Chapter 11
Kulempar ponselku ke atas dashboard. Entah harus sampai kapan aku menahan jengkel gara-gara kesulitan menghubungi Peter. Bagaimana tidak? Dua minggu sudah dia mengacuhkanku, bahkan dia sama sekali tidak mengabari apakah sudah kembali ke Jakarta atau belum.
Tak kupungkiri ucapan Dimas kemarin bersarang dalam ingatanku. Kalau intensitasku memikirkan Peter berkurang sejak kehadiran Nael. Apa mungkin Peter merasakan hal yang sama juga? Hingga membuatnya marah lalu enggan menerima teleponku? Bodoh! Lalu bagaimana dengan usahaku selama ini? Justru dia yang mengabaikanku.
Terlalu lama melamun tak terasa Mini Cooper-ku telah tiba di sebuah mal besar di kawasan Merdeka. Di dalamnya terdapat cafe tempat Geng Setan biasa berkumpul. Syukurlah kami tidak bertemu di Metropolis. Aku sedang tidak ingin berada di keramaian.
Kendaraanku perlahan memasuki area parkir mengikuti BMW berwarna silver di depanku. Rasanya tidak asing dengan mobil itu. Saat kulihat nomor polisinya, Aha... itu BMW milik Dimas! Berarti kali ini aku tidak datang terlambat seperti biasanya.
“Hei! Kamu sudah datang rupanya?” Dimas menyadari kehadiranku saat kami keluar dari kendaraan. Seperti biasa Dimas berubah wujud dari penampilan formalnya menjadi casual dan santai, membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda.
“Aku sudah tidak tahan ingin bertemu kalian,” ujarku.
“Tentunya, apalagi sebentar lagi Bobby dan Chandra akan dibuat shock soal identitas sebenarnya si Heaven.”
“Kamu yakin aku perlu mengungkapkan itu pada mereka?” kutatap sahabatku ragu-ragu.
“Tentu. Lalu untuk apa kita berkumpul hari ini? Saling berbagi cerita kan?” canda Dimas.
“Hm... berarti kamu akan bercerita soal gebetan barumu itu ya?” rayuku.
Dimas tertawa. “Kalau soal itu, aku pending dulu sampai pertemuan selanjutnya.”
“Curang!” aku ikut tertawa seraya langkah kami menuju lobby mal besar itu.
“Ngomong-ngomong kamu sudah tahu Tante Sofie akan dijadwalkan operasi hari Senin nanti?” sesaat setelah tawa kami mereda.
Aku menoleh. “Oya? Puji Tuhan.”
“Nael sudah tahu soal biaya operasi Ibunya?”
Aku mengedikan bahu. “Entahlah, mungkin Angga sudah memberitahukannya. Aku belum berbicara lagi sejak seminggu yang lalu.”
“Kurasa juga begitu. Kemarin kulihat Nael banyak melamun. Mungkin dia sedang mencari cara untuk berterima kasih padamu.”
Alunan musik lembut terdengar saat langkah pertamaku memasuki cafe itu. Tak sulit di mana meja tempat Bobby dan Chandra berada. Karena setahuku kami selalu menempati meja yang sama, yaitu di pojok ujung ruangan. Alasannya mungkin sederhana; tak ingin mengganggu orang lain dengan segala cuap-cuap kami, apalagi dengan topik pembicaraan yang terdengar tabu bagi mereka.
“Hei! There you are!” Bobby menunjukku dari kejauhan. “Kalian datang bersama-sama?”
“Tidak. Kebetulan kami berpapasan di area parkir.”
“Progress untukmu, Az. Tidak terlambat seperti biasanya,” lanjut Chandra.
Sementara aku hanya tersenyum seraya duduk bersebelahan dengan Dimas, lalu menyambar soft drink milik Bobby.
“Hampir dua minggu ya kita tidak kumpul bersama? Sepertinya kita semua banyak ketinggalan berita,” aku tahu kalimat Bobby itu ditujukan padaku. Ya, seperti yang pernah diungkapkan Dimas tempo hari kalau mereka merasa aku menyembunyikan sesuatu.
“Berita apa? Berita tentang Dimas yang sedang pendekatan dengan seseorang?” aku malah membelokkan arah pembicaraan.
“Coba saja kamu berusaha, Az. Mereka takkan terkecoh. Kamu adalah berita utama kami,” timpal Dimas seraya terkekeh.
“Oke, oke. Aku menyerah!” aku mengangkat kedua tangan. “Memangnya berita seperti apa sih yang kalian mau?”
“Of course about you and Peter,” balas Chandra segera.
“Or you and him?”
Sontak dua pasang mata itu terfokus padaku saat Dimas menyampaikan clue tersebut. Sial!
“Jangan bilang kalau kamu punya mainan baru?” Bobby menatapku dengan cara yang menurutku menakutkan.
Aku menggelengkan kepala. “Baik, baik! Daripada kalian berpikir macam-macam. Aku ceritakan semuanya dari awal.”
Memoriku kembali berselancar pada awal pertemuanku dengan Nael di Metropolis hingga obrolanku dengan Angga soal biaya operasi Tante Sofie. Lucu juga melihat tampang mereka yang sempat terkejut berkali-kali. Apalagi saat kukatakan siapa sebenarnya lelaki berjulukan Heaven itu.
“Jadi itu penyebab dari perubahan sikapmu akhir-akhir ini?” komentar Chandra di akhir cerita.
Aku mengerutkan dahi. “Berubah bagaimana?”
Chandra hanya menggelengkan kepala. “Masa kamu tidak menyadarinya? You look happier now!”
“Tidak perlu berlebihan seperti itu lah!” kulempar keripik kentang ke arah Chandra.
Kami tertawa di antara minuman dan cemilan di atas meja. Topik pembicaraan seolah tak ada habisnya. Tentang Dimas dan gebetannya, Edgard. Juga tentang Bobby yang ditaksir pelanggannya sendiri saat menawarkan paket dekorasi pernikahan. Bahkan tentang Chandra yang baru saja mendapat promosi di kantornya.
“Bosen juga, ya? Jalan yuk?” tutur Bobby saat semua kisah habis tak bersisa.
“Ke mana?” responsku seraya menggeliatkan badan. Rasa bosan ternyata menggerayangiku juga.
Bobby menatap nakal wajah kami. “Metropolis,” bisiknya. “Siapa tahu, kita bertemu si Heaven lagi. Oops... salah. Maksudku Nael,” kali ini dia melirik ke arahku.
Aku meyeringai. Lagi-lagi ke tempat itu, batinku.
Seketika itu ponselku berpendar. Saat kuperiksa siapa gerangan yang menghubungiku, secara spontan senyuman melintas di bibir ini.
“Nael, right?” tebak Dimas.
Kuanggukkan kepala lalu mendekatkan ponsel ke telinga.
“Halo?” ujarku seraya menempelkan telunjuk ke bibir, memberi tanda kepada kawan-kawanku untuk tidak berisik.
“Diaz, kamu ada di mana sekarang?” nada suara Nael terdengar dingin, tidak renyah seperti biasanya.
“Aku sedang kumpul sama teman-teman di BIP. Tapi sebentar lagi kami bakal cabut lagi ke Metropolis.”
“...”
Hening. Nampaknya Nael sedang berpikir. “Halo?”
“Oke. Kita ketemu di sana.”
Klik! Sambungan terputus.
“Halo? Nael? Halo?”
Aku yang menyerah hanya bisa menutup ponselku. Sementara ketiga kawanku menatap penuh tanda tanya.
“Kenapa? Something happen?” tanya Bobby penasaran.
Aku hanya mengedikkan bahu dengan sedikit senyum hambar.
***
Sepanjang perjalanan ke Metropolis aku semakin terselubung tanya, ada apa di balik sikap dingin Nael? Apa dia marah? Atau justru merasa tidak enak padaku. Tuhan, segeralah waktu bergulir. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan orang itu.
Kepalaku mulai pening saat memasuki club yang bernuasa remang itu. Kilatan lampu disko nyaris membuatku menabrak seorang pengunjung mabuk. Untung lelaki itu tidak marah gara-gara minuman yang ia genggam terciprat ke kemejanya. Sungguh, sepertinya daya penglihatanku sudah mulai memudar.
“Kita mau duduk di meja mana?” seruku dengan suara keras mengimbangi hentakan musik beradrenalin.
“Langsung sajalah ke private room,” saran Chandra dengan suara yang tak kalah kerasnya sepertiku.
“Awas! Kalian jangan merencanakan apa-apa lagi, ya? Kalau sampai ada orang asing di ruangan itu. Aku akan pulang!” ancamku.
“Be calm, dude. Aku jamin takkan terjadi. Lagi pula saat ini kantongku sedang tipis,” canda Bobby yang diikuti tawa oleh teman-temanku.
Lega rasanya berada di tempat yang lebih hening dan tenang. Meski kami terpaksa mengeluarkan kocek lebih agar bisa menyewa private room ini.
“So, Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Chandra.
“Its karaoke time!” ujar Bobby girang seraya memeriksa playlist lagu di atas meja.
“Pesan makanan dan minuman dahulu. Aku butuh energi untuk menyanyi semalaman,” Dimas mengingatkan.
Ah, kalian ini. Setiap kali kita berkumpul aku merasa seperti sepuluh tahun lebih muda, batinku seraya melengkungkan senyuman.
Selang beberapa menit kemudian pintu ruangan kami terbuka. Nuansa remang membuatku tak bisa menebak dengan pasti siapa yang datang? Seorang waiter kah? Namun perlahan aku mengoreksi tebakanku sendiri saat pakaian yang ia kenakan dan cara berjalannya yang elegan.
Sial! Seorang kucing masuk ke ruangan kami lagi!
“Nael?” rupanya tebakanku benar. Namun kucing yang satu ini memang tengah kunantikan sejak tadi.
Bobby yang asyik menyanyikan lagunya Katty Perry sontak termangu saat Nael berdiri terpaku di depan kami. Lelaki itu memakai jas hitam yang dipadu kaos ketat di dalamnya. Rambutnya kini dipotong lebih pendek mengikuti tren terbaru saat ini.
“Lama sekali aku tidak bertemu kalian,” itulah kalimat pembuka darinya.
“Halo Nael, ayo gabung duduk bersama kami,” tawar Dimas.
Mendengar nama aslinya terlontar di mulut Dimas, lelaki itu menyeringai. “Jadi kamu sudah mengenalkan siapa aku sebenarnya kepada kawan-kawanmu?” tanya Nael padaku.
“Hm... kurasa itu tidak masalah, bukan?” timpalku.
Nael tersenyum lagi. “Nope, seperti halnya kamu memperkenalkan si ganteng tajir itu padaku.”
Hening untuk sesaat. Aku tak bisa menebak apa yang ada di benak lelaki itu saat ini. Hanya berdiri mematung tanpa merespons ajakan untuk bergabung di meja kami.
“Tapi malam ini aku tetap akan ber-akting sebagai Heaven. Juga kepadamu, Az,” lelaki itu secara khusus menatapku. Lalu perlahan dia melepas jas hitam yang ia kenakan dan membiarkannya tergeletak di lantai.
Tatapan mata itu masih awas tertuju padaku. Lalu sebentuk senyuman terlukis di bibirnya yang indah. Tak berhenti sampai di sana. Nael melepas kaos ketatnya hingga setengah telanjang.
Sontak aku beranjak. “Nael! Apa-apaan? Kami tidak mengundangmu untuk melakukan ini,” aku meraih kaos yang terlanjur terlepas itu dan memaksanya untuk memakai kembali.
“Tenang saja, Sayang. Ini free.”
Ketiga kawanku terlihat kebingungan. “Free? Maksudnya?” Dimas melibatkan diri dalam percakapan kami.
Nael tersenyum pada Dimas. “Iya, Dok. Sebagai pengganti atas biaya operasi Ibuku.”
Aku semakin terkejut. “Nael! aku sama sekali tidak meminta balasan apapun darimu. Apalagi dengan cara seperti ini?”
“Lalu dengan cara apa? Kamu tahu sendiri, Az. Aku bukan lelaki kaya seperti kalian. Hanya tubuh ini aset berharga yang kumiliki,” kilah Nael tenang.
“Kamu lupa apa? Aku ini sahabat kamu,” semakin kesal aku mendekati lelaki itu.
“Aku bukan sahabatmu, sialan!” seruan lelaki itu cukup menggema hingga membuat kami berempat terkejut. Nael menatapku penuh kebencian. Air mukanya mulai memerah bermandikan keringat. Masih dengan deru napas yang menggebu, dia meraih sesuatu di dalam dompetnya.
Sebuah foto. Gambar usang masa lalu kami. Nael memperlihatkannya kepadaku. “Aku bukan sahabatmu!” lirih namun terasa seperti tersayat pisau di nadiku. Lelaki itu lalu merobek-robek foto itu dan melemparkannya ke angkasa seperti debu tak berguna.
“Kamu paham sekarang?” Masih belum puas menyakitiku. Ia mendekati wajahku. “Aku bukan sahabatmu!” seketika itu Nael bergegas meninggalkan ruangan kami tanpa sempat memakai kaosnya kembali.
Seperti terhipnotis kami berempat tak mampu berkata-kata. Ya Tuhan apa yang terjadi barusan? Sesaat setelah kesadaranku kembali ke tempat semula, aku terkulai jatuh ke lantai. Hingga tak lama Dimas, Bobby dan Chandra memeluk melingkariku.
“Kamu sabar ya, Bro. Si Nael memang tak tahu diri,” ujar Dimas menenangkanku.
“Kalau tahu akan seperti ini, seharusnya kamu tidak perlu membantu si brengsek itu. Dasar kucing murahan!” umpat Bobby.
Sementara aku masih termangu dalam kebisuan. Entah apa yang kurasakan saat ini. Yang pasti sesuatu telah menghujam hatiku begitu kerasnya. Sakit...
Other Stories
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...
Testing
testing ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...