People Like Us

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

Chapter 12

Kamu tahu bagaimana rasanya disia-siakan? Dibodohi bahkan dipermalukan di depan kawan-kawanmu? Dianggap tak berguna, tak peduli seberapa besar kamu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Itulah mungkin yang aku rasakan tadi malam. Kecewa sekaligus sakit yang tertancap tepat di hati.
Aku tak pernah habis pikir bagaimana bisa amarah lelaki brengsek itu bisa sedemikian besarnya hanya karena sebuah pertolongan tulus dari sahabatnya sendiri. Bukan! Dia tak pernah menganggapku sahabatnya.
Entah apa yang ada di benak Bobby, Chandra dan Dimas malam itu. Meski kutahu mereka pasti membelaku, namun tentunya menyimpan sedikit tanda tanya; ada apa di antara kami selama beberapa hari ke belakang? Cerita indah yang kupaparkan tak senada dengan kelakuannya tadi malam. Ah, biar sajalah. Aku menghargai sikap tutup mulut mereka dan membiarkanku untuk menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.
Aku butuh seseorang untuk menenangkanku. Itulah sebabnya aku pulang ke rumah Ibu. Segala bentuk perhatian beliau cukup membuatku merasa tenang tanpa harus kuungkapkan apa yang kurasakan saat ini. Mungkin sudah naluri seorang ibu. Saat aku pulang beliau langsung memelukku, seolah tahu aku sedang membutuhkan bahunya untuk bersandar. Dan kamu tahu? Aku menangis saat itu juga.
***
Tok... tok...
“Diaz, kamu sudah bangun?”
Lamunanku terhenti oleh suara halus Ibu. “Iya, Bu,” jawabku seraya beranjak dari ranjang dan membukakan pintu kamar.
Nampak ibu dengan sebuah nampan berisi sepiring nasi goreng udang kesukaanku, bersanding dengan segelas orange juice.
Aku menggelengkan kepala. “Ibu, tidak perlu repot-repot seperti. Kalau mau sarapan aku bisa ke dapur sendiri.”
“Siapa tahu kamu sedang malas keluar kamar,” alasan Ibu. Perlahan perempuan separuh baya itu memperhatikanku. “Kamu kelihatan tidak bersemangat sejak semalam. Ada apa?”
Kuhela napas panjang tanpa membalas pertanyaannya.
“Tidak ada apa-apa. Hanya suntuk saja, makanya aku pulang ke rumah. Ingin mencari suasana baru.”
“Kamu bertengkar dengan Peter?”
“Sudahlah, Bu,” ujarku sedikit malas. “Aku tidak ada masalah kok sama Peter.”
“Ya sudah kalo begitu. Sebaiknya kamu lari pagi bersama Om Yanto. Biar kepala kamu bisa segar lagi,” saran Ibu.
Selang tak lama kemudian ibu menghampiri dengan membawa satu stel pakaian olahraga.
“Ini pakai training punya Om Yanto saja. Kalian kan satu ukuran, pasti pas di badanmu.”
Aku menerima pakaian itu dengan setengah hati. Karena sebenarnya enggan untuk melakukan aktivitas apapun, rasanya hanya ingin merebah diri di kamar. “Om Yanto di mana sekarang?”
Ibu terdiam, sepertinya beliau tidak sadar kalau suaminya telah pergi terlebih dahulu. “Ya sudah kamu joging sendirian aja. Siapa tahu kalian bertemu di taman depan,” bujuk Ibu.
***
Kulangkahkan kaki di sepanjang perumahan. Dingin yang menggerayangiku tak henti-hentinya menggoda untuk membatalkan niatku berolahraga. Kucoba melawan gigil pagi ini dengan memasang tudung jaketku, lalu berlari pelan.
Waktu seakan menjajak kembali ke sepuluh tahun semula. Sepagi ini, aku kembali mengingatmu dengan satu renungan yang masih sama. Selalu tentangmu, tentang amarah yang sulit tercerna oleh nalarku, dan juga tentang rasaku yang entah kapan terbalas.
Kiranya apa yang Tuhan rencanakan di balik kisah yang berulang ini. Pertengkaran yang sama namun selalu menyisakan tanda tanya di akhir cerita. Benarkah ini kesalahanku? Kesalahan karena selalu mencintaimu.
Aku melarikan diri dari bayangan Nael dengan mempercepat ritme berlariku. Kurasa sudah cukup aku memikirkan lelaki brengsek itu.
Laki-laki tak tahu terima kasih!
Lelaki tak tahu diuntung!
Lelaki paling bejat yang pernah kukenal!
Namun pada akhirnya aku tak mampu berlari lagi, saat langkah kaki ini menepi di sebuah lapangan basket. Tempat yang sama saat pertama kali berkelahi dengan si brengsek itu.
Tapi kenapa dengan semua ketololanmu aku masih mencintaimu?
Aku menyeringai ketika pertanyaan itu terlontar sendirinya di kepalaku.
Sebuah dering ponsel terdengar di balik saku jaket. Kurogoh gadget lalu kudapati satu kejutan di sana. Satu nama yang hampir terlupakan.
“Pete?”
“Halo Diaz,” jawabnya pendek.
“Kamu ke mana saja? Dari kemarin aku hubungi kamu tidak pernah dibalas. Kamu sudah kembali ke Jakarta? Kapan kamu main ke Bandung?” aku bertanya seolah takkan ada kesempatan lagi untuk berbicara dengannya.
“Aku sedang berada di Bandung sekarang.”
Hening. Kucoba berpikir senetral mungkin di balik keanehan sikapnya.
“Siang bisa ketemu?”
“Pete? Ada apa? Tidak seperti biasanya kamu seperti ini?” tanyaku hati-hati.
Hening. Peter nampaknya tidak menghiraukan kekhawatiranku. “Di cafe dekat apartemenmu saja. Jam satu siang?”
Klik...
Sambungan terputus.
Kupejamkan mata sekedar mengatasi gundah yang kian meraja. Apa lagi sekarang? Belum selesai masalahku dengan Nael, kini Peter seakan menguji kesabaranku. Apa untungnya mereka semua memusuhiku? Setelah apa yang telah aku lakukan pada mereka.
Sial!
Kupaksakan kedua kakiku untuk berlari cepat, melarungkan bayangan dua lelaki yang tak pernah berhenti mengikutiku.
***
Hampa. Aku melajukan kendaraan menuju daerah Dago tanpa sedikitpun perasaan gembira. Tidak pula menebak-nebak akan keanehan sikap Peter tadi pagi. Sabar sajalah, toh kejutan itu akan kuketahui sebentar lagi.
Lamunan telah membawa kendaraan ini tepat di halaman parkir cafe sebelah apartemenku. Rupanya melamun bisa membuat perjalanan lebih cepat dari yang kukira. Sejenak aku terdiam, seolah bersiap-siap untuk menghadapi lelaki yang sabar menungguku di sudut cafe itu. Ya, dari kejauhan Peter nampak tenang seorang diri seraya memainkan gadget-nya. Kuhela napas panjang lalu mendorong pintu mobilku. Baiklah, kita akan segera tahu apa gerangan yang ingin disampaikan Peter.
“Hei, Pete. Menunggu lama?” aku berusaha bersikap sebiasa mungkin. Tanpa memedulikan gemuruh hatiku yang sungguh sulit kukendalikan.
Benar dugaanku. Peter hanya menghadiahiku sebuah senyuman kecil. Jauh dari kebiasaannya ketika menyambutku.
“Kamu ada apa sih? Berkali-kali aku telepon tidak pernah diangkat. Ini lagi, datang ke Bandung tidak memberitahuku. Sok misterius ,” seruku pura-pura manja.
“Maaf...”
Sekali lagi aku ber-akting, seolah geli dengan sikapnya yang agak canggung itu. Lalu tertawa kemudian.
“Kamu bawa oleh-oleh apa nih dari Singapura? Atau jangan-jangan kamu tidak beli apa-apa? But, its ok. Yang penting ka....”
“Diaz!” potong Peter segera.
Aku kembali ke kesadaranku semula, tak lagi menyembunyikan kegelisahan yang semakin tak karuan ini. “Ada apa Pete? Dari tadi pagi kamu bersikap aneh begini,” lirihku.
Peter menghela napas panjang lalu meneguk minumannya. Perlahan ia menatapku dalam-dalam. Satu lagi misteri di balik bola matanya yang sungguh sulit aku terka.
“Kupikir perjalanan kita hanya sampai di sini,” ujarnya mantap.
Aha! Rupanya ini kejutan yang ingin Peter sampaikan sejak pagi. Kuhela napas sejenak “Putus maksud kamu?” tanyaku tanpa menatap kedua matanya. “Mendadak sekali,” gumamku.
Kali ini Peter menurunkan wajahnya.
“Ada orang lain di balik ini?” selidikku.
“Tidak. Ini murni keputusanku,” jawab Peter masih tak mau mengangkat kepalanya.
“Bohong!” gertakku. Kali ini aku tak mampu mengendalikan amarahku.
“Kamu marah seperti itu seolah tak merasa bersalah sedikitpun?” merasa tersinggung, Peter mendekatkan wajahnya padaku. “Kamu yang bermain api duluan, dan sepertinya api yang kamu kobarkan malah membakar cinta kita.”
Aku mengerutkan dahi, tak mengerti arah pembicaraan Peter.
Peter meraih smartphone-nya lalu memperlihatkan beberapa foto kepadaku. Di sana nampak gambarku bersama Nael. Saat aku mabuk di apartemen malam itu, saat berpelukan di depan rumah Nael dan beberapa foto sepanjang perjalanan pulang dari Jakarta tempo hari.
“Bagaimana? Kamu tak bisa berargumen lagi, bukan?”
“Peter...” lidahku mendadak kelu.
“Aku sudah menduganya. Hal ini lambat laun pasti akan terjadi juga. Aku kenal kamu, Diaz. Kamu adalah lelaki lemah yang tak pernah bisa menghapus kenangan masa lalu. Terlebih lelaki itu nyata-nyata ada di hadapanmu. Kamu tak bisa menafikannya, bukan?”
“Boleh beri aku kesempatan untuk membela diri, Pete? Aku akan membawa Nael ke hadapanmu tentang apa yang terjadi di antara kami beberapa hari ini. Atau kalau perlu kuajak Eka sekalian. Dia tempatku berbagi cerita selama ini.”
Peter malah menyeringai sinis. “Diaz... Diaz. Kamu masih menganggap Si Eka itu sahabatmu?”
“...”
“Lihat, perhatikan siapa yang mengirim foto-foto ini?” Peter menyerahkan sekali lagi smartphone-nya.
Mataku terbelalak saat alamat email Eka tertulis di sana.
“Eka?” aku menelan ludah. 

Other Stories
The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Download Titik & Koma