelah berbasa-basi, baru dokter muda itu meninggalkan kami menuju lift ke lantai dasar.
“Dokternya ganteng, ya?” rayu Nael. Digoda seperti itu aku hanya bisa menyeringai. “Percaya tidak? Aku pernah tidur dengannya,” bisiknya sekali lagi yang membuat senyumku berhenti lalu melengos ke dalam meninggalkannya.
“Kamu bawa apaan tuh?” kualihkan candaannya yang tidak lucu itu.
“Bubur,” ujarnya dengan sedikit sisa tawa.
“Kamu tidak usah repot seperti ini. Aku sudah dikirim makanan oleh sekretarisku,” Kuperlihatkan boks yang masih terbungkus kresek padanya.
“Eits, ini beda. Bubur ini adalah karya terbaik seorang Nathanael Prayudha. Jarang-jarang aku memasak untuk seseorang,” bujuknya.
“Alah... paling juga keasinan,” candaku.
Nael cemberut, membuatku ingin tersenyum.
Dengan hati-hati Nael membantuku duduk bersandar di ranjang yang telah dipasang bantal di bagian punggungku. Lalu ia membuka gorden lebar-lebar, membiarkan cahaya menerangi semua bagian di ruangan apartemenku. Jendela ia sibak sedikit hingga kurasakan angin berhembus dari luar.
“Kamu tidak ada aktivitas apa-apa hari ini?” tanyaku.
“Ada,” jawabnya pendek.
“Sebaiknya kamu pergi sekarang. Aku bisa ditinggal sendiri, kok.”
“Aktivitasku hari ini ya temani kamu, tauuuu!!!” Nael menekan dahiku dengan telunjuknya.
“Ah, tidak usah. Lagipula aku tidak mampu untuk membayarmu,” Aku malah terpancing candaan dia.
“Tidak mampu atau pelit?” selorohnya sambil menyiapkan bubur.
Ah, Nael... Nael. Kamu selalu bisa membuatku tersenyum.
“Sini... Aaaaaaa...” Nael mulai memberi aba-aba saat sendok stainles itu hampir mendekati mulutku.
Aku membuka mulut perlahan hingga bubur itu sedikit demi sedikit menyentuh lidahku.
Nael tersenyum. “Bagaimana? Tidak keasinan kan?”
Aku menggelengkan kepala. “Boleh pakai sambel?” candaku.
“Ngacooo!!” lagi-lagi dia menekan dahiku dengan telunjuknya.
***
Nael masih bertahan di tempatku hingga sore menjelang. Meskipun aku tertidur, dia setia menjagaku. Dan anehnya, tidak ada gelagat bosan yang terlihat dari raut wajahnya.
“Nael, kamu sudah makan, belum?” tanyaku.
“Sudah. Tadi saat kamu tidur. Aku masak sesuatu di dapur,” katanya.
Aku menatapnya dengan tulus. “Terima kasih Nael, kelak kalau suatu hari kamu sakit, panggil aku ya? Aku janji bakal jagain kamu seperti saat ini.”
“Sialan, mendoakan aku sakit!” candanya dengan mimik agak kesal. Lalu ia tertawa kemudian.
Denting suara jam memperjelas kesunyian di antara kami. Nampaknya Nael mulai kelelahan, terlihat dari bola matanya yang terlihat sayu. Aku yakin dia ingin istirahat.
“Nael, lebih baik kamu pulang lalu istirahat. Aku tidak apa-apa. Paling nanti minta tolong sama Eka.”
“Jangan!” serunya spontan.
Aku sedikit terkejut. “Loh, kenapa?” dahiku mengerut.
Nael kebingungan. Sepertinya dia tidak mempunyai jawaban yang tepat. “Hm... itu... kamu jangan merepotkan banyak orang. Cukup aku saja yang kamu andalkan. Atau kamu bisa hubungi si ganteng tajir itu. Peter pantas kamu repotkan.”
Aku masih menatapnya penuh tanda tanya.
“Aneh. Eka itu bukan orang lain. Dia seperti saudaraku sendiri. Wajar dong aku minta tolong padanya,” belaku.
“Sudahlah terserah kamu,” gumamnya.
Kami terdiam sejenak. Kupikir Nael sepertinya tidak suka sama Eka, pun Peter. Seolah-olah mereka berdua mengenal Eka. Aku tidak mau ambil pusing. Mereka melihat Eka sepintas, tapi aku telah bertahun-tahun mengenalnya.
“Ya sudahlah, aku pulang. Sepertinya kamu tidak suka aku lama-lama di sini,” ucapan Nael membuyarkan lamunanku.
“Lah, dia marah,” aku melipat tanganku di dada.
“Aku tidak marah. Sudah sana, telepon si Peter. Bilang, kamu sakit pingin diboboin,” candanya.
***
Sepeninggal Nael, aku menghubungi Peter. Ada benarnya juga ucapan dia. Siapa tahu aku sakit karena pingin dipeluk Peter? Bibirku tersungging, malu.
“Halo,” terdengar suara Peter di sana.
“Pete, ini aku.”
“Hei, kamu sedang di mana?”
“Aku di apartemen. Aku sakit,” ujarku manja.
“Sakit? Kok bisa? Sudah diperiksa dokter?” aku suka setiap kali dia khawatir padaku.
“Sudah. Hanya sakit biasa. Sakit malarindu, katanya,” candaku.
Terdengar gelak tawa di sana. “Ya sudah, Sabtu depan aku ke Bandung, ya?” katanya. “Sial! Aku lupa. Minggu depan aku harus terbang ke Singapura. Ada pekerjaan penting yang harus kuurus,” koreksinya tak lama kemudian.
Aku hanya bisa menghela napas, lesu.
“Halo?”
“...”
“Honey, kamu ngambek, ya? Aku bingung. Kamu sakit tapi di sisi lain aku harus menyelesaikan pekerjaanku,” ujarnya dengan suara penuh penyesalan. “Aku ada kenalan dokter di Bandung. Bagaimana kalau aku minta tolong dia untuk memeriksamu?”
Aku hanya butuh kamu, Pete. Bukan orang lain.
“Tidak perlu. Ada Eka. Kupikir dia bisa temani aku berobat.”
Kini Peter yang terdiam. “Begitu?” akhirnya dia bersuara. “Aku akan sering telepon kamu. I swear.”
“Iya,” jawabku lemah.
***
Jam delapan malam Eka datang membawakan makanan untukku. “Hi sobat, aku bawa makanan kesukaan kamu!” serunya seraya memperlihatkan satu kotak Klappertaart.
Meski terlihat menggoda, namun rupanya tak membuat nafsu makanku bangkit. “Aku sedang tidak mau makan apa-apa, Ka,” kataku. “Rasanya aku ingin tidur, tapi mataku malah susah untuk diajak kompromi.”
Eka tersenyum mendengar rengekanku. “Makan dulu sedikit. Baru minum obat,” bujuknya. “Aku yakin setelah itu kamu akan mengantuk.”
Atas dorongan Eka, aku memaksakan makan bubur itu sedikit demi sedikit. Setelah berhasil masuk tiga sendok ke dalam mulut, akhirnya kuputuskan untuk berhenti. Aromanya membuat perutku bereaksi lagi.
Perlahan Eka menyiapkan butiran pil yang harus kuminum.
“Terima kasih ya, Ka?” aku segera meminumnya.
“Aku perlu menginap tidak malam ini?” ujarnya seraya menutup tirai ruanganku.
“Tidak usah. Aku terlalu banyak merepotkanmu. Sebaiknya kamu pulang saja. Bukannya besok ada liputan penting?”
Eka tersenyum. “Saat kamu tertidur, aku akan pulang.”
Aku pejamkan mata, semata-mata agar Eka percaya aku telah terlelap. Hingga akhirnya terdengar seseorang membuka pintu lalu kemudian menutupnya kembali. Kubuka mata perlahan. Benar juga. Eka telah pulang.
Kuhela napas panjang, lalu memperbaiki posisi bantal hingga sandaranku lebih tinggi. Entah bagaimana caranya agar mata ini bisa terlelap. Kuraih remote TV, mungkin mataku bisa terpejam saat sedang menyaksikan televisi. Namun tak lama kemudian kumatikan kembali. Tidak ada program acara menarik di tengah malam seperti ini.
Satu notifikasi WhatsApps tiba-tiba terdengar dari smartphone-ku. Tanpa sadar bibirku tersungging. Dari Nael rupanya.
“TIDUUURR JANGAN BACA WA TERUSS!!”
Aku menggelengkan kepala. Dasar lelaki bodoh, tidak ada kerjaan mengerjaiku tengah malam. Kuhempaskan gadget-ku sembarangan.
Notifikasi yang sama terdengar kembali. Nael! Not anymore!
“EH DIBILANGIN SURUH TIDUR. MASIH AJA BACA WA!”
Sialan! Apa sih maunya orang itu. Kembali kuacuhkan ponselku.
Satu pesan WhatsApps masuk kembali. Mataku terbuka sebelah lalu menggerayangi kasur mencari benda sialan itu. Kali ini Nael mengirim gambar segerombol domba.
“ITUNG TUH DOMBA, DIJAMIN KAMU BAKAL TIDUR.\"
“Kamu pikir aku anak kecil, apa?” gumamku tanpa sadar. Apa sebaiknya kumatikan saja ponselku?
Sepertinya Nael belum puas menggangguku. Ini orang apa sih maunya!? Namun pada akhirnya reaksiku berubah. Bibirku malah tersungging manis setelah membaca pesan darinya.
“SELAMAT TIDUR. AKU DAN PETER AKAN MENJAGAMU HINGGA PAGI MENJELANG.”
Benar juga, aku tertidur lelap selepas membaca pesan dari Nael.
***

Other Stories
Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Ophelia

Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Just Open Your Heart

Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Download Titik & Koma