People Like Us

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

Chapter 9

Aku berada di jajaran kendaraan roda empat yang saling berhimpitan di Jalan Dago. Setelah sibuk dengan berbagai pekerjaan di kantor sejak tadi pagi, tidak ada salahnya kuluangkan waktu makan siang dengan Geng Setan. Kami janjian di kafe kawasan Sukajadi. Lumayan jauh dari tempatku. Tapi mau bagaimana lagi? Dimas yang memintanya karena dekat dengan rumah sakit tempatnya bekerja. Sungguh. Rasanya tidak sabar ingin menceritakan kejadian luar biasa yang kualami beberapa hari ini kepada mereka.
Begitu teriknya Kota Bandung siang ini, saat turun dari pelataran parkir aku langsung menaungi diri dengan selembar surat kabar pagi yang belum kubaca, lalu berlari menuju teras cafe tempat kami janjian.
Seperti biasa, aku selalu menjadi orang terakhir yang datang. Nampak ketiga kawanku tengah asyik berbincang-bincang di salah satu sudut cafe. Sadar aku telah datang, Dimas melambaikan tangannya padaku.
Bergegas aku menghampiri. “Maaf Brother, aku terlambat.”
“As always,” sindir Bobby, lalu tertawa.
“Kemari duduk di sampingku,” tawar Chandra seraya mempersilakan kursi kosong di sebelahnya. “Apa kabarmu? Lama sekali kamu tidak mengontak kami,” dia menepuk bahuku saat aku duduk di sampingnya.
“Aku sibuk beberapa hari ini. Kalian tidak tahu kan aku sempat sakit tiga hari? Nah gara-gara keenakan istirahat di rumah, pekerjaan kantorku numpuk tidak karuan.”
“Sakit? Kenapa tidak kabari aku? Aku kan bisa mengobatimu.”
“Sudahlah, bukan sakit yang serius,” aku mengibas jemariku. “Hanya butuh waktu untuk istirahat.”
“Syukurlah kamu sudah pulih sekarang. Sebenarnya aku masih khawatir kamu masih marah gara-gara kejadian di Metropolis,” Bobby menawariku minuman dingin.
Aku mengulum senyum seraya memberi senyum misterius.
Justru aku yang harus berterima kasih kepada kalian. Kalian yang mempertemukanku kembali dengan Nael.
“Tidak begitu. Aku sudah lupa dengan kejadian kemarin. Kebetulan saja mood-ku sedang buruk waktu itu. Dan ternyata sasaran kekesalanku mengena pada kalian.”
“So? Kapan kita ke sana lagi?” Bobby nyengir.
“Hadeuuhhh...!” keluhku lalu tertawa yang diikuti derai tawa kawan-kawan yang lain.
“Sebenarnya aku masih penasaran. Apa yang kalian lakukan saat Heaven mengantarmu pulang,” Chandra membuka topik baru soal Nael.
“Hm…” aku tersenyum nakal. “Ada lah. Yang pasti hooooot!” candaku.
“Si Heaven itu...” gumam Dimas, “Rasanya aku sering melihat dia di rumah sakit,” lanjut lelaki itu. “Tapi... ah masa iya, ya?” dia meragukan kalimatnya sendiri.
“Mungkin kamu kebetulan melihat orang yang mirip si Heaven. Ngapain coba dia mondar-mandir di rumah sakit?” komentar Chandra.
“Tapi dia sungguh mirip Heaven. Karena sudah lama pasien itu dirawat,” kukuh Dimas. “Sekitar tiga tahunan,” lanjutnya.
“Lama sekali? Memangnya siapa yang sakit?” aku menjadi penasaran.
“Perempuan separuh baya. Ibunya, mungkin.”
Semenjak percakapan itu aku termenung.
Ibunya? Apa mungkin malam itu dia mendadak pergi karena terjadi sesuatu dengan ibunya? analisaku.
Pikiranku mulai berputar seakan mencari ide. Apa aku tanyakan langsung pada Nael? Aku mengernyitkan dahi, namun spontan kugelengkan kepala. Rasanya sangsi kalau dia akan berkata jujur.
“Mas, nanti pulang bareng, ya?” aku memotong di sela-sela perbincangan kami.
Dimas menoleh kepadaku lalu mengiyakan.
***
“Sebenarnya ada apa sih? Pasca perbincangan soal si Heaven kamu banyak melamun. Sampai ikut-ikutan ke rumah sakit,” seloroh Dimas saat turun dari mobil menuju lobby rumah sakit.
“Nanti aku jelaskan. Sekarang kamu beri tahu dulu di mana ruangan Ibunya Si Heaven?”
Dimas semakin berselimut tanya. “Untuk apa? Kamu kok penasaran sekali dengan orang itu?” nadanya semakin meninggi.
“Nanti aku jelaskan. Janji,” kuangkat jemariku. “Sekarang tunjukkan di mana ruangannya?”
“Janji ya?”
Aku mengangguk.
“Ruang Melati Nomor B12,” Dimas menunjuk ke satu koridor di ujung ruangan lobby.
“Ok, thanks ya, Brother.”
“Ya sudah. Aku bekerja dulu. Ada jadwal operasi satu jam lagi,” ujar Dimas.
Aku melangkah seorang diri menuju ruangan yang Dimas maksud. Baiklah, B12. Aku mencari di mana ruangan tersebut.
Dengan mudah kudapati nomor ruangan yang dimaksud tepat di ujung koridor ini. Kalau memang benar pasien yang berada di dalam adalah ibunya Nael, lalu apa yang harus kulakukan? Kuusap keningku mencoba untuk memutar otak sesaat.
Tiba-tiba pintu di hadapanku terbuka dari dalam. Astaga! Tepat sekali orang yang membuka pintu tersebut adalah Nael sendiri.
“Diaz?” Nael termangu. Rupanya dia sama terkejut sepertiku. “Kamu... kamu sedang apa di sini?”
“Aku... aku... ah! Baru saja menjenguk temanku di ruang sebelah,” tunjukku ke salah satu ruangan sebelah kanan.
Nael malah menatapku curiga. Sepertinya dia tahu aku berbohong. “Oya?” komentarnya.
“Iya,” jawabku lirih. “Ngomong-ngomong siapa yang sakit di dalam?” segera kualihkan pembicaraan.
“Ibuku,” jawab Nael setelah berpikir beberapa saat.
“Ibumu? Sakit apa beliau?” kupasang mimik muka terkejut.
“Hanya sakit orang tua. Biasa,” timpalnya.
“Boleh aku melihat beliau?”
Nael menatapku ragu. “Aku tidak yakin kalau Ibu akan mengingatmu,” gumamnya. “Ya, sudah. Ayo masuk,” izinnya kemudian.
Aku membuntuti Nael dari belakang. Dari jarak tiga meter terlihat sosok perempuan tua yang terbaring lemah ditemani seorang pemuda di sampingnya. Senyumku meraba tanya di hati perempuan itu. Mungkin ia sedang berpikir siapa gerangan lelaki yang sedang menjenguknya.
“Selamat siang, Tante,” sapaku sopan.
Tante Sofie—nama Ibunya Nael—nampaknya masih berusaha untuk menebak siapa aku.
“Ini bukannya sahabat Nael waktu SMA?”
Aku melirik ke arah Nael lalu melebarkan senyuman. “Tebakanmu salah, Ibumu masih mengingatku.”
Sementara Nael membalas senyumanku dengan menggelengkan kepala.
“Betul, Tan. Ini Diaz, kawan Nael waktu sekolah dulu. Seneng banget Tante masih ingat aku,” kembali fokusku tertuju pada Tante Sofie.
“Ah, iya! Diaz!” tunjuknya padaku. “Apa kabarmu, Sayang?”
“Diaz sehat aja, Tan,” aku meremas jemari perempuan itu.
“Jadi kalian kerja satu kantor?” tebak Tante Sofie.
Sontak aku berpandangan dengan Nael. Bingung.
“I... iya. Kami rekan kerja sekarang,” Nael mewakiliku menjawab pertanyaan itu.
Dan aku mengangguk sekedar memastikan jawaban Nael.
“Bro, kenalin ini Angga,” ujarnya setelah aku sedikit bercakap-cakap dengan ibunda Nael.
Aku mengalihkan pandangan pada sosok lelaki cute di hadapanku. Cowok manis bertubuh sedikit besar. Umurnya mungkin masih kisaran 24-25 tahun. Siapa gerangan lelaki ini? Setahuku Nael adalah anak tunggal.
“Dia adalah...”
“Saya sepupu Bang Nael,” Angga memperkenalkan dirinya sendiri seraya menjulurkan jemarinya.
“Hm... saya Diaz,” kubalas uluran tangannya lalu melirik ke arah Nael. Aneh, dia malah terlihat kikuk. “Kamu masih kuliah atau sudah kerja?” fokusku kembali pada Angga.
“Saya sudah kerja, Bang.”
Abang? Panggilan yang sama saat Nael menjawab telepon malam itu.
Kunjunganku tak berangsur lama. Hingga akhirnya Nael sendiri yang mengantarkanku keluar dari rumah sakit.
“Aku tidak tahu apa kamu memata-mataiku atau sungguh suatu kebetulan kita bertemu di sini,” gumam Nael di tengah perjalanan. “Tapi inilah yang terjadi. Ibuku sedang sakit.”
“Kenapa kamu tidak mengatakannya kemarin?” aku menoleh kepadanya.
Lelaki itu malah menyeringai sinis. “Buat apa? Itu tidak akan mengubah keadaan, bukan? Yang ada kamu malah kasihan padaku. Kamu tahu sendiri kan? Aku tak suka dikasihani,” terangnya.
Sial! Dia masih saja menjaga egonya sendiri. “Sudah berapa lama Tante Sofie dirawat di rumah sakit?”
“Sekitar tiga hari.”
Hm… dia berbohong lagi.
“Ya sudah, Bro. Aku pulang dulu ya? Nanti kalau ada waktu aku jenguk lagi Ibumu,” tak terasa obrolan kami mengantarku ke teras depan rumah sakit.
Nael mengangguk mengiyakan.
Besok aku akan mencari informasi lebih jauh soal penyakit ibunda Nael. Dimas pasti bisa membantuku, yang berarti aku harus mengatakan siapa sebenarnya Heaven, kucing yang sering kami perbincangkan beberapa hari ke belakang.

Other Stories
Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Download Titik & Koma