Chapter 5 Liburan Sekolah
Liburan sekolah telah tiba, dan Gisel serta Satria memutuskan untuk melakukan perjalanan singkat ke sebuah pulau kecil yang tidak jauh dari kota mereka.
Mereka naik perahu ditemani suara angin dan aroma laut yang segar. Gisel duduk di depan membiarkan rambutnya tertiup angin. Satria duduk di sampingnya mengabadikan setiap momen dengan kameranya.
"Ini pertama kalinya aku jalan-jalan sama cowok," bisik Gisel, sambil menatap Satria, "Rasanya beda."
"Beda gimana?" tanya Satria sambil tersenyum.
"Nggak ada drama," jawab Gisel jujur, "Dulu, aku selalu merasa harus jadi orang lain. Sekarang, aku bisa jadi diriku sendiri."
Satria menghentikan kameranya, lalu menggenggam tangan Gisel, "Itu karena lo emang harusnya jadi diri lo sendiri. Cantik, apa adanya."
Setibanya di pulau, mereka menjelajahi setiap sudut. Satria dengan kameranya yang tidak pernah lelah, Gisel dengan tawa riangnya.
Mereka mendaki bukit kecil, melihat pemandangan laut yang biru, lalu makan siang di warung pinggir pantai.
"Gisel," panggil Satria, saat mereka duduk di bawah pohon kelapa, "Gue mau tanya sesuatu."
Jantung Gisel berdebar. Ia menatap Satria, matanya penuh harap.
"Lo yakin nggak apa-apa sama gue?" tanyanya ragu, "Maksudnya gue bukan cowok yang romantis, dan canggung. Gue takut lo bosen."
Gisel tidak bisa menahan senyumnya, "Sat, dengerin baik-baik. Kalau gue mau cowok yang romantis, gue udah balikan sama mantan. Gue cuma butuh lo. Cowok yang bisa bikin gue ketawa, yang bisa nemenin gue di dermaga, dan bikin gue merasa aman."
Mendengar itu, Satria tersenyum lega. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini. Semua kekhawatiran yang ia simpan dalam hati, kini lenyap sudah.
Saat matahari mulai tenggelam, mereka kembali ke dermaga. Sama seperti saat pertama kali mereka bertemu, langit diwarnai jingga dan ungu. Satria mengeluarkan kameranya, lalu mengarahkan ke arah Gisel.
"Satu foto lagi, buat kenangan," katanya.
Gisel berpose, dengan senyum yang paling tulus. Ia tahu, foto ini akan menjadi favoritnya. Foto di mana ia tidak lagi melihat bayangan masa lalu.
Tapi melihat masa depan yang cerah, bersama seseorang yang membuatnya merasa utuh.
Di dermaga yang sama, di mana dulu Gisel membuang air mata, kini ia mengukir kenangan baru. Dan di mana pun ia berada, dermaga itu akan selalu menjadi tempat di mana takdir mempertemukannya dengan jodohnya.
Mereka naik perahu ditemani suara angin dan aroma laut yang segar. Gisel duduk di depan membiarkan rambutnya tertiup angin. Satria duduk di sampingnya mengabadikan setiap momen dengan kameranya.
"Ini pertama kalinya aku jalan-jalan sama cowok," bisik Gisel, sambil menatap Satria, "Rasanya beda."
"Beda gimana?" tanya Satria sambil tersenyum.
"Nggak ada drama," jawab Gisel jujur, "Dulu, aku selalu merasa harus jadi orang lain. Sekarang, aku bisa jadi diriku sendiri."
Satria menghentikan kameranya, lalu menggenggam tangan Gisel, "Itu karena lo emang harusnya jadi diri lo sendiri. Cantik, apa adanya."
Setibanya di pulau, mereka menjelajahi setiap sudut. Satria dengan kameranya yang tidak pernah lelah, Gisel dengan tawa riangnya.
Mereka mendaki bukit kecil, melihat pemandangan laut yang biru, lalu makan siang di warung pinggir pantai.
"Gisel," panggil Satria, saat mereka duduk di bawah pohon kelapa, "Gue mau tanya sesuatu."
Jantung Gisel berdebar. Ia menatap Satria, matanya penuh harap.
"Lo yakin nggak apa-apa sama gue?" tanyanya ragu, "Maksudnya gue bukan cowok yang romantis, dan canggung. Gue takut lo bosen."
Gisel tidak bisa menahan senyumnya, "Sat, dengerin baik-baik. Kalau gue mau cowok yang romantis, gue udah balikan sama mantan. Gue cuma butuh lo. Cowok yang bisa bikin gue ketawa, yang bisa nemenin gue di dermaga, dan bikin gue merasa aman."
Mendengar itu, Satria tersenyum lega. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini. Semua kekhawatiran yang ia simpan dalam hati, kini lenyap sudah.
Saat matahari mulai tenggelam, mereka kembali ke dermaga. Sama seperti saat pertama kali mereka bertemu, langit diwarnai jingga dan ungu. Satria mengeluarkan kameranya, lalu mengarahkan ke arah Gisel.
"Satu foto lagi, buat kenangan," katanya.
Gisel berpose, dengan senyum yang paling tulus. Ia tahu, foto ini akan menjadi favoritnya. Foto di mana ia tidak lagi melihat bayangan masa lalu.
Tapi melihat masa depan yang cerah, bersama seseorang yang membuatnya merasa utuh.
Di dermaga yang sama, di mana dulu Gisel membuang air mata, kini ia mengukir kenangan baru. Dan di mana pun ia berada, dermaga itu akan selalu menjadi tempat di mana takdir mempertemukannya dengan jodohnya.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...