Chapter 8
Tiga hari telah berlalu. Rasanya aku mulai bosan dengan nuansa biru di kamarku, sofa di ruang tengah dan dapur yang selalu terlihat kosong. Karena selalu sebatas itu saja ruang gerakku selama ini. Meski tak dipungkiri, senang rasanya Nael menemaniku seharian, namun aku yakin kegiatannya pasti terbengkalai hanya karena harus menjagaku—aku tahu dia kerap dihubungi Si Madam, mucikarinya itu.
“Kamu yakin tidak apa-apa? Kulihat bosmu telepon terus?”
Lelaki itu malah menyeringai. “Biar saja. Aku kerja malam hari, kok. Paling dia telepon sekedar mengingatkanku jadwal nanti malam.”
“Jalan yuk? Aku bosan di sini terus,” kataku.
“Jalan ke mana?” Nael menghampiri ranjang.
“Bebas, ke mana saja. Ke mal atau nongkrong di cafe juga boleh.”
“Disuruh minum obat susahnya minta ampun. Eh, giliran jalan-jalan, semangat sekali,” komentarnya.
Aku menggelengkan kepala. “Ok. Kalau begitu aku pergi sendirian saja. Tolong jaga rumah sebentar,” kataku seraya bangkit dari ranjang dengan mimik kesal.
“Iya... iya aku temani,” Nael tertawa.
***
“Kita mau ke mana, Az?” kubiarkan Nael mengendalikan Mini Cooper-ku.
Aku yang sejak tadi melamun akhirnya tersadar. “Sebentar, aku pikir-pikir dulu,” ujarku.
“Jangan lama-lama mikirnya. Aku bingung menyetir tanpa tujuan pasti.”
“Nael, Aku kangen rumah,” tiba-tiba bibirku terucap seperti itu.
Lelaki itu menoleh padaku. “Kamu yakin? Sudah berapa lama sih kamu pergi dari rumah?”
“Tiga tahun,” jawabku lirih. “Ibu tidak bisa terima dengan penyimpangan seksual yang kualami. Apalagi saat tahu aku menjalin hubungan dengan Peter. Beliau bahkan mengancam untuk memilih antara Peter atau beliau.”
“Dan kamu memilih si ganteng tajir itu?” Nael tertawa. Namun perlahan tawanya mereda tergantikan oleh sunggingan yang tulus. “Terkadang mereka tak pernah bisa memahami apa yang kita rasakan. Cinta itu datang dari dalam hati, bukan hanya karena penampakan gender semata,” gumamnya. Perlahan lelaki itu tersenyum mantap. “Namun, aku yakin kamu ingin menjadi yang terbaik untuk Ibumu.”
Aku mengangguk mengiyakan.
“Biar waktu yang menjawab semuanya. Atau mungkin Ibumu telah berubah pikiran seiring kepergianmu, dan menyadari tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.”
“Ketidaksempurnaan yang paling menyedihkan mungkin ketika Tuhan menciptakan manusia seperti kita. Ketika rasa tak mampu mengecap rasa yang seharusnya. Mereka mengatakan manis tapi kita tak mampu merasakan manisnya.”
Nael mengedikkan bahunya. “Entahlah, yang kuyakini Tuhan memiliki berbagai cara untuk menguji keimanan kita. Mungkin menjadi orang seperti kita adalah salah satu ujian dari-Nya, tidak jauh beda dengan para penyandang disabilitas.”
Aku mengalihkan pandangan ke ruas sisi jalan dan merenung sesaat.
“Jadi, kamu ingin bertemu Ibumu?” Nael membuyarkan lamunanku.
“...”
“Mau aku temani?” tawar Nael.
“Hm…” aku masih kebingungan.
Nael malah mendengus. “Ya temani kamu menemui beliau lah.”
“Sekarang?” tanyaku.
Lelaki itu mengangguk mantap. “Kapan lagi? Sekarang!”
Deg! Jantungku berdetak kencang. Sungguh aku tak memiliki persiapan batin menghadapi Ibu. Kata-kata apa yang pantas untuk kuucapkan? Anak durhaka yang tiga tahun menghilang tiba-tiba saja muncul siap untuk menyakiti hatinya lagi.
“Aku... aku belum siap, Nael.”
Lelaki itu mengusap bahuku. “Cepat atau lambat kamu harus bertemu beliau juga.”
Bibirku terkatup tanpa bisa merespons kalimatnya.
“Ya sudah, kalau kamu belum siap, bagaimana kalau kita mengunjungi sekolah masa SMA kita?”
Aku menghela napas lega. “Ide bagus!” seruku.
Nael menjentikkan jarinya seolah senang idenya kuterima. Lelaki itu mulai bertindak gila. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Dan konyolnya lagi aku malah berteriak girang seraya mengangkat kedua tangan ke angkasa. Tak mau kalah Nael membalas teriakanku.
***
Mini Cooper menepi di sebuah gedung SMA tempat kami mengenyam pendidikan sepuluh tahun silam. Sekolah yang nampaknya telah berubah menjadi sekolah elite di Kota Bandung. Dari arsitektur bangunannya sendiri jelas tergambarkan bahwa sekolah ini bukan untuk kalangan biasa.
“Untung kita sempat sekolah di sini, ya?” gumam Nael seraya menengadah ke gedung berlantai dua itu.
Aku menganggukkan kepala. “Sekolah ini berubah menjadi tempat berkumpul anak-anak pejabat,” sindirku.
Tak perlu terlalu lama menepi di sekolah itu, kami memutuskan melajukan kendaran kembali. Sepertinya Nael tahu apa yang mengganggu pikiranku. Tanpa kuminta ia memasuki kawasan perumahan tempatku pernah tinggal.
Inilah tempat yang sempat kutinggalkan tiga tahun yang lalu. Dari kabin mobil kuperhatikan rumah berukuran sedang itu. Kebersihannya masih terjaga. Ubinnya yang berwarna putih pucat, terasnya yang dilengkapi oleh sepasang kursi dan meja rotan, serta rimbunnya pohon rambutan di halaman rumah. Bahkan aku masih bisa mencium aroma masa lalu di sana.
“Kamu takkan berubah pikiran?” tanya Nael.
“...”
“Ayo, aku temani. Lagi pula sudah lama juga aku tidak bertemu Ibumu.”
“Nanti saja, Nael,” kataku hambar.
Perjalanan dilanjutkan ke tanah lapang tidak jauh dari perumahan. Tanpa sengaja kami menemukan sebuah lapangan basket. Tempat bersejarah bagi kami berdua.
“Di sana kita memutuskan persahabatan kita,” kenang Nael.
Aku mengulum senyum. “Untuk pertama kalinya aku berkelahi dengan orang,” sepertiku, Nael pun akhirnya tersenyum.
Nampak sekumpulan pelajar SMA berada di lapangan basket tersebut. Aku dan Nael saling beradu pandang membuatku yakin bahwa kami memiliki pemikiran yang sama.
“Mau bergabung main basket dengan mereka?” tawarku.
Nael melebarkan senyumannya. “Kenapa tidak?”
Akhirnya aku dan Nael melebur bersama sekumpulan remaja tersebut, seolah kami adalah kawan sebaya. Sungguh, tak ada waktu yang seindah hari ini. Tertawa lepas, berlari, dan mengejar bola. Seakan jiwa muda ini masih melekat utuh di dalam raga.
Waktu telah kembali pada sepuluh tahun silam.
Aku, Nael dan seragam putih abu kami.
***
Kebersamaan tak terencana ini semakin menguatkan memoriku akan masa lalu. Seperti halnya sekarang, aku ingat ketika sakit pasca pertengkaran dengan Nael. Saat itu pula kerinduanku menguar akan keberadaan sosok ayah. Tak kupungkiri aku merasakan hal yang sama kali ini. Seandainya saja ayah masih ada...
Rencananya hari itu ibu akan mengantarku ke dokter. Beliau sangat khawatir dengan demam tinggi yang tak kunjung menurun, nalurinya sebagai seorang ibu membuatnya harus melakukan sesuatu.
Ibu menghampiri sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur, sup ayam dan segelas air.
“Nih, kamu habiskan ya sarapannya,” katanya.
Aku hanya menggelengkan kepala.
“Ayolah dicoba dahulu. Dari kemarin tidak ada sedikitpun makanan yang masuk ke perutmu,” Ibuku resah.
“Ibu, aku tidak bisa makan, perut aku sakit. Dipaksa pun pasti akan kumuntahkan lagi.”
Ibu memandangku sedih. “Kamu kenapa, sih sampai sakit kayak begini?” ucap beliau seraya menempelkan jemarinya ke dahiku. “Ibu khawatir, tahu. Mana dari kemarin panas kamu belum juga turun,” suaranya bergetar.
“Ibu tenang saja, nanti di rumah sakit aku kan diperiksa, paling hanya sakit biasa. Tiga hari lagi pasti sembuh, kok.” kucoba menenangkan ibu.
Senyuman Ibu berkembang, lalu membelai rambutku.”Hanya kamu yang Ibu miliki,” lirihnya.
Kami berdua termangu. Sedikit sekali kenanganku bersama Ayah. Seandainya beliau masih hidup, mungkin Ibu tidak akan pernah kesepian. Aku merasakan beban yang dipikul Ibu. Beliau seakan menantang buasnya dunia, hanya demi seorang anak lelaki seperti aku.
Sedih rasanya bila kuingat saat terakhir kepergian Ayah. Tangisannya tak kunjung berhenti membasahi kemejaku kala itu. Namun sebaliknya, aku malah terdiam, Belum mengerti makna dari sebuah kepergian. Aku ikut menangis, itupun hanya karena suasana mencekam yang kurasakan di dalam rumah.
“Sudah cukup melamunnya?” ucapan ibu membuatku tersadar kembali.
Aku tersenyum. “Ibu rindu Ayah?” tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja.
“Selalu...” ucap beliau mantap. “Tapi Ibu punya penawarnya, ketika Ibu rindu Ayah, Ibu cukup memandang wajah kamu,” ujarnya manis.
Aku tersipu lalu memegang erat jemari Ibu. “Aku rindu Ayah, Bu,” Meski berusaha tersenyum, tapi rupanya Ibu tahu aku ingin menangis. Ibu langsung memelukku dengan erat.
“Ayah akan selalu ada di hati kita, asal kamu selalu mengenang beliau. Jangan anggap beliau tidak ada.” ibu meremas jemariku.
Sementara air mata ini tak kunjung mengering....
“Makananmu kok belum disentuh sama sekali?”
Aku tersadar saat Nael sudah kembali berada di depanku. “Lidahku masih pahit, Nael,” ujarku seraya menggaruk dahi tidak gatal.
“Kamu makanlah sedikit. Obatmu belum diminum,” ingatnya.
“Nael, tawaranmu masih berlaku kan?” alih-alih menuruti perintahnya, aku malah membelokkan arah pembicaraan.
“Soal?” alis matanya yang tebal mengerut.
“Menemaniku menemui Ibu,” Sial! Bagaimana bisa mulutku berkata demikian. Semua terucap begitu saja.
“Kamu yakin?”
Aku menganggukkan kepala tanpa berkompromi dengan hatiku terlebih dahulu.
Sementara Nael memeriksa arlojinya lalu tersenyum mantap kepadaku. “Oke. Tapi kamu harus habiskan dulu makananmu.”
***
Bulir-bulir penyesalan ini masih mengendap di dadaku. Sepanjang perjalanan menuju rumah Ibu, hatiku kian terselubung ribuan kerisauan. Tentang kalimat pembuka apa yang harus kuucap, tentang bagaimana menyampaikan rasa penyesalanku, dan bahkan memikirkan hal yang terburuk; Bagaimana jika beliau tak sudi menemuiku lagi?
“Kamu nervous ya?” tanya Nael di sela-sela kemudinya.
Sebagai lelaki yang tak menemui ibunya lebih dari tiga tahun, jelaslah aku gelisah. Seharusnya Nael tak perlu bertanya seperti itu. “Tidak,” jawabku pura-pura.
“Tenanglah, hati seorang ibu selalu sama. Beliau tidak mungkin menolakmu atau bahkan mengusirmu dari rumahnya.”
Aku masih bergeming.
“Kita perlu membeli oleh-oleh?”
“Hm…” kali ini aku menoleh padanya. Untuk yang satu ini jelas aku membutuhkan pendapatnya.
“Ya sudah. Aku tahu toko kue terbaik di daerah Surya Sumantri.”
Aku mengikuti apa saja idenya. Yang ada di kepalaku hanya satu. Ingin segera melewati semua keresahan ini. Menemui Ibu lalu kembali pulang ke apartemen.
Hari mulai berangsur senja, semburat jingganya mulai menyatu dengan dinding salah satu rumah di kawasan perumahan yang kami lewati. Perlahan Mini Cooper-ku melaju pelan hingga akhirnya menepi kembali di satu rumah yang sempat disinggahi tadi siang.
“Aku tanya sekali lagi. Kamu sudah siap bertemu Ibumu?”
Aku menoleh, “Sepertinya aku sudah tidak bisa menghindar lagi kan?”
“It’s up to you. Jika kamu belum siap, kita akan pergi lagi. Untuk yang kedua kali,” tekannya di kalimat terakhir.
“Ya sudahlah. Ayo kita masuk, sebelum keberanianku menciut lagi,” aku menghela napas panjang lalu mendorong pintu mobil.
Di belakangku Nael hanya bisa tertawa kecil. Seperti biasa dia paling suka menggodaku ketika aku sedang kebingungan atau gelisah. Nael melangkah lebih cepat menyejajarkan posisi berjalan kami. “Just, relax bro... siapa tahu Ibumu senang melihat anaknya masih hidup dan tumbuh tampan seperti ini,” bisiknya saat mendekapku.
“I hope so,” timpalku dengan suara datar.
Serpihan kenangan masa kecilku bergumul kembali dalam ingatanku. Ayunan kayu yang tergantung di bawah pohon rambutan itu masih ada. Tali tambangnya masih kokoh terikat di salah satu cabangnya. Aku mendekati batang pohon tersebut. Lagi-lagi senyumku berkembang, ukiran namaku dan Nael masih tergurat jelas di batang utama pohon tersebut.
“Pohon rambutan ini masih berbuah atau tidak, ya?” gumam Nael.
“Entahlah, mungkin sudah tidak sebanyak waktu itu. Seru ya? Kamu bahkan sempat membantu kami saat musim rambutan tiba.”
Nael mengangguk mengiyakan.
Langkahku kembali beranjak menuju teras rumah. Perasaan tidak karuan ini semakin merajarela. Rasanya ingin kembali ke mobil atau berharap Ibu tidak ada di rumah.
Ragu-ragu aku menekan tombol bel di samping kanan pintu.
Selang beberapa saat tak ada reaksi dari sang pemilik rumah. Aku dan Nael saling berpandangan. “Mereka sedang tidak ada di rumah?”
Nael mengangkat kedua lengannya. Tidak tahu. “Coba kamu tekan bel sekali lagi,” sarannya.
Belum juga aku melakukannya, tiba-tiba pintu mulai terbuka. Aku mulai terkejut saat melihat sosok gadis kecil di balik pintu tersebut. Gadis kecil berumur sembilan tahun dengan rambut ikal yang terkepang rapi.
“Kak Diaz?” ujar gadis itu setelah terdiam beberapa saat.
“Ha... halo Cindy?” aku menurunkan badan hingga sejajar dengannya, lalu memberi seulas senyum.
Gadis kecil itu terlihat tak percaya aku berada di depan pintu rumahnya.
“Ibu! Kak Diaz pulang!” serunya sambil kembali ke dalam.
Sementara Nael hanya menatapku kebingungan. “Siapa barusan? Adikmu?”
Aku kembali berdiri lalu mengangguk pelan. “Aku belum cerita, ya? Ibuku menikah lagi saat aku kuliah. Cindy itu adikku.”
Nael membulatkan bibirnya membentuk huruf ‘O’.
Tak lama Cindy menghampiri kami kembali seraya menarik pergelangan tangan seorang perempuan separuh baya.
“Astaga!” ibuku nampak terkejut mendapatiku berada di mulut pintu.
“Ibu...” lirihku.
“Diaz?” ucapnya. Perlahan ibu menghampiri kami, lalu memelukku seketika itu juga.
“Ibu,” air mataku tak terbendung saat terdengar isak tangisnya tepat di telingaku.
“Akhirnya kamu pulang juga, Nak. Ibu rindu sekali padamu.”
“Maafkan Diaz, Bu,”ucapku parau.
Ibu melepas pelukannya lalu menatapku lekat-lekat, seakan meyakinkan diri lelaki yang berada di depan ini adalah anaknya. Beliau menghapus air mata yang menganak sungai di pipiku. “Kamu terlihat sehat. Kamu baik-baik aja kan?”
Aku mengangguk. “Berkat doa Ibu.”
Perempuan itu menghela napas lega. Sesaat ia mengalihkan pandangan ke lelaki di sebelahku. “Ini bukannya Nael?” tebaknya.
“Tebakan Tante jitu. Senang rasanya Tante masih ingat aku,” lelaki itu mencium jemari tangan Ibu.
“Mana mungkin Tante lupa sama satu-satunya teman Diaz yang sering menginap di rumah setiap malam Minggu.”
Nael tertawa. “Ah, Tante bisa aja.”
“Ayo kalian masuklah ke dalam. Maaf, saking terkejutnya Ibu tidak mempersilakan kalian masuk terlebih dahulu,” Ibu mulai salah tingkah.
***
Kami melingkari sebuah meja makan. Meja yang terasa penuh oleh kehadiranku dan Nael. Ketiga pasang mata itu menatap kami. Ibu, Om Yanto—ayah tiriku—dan Cindy. Mereka seolah tidak sabar mendengar ceritaku setelah tiga tahun menghilang tanpa kabar.
“Aku baru kembali dari Singapura, Bu.” aku membuka percakapan.
“Benarkah?”
Kuanggukkan kepala. “Kebetulan perusahaan tempatku bekerja memindahkanku ke kantor baru di Bandung.”
“Bagus itu. Berarti kamu akan tinggal bersama kami?” komentar Om Yanto.
“Aku sudah ada tempat tinggal sendiri, Om.”
Sepasang suami istri itu saling berpandangan. “Hm, begitu,” Om Yanto tersenyum. “Tapi bagaimanapun kamu harus sering mengunjungi kami. Sesekali menginaplah di rumah ini. Kamu tahu? Om senang kamu telah kembali. Itu memberi sedikit ketenangan untuk Ibumu. Periksa saja kamarmu. Begitu berharap anak lelakinya pulang, kamar itu tak pernah diubah. Hanya berpikir kamu akan menempatinya kembali suatu saat nanti.”
Aku mengulum senyum. Pria separuh baya itu ternyata sangat baik kepadaku. Dia tidak ingat betapa aku membencinya di masa lalu. Tapi sekarang? Pandanganku berangsur berubah. Yang kulihat di depanku sekarang adalah seorang lelaki berwibawa dengan tanggung jawab penuh di pundaknya. Lihat saja Ibu, terlihat sekali rona berseri yang terpancar dari wajah beliau. Bukti bahwa dia berhasil membahagiakan beliau selama sepuluh tahun pernikahan mereka.
Senja melarutkan kenangan. Yang tersisa hanya sebuah bayangan nyata. Sungguh, berkali-kali aku meminta Nael untuk meyakinkanku bahwa aku telah pulang. Dan nampaknya ia sudah tak ada cara untuk membuatku yakin akan keajaiban ini.
Tapi di sini. Di satu sudut kamar yang pernah menjadi ruang pribadiku, perlahan aku mulai memercayainya. Lewat sebuah album foto lama yang merangkum kisah usangku di masa lalu.
Nael tersenyum geli saat mendapati satu halaman berisi foto kami berdua. Aku ingat Naya, perempuan yang pernah menjadi pacar Nael yang mengambil gambar kami saat berada di kantin belakang sekolah. Nael dengan headset Walkman yang tak pernah lepas dari telinganya bersebelahan denganku, si cowok super rapi yang berambut potongan belah samping dan berlumur gel rambut.
“Teman, aku ke teras dulu, ya? Mulutku asem pingin merokok.”
Aku tersenyum saat Nael berlalu menuju ruang depan. Kuhela napas panjang. Puas rasanya mengenang semua masa lalu yang terangkum di kamar ini. Seperti halnya Nael, aku pun berlalu meninggalkan kamar.
Dari sudut pintu kamar terlihat ibu tengah mencuci piring bekas makan malam kami. Langkahku beranjak menghampiri beliau.
“Aku bantu, Bu.”
Sontak Ibu menoleh lalu menggangguk mempersilakan.
Keheningan seolah membius kami berdua. Padahal jauh dalam hati ada banyak kata yang ingin kuluapkan. Hanya saja aku tak tahu harus memulai dari mana. Yang kulakukan hanya menyusun piring basah yang telah Ibu bilas.
“Apa kabar Peter?”
Sontak aku terkejut. Rasanya tak percaya beliau menanyakan kabar lelaki yang membuat kami bertengkar hebat tiga tahun silam.
“Peter baik-baik saja,” lirihku pelan.
“Kapan-kapan ajaklah main kemari.”
Aku memejamkan mata, jemariku mendadak kaku. Jika aku tak bisa mengendalikan diri, bisa saja piring ini terlepas dari genggaman. Kuberanikan diri menoleh ke arah wajah Ibu. Sunggingan senyum Ibu sungguh melemahkan hatiku.
“Ibu. Maafkan aku,” tak sanggup lagi, pada akhirnya kutundukkan kepala. “Aku menyesal telah mengecewakan Ibu,” isakku.
Jemari basahnya membelai pipiku. “Satu hari setelah pertengkaran kita waktu itu. Ibu terus berpikir tentang apa yang harus Ibu lakukan kepadamu. Kata-kata yang keluar saat itu sungguh bukan maksud Ibu. Karena sesungguhnya, Ibu tak sanggup hidup tanpa ada kamu, anak lelaki Ibu satu-satunya. Ibu telah bersikap tidak adil padamu. Seharusnya waktu itu Ibu bisa bersikap tenang dan membantu melewati masa sulitmu. Tapi sekarang Ibu sadar. Menerimamu apa adanya mungkin adalah cara terbaik agar kita bisa saling menyayangi seperti dulu.”
Rinai air mata ini tak kunjung berhenti hingga akhirnya ibu memelukku erat. Persis seperti yang beliau lakukan sepuluh tahun silam.
“Maafkan aku, Bu,” tak henti-hentinya kuhaturkan kalimat itu.
***
Sesak yang menderaku selama bertahun-tahun akhirnya mereda. Rangkuman tangan ibu di tubuhku seolah telah mengobati semua luka di dalam hati, melerai sedikit demi sedikit dosaku, meski kutahu takkan membuatku menjadi lelaki yang seperti ibu mau.
Dan satu-satunya orang yang berjasa membuat keajaiban ini menjadi nyata adalah Nael. Tanpanya, aku takkan pernah berani menginjak kaki di rumah ini lagi.
“Tenang saja, semuanya sudah terkendali sesuai harapan kita. Gue yakin rencana kita berhasil,” Nael tengah berbicara di ponsel saat aku menghampirinya di teras. “Ok. Gue tutup sekarang. Nanti gue kabari lagi.”
Nael terkejut saat mendapati aku berada di belakangnya.
“Kenapa? Sampai terkejut begitu.”
“Tidak kenapa-kenapa. Kukira siapa. Kamu... sudah lama berdiri di belakangku?”
Aku menggeleng. “Baru saja.”
Nael tersenyum. “Are you ok? Matamu sembap,” ujarnya mengalihkan pembicaraan.
“Aku baru saja berdamai dengan Ibuku,” aku duduk di kursi rotan bersebelahan dengan Nael.
“Sudah kukatakan. Semua akan berjalan baik-baik saja. Ibumu orang baik, Az,” ujarnya seraya menepuk pahaku.
“Dan itu semua berkat kamu. Terima kasih, teman.”
“Hanya itu yang bisa aku kulakukan,” Nael mengedikkan bahu.
Tak lama bunyi ringtone ponsel Nael berbunyi nyaring. Lelaki itu merogoh ponsel lalu memperhatikan siapa gerangan yang menghubunginya. “Aku terima telepon dulu, ya?” dia bangkit lalu menjauh beberapa langkah dari teras.
Nael sibuk sekali? Mungkin orang yang menghubunginya adalah Si Madam itu, memaksanya untuk segera bekerja, pikirku.
“Ya, Ga?” terimanya. “Hm… ya sudah kamu tenang saja. Abang segera ke sana,” ujarnya dengan nada khawatir.
Meski tak berniat menguping, aku masih bisa mendengar suaranya dari jarak lima meter. Gestur gelisah dan raut khawatir di wajahnya membuatku sedikit bertanya-tanya.
Selesai menutup ponsel, lelaki itu menghampiriku dengan terburu-buru. “Az, sepertinya aku harus pergi sekarang. Ada hal penting yang harus kukerjakan.”
“Hm... ya sudah. Aku antarkan kamu ke tempatmu.”
“Tidak perlu!” tegas lelaki itu menolaknya. “Tidak enak sama Ibumu. Kamu baru saja datang, masa pergi lagi,” dalihnya. “Aku bisa pulang pake taksi.”
Aku terdiam, tepatnya kebingungan.
Sementara Nael malah tersenyum lalu berlari meninggalkanku.
Other Stories
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Pintu Dunia Lain
Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...