Chapter 1 Pertemuan Gisel Dan Satria
Lagi-lagi, aku berakhir di sini. Di ujung dermaga kayu yang sudah lapuk, tempat aroma garam dan ikan asin menyatu dengan bau rumput laut yang entah kenapa selalu terasa menenangkan.
Bukan karena aku suka memancing, apalagi berenang. Aku ke sini karena satu-satunya hal yang bisa membuatku lupa kalau hari ini, jam ini, detik ini, mantan pacarku menikah.
Namaku Gisel. Usiaku baru 17. Seharusnya aku lagi pusing mikirin tugas sejarah yang nggak kelar-kelar, bukan mikirin mantan yang sekarang lagi ngucapin janji suci.
Tepat di depanku, ombak datang dan pergi, seolah mengejek perasaanku yang juga naik turun nggak jelas.
Tiba-tiba, sebuah suara menginterupsi lamunanku, "Lagi galau, ya?"
Aku menoleh. Seorang cowok seusiaku dengan rambut berantakan dan jaket denim yang sudah agak pudar berdiri sambil menenteng sebuah tas kamera.
Senyumnya ramah, tapi matanya terlihat sama-sama kosong denganku.
"Kelihatan banget, ya?" balasku, sedikit sinis.
Dia terkekeh pelan, "Mata lo kayak lagi berlayar ke antah-berantah. Cuma kurang topi pelaut aja."
Aku memutar bola mata, "Garing."
"Tapi lo senyum," dia menimpali.
Aku tersentak. Benar juga. Sedikit senyum miris, sih. "Gue lagi... ya, lo tahu lah. Hidup. Semua drama yang ada di dalamnya," kataku, sambil kembali memandang ombak.
Dia mengangguk-angguk, "Ngerti banget. Gue juga."
"Lagi pusing mikirin tugas sejarah?" tanyaku asal.
Dia tertawa, dan kali ini suaranya renyah, "Lebih parah dari itu. Gue baru aja ditinggal kabur sama model yang harusnya gue foto buat majalah sekolah."
Kami berdua terdiam. Tiba-tiba, kami menyadari kalau kegalauan kami, meskipun berbeda sebab terasa begitu mirip. Ada semacam koneksi aneh yang terjalin.
"Jadi, ini dermaga penantian?" tanyanya, sambil duduk di sampingku. Bahu kami bersentuhan, tapi tidak terasa canggung.
Aku mengangkat bahu, "Lebih kayak dermaga buangan. Tempat buang sial!"
Dia mengulurkan tangannya, "Kenalin. Satria."
"Gisel," balasku, menjabat tangannya. Tangannya hangat, dan entah kenapa rasa sesak di dadaku sedikit berkurang.
Kami tidak banyak bicara setelah itu. Hanya duduk bersama, menatap ombak, dan menikmati keheningan yang nyaman.
Saat matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan jingga dan ungu, aku merasa sudah saatnya pergi.
"Gue cabut duluan, ya," kataku.
Satria mengangguk, "Gue juga. Lain kali, kalau lo butuh tempat buang sial, lo tahu harus ke mana." Dia tersenyum lagi, kali ini lebih tulus, "Semoga jodoh lo nggak kabur kayak model gue."
Aku tertawa, "Semoga jodoh lo juga nggak kabur kayak mantan gue."
Kami saling bertukar senyum, lalu berjalan ke arah yang berlawanan. Aku tidak tahu apakah kami akan bertemu lagi.
Tapi satu hal yang pasti, hari ini di ujung dermaga yang sama, aku tidak hanya membuang sial. Aku juga menemukan sedikit harapan.
Tentu saja, aku tidak bisa langsung melupakan mantan dan segala drama yang menyertainya. Tapi, saat aku kembali memandang ombak tidak lagi melihat air mata.
Aku melihat pantulan senyum Satria, yang entah bagaimana, membuatku yakin kalau di luar sana, mungkin ada seseorang yang juga sedang menunggu, di ujung dermaga yang lain.
Siapa tahu, kan? Jodoh itu, kayak ombak. Kadang datang, kadang pergi. Tapi kalau memang sudah waktunya, dia pasti akan berlabuh di tempat yang tepat. Dan mungkin, tempat itu adalah dermaga ini.
Bukan karena aku suka memancing, apalagi berenang. Aku ke sini karena satu-satunya hal yang bisa membuatku lupa kalau hari ini, jam ini, detik ini, mantan pacarku menikah.
Namaku Gisel. Usiaku baru 17. Seharusnya aku lagi pusing mikirin tugas sejarah yang nggak kelar-kelar, bukan mikirin mantan yang sekarang lagi ngucapin janji suci.
Tepat di depanku, ombak datang dan pergi, seolah mengejek perasaanku yang juga naik turun nggak jelas.
Tiba-tiba, sebuah suara menginterupsi lamunanku, "Lagi galau, ya?"
Aku menoleh. Seorang cowok seusiaku dengan rambut berantakan dan jaket denim yang sudah agak pudar berdiri sambil menenteng sebuah tas kamera.
Senyumnya ramah, tapi matanya terlihat sama-sama kosong denganku.
"Kelihatan banget, ya?" balasku, sedikit sinis.
Dia terkekeh pelan, "Mata lo kayak lagi berlayar ke antah-berantah. Cuma kurang topi pelaut aja."
Aku memutar bola mata, "Garing."
"Tapi lo senyum," dia menimpali.
Aku tersentak. Benar juga. Sedikit senyum miris, sih. "Gue lagi... ya, lo tahu lah. Hidup. Semua drama yang ada di dalamnya," kataku, sambil kembali memandang ombak.
Dia mengangguk-angguk, "Ngerti banget. Gue juga."
"Lagi pusing mikirin tugas sejarah?" tanyaku asal.
Dia tertawa, dan kali ini suaranya renyah, "Lebih parah dari itu. Gue baru aja ditinggal kabur sama model yang harusnya gue foto buat majalah sekolah."
Kami berdua terdiam. Tiba-tiba, kami menyadari kalau kegalauan kami, meskipun berbeda sebab terasa begitu mirip. Ada semacam koneksi aneh yang terjalin.
"Jadi, ini dermaga penantian?" tanyanya, sambil duduk di sampingku. Bahu kami bersentuhan, tapi tidak terasa canggung.
Aku mengangkat bahu, "Lebih kayak dermaga buangan. Tempat buang sial!"
Dia mengulurkan tangannya, "Kenalin. Satria."
"Gisel," balasku, menjabat tangannya. Tangannya hangat, dan entah kenapa rasa sesak di dadaku sedikit berkurang.
Kami tidak banyak bicara setelah itu. Hanya duduk bersama, menatap ombak, dan menikmati keheningan yang nyaman.
Saat matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan jingga dan ungu, aku merasa sudah saatnya pergi.
"Gue cabut duluan, ya," kataku.
Satria mengangguk, "Gue juga. Lain kali, kalau lo butuh tempat buang sial, lo tahu harus ke mana." Dia tersenyum lagi, kali ini lebih tulus, "Semoga jodoh lo nggak kabur kayak model gue."
Aku tertawa, "Semoga jodoh lo juga nggak kabur kayak mantan gue."
Kami saling bertukar senyum, lalu berjalan ke arah yang berlawanan. Aku tidak tahu apakah kami akan bertemu lagi.
Tapi satu hal yang pasti, hari ini di ujung dermaga yang sama, aku tidak hanya membuang sial. Aku juga menemukan sedikit harapan.
Tentu saja, aku tidak bisa langsung melupakan mantan dan segala drama yang menyertainya. Tapi, saat aku kembali memandang ombak tidak lagi melihat air mata.
Aku melihat pantulan senyum Satria, yang entah bagaimana, membuatku yakin kalau di luar sana, mungkin ada seseorang yang juga sedang menunggu, di ujung dermaga yang lain.
Siapa tahu, kan? Jodoh itu, kayak ombak. Kadang datang, kadang pergi. Tapi kalau memang sudah waktunya, dia pasti akan berlabuh di tempat yang tepat. Dan mungkin, tempat itu adalah dermaga ini.
Other Stories
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Berkemah, Jangan Berlemah!
Dinda, Skye, dan Sally semangat untuk sebuah liburan seru untuk berkemah. Namun dengan Sta ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...